PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Akhir Keluarga Duke Marques


Nyonya Riana Marques berusaha untuk bangkit dan melakukan serangan balasan, namun tubuhnya terasa sangat sakit hingga ia jatuh puluhan kali. Zidan Marques melihat apa yang sedang terjadi pada istrinya itu, bukannya merasa kasihan ia malah sangat kesal karna sudah menikah dengan wanita yang sangat lemah seperti Riana Marques.


"Cih dasar istri tak berguna, apa yang dapat kau lakukan untuk membalas rasa sakit suamimu ini." gumang Zidan Marques dengan suara pelan namun masih bisa didengar oleh Raja Azvago yang masih menodongkan pedang padanya.


"Untunglah Putri Haru tak jatuh dalam perangkap mu itu, takkan kubiarkan adik kesayangan ku berubah menjadi wanita jahat hanya karna pengaruh buruk darimu." ucap Raja Azvago, ia tak perlu berbelas kasih pada pria yang telah merusak ketentraman Istana Kerajaan Meztano. Raja Azvago menebas kepala Zidan Marques dalam satu kali tebasan, semua orang yang menyaksikan hal itu menunjukkan ekspresi yang bermacam macam. Ada yang langsung memejamkan mata mereka, ada yang bersorak untuk Yang Mulia Raja Azvago, ada pula yang meminta pihak Kerajaan Meztano untuk menghapus nama Duke Marques dari peta kerajaan secara resmi.


"Argh tidak, mengapa Anda melakukan hal itu pada suami saya. Bagaimana cara saya hidup tanpanya." triak Nyonya Riana Marques yang ingin menghampiri jasad sang suami namun tubuhnya masih tak bisa digerakkan. Nyonya Riana Marques menatap ke arah Raja Azvago dengan tatapan penuh dendam, ia akan menghancurkan kebahagiaan sang raja bagaimanapun caranya.


Di sisi lain saat ini Putri Amerilya sedang berada di barisan paling depan dan menatap dengan tajam perisai sihir milik prajurit khusus kediaman Duke Marques, gadis itu tak terima jika kedua anak duke meremehkannya seperti tadi. Apa salahnya jika ia masih berusia dua tahun? ia mampu bahkan sangat mampu untuk menghancurkan perisai sihir tingkat rendah itu.


"Datanglah Red Moon." ucap Putri Amerilya dengan tatapan mata seperti ingin membunuh banyak orang, sang putri mengangkat tangannya dan melakukan gerakan seperti ingin menangkap sesuatu yang jatuh dari atas langit.


Seperti biasa langit berubah menjadi hitam dengan suara petir yang bergemuruh, entah mengapa Tuan Muda Bristo Marques, Nona Muda Ciela Marques bersama dengan prajurit Kediaman Duke Marques merasa tak tenang saat mendengar suara sambaran petir yang saling bersautan itu. Dari atas langit sebuah pedang berwarna merah melesat ke arah Putri Amerilya dan berhasil ditangkap oleh putri kecil itu.


"Bukankah kalian sangat ingin dikalahkan? mari kita mulai sekarang." ucap Putri Amerilya yang menggenggam pedang Red Moon dengan erat. Tanpa membaca atau merapalkan mantra, pedang milik Putri Amerilya dari kehidupan di masa lalunya itu memiliki efek sihir yang sangat tinggi.


Putri Amerilya berlari menggunakan kaki kecilnya itu dan menebas perisai sihir dari pihak musuh beberapa kali, awalnya semua orang yang menyaksikan hal itu hanya diam karna mereka yakin serangan sang putri tak akan berdampak apapun namun prediksi mereka salah. Tiba tiba saja perisai sihir itu hancur berkeping keping setalah mendapat serangan langsung dari pedang milik sang putri, melihat perisai sihir milik mereka dapat dihancurkan dengan mudah para pemberontak itu mukai merasa takut.


"Jangan ada satu orangpun yang berhasil lolos, serang mereka semua!." triak Putri Amerilya dengan suara yang sangat keras. Semua prajurit Kerajaan Meztano kembali menyerang prajurit Kediaman Duke Marques bersama dengan ke empat pangeran, enam anak duke dan sepuluh pelayan setia Putri Amerilya yang kembali menembakkan panah mereka.


