
Saat ini Ratu Zivaya bersama tiga orang tabib keluar dari istana utama, sang ratu menatap ke arah Pangeran Luxe yang masih menunggu di sana sembari memberikan isyarat agar mereka segera pergi menuju istana putri. Saat ini kondisi Putri Amerilya semakin menurun, suhu tubuhnya semakin rendah dengan wajah yang sangat pucat. Kesepuluh pelayan setia sang putri kecil itu masih berada di kamar sang putri dengan ekspresi wajah khawatir.
Tok tok tok...
Suara pintu kamar Putri Amerilya yang diketuk oleh seseorang. Amena dengan segera membuka pintu tersebut, ia menatap ke arah Putri Lena dengan tatapan bingung. Mengapa Putri Lena ada di sini? apakah ia tidak mengikuti prosesi doa untuk Putri Haru.
"Permisi apakah Lilian ada di sini?." tanya Putri Lena, raut wajahnya menunjukkan bahwa saat ini ia sedang merasa kesal.
"Ada keperluan apa hingga Putri Lena mencari teman saya?. Saat ini kami sedang sibuk mengurus Tuan Putri Amerilya, silahkan kembali ke kamar Anda." jawab Amena dengan tegas. Meskipun Putri Lena menjadi sedikit lebih baik dari sebelumnya namu sifat menyebalkannya itu masih belum berubah.
"Hari ini saya belum makan siang dan berniat untuk meminta pada Lilian membuatkan saya makan siang." ucap Putri Lena, ia enggan pergi sebelum mendapat makanan yang diinginkan.
"Kami sangat sibuk saat ini, mohon tunggu sebentar lagi karna para pelayan dari istana utama akan mengantarkan makanan untuk semua tamu yang ada termasuk para Tuan Putri." jawab Amena yang mencoba untuk lebih bersabar lagi menghadapi tingkah Putri Lena.
"Namun saya hanya ingin makanan yang dimasak oleh Lilian." jawab Putri Lena dengan keras kepala.
Amena meremas tangannya dengan kuat, ia sedang menahan kemarahan yang meluap luap agar tidak memukul wajah Putri Lena. Di tengah perdebatan itu Yang Mulia Ratu Zivaya, Pangeran Luxe, dan beberapa tabib masuk ke dalam istana putri, mereka semua menatap ke arah Putri Lena yang sedang bersitegang dengan seorang pelayan.
"Ada apa ini?." tanya Ratu Zivaya, ia menatap dingin ke arah Putri Lena hingga membuat sang putri ketakutan.
"Putri Lena memaksa Lilian memasakkan makan siang untuknya. Saat ini kami sangat sibuk mengurus Tuan Putri Amerilya yang tak kunjung sadar akan tetapi Putri Lena sangat keras kepala. Saya sudah mengatakan padanya bahwa pelayan dari istana utama akan datang untuk mengantar makanan namun ia menolak." jelas Amena pada Ratu Zivaya.
"Ini Istana Kerajaan Meztano bukan Istana Kerajaan Antez dimana semua pelayan akan mendengar perintah Anda. Hal yang paling utama di istana ini adalah Tuan Putri Amerilya, saya harap Putri Lena bisa mengerti dan segera kembali ke kamar Anda sekarang." tegur Ratu Zivaya dengan tatapan yang menyeramkan.
"Umm baiklah saya akan kembali ke kamar sekarang. Sampai jumpa Yang Mulia Ratu Zivaya." jawab Putri Lena. Ia langsung berlari masuk ke dalam kamar kemudian menutup pintu rapat rapat.
Setelah kepergian putri pengganggu itu, Ratu Zivaya beserta ketiga tabib masuk ke dalam kamar Putri Amerilya sedangkan Pangeran Luxe berbincang bincang dengan beberapa pelayan adik perempuannya yang menunggu di luar. Tiga tabib yang dibawa Ratu Zivaya mulai memeriksa bagaimana kondisi Putri Amerilya saat ini.
"Detak jantung Tuan Putri Amerilya sangat lemah, sepertinya ia baru saja dikejutkan oleh sesuatu. Apakah yang terjadi sebelum sang putri pingsan seperti ini?." tanya salah seorang tabib sembari menatap ke arah Lilian.
"Para prajurit penjaga gerbang utama memberitahukan pada kami bahwa sebelum pingsan Tuan Putri Amerilya sempat berbincang bincang dengan salah seorang Jenderal Perbatasan yang membawa seribu prajurit. Setelah perbincangan diantara keduanya berakhir dan sang jenderal pergi, Putri Amerilya langsung pingsan seperti ini." jawab Lilian, ia memberitahukan semua informasi yang didapatkan.
