
Raja Ruzel merasa bingung harus menyetujui saran yang diberikan oleh para tabib ataukah tidak, di satu sisi ia tak ingin putrinya mati karna terkena racun buatannya sendiri dan di sisi lain sang raja khawatir jika aliran darah Putri Arbel terlalu lama membeku dan jantungnya berhenti berdetak ia akan mati secara perlahan.
"Baiklah saya setuju dengan saran dari kalian, tolong temukan obat penawar secepat mungkin sebelum sesuatu terjadi pada putri saya." ucap Raja Ruzel dengan berat hati. Tidak ada pilihan lain yang bisa memperpanjang masa hidup Putri Arbel.
"Baiklah jika begitu, kami akan memulai prosesi pembekuan tubuh Putri Arbel." jawab para tabib dan alkemis yang ada di dalam ruang perawatan.
Beberapa alkemis berkumpul mengitari ranjang rawat Putri Arbel, mereka mulai membaca sebuah mantra kemudian perlahan lahan tubuh sang putri mulai membeku dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. Raja Ruzel melihat dengan jelas proses pembekuan itu dengan perasaan campur aduk, ia sangat sedih dan terluka mendapati kondisi putrinya yang seperti sekarang ini. Karna merasa tidak kuat akhirnya Raja Ruzel memilih untuk keluar dari ruang kesehatan, kaki ini sang raja tidak duduk di bangku yang telah disediakan di depan ruang kesehatan. Ia malah pergi dari sana bahkan keluar dari istana utama, beberapa prajurit penjaga pintu masuk istana utama melihat ke arah mana Raja Ruzel pergi dan untunglah pria itu hanya berjalan menuju taman depan istana.
"Sialan semua ini karna putri pembawa sial itu, seharusnya dia yang terkena racun bukannya putri saya sendiri." gerutu Raja Ruzel dengan kemarahan yang tak terbendung lagi.
Tiba tiba otak sang raja dipenuhi dengan dengungan suara yang memintanya untuk membunuh Putri Amerilya, dalam beberapa saat terlihat cahaya berwarna kemerahan yang keluar dari Raja Ruzel, sepertinya ada hal aneh yang terjadi padanya. Raja dari Kerajaan Belgize itu berdiri dari kursi taman, ia berjalan dengan sangat cepat menuju istana putri bahkan tidak ada seorang prajurit yang menyadari pergerakan dari Raja Ruzel.
Slas......
Suara angin yang melintas diantara para prajurit penjaga pintu masuk istana putri. Para prajurit menoleh ke kanan dan ke kiri, mereka sedang mencari apakah ada penyusup yang masuk atau hanya angin lewat saja.
"Apa kau merasakannya tadi?." tanya salah seorang prajurit penjaga pintu masuk istana putri pada rekannya.
"Saya juga merasakan hal yang sama. Anehnya tidak ada siapapun selain kita di tempat ini, mungkin hanya hembusan angin kencang." jawab rekan prajurit itu dengan raut wajah kebingungan.
Entah bagaimana caranya Raja Ruzel melesat dengan sangat cepat, ia bahkan masuk ke dalam istana putri tanpa harus membuka pintu depan istana yang masih terkunci rapat. Saat ini Raja Ruzel sudah berada di dalam kamar pribadi Putri Amerilya.
"Seharusnya kaulah yang mati, putri pembawa sial seperti mu harus mati." gumam Raja Ruzel, mata pria itu kembali mengeluarkan cahaya berwarna merah darah.
"Matilah.... matilah.....matilah." ucap Raja Ruzel yang terus mengulang kalimat yang sama.
Raja Ruzel mengambil sebuah pisau dari dalam saku jaz yang ia gunakan, sang raja memegang pisau tersebut dengan sangat erat kemudian menghujam tubuh Putri Amerilya menggunakan pisau tersebut. Untunglah di saat yang bersamaan Putri Amerilya menyadari ada sesuatu yang terarah padanya, akhirnya sang putri berguling ke samping untuk menghindari serangan itu. Kali ini serangan dari Raja Ruzel tidak sepenuhnya gagal, ia berhasil melukai lengan kanan Putri Amerilya hingga mengeluarkan banyak darah.
