PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Sekutu Lain?


Putri Amerilya mengayunkan sebuah perang yang ia dapatkan dari Kesatria Richal, pedang itu sangat ringan untuk anak perempuan seusianya dan mudah untuk digerakkan ke berbagai arah namun pedang tersebut tak bisa digunakan dalam pertarungan melawan orang orang yang memiliki kebencian ataupun dendam tersendiri dengan sang putri karna pedang itu akan patah dalam sekali tebasan. Putri Amerilya terlihat seperti seseorang yang telah hidup bersama dengan pedang dalam kurun waktu yang cukup lama.


Di kehidupan sebelumnya sang putri menjadi seorang gadis bernama Liliana, ia kerap mengikuti turnamen berpedang saat masih duduk di bangku sekolah dan lulus sebagai master pedang terbaik di negaranya. Sangat disayangkan di kehidupan yang sebelumnya mahir menggunakan pedang bukanlah sesuatu yang dapat dibanggakan, kedua orang tau dan saudaranya sangat membenci gadis itu. Setiap hari Liliana hanya berlatih pedang untuk meluapkan emosi yang ia rasakan, gadis itu tak pernah merasa dirinya seorang sampah hanya karna tak memiliki akar sihir saja karna setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing masing. Saat ini Liliana sangat beruntung bisa menjalani hidup sebagai Putri Amerilya, ia terlahir kembali di sebuah tempat yang dapat menerima kehadirannya dan dalam kehidupan kali ini ia akan melakukan apapun untuk bisa bertahan dan mendapatkan kebahagiaan yang selama ini ia impikan.


"Terimakasih untuk kehidupan saya yang sekarang ini, saya begitu menikmatinya." ucap Putri Amerilya dengan senyuman lebar kemudian ia menebaskan pedangnya itu kesebuah batu dengan ukuran besar, batu itu langsung terbelah menjadi dua.


Terdengar suara tepukan tangan dari belakang sang putri, putri kecil itu langsung menoleh dan mencari siapa orang yang sudah melihatnya berlatih sedari tadi. Ternyata orang itu adalah Pangeran Zingo yang baru datang saat Putri Amerilya sedang membelah batu tersebut, Pangeran Zingo sangat kagum dengan ketekunan keponakannya yang berlatih pedang saat malam hari seperti ini sama seperti Raja Azvago saat masih muda. Pangeran Zingo berjalan mendekat ke arah Putri Amerilya kemudian tersenyum hangat ke arah putri kecil itu.


"Tuan Putri Amerilya sangat mirip dengan Yang Mulia Raja Azvago saat ia masih muda." ucap Pangeran Zingo dengan suara tawa pelan.


"Ayah juga sering berlatih pedang saat malam hari seperti ini paman?." tanya Putri Amerilya yang merasa penasaran dengan cerita masa kecil ayahnya itu.


"Raja Azvago kecil selalu keluar kamar secara diam diam untuk berlatih pedang di halaman belakang istana pangeran, ia sempat beberapa kali dipergoki oleh ayahnya kemudian mendapatkan hukuman." jelas Pangeran Zingo secara singkat pada Putri Amerilya. Sang putri menatap pamannya itu dengan tatapan bingung, mengapa ayahnya mendapatkan hukuman hanya karna berlatih pedang? bukankah bagus jika seorang anak laki laki rajin mengasah kemampuannya?.


"Mengapa ayah dihukum oleh mendiang kakek? bukankah bagus jika ayah rajin berlatih?." tanya Putri Amerilya dengan tatapan polos, dalam kehidupan sebelumnya ia juga berlatih pedang sampai tak mengenal waktu. Kedua orang tuanya juga tak peduli dengan apa yang sedang ia lakukan di luar rumah.


"Karna anak dibawah umur seperti Tuan Putri Amerilya harus tidur tepat waktu agar pertumbuhan Anda tak terganggu. Apakah Tuan Putri Amerilya sudah selesai berlatih?." tanya Pangeran Zingo sembari mengusap kepala putri kec itu dengan pelan.


"Amerilya sudah selesai dan akan kembali ke kamar untuk tidur." jawab Putri Amerilya dengan jujur karna ia sudah mengantuk.


"Segeralah kembali dan beristirahat dengan cukup. Sampai jumpa keponakan kesayangan paman." ucap Pangeran Zingo yang langsung menghilang dari hadapan Putri Amerilya.


