
Putri Amerilya mengeluh kesakitan pada Raja Yunmixo hingga sang raja kebingungan, ia berjalan secara perlahan karna tak ingin memperparah luka yang disebabkan oleh panah yang masih menancap di bahu sebelah kiri Tuan Putri Amerilya. Di sisi lain seorang prajurit berlari dengan cepat kemudian masuk ke dalam istana utama dengan raut wajah panik. Beberapa pelayan yang melihat hal itu menatap sang prajurit dengan tatapan bingung, hari ini banyak sekali yang berlarian di sekitar istana.
Tok tok tok.
Suara pintu ruang kerja Yang Mulia Raja Azvago yang diketuk oleh prajurit itu, Raja Azvago mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam. Si prajurit langsung masuk ke dalam dan membuat mengucapkan salam pada rajanya.
"Salam hormat saya pada Yang Mulia Raja Azvago, Anda harus segera pergi ke halaman depan istana Kerajaan Meztano karna Ratu Jeylena dengan sengaja menembakkan anak panah pada Tuan Putri Amerilya. Saat ini Raja Yunmixo sedang membawa Tuan Putri Amerilya menuju ruang kesehatan sedangkan anggota keluarga Kerajaan Monzxo yang lain menahan Ratu Jeylena agar tidak kabur." ucap prajurit itu dengan sangat cepat namun masih bisa dipahami oleh Raja Azvago.
Raja Azvago memukul meja kerjanya dengan cukup keras kemudian ia bergegas pergi menuju halaman depan Istana Kerajaan Meztano, baru saja ia menegur Putri Lena dan Putri Liene sekarang ibu mereka yang berulah. Mengapa anggota Keluarga Kerajaan Antez memiliki etika dan sikap yang buruk? untung saja Pangeran Mixo tak menikah dengan Putri Liene. Saat di pertengahan jalan menuju halaman depan, Yang Mulia Raja Azvago berpapasan dengan Raja Yunmixo yang sedang menggendong putri kecilnya. Di situ Yang Mulia Raja Azvago menunjukkan ekspresi sangat marah, ia melihat putrinya sedang meringis kesakitan dengan panah yang menancap di bahu sebelah kiri.
Raja Azvago berjalan dengan cepat agar segera sampai ke halaman depan, setelah sampai ia langsung menatap tajam ke arah Ratu Jeylena.
"Beraninya Anda melakukan hal ini pada putri saya." ucap Yang Mulia Raja Azvago dengan sorot mata tajam, ia sangat ingin menghabisi Ratu Jeylena sekarang juga namun di sana masih ada beberapa anggota Keluarga Kerajaan Monzxo.
"Puri Anda terlalu angkuh dan keras kepala, karna itu saya sangat membencinya. Akan lebih baik jika dia menghilang dari dunia ini." jawab Ratu Jeylena secara terang terangan.
Ratu Jenya dan anak anaknya sangat terkejut dengan cara bicara dan tutur kata yang sangat kasar dari Ratu Jeylena, saat ini dialah yang menjadi pihak bersalah namun mengapa ia malah seangkuh itu dihadapan Yang Mulia Raja Azvago?. Mungkin akan terjadi kerenggangan dalam hubungan Kerajaan Meztano dengan Kerajaan Antez, jika hal tersebut terjadi maka satu satunya pihak yang dirugikan adalah Kerajaan Antez karna mereka sangat membutuhkan pasokan material dan barang barang lain dari Kerajaan Meztano.
"Jaga ucapan Anda, saya tau Anda melakukan hal ini karna Pangeran Mixo menolak lamaran dari Putri Liene. Seharusnya sebagai seorang ibu, Anda bisa mengarahkan Putri Liene untuk bersikap lebih baik lagi kedepannya namun Anda melimpahkan kesalahan pada putri saya? apa Anda sudah gila!. Pantas saja kedua putri Anda memiliki karakter, etika, dan sikap yang buruk, ternyata semua itu turunan dari ibu mereka." ucap Raja Azvago yang sedang berusaha menahan amarahnya.
Di sisi lain Ratu Zivaya melihat putri kesayangannya sedang digendong oleh Raja Yunmixo dan mereka berdua masuk me dalam ruang kesehatan, karna penasaran dengan apa yang terjadi akhirnya Ratu Zivaya menghampiri keduanya. Baru saja masuk ke dalam ruang kesehatan, Ratu Zivaya melihat Putri Amerilya terbaring di ranjang tempat tidur dalam kondisi panah yang menancap di bahu kirinya, darah keluar cukup banyak dari bagian yang tertancap panah. Ratu Zivaya mengepalkan tangannya dengan erat, manusia sialan mana yang berani melukai putrinya seperti ini.