"Astaga mengapa kau seperti ini putriku, cepatlah bangun jangan membuat ibu cemas. Kau tak perlu mencemaskan kondisi Putri Haru sampai seperti ini." ucap Ratu Zivaya dengan suara pelan. Ia tak menyangka putrinya akan menunjukkan respon seperti ini saat mendengar kabar mengenai kematian Putri Haru.
"Anak perempuan seusia Tuan Putri Amerilya tidak seharusnya mendengar hal hal seperti ini. Untunglah ini belum terlambat dan sang putri masih bisa di selamatkan. Kami akan membuatkan ramuan untuk Tuan Putri." ucap salah seorang tabib. Ia mulai mengeluarkan berbagai macam jenis tanaman obat dan mulai meramu.
Sorot mata tajam Ratu Zivaya mengarah pada jendela kamar putri kesayangannya, ia begitu kesal melihat putrinya harus menderita seperti ini. Masih hidup ataupun susah mati Putri Haru tetaplah pembuat masalah di dalam istana Kerajaan Meztano, Ratu Zivaya bahkan sempat dimarahi oleh Raja Azvago karna meninggalkan prosesi doa begitu saja.
"Uhuk uhuk uhuk.." Putri Amerilya tiba tiba batuk dan mulai membuka matanya perlahan. Ia melihat kesekitar dan menemukan sang ibu dan beberapa tabib menatap ke arahnya dengan mata berkaca-kaca.
"Ibu..." panggil Putri Amerilya dengan suara lemah.
Dengan segera Ratu Zivaya beejalan mendekat ke arah ranjang tempat tidur putrinya itu, sang ratu mengusap rambut Putri Amerilya pelan dan menatap penuh kasih sayang ke arah Amerilya.
"Ada apa putriku? apakah kau membutuhkan sesuatu, katakan saja pada ibu." tanya Ratu Zivaya.
"Siapa Putri Haru itu ibu? dia bukan anak nenek?." ucap Putri Amerilya secara tiba tiba. Mendengar perkataan putri kecilnya membuat Ratu Zivaya terkejut, apakah saat ini putrinya masih tidak sadarkan diri atau sedang berhalusinasi??.
"Apa maksud mu putriku? ya meskipun Putri Haru sangat jahat dia tetap bibi mu." jawab Ratu Zivaya, sebisa mungkin ia mengalihkan topik pembicaraan karna di dalam ruangan itu masih ada ketiga tabib istana yang Ratu Zivaya bawa.
"Baiklah Amerilya mengerti. Amerilya sangat mengangguk." ucap sang putri sebelum ia kembali pingsan.
Ratu Zivaya dan ketiga tabib istana saling bertatapan satu sama lain, apa yang baru saja terjadi. Mungkin sebenarnya Putri Amerilya belum sadarkan diri dan kejadian barusan karna sang putri mengigau?.
"Apa ini baik baik saja tabib?." tanya Ratu Zivaya dengan khawatir.
"Itu tadi merupakan hal yang wajar dalam dunia pengobatan. Mungkin setengah kesadaran milik sang putri mulai terbangun namun kembali ditarik ke dalam alam bawah sadarnya." jawab seorang tabib untuk menenangkan Ratu Zivaya.
Setelah menunggu selama beberapa menit akhirnya salah satu tabib diantara ketiganya selesai memuat ramuan. Ia meminta bantuan pada dua tabib yang lain untuk mengubah posisi Putri Amerilya menjadi duduk, setelah sang tabib meminumkan ramuan yang ia buat pada Amerilya.
Di saat istana putri sedang sibuk mengurus Putri Amerilya yang sedang sakit di sisi lain saat ini anggota Kesatria White Rose baru saja menemukan sebuah mayat perempuan dengan kondisi seluruh badan mengalami luka bakar yang cukup parah, mayat perempuan itu milik Putri Haru karna ada beberapa perhiasan milik sang putri yang masih menempel.
Kesatria Richal meminta beberapa prajurit untuk membawakan tandu serta kain berwarna putih sebagai penutup mayat itu. Siapapun yang telah melakukan hal ini pasti seseorang yang memiliki dendam besar pada sang putri, Richal juga sangat yakin Yang Mulia Raja akan sangat terpukul ketika melihat kondisi jasad dari adik perempuannya itu.
"Mari kita bawa kembali mayat Putri Haru ke istana, untuk yang lain tolong bereskan kekacauan ini hingga bersih." perintah Kesatria Richal pada para prajurit kerajaan yang masih berada di sana.
"Baik Tuan Kesatria, kami akan membereskan semuanya." jawab beberapa prajurit secara serempak.
Kesatria Richal bersama anggota Kesatria White Rose yang lain berjalan menuju gerbang wilayah perbatasan, mereka membawa sebuah tandu berisikan mayat Putri Haru. Karna perjalanan dari wilayah perbatasan menuju istana Kerajaan Meztano sangatlah jauh kemungkinan besar mereka akan menyewa seorang penyihir dengan kemampuan teleportasi untuk mempersingkat perjalan.
Saat ini kesadaran milik Putri Amerilya berada di sebuah ruangan yang sangat gelap, sang putri tidak dapat melihat apapun di dalam ruangan itu. Ia mencoba mencari jalan keluar dengan cara meraba raba dinding yang ada di sekitar kemudian berjalan lurus ke depan.
"Apa kau sangat bahagia saat ini Putri Amerilya?." ucap sebuah suara tanpa wujud.
"Sekarang tidak akan ada lagi putri dari Kerajaan Meztano selain dirimu." ucap suara misterius itu lagi.
"Kau dan ibu mu sama sama seorang wanita jahat, kalian merebut kakak dariku." ucap suara misterius itu lagi.
"Apakah setelah ini kehidupan yang kau jalankan akan tetap tenang? tentu saja tidak. Menjadi putri kerajaan bukanlah hal yang mudah." ucap suara misterius itu.
"Kau tidan akan tau kapan akan mati karna serangan musuh atau siapa yang sebenarnya berada di pihak mu. Ahahahaha." gelak tawa suara misterius itu begitu mengerikan.
Putri Amerilya hanya diam, tidak ada respon yang diberikan bahkan wajahnya terlihat sangat datar. Putri Amerilya sangat tau suara milik siapa itu, mungkin arwah Putri Haru belum bisa tenang karna kematiannya yang sangat mengerikan.
Byur.......
Jiwa milik Putri Amerilya tiba tiba saja tenggelam dalam sebuah lautan yang sangat dalam. Putri Amerilya melihat seorang gadis yang berenang ke arahnya, gadis itu adalah Putri Haru.
"Matilah!!! kau harus mati jika aku mati. Ratu Zivaya harus merasakan kehilangan anak perempuan yang paling ia sayangi." ucap Putri Haru sembari mendorong tubuh Putri Amerilya menuju ke dasar lautan.
Putri Amerilya berusaha untuk berenang naik ke atas, namun karna badan Putri Haru jauh lebih besar darinya akhirnya sang putri kecil kalah dan terus tenggelam. Beberapa bola cahaya berwarna putih muncul secara tiba tiba, bola cahaya itu berubah wujud menjadi delapan anak perempuan yang membantu Putri Amerilya untuk naik ke permukaan air.
"Tetaplah hidup Tuan Putri Amerilya." ucap salah satu anak perempuan dengan rambut berwarna hitam yang sangat cantik.
"Kami tidak bisa bertahan dan mewujudkan keinginan ayah dan ibu, karna itu tetaplah hidup untuk kebahagiaan mereka." ucap seorang anak perempuan dengan rambut putih dan mata yang sama persis dengan Yang Mulia Raja Azvago.
"Kakak?." ucap jiwa milik Putri Amerilya. Jika mereka semua adalah anak anak perempuan dari Yang Mulia Raja Azvago yang mati setelah berumur dua tahun, secara tidak langsung mereka kakak perempuan dari Putri Amerilya.
"Benar kami adalah kakak perempuan mu. Tetaplah hidup dengan membawa impian dan harapan kami semua, jangan dengarkan iblis gila itu." ucap anak perempuan berambut hitam.
Dengan bantuan kedelapan jiwa anak perempuan Raja Azvago dan Ratu Zivaya yang telah tiada lambat laun jiwa milik Putri Amerilya terdorong hingga ke permukaan air sedangkan jika milik Putri Haru telah menghilang.
"Kakak!!!?" triak Putri Amerilya dengan sangat kencang dengan mata yang terbuka lebar. Putri Amerilya yang sebelumnya dalam posisi tidur kini terduduk di atas tempat tidurnya.
Ratu Zivaya dan Pangeran Luxe yang saat itu sedang duduk di sofa kamar Putri Amerilya merasa terkejut dan langsung menghampiri Putri kecil itu.
"Ada apa putriku? apa yang terjadi?." tanya Ratu Zivaya dengan perasaan cemas.
"Kakak hiks hiks." gumam Putri Amerilya dengan air mata yang mengalir deras.
Pangeran Luxe memeluk adik kecilnya itu sembari mengusap rambutnya perlahan.
"Kakak ada di sini, tenanglah adikku." ucap Pangeran Luxe.
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya guys. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.