
Pemuda misterius itu menatap ke arah Putri Amerilya dengan tatapan bingung, mengapa anak perempuan yang masih berusia tiga tahun bisa mengetahui identitasnya sebagai seorang drakula tua?. Pemuda misterius itu terbang turun ke bawah untuk menghampiri Putri Amerilya untuk menanyakan siapa gadis itu sebenarnya.
"Mengapa Anda turun ke bawah kakek drakula? apa ada sesuatu yang ingin Anda tanyakan pada saya?." tanya Putri Amerilya dengan tatapan bingung.
"Siapa kau sebenarnya? mengapa kau bisa tau identitas saya di saat manusia yang lain tidak mengetahuinya." tanya pemuda misterius itu yang ternyata seorang kakek drakula yang sudah berusia lebih dari seratus tahun.
"Semalam saya sempat membaca sebuah buku, di dalam buku itu menjelaskan berbagai macam jenis sihir jahat dan penguasa dari kejahatan itu. Sosok Anda sangat mirip dengan gambar yang ada di dalam buku itu." jawab Putri Amerilya dengan jujur pada kakek drakula.
"Dimana buku itu sekarang!!." bentak kakek drakula tua itu dengan emosi yang meluap luap.
"Tuan Putri Amerilya!!." triak Lilian dan Juylin yang datang dari arah belakang sang putri. Mereka berdua berlari sekencang mungkin untuk menghampiri putri kecil itu dan menyembunyikannya dari sang pemuda jahat yang ada di hadapan mereka.
Lilian dan Juylin mengeluarkan senjata mereka masing masing, mereka bersiap untuk melawan pemuda jahat yang telah menculik Putri Amerilya. Pemuda misterius yang ternyata seorang kakek drakula menghela nafas panjang, akan sangat merepotkan jika mereka berurusan dengan kedua pelayan sang putri yang memancarkan aura tidak biasa.
"Saya pergi terlebih dahulu, sampai jumpa di lain waktu Tuan Putri Amerilya. Ingat baik baik bahwa urusan diantara kita berdua belum selesai." ucap sang pemuda misterius. Ia melakukan gerakan memutar dengan mengibaskan jubahnya, setelah itu ia berubah menjadi ratusan kelelawar yang terbang dan pergi.
Putri Amerilya melihat ke arah mana kelelawar itu pergi setelahnya ia menatap ke arah sang pemuda bersayap putih yang masih berada di atas langit. Pemuda itu tersenyum ke arah Putri Amerilya kemudian melambaikan tangan, beberapa detik setelahnya pemuda itu terbang ke atas langit dan tak terlihat lagi.
"Siapa pemuda tampan dengan sayap putih itu Tuan Putri Amerilya, apakah Anda mengenalnya?." tanya Juylin yang merasa penasaran dengan asal usul pemuda itu.
"Saya juga tidak tau siapa dia. Tiba tiba dia muncul dari atas langit kemudian menangkap tubuh saya yang dihempaskan ke bawah oleh pemuda bersayap kelelawar itu." jawab Putri Amerilya atas pertanyaan dari Juylin.
"Umm Tuan Putri Amerilya." panggil Lilian pada sang putri dengan gugup.
"Ada apa Lilian?." tanya Putri Amerilya dengan tatapan bingung.
"Maaf karna saya tidak mengetahui bahwa Anda cemburu saat saya membuatkan sarapan untuk Putri Lena. Saya melakukan hal itu hanya untuk memenuhi janji saya karna Putri Lena memberikan informasi mengenai Anda yang tak kunjung kembali setelah pesta ulangtahun berakhir. Dan untuk kemarin saya benar benar meninta maaf karena tidak mempercayai apa yang Anda katakan." ucap Lilian sembari menundukkan kepalanya karna merasa bersalah pada Putri Amerilya atas tindakan yang ia lakukan.