"Raja Ruzel?! apa yang sedang Anda lakukan di dalam kamar pribadi saya?." bentak Putri Amerilya dengan jantung yang berdetak kencang. Ia mungkin saja sudah mati jika tidak menyadari keberadaan musuhnya dengan tepat waktu.
"Matilah....matilah. Tuan Putri Amerilya matilah untuk saya!." jerit Raja Ruzel dengan suara yang sangat menyeramkan, suara itu terdengar seperti seorang wanita.
"Apa apaan ini." ucap Putri Amerilya sembari menghindari setiap serangan yang dilayangkan Raja Ruzel padanya. Sang putri tidak mengerti mengapa aura yang dikeluarkan oleh Raja Ruzel sangat berbeda dari biasanya, mungkinkah saat ini ia sedang dirasuki oleh roh jahat.
Karna kemarahan Raja Ruzel tidak terkendali, ia terus menerus menyerang Putri Amerilya tanpa henti bahkan tidak memberikan waktu pada putri kecil itu untuk mengambil nafas. Dengan susah payah Putri Amerilya menghindar meski beberapa kali tubuhnya tergores oleh pisau. Menyadari bahwa dirinya tidak bisa mengatasi masalah ini sendirian, dengan segera Putri Amerilya berlari ke arah pintu kamarnya untuk keluar dari tempat itu, namun anehnya pintu kamar sang putri tidak bisa dibuka seperti sedang terkunci dari luar.
"Siapapun tolong Amerilya!!." jerit sang putri dengan suara yang sangat kencang, ia menggunakan hampir seluruh tenaganya untuk mengeluarkan suara jeritan itu.
"Berteriak lah hingga pita suaramu itu putus Tuan Putri Amerilya, percuma saja karna tidak akan ada yang mendengar suara jeritan mu itu." jawab Raja Ruzel dengan suara tawa yang membuat telinga Putri Amerilya terasa sakit.
"Pergilah Raja Ruzel, apa yang terjadi pada Putri Arbel adalah kesalahan Anda sendiri. Berhentilah mengalahkan orang lain atas hal itu." tegur Putri Amerilya pada sang raja.
"Semua ini terjadi karna anak perempuan pembawa sial seperti mu. Anak anak perempuan dari Raja Azvago dan Ratu Zivaya semuanya mati ketika mereka berusia dua tahun akan tetapi kau masih hidup hingga sekarang ini. Apakah itu adil untuk seluruh kakak perempuan mu? tentu saja tidak!." bentak Raja Ruzel dengan suara yang kembali berubah menjadi suara perempuan.
"Siapa kau sebenarnya!!." bentak Putri Amerilya, ia menyadari saat ini setengah dari tubuh milik Raja Ruzel sedang dikuasi oleh jiwa lain.
"Malam ini adalah malam terakhir mu hidup di dunia, pergilah dan susul semua kakak perempuan mu yang telah tiada." ucap Raja Ruzel.
"Jiwa jiwa jahat seperti kalian tidak seharusnya tetap berada di bumi, neraka harus membawa jiwa kalian pergi untuk mendapat hukuman." protes Putri Amerilya pada jiwa jiwa asing yang berada di dalam tubuh Raja Ruzel.
"Ucapkan selamat tinggal untuk semua anggota Keluarga Kerajaan Meztano, mereka akan kembali kehilangan seorang putri." ucap Raja Ruzel dengan seringai menyeramkan, ia berjalan mendekat ke arah Putri Amerilya yang sudah terpojok di dinding dekat pintu kamarnya.
Putri Amerilya memejamkan mata sembari berdoa semoga ada orang yang khawatir akan kondisinya saat ini dan berniat untuk pergi ke kamar, Putri Amerilya memohon pada Tuhan dengan sungguh sungguh agar ia tetap bisa hidup dan membawa mimpi setra impian semua kakak perempuannya yang telah tiada.
Bruak......