Tuan Muda Bristo Marques dan Nona Muda Ciela Marques berusaha kabur dalam pertarungan itu karna mereka berdua tak ingin mati dengan sia sia, untunglah Putri Amerilya menyadari hal itu dan langsung menyerang keduanya menggunakan pedang Red Moon. Punggung kedua anak Duke Zidan Marques itu mengalami luka yang sangat parah hingga mereka pingsan di tempat karna tak bisa menahan rasa sakit yang teramat sangat.


"Saya serahkan kedua anak dari Keluarga Marques itu pada kalian, masukkan mereka ke dalam penjara yang terpisah dari tahanan lain." ucap Putri Amerilya pada beberapa prajurit Kerajaan Meztano yang berada di sekitarnya.


"Baik kami akan membawa mereka berdua sekarang juga." ucap para prajurit itu yang langsung menyeret tubuh Tuan Muda Bristo Marques dan Nona Muda Ciela Marques masuk ke dalam istana Kerajaan Meztano.


Putri Amerilya merasa khawatir dengan sang nenek, entah mengapa ia merasakan bahwa Ibu Suri Sinya saat ini sedang dalam bahaya. Putri Amerilya berlari ke arah Tuan Muda Rostow Elister karna pemuda itu berada di dekatnya.


"Anda bisa melesat dengan cepat?." tanya Tuan Putri Amerilya secara tiba tiba pada Rostow Elister yang sedang melawan dua orang prajurit dari pihak musuh.


"Saya dapat melakukan Tuan Putri." jawab Rostow Elister dengan singkat, pemuda itu mematahkan leher kedua prajurit Kediaman Duke Marques dan beralih menatap ke arah Putri Amerilya yang berada di sampingnya.


"Antar saya ke tempat eksekusi sekarang juga, saya ingin tiba di sana secepat yang Anda bisa." ucap Putri Amerilya dengan tatapan serius, Rostow Elister tak tau apa yang sedang ada di dalam fikiran putri kecil itu namun ia selalu siap untuk membantu kapan saja.


Tuan Muda Rostow Elister menggenggam tangan sebelah kiri Putri Amerilya dengan erat kemudian ia melesat dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di tempat eksekusi, para pangeran yang melihat hal itu hanya bisa memberikan tatapan heran saja karna mereka juga tak tau kemana Putri Amerilya dan Tuan Muda Rostow Elister akan pergi. Putri Amerilya tak menunjukkan ekspresi apapun ketika dibawa anak laki laki yang ada di samping melesat dan melewati berbagai tempat dalam beberapa kedipan mata saja. Akhirnya Putri Amerilya dan Rostow Elister telah sampai di bagian paling belakang tempat eksekusi, Putri Amerilya mengedarkan pandangannya ke arah bangku penonton kemudian ia menemukan sang nenek. Putri Amerilya menatap ke arah Tuan Muda Eren Marques yang berada tepat di belakang Ibu Suri Sinya, dari kejauhan sang putri melihat Eren Marques mengeluarkan sebuah pisau yang dilumuri dengan cairan berwarna biru cerah.


"Antar saya ke belakang pemuda itu, jangan sampai ia menyadari kedatangan kita." perintah Putri Amerilya pada Tuan Muda Rostow Elister.


"Baik mari kita pergi sekarang juga." ucap Rostow Elister yang membawa Putri Amerilya melesat dengan cepat kemudian keduanya sampai di belakang Eren Marques saat pemuda itu ingin menancapkan pisau beracun itu ke punggung bagian belakang Ibu Suri Sinya.


"Kalian??." ucap Eren Marques kemudian pemuda itu tumbang ke kursi tempatnya duduk. Beberapa jenderal yang melihat aksi berani dari Putri Amerilya langsung mengacungkan jempol mereka untuk gadis itu.


"Putraku!!." triak Nyonya Riana Marques saat mengetahui Eren Marques mati di tangan Putri Amerilya. Bagaimana cara anak perempuan itu lolos dari serangan para prajurit khusus Kediaman Duke Marques.


"Argh saya telah kehilangan segalanya." jerit Nyonya Riana Marques dengan histeris.