Putri Amerilya memasukkan kembali pedangnya kesebuah sarung pedang kemudian ia bergegas kembali menuju istana putri, setelah sampai di bagian belakang istana putri ia langsung masuk melalui jendela kamarnya dan segera tidur. Di sisi lain saat ini Pangeran Zingo sudah berada di bagian luar Istana Kerajaan Meztano, ia menatap tajam ke arah beberapa orang berpakaian serba hitam yang sempat terlihat memantau Putri Amerilya yang sedang berlatih. Pangeran Zingo ingin memastikan apa yang sedang dilakukan oleh orang orang itu, apakah mereka akan melakukan hal buruk pada Putri Amerilya atau sedang memata matainya saja.


"Apa yang sedang kalian lakukan di tempat ini? mengintip seseorang yang sedang berlatih bukanlah tindakan baik." ucap Pangeran Zingo dengan nada bicara yang terdengar sangat dingin, ia mengeluarkan pedang miliknya.


"Kami bukanlah orang jahat yang ingin melukai Tuan Putri Amerilya, kami sering melintas di sekitar Istana Kerajaan Meztano untuk memastikan bahwa sang putri dalam keadaan baik baik saja." jawab salah seorang wanita berjubah hitam dan menggunakan cadar yang menutupi wajahnya.


"Mengapa kalian sangat peduli dengan keponakan ku itu? siapa sebenarnya kalian ini?." tanya Pangeran Zingo dengan tatapan tak percaya, bagaimana mungkin orang luar sangat peduli dengan keselamatan keponakan kesayangannya.


"Pangeran Zingo tak perlu tau siapa kami, intinya kami tak akan pernah melakukan hal yang membahayakan Tuan Putri Amerilya. Beberapa sekutu Keluarga Duke Marques yang telah Raja Azvago lenyapkan mulai menampakkan diri mereka. Saya harap semua orang yang ada di dalam Istana Kerajaan Meztano bisa menjaga Putri Amerilya dengan baik, kami permisi terlebih dahulu." jawab seorang pria berjubah hitam yang langsung melemparkan dua mayat di depan Pangeran Zingo kemudian mereka semua pergi meninggalkan wilayah sekitar Istana Kerajaan Meztano.


Pangeran Zingo menatap ke arah dua mayat yang kini tergeletak tepat di bawah kakinya, sang pangeran merasa familiar dengan kedua mayat itu. Saat mengingat ingat kembali mereka adalah prajurit dari Keluarga Marques Montiqu yang tinggal di wilayah Kerajaan Belgize. Mungkinkah selama ini Kediaman Duke Marques bersekutu dengan Kediaman Marques Montiqu untuk menghancurkan Istana Kerajaan Meztano dengan maksud tertentu? jika sampai Kerajaan Belgize juga terlibat dalam masalah ini maka akan terjadi peperangan diantara Kerajaan Meztano dengan Kerajaan Belgize.


"Semuanya semakin rumit, jika pihak Kerajaan Belgize benar benar ikut campur maka peperangan diantara kedua belah pihak tak dapat terelakkan lagi." gumang Pangeran Zingo yang langsung membawa dua mayat itu masuk ke dalam Istana Kerajaan Meztano, ia akan melaporkan hal ini pada kakak laki lakinya agar bisa lebih berhati hati saat pesta ulang tahun Putri Amerilya yang akan diadakan sebentar lagi.


Pangeran Zingo saat ini sudah berada di dalam sebuah kamar tamu yang ditempati oleh kakak laki lakinya, Raja Azvago terkejut saat Pangeran Zingo masuk ke dalam kamar itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu ditambah sang pangeran membawa dua mayat prajurit dengan seragam yang cukup aneh.


"Darimana mereka berasal?." tanya Raja Azvago dengan tatapan tajam, ia meminta penjelasan pada Pangeran Zingo mengenai hal ini.


"Sekelompok orang berpakaian hitam? apakah mereka musuh kita?." tanya Raja Azvago dengan serius.


"Mereka hanya ingin memastikan bahwa Putri Amerilya baik baik saja. Sepertinya putri kecil Anda itu mendapatkan sekutu yang sangat misterius, dari aura yang mereka keluarkan tampak begitu kuat dan kemungkinan besar saya tak akan sanggup mengalahkan satu diantara mereka." ucap Pangeran Zingo yang masih merasakan tekanan yang sangat kuat dari seorang wanita berpakaian serba hitam dan menggunakan sebuah cadar.


"Memiliki sekutu? jika itu benar maka Putri Amerilya akan mendapatkan perlindungan dari mereka. Meski begitu kita harus tetap berhati-hati, tak ada yang tau niat asli dari sekelompok orang berpakaian serba hitam seperti mereka." ucap Raja Azvago yang akan memperketat keamanan di sekitar istana putri agar tak ada orang asing yang dapat masuk dengan mudah.


"Apakah kau tau dari mana kedua mayat ini berasal? seragam yang mereka gunakan sangat familiar namun saya tak bisa mengingatnya." ucap Yang Mulia Raja Azvago yang masih memikirkan dari mana asal kedua penyusup itu.