Suara pintu kamar Putri Amerilya yang di dobrak dengan sangat kencang hingga pintu itu hancur, di saat yang bersamaan reruntuhan dari pintu tersebut menimpa tubuh Raja yang ingin membunuh Putri Amerilya dengan pisau di tangannya itu. Alhasil Raja Ruzel jatuh tersungkur dalam kondisi tertimpa pintu kamar.
Putri Amerilya membuka mata kemudian melihat ke arah seorang wanita yang sedang menatap ke arahnya dengan tatapan cemas. Dia adalah wanita paling berjasa di hidup sang putri kecil, karna wanita itulah yang telah melahirkan Putri Amerilya ke dunia ini.
"Ibu..." rengek Putri Amerilya dengan tangisan yang langsung pecah. Ia sangat lega karna ibunya datang tempat waktu sebelum Raja Ruzel menancapkan pisau ke jantung sang putri.
Tanpa mengatakan apapun Ratu Zivaya berlari ke arah putri kecilnya itu kemudian memeluknya dengan erat. Sang ratu ikut menangis karna ia hampir kehilangan putri kecilnya itu.
"Kau terluka cukup parah putriku, apa yang harus ibu lakukan jika sampai kehilangan mu." gumam Ratu Zivaya, ia masih memeluk Amerilya dengan sangat erat.
Beberapa saat setelah itu Raja Azvago yang baru saja masuk ke istana putri setelah selesai melakukan tugasnya dikejutkan dengan beberapa pelayan yang berlarian menuju kamar Putri Amerilya. Karna khawatir ada sesuatu yang terjadi pada putri kecilnya itu sang raja ikut berlari.
Lilian, Juylin, Amena, dan dua pelayan lain terpaku di depan pintu kamar sang putri. Mereka tidak bisa berkata apapun saat melihat tubuh Putri Amerilya dipenuhi dengan luka dan saat ini sedang dipeluk oleh Ratu Zivaya. Mata tajam Lilian terarah pada Raja Ruzel yang mencoba untuk menyingkirkan pintu yang menimpa tubuhnya, dan setelah berhasil sang raja kembali berdiri.
"Jangan selamatkan anak pembawa sial itu, dia harus mati, Tuan Putri Amerilya harus mati malam ini juga." ucap Raja Ruzel dengan kata kata yang sangat jelas.
"Berhenti di sana, jangan mencoba untuk menyakiti istri dan anak perempuan saya!." tegur Raja Azvago pada rivalnya itu.
Lilian dan Juylin menatap lekat ke arah mata merah Raja Ruzel, mereka menyadari bahwa saat ini sang raja sedang dikuasi oleh arwah jahat atas kehendaknya sendiri.
Raja Ruzel berjalan mendekat ke arah Ratu Zivaya dan Putri Amerilya, ia nekat ingin menancapkan pisau itu di punggung sang ratu. Belum sempat Raja Ruzel menjalankan aksinya, sebuah pedang melesat dan menancap tepat di jantung sang raja. Semua orang yang berada di ambang pintu masuk menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang telah melemparkan pedang itu, betapa terkejutnya mereka semua setelah mengetahui Ratu Luncia lah yang mengambil tindakan tersebut.
"Ratu Luncia? mengapa Anda membunuh suami Anda sendiri?." tanya Juylin dengan tatapan bingung.
"Dia bukan suami saya." jawab Ratu Luncia yang membuat semua orang semakin tidak mengerti dengan situasi saat ini.
"Apa Anda sedang mengigau? lihatlah dengan baik baik pria itu adalah Yang Mulia Raja Ruzel suami Anda sendiri." tegas Amena penuh dengan keyakinan.
"Tubuh suami saya ditemukan oleh beberapa prajurit beberapa saat yang lalu sedang tergeletak di taman depan dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dia adalah perwujudan dari kebencian yang suami saya miliki pada Tuan Putri Amerilya ditambah dengan beberapa arwah jahat yang ikut masuk ke dalam sosok tersebut." jawab Ratu Luncia yang bisa mengenali suaminya sendiri dengan baik.
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya guys. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.