"Saya sudah mengatakan bahwa Tuan Putri Amerilya dapat mengatasi masalah yang Anda buat. Putri kecil itu bahkan lebih sigap daripada pasukan khusus Istana Kerajaan Meztano." ucap Kesatria Richal yang tak pernah meragukan kemampuan Putri Amerilya. Diusianya yang masih sangat muda ia bisa mengarahkan para anggota Kesatria White Rose saat mereka melakukan kesalahan saat mengayunkan pedang.


Ibu Suri Sinya yang sempat merasa tegang karna tau nyawanya sedang diincar oleh seseorang langsung melihat kebelakang. Ia melihat ke arah jasad Tuan Muda Eren Marques kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Putri Amerilya yang sedang memegang pedang berlumur darah.


"Nenek baik baik saja?." tanya Putri Amerilya dengan senyuman polosnya. Ia masih harus berpura pura menjadi gadis kecil yang menggemaskan di hadapan semua orang.


Tanpa menjawab pertanyaan dari cucu perempuannya itu Ibu Suri Sinya langsung berdiri dari tempat duduknya dan memeluk Putri Amerilya dengan erat, ia tau anak perempuan yang lahir dari putra pertamanya adalah anak perempuan yang sangat kuat.


"Terimakasih telah melindungi nenek, bagaimana bisa cucuku mengayunkan pedang sebesar itu." ucap Ibu Suri Sinya yang khawatir telapak tangan Putri Amerilya terluka karna terlalu memaksakan diri.


"Saya baik baik saja, nenek tak perlu khawatir seperti itu." ucap Putri Amerilya dengan senyuman manisnya.


Beberapa saat setelahnya pasukan Kerajaan Meztano datang bersama dengan keempat pangeran beserta keenam anak duke dengan membawa beberapa jasad dari prajurit khusus Kediaman Duke Marques. Mereka melemparkan jasad itu di dekat Nyonya Riana Marques sebagai pertanda bahwa peperangan hari ini dimenangkan oleh pihak Kerajaan Meztano. Nyonya Riana Marques menatap tak percaya ke arah puluhan jasad prajurit khususnya itu, jika mereka semua mati lalu dimana anak kedua dan ketiganya?.


"Dimana putra dan putriku? apa yang kalian lakukan pada mereka." tanya Nyonya Riana Marques dengan tatapan kosong.


"Mereka berada di dalam penjara, saat Anda berencana untuk memberontak seharusnya Anda mempertimbangkan banyak kemungkinan yang akan terjadi." jawab Putri Amerilya dengan tatapan dingin yang ia berikan pada Nyonya Riana Marques.


"Semua karna mu, jika kau tak pernah lahir di dunia ini maka Keluarga Duke Marques akan baik baik saja." ucap Nyonya Riana Marques yang mulai mengucapkan omong kosong.


Ratu Zivaya turun dari tempat duduknya kemudian melesat ke arah Nyonya Riana Marques. Sang ratu menampar wanita itu puluhan kali karna merasa geram dengan apa yang batu saja Riana Marques katakan. Hadirnya Putri Amerilya hingga saat ini adalah harapan bagi seluruh anggota Keluarga Kerajaan Meztano, dan karna kehadiran putri kecilnya itu suasana di dalam istana menjadi lebih hangat dari sebelumnya. Hubungan antara Ibu Suri Sinya dan Yang Mulia Raja Azvago juga membaik setelah Putri Amerilya berhasil melewati kutukan itu, karenanya tak ada seorang pun yang boleh mengutuk ataupun menganggap kehadiran Putri Amerilya sebuah kesialan.


"Jika Anda bisa mengawasi suami Anda dengan baik maka hal ini tak mungkin terjadi. Tak ada yang meminta Anda memberontak pada Kerajaan Meztano. Sekarang terima saja konsekuensi atas apa yang telah Anda lakukan Nyonya Riana Marques." ucap Ratu Zivaya dengan tatapan sinis.


"Bawa wanita ini ke dalam penjara khusus, sebagian dari kalian pergilah ke Kediaman Duke Marques dan sita semua yang mereka punya." perintah Yang Mulia Raja Azvago pada para prajurit yang ada di tempat eksekusi.


"Siap laksanakan." jawab para prajurit Kerajaan Meztano dengan tegas kemudian mereka langsung pergi untuk melakukan tugas yang diberikan oleh sang raja.


Hai hai semua author balik lagi nih dengan Novel Putri Amerilya, kalian kangen ga sama novel ini?. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.