"Sudahlah saya sudah tidak memikirkan hal itu lagi, terimakasih karna telah berkata jujur pada saya Lilian. Mari kita pulang ke istana, sepertinya saya membutuhkan beberapa gelas jus segar." ucap Putri Amerilya dengan suara gelak tawanya yang memecah kecanggungan yang sedang terjadi.
Putri Amerilya berjalan di depan sedangkan Lilian dan Juylin berjalan di belakang putri kecil itu. Saat dalam perjalanan sekali kali Putri Amerilya melompat kegirangan seperti tidak terjadi sesuatu sebelumnya.
Di sisi lain saat ini Ratu Zivaya dan Raja Azvago sedang berada di ruang tengah istana putri. Mereka menatap tajam satu sama lain, sepertinya Ratu Zivaya masih merasa kesal pada sang suami meskipun putrinya sudah menjelaskan bahwa semua itu bukan murni kesalahan dari sang suami.
"Anda hampir membunuh saya tadi, jika bukan karna bantuan Putri Amerilya mungkin saya sudah dimakamkan di samping makam Putri Haru." gerutu Ratu Zivaya.
"Saya benar benar tidak tau apa yang sedang terjadi saat itu. Ketik saya sedang mengerjakan beberapa tugas di ruang kerja, tiba tiba terdengar suara sesuatu yang pecah. ternyata ada seekor kelelawar yang memaksa masuk ke dalam, setelah itu si kelelawar menabrakkan tubuhnya pada saya dan sayapun tak sadarkan diri." jelas Raja Azvago atas hal yang ia alami saat itu.
"Tetap saja yang mencekik leher saya adalah tangan Anda. Jika sesuatu terjadi pada putri kesayangan saya itu, maka kedua tangan Anda akan saya patahkan." murka Ratu Zivaya pada sang suami dengan emosi meluap luap.
Kedelapan pelayan hanya bisa mendengar perdebatan antara Yang Mulia Raja Azvago dengan Yang Mulia Ratu Zivaya, tidak ada satupun diantara mereka yang berani memudahkan pasangan suami istri itu. Sejak Raja Azvago siuman dari pingsannya sang ratu terus mengomel tanpa henti, beberapa kali Raja Azvago mencoba untuk menjelaskan akan tetapi perkataannya selalu di potong oleh Ratu Zivaya.
Saat suasana sedang panas panasnya, terdengar suara pintu utama istana putri yang dibuka oleh seseorang. Pandangan Ratu Zivaya dan Raja Azvago langsung terfokus pada pintu itu, beberapa saat setelah Putri Amerilya masuk ke dalam ditemani oleh Lilian dan Juylin yang berjalan di belakangnya.
"Salam saya pada ayah dan ibu." sapa Putri Amerilya pada kedua orang tuanya.
Putri Amerilya berjalan mendekat ke arah sang ayah kemudian menempelkan lengannya pada kening ayahnya itu. Putri Amerilya dapat bernafas lega karna tidak ada kerusakan pada tubuh Raja Azvago ketika dirasuki oleh jiwa milik Putri Haru.
"Apa yang sedang kau lakukan putriku? ayah mu sudah baik baik saja jadi kau tidak perlu memeriksanya seperti itu." ucap Rati Zivaya. Ia mengangkat tubuh Putri Amerilya kemudian memangku sang putri kecil.
"Amerilya hanya ingin memastikan apakah ada efek samping setelah tubuh ayah diambil alih eh jiwa Putri Haru. Untunglah ayah baik baik saja dan dalam kondisi sehat baik tubuhnya maupun akalnya." jawab Putri Amerilya.
Mendengar jawaban dari putri kecilnya itu membuat Ratu Zivaya tertawa dengan cukup kencang. Ternyata putrinya khawatir jika Raja Azvago mengalami kegilaan setelah dirasuki oleh jiwa Putri Haru. Raja Azvago yang sedang ditertawakan oleh Ratu Zivaya hanya bisa pasrah, ia tidak ingin memperkeruh suasana dengan mengatakan sesuatu yang salah.