"Siapa yang telah melakukan ini padamu putriku?." tanya Ratu Zivaya dengan aura dingin yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
"Ratu Jeylena, dia marah karna saya menolak untuk membantunya meyakinkan Pangeran Mixo menerima lamaran dari Putri Liene. Kedua putri dari Kerajaan Antez itu memiliki sikap yang sangat buruk." jawab Putri Amerilya dengan suara pelan.
"Raja Yunmixo tolong jaga putri saya sebentar, maaf karna harus merepotkan Anda dalam hal ini. Saya akan pergi untuk menemui Ratu Jeylena terlebih dahulu." ucap Ratu Zivaya yang meminta tolong pada Raja Yunmixo untuk menjaga Putri Amerilya sementara waktu hingga tabib istana datang.
"Baiklah saya mengerti, dengan senang hati saya akan menjaga Tuan Putri Amerilya." jawab Raja Yunmixo yang tak merasa keberatan dengan permintaan Ratu Zivaya.
Ratu Zivaya segera keluar dari ruang kesehatan, aura dingin yang sangat kuat meluap luap dari tubuh wanita itu. Setiap ubin lantai yang diinjak oleh Ratu Zivaya berubah menjadi es, para pelayan dan prajurit menundukkan kepala mereka saat Ratu Zivaya sedang melintas karna jika diantara mereka ada yang menatap mata Ratu Zivaya maka akan langsung berubah menjadi patung es. Ratu Zivaya membuat sebuah pedang dengan ukuran yang sangat besar menggunakan energi sihir miliknya, Pangeran Bilge dan Pangeran Zico yang baru saja keluar dari sebuah ruangan yang ada di istana utama menatap ke arah Ratu Zivaya dengan tatapan bingung.
"Jangan menatap mata Ratu Zivaya." ucap Pangeran Zico yang sedang mengingatkan Pangeran Bilge karna hal itu sangatlah berbahaya.
Raja Azvago sedang memarahi Ratu Jeylena saat ini, meskipun Ratu Jeylena adalah seorang keluarga kerajaan namun ia akan tetap dijatuhi hukuman sesuai dengan aturan yang ada di Kerajaan Meztano. Raja Azvago meminta beberapa prajurit untuk menahan dan membawa Datu Jeylena ke penjara khusus yang ada di istana utama, Ratu Jeylena memberontak ia bahkan menyerang para prajurit Kerajaan Meztano.
Pintu depan istana utama terbuka dengan lebar, semua yang ada di halaman depan saat itu merasakan aura dingin dan juga kemarahan yang sangat kuat dari seseorang. Raja Azvago dan Keluarga Kerajaan Monzxo yang lain menoleh dan melihat siapa yang datang, Raja Azvago membelalakkan matanya dengan lebar karna saat ini istrinya sedang mengamuk.
"Bagaimana bisa wanita iblis sepertimu menjadi seorang ibu!." bentak Rau Zivaya yang hendak menebaskan pedang es nya itu lada Ratu Jeylena. Tiba tiba ada sebuah pedang yang menahan serangannya.
"Meskipun ini wilayah Kerajaan Meztano namun Anda tak boleh memperlakukan istri saya seperti ini." ucap Raja Alenzie yang sedang berusaha menahan serangan Ratu Zivaya.
"Apakah istri Anda juga berhak menyakiti dan memiliki niat membunuh pada putri saya? kalau begitu biar saya membunuh salah satu putri kalian!." ucap Ratu Zivaya dengan sorot mata tajam yang terlihat sangat menyeramkan.
Dengan segera Ratu Jenya membawa ketiga putri dan seorang pangeran untuk masuk kedalam istana utama Kerajaan Meztano, setelah kepergian anggota Keluarga Kerajaan Monzxo Raja Azvago bisa bernafas dengan lega. Ia tak akan menahan atau menenangkan istrinya yang sedang mengamuk itu karna tindakan Ratu Jeylena sudah sangat berlebihan.
"Tolong tunangkan diri Anda Ratu Zivaya, kita bisa membicarakan hal ini secara baik baik." ucap Raja Alenzie yang sedang membujuk Ratu Zivaya agar tak marah lagi.
"Membicarakan secara baik baik? apakah setelah saya melukai salah satu putri Anda, kata kata itu masih bisa Anda ucapkan dengan tenang!." bentak Ratu Zivaya yang tak akan pernah memaafkan perbuatan Ratu Jeylena hari ini pada putri kesayangannya.
Raja Alenzie mundur beberapa langkah ke belakang karna aura yang dipancarkan oleh Ratu Zivaya semakin kuat, terdapat retakan kecil pada pedang Raja Alenzie karna tak sanggup menahan pedang es milik Ratu Zivaya.
"Tolong tenangkan istri Anda Yang Mulia Raja Azvago." ucap Raja Alenzie yang mengharap bantuan dari Raja Azvago untuk menenangkan Ratu Zivaya.
"Tak ada yang bisa mengendalikan nya ketika sedang marah seperti ini, lagipula istri Anda terlalu berani menyerang Putri Amerilya secara terang terangan dan mengatakan Putri Amerilya tak pantas untuk hidup." ucap Raja Azvago dengan tatapan penuh kebencian yang ia tujukan pada Ratu Jeylena.
Pedang milik Raja Alenzie hancur menjadi kepingan kecil karna Ratu Zivaya benar benar serius menyerang pria itu, Ratu Zivaya begitu marah dan sangat marah setelah mendengar kesaksian dari sang suami mengenai ucapan Ratu Jeylena. Raja Alenzie berusaha untuk menghindari serangan demi serangan dari Ratu Zivaya sembari melindungi sang istri.
"Tolong beri kami kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ini Yang Mulia Ratu Zivaya." ucap Raja Alenzie yang terus memohon untuk keselamatannya dan juga sang istri.
"Tidak, saya tidak pernah memberikan kesempatan kedua pada orang yang berani menyentuh anak anak saya. Saya adalah ibu mereka dan saya tak akan terima jika mereka diserang seperti itu." jawab Ratu Zivaya yang terus menyerang Raja Alenzie hingga sang raja mendapatkan beberapa luka.
" Hentikan! jangan menyakiti suami saya. Saya yang melakukannya secara sadar dan saya akan menantang Anda untuk bertarung. Jika saya menang maka Anda dan anggota Keluarga Kerajaan Meztano yang lain harus melupakan kejadian hari ini dan menerima lamaran dari Putri Liene untuk Pangeran Mixo." ucap Ratu Jeylena yang sedang menantang Ratu Zivaya untuk bertarung.
"Jika Anda kalah akan saya pastikan kehancuran datang pada wilayah Kerajaan Antez. Anda juga akan dipenjara selama satu tahun dengan hukuman penyiksaan penuh, jadi apakah Anda yakin ingin menantang saya?." ucap Ratu Zivaya dengan senyuman miring yang terlihat menakutkan.
"Ya saya akan tetap menantang Anda, mari lakukan pertarungan malam nanti." ucap Ratu Jeylena yang langsung menarik tangan Raja Alenzie kemudian mereka berdua masuk kembali ke dalam istana utama Kerajaan Meztano.
Ratu Zivaya dan Raja Azvago menatap kepergian kedua orang itu dengan tatapan tajam, mulai hari ini Kerajaan Antez akan menjadi musuh bagi Kerajaan Meztano. Ratu Zivaya menghilangkan pedangnya itu kemudian masuk ke dalam istana utama untuk melihat kondisi putri kesayangannya saat ini, melihat sang ratu berjalan menuju pintu masuk istana utama dengan segera Raja Azvago menyusul istrinya itu.
"Strategi apa yang akan kau lakukan istriku untuk mengalahkan Ratu Jeylena, bukankah kalian berdua sama sama menggunakan sihir elemen es?." tanya Raja Azvago yang penasaran dengan rencana istrinya itu.
"Saya akan menggunakan segala cara untuk mengalahkannya ataupun membunuhnya di atas arena." jawab Ratu Zivaya dengan tatapan serius, sepertinya pertarungan nanti malam akan sangat menegangkan.
Di sisi lain saat ini Putri Amerilya sedang diobati oleh seorang tabib istana, panah yang menancap pada bahu sebelah kiri sang putri telah di lepas dan saat lukanya sedang diobati.
"Untunglah luka ini tak terlalu parah, meskipun begitu Anda harus beristirahat." ucap sang tabib dengan senyuman ramah karna ia tak ingin membuat Putri Amerilya ketakutan.
"Baik saya mengerti Tuan tabib, terimakasih karna telah mengobati luka saya." jawab Putri Amerilya dengan senyuman manis.
Sang tabib juga merasa sangat marah pada orang yang tega melukai Tuan Putri Amerilya yang sangat lucu seperti ini, apakah orang itu tak memiliki hati nurani walau sedikit?.
"Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu Tuan Putri Amerilya dan Raja Yunmixo." ucap sang tabib dengan membungkukkan badan kemudian pergi meninggalkan ruang kesehatan.
Hai hai semua, author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya. Gimana kabar kalian? semoga selalu diberi kesehatan ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.