"Mereka adalah para prajurit yang bekerja untuk Keluarga Marques Montiqu." jawab Pangeran Zingo sembari meremas tangannya dengan kuat.


"Keluarga Marques Montiqu yang berasal dari Kerajaan Belgize? bukankah mereka masih saudara jauh dari Keluarga Duke Marques. Pantas saja Duke Zidan Marques dan Nyonya Riana Marques secara terang terangan ingin melawan Kerajaan Meztano ternyata mereka memiliki sekutu dari wilayah kerajaan lain." ucap Raja Azvago, berarti ucapan Ciela Marques beberapa saat yang lalu memanglah benar Keluarga Duke Marques tak menjalankan semua rencana pemberontakan itu sendiri.


"Sepertinya Putri Amerilya adalah target mereka, sebaiknya dalam pesta ulang tahun nanti sang putri terus diawasi oleh beberapa kesatria dari kelompok Kesatria White Rose." ucap Pangeran Zingo yang memberikan saran pada kakak laki lakinya.


"Itu saran yang bagus, besok kita akan menata seluruh orang yang akan ditempatkan di dalam pesta ulang tahun itu. Lusa saat pesta berlangsung tolong bantu aku untuk mengawasi beberapa orang yang terlihat mencurigakan." ucap Raja Azvago yang meminta Pangeran Zingo untuk mengawasi jalannya pesta ulangtahun Putri Amerilya.


"Dengan senang hati saya akan melakukan semua itu untuk keponakan kesayangan saya." ucap Pangeran Zingo yang tak keberatan dengan permintaan Raja Azvago. Setelah rundingan yang cukup lama akhirnya Pangeran Zingo keluar dari kamar tamu itu untuk membereskan kedua mayat yang ia bawa, setelah selesai Pangeran Zingo langsung masuk kesebuah kamar tamu yang masih kosong di istana utama kemudian beristirahat.


Waktu terus berjalan, malam yang sunyi dan sepi digantikan oleh cerahnya matahari lagi. Semua orang bangun dari tidur lelap mereka dan melakukan aktifitas sehari hari, Putri Amerilya masih meringkuk nyaman di atas tempat tidurnya. Beberapa pelayan setia Putri Amerilya mengetuk pintu kamar sang putri namun tak mendapatkan jawaban apapun, hari ini Putri Amerilya akan pergi bersama Ratu Zivaya untuk membeli beberapa gaun yang akan digunakan saat pesta ulang tahun berlangsung.


Tok tok tok.


"Tuan Putri Amerilya apakah Anda belum bangun? ini saatnya Anda pergi bersama dengan Ratu Zivaya dan Ibu Suri Sinya." ucap Lilian sembari mengetuk pintu Putri Amerilya dengan cukup kencang.


"Bangunlah Tuan Putri Amerilya, Ratu Zivaya akan marah jika Anda sampai terlambat datang." ucap pelayan lain yang masih berusaha membangunkan sang putri, kali ini kamar Putri Amerilya terkunci dari dalam sehingga tak ada orang luar yang dapat masuk ke dalam tanpa izin putri kecil itu termasuk sepuluh pelayan setia Putri Amerilya.


Putri Amerilya mulai terganggu dengan teriakan para pelayan yang mencoba untuk membangunkannya, akhirnya sang putri membuka matanya perlahan dan menatap sebentar ke arah langit langit kamarnya. Putri Amerilya bangun dari tempat tidur kemudian masuk ke dalam kamar mandi tanpa menjawab teriakan para pelayan itu terlebih dahulu. Setelah selesai mandi Putri Amerilya langsung mengganti pakaiannya dan keluar dari kamar, beberapa pelayan menatap ke arah Putri Amerilya dengan tatapan kesal.


"Mengapa Anda tak memberi tahu jika sudah bangun?." tanya Lilian dengan wajah datarnya.


"Kalian terlalu berisik, saya sangat mengantuk karna tak bisa tidur dengan nyenyak tadi malam. Mengapa banyak sekali nyamuk di dalam kamar." ucap Putri Amerilya dengan mata yang sedikit terpejam.


"Tenyata begitu, maaf karna kami tak mengetahui Tuan Putri Amerilya tak bisa tidur dengan nyenyak, lain kali panggil saya kami jika ada masalah seperti ini." ucap Juylin dengan senyuman hangat.


"Terimakasih sudah membangun saya, maaf karna masih mengantuk saya jadi sedikit menyebalkan. Kalau begitu saya pergi terlebih dahulu untuk menemui ibu dan juga nenek, sampai jumpa semuanya." ucap Putri Amerilya yang keluar dari istana putri dengan melambaikan tangan ke arah para pelayan setianya itu.


Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.