"Sebaiknya ayah tidak melamun saat sedang bekerja. Sebenarnya apa yang sedang ayah pikirkan hingga mudah dirasuki seperti itu?." tanya Putri Amerilya, ia tidak mengetahui bahwa ibunya melarang sang ayah untuk bertemu dengannya secara langsung setelah kejadian kemarin. Karna itulah Raja Azvago tidak bisa berkonsentrasi saat sedang mengerjakan tugas tugas yang menumpuk.
"Tidak apa apa putriku, kembalikanlah ke kamar dan beristirahatlah. Kau pasti sangat lelah setelah melewati semua ini. Maaf karna ayah bukanlah sosok ayah yang baik untuk mu." ucap Yang Mulia Raja Azvago dengan sebuah senyuman palsu untuk menutupi kesedihannya itu.
"Siapa yang mengatakan hal itu pada ayah? tidak apa apa ayah, Amerilya baik baik saja. Jadi ayah tidak perlu mengalahkan diri ayah sendiri atas hal hal yang telah terjadi belakangan ini." ucap Putri Amerilya dengan sebuah senyuman yang sangat manis.
"Terimakasih banyak putriku, terimakasih telah memaafkan ayah mu ini." jawab Raja Azvago dengan air mata yang bercucuran.
Putri Amerilya turun dari pangkuan sang ibu kemudian duduk di pangkuan ayahnya itu, sang putri kecil memeluk tubuh Raja Azvago dengan susah payah karna perbedaan ukuran tubuh diantara keduanya.
"Jangan menangis lagi ayah, Amerilya ada di sini dan semuanya baik baik saja." sebuah kalimat penenang yang diucapkan boleh seorang anak perempuan berusia tiga tahun.
Akhirnya konflik yang membuat semua orang merasa pusing berakhir dengan baik. Hubungan antara Yang Mulia Raja Azvago dan Yang Mulia Ratu Zivaya juga ikut membaik setelah di damaikan oleh putri kecil mereka itu. Karena hari sudah mulai siang Putri Amerilya memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya dan beristirahat hingga tenaganya pulih, sedangkan raja dan ratu memutuskan untuk kembali ke istana utama dan menyelesaikan tugas mereka yang sempat tertunda. Kali ini giliran Pangeran Mixo yang bertugas untuk berjaga di dalam istana putri sembari mengawasi kondisi sekitar. Meskipun masalah telah selesai tidak menutup kemungkinan akan ada masalah baru yang muncul.
Di tempat lain saat ini Tuan Marques Jordy Montiqu sudah berada di rumahnya, ia sedang berada di ruang kerjanya sembari memikirkan kemana kedua anak serta sang istri berada saat ini. Tuan Marques Jordy Montiqu juga belum mengerti mengapa tiba-tiba ia sudah berada di wilayah Kerajaan Belgize dalam kondisi semua lukanya telah sembuh hanya dalam beberapa hari saja. Padahal sang Marques ingat bahwa luka yang ia alami malam itu cukup parah dan mungkin memerlukan waktu yang cukup lama untuk memulihkannya.
"Sialan, sebenarnya siapa yang merencanakan semua ini. Triknya sangatlah rapi hingga saya tidak bisa menemukan jejak apapun." gerutu Tian Marques Montiqu.
"Apakah ini ulah Raja Azvago untuk membalas dendam atas penyerangan yang telah saya lakukan saat ulang tahun putri kesayangannya itu?." tanya Marques Jordy Montiqu pada dirinya sendiri. Semua ini terasa sangat tidak masuk akal hingga ia hampir gila.
Tok tok tok.....
"Ada apa? jika tidak ada hal penting yang ingin disampaikan silahkan kembali ke tempat mu." tanya sang Marques langsung pada intinya karena ia tidak suka pembahasan yang bertele-tele.
"Para prajurit yang menyusuri hutan perbatasan antara Kerajaan Meztano dengan Kerajaan Belgize menemukan tubuh Tuan Muda Egil Montiqu tergeletak di dasar jurang. Untunglah Tuan Muda masih hidup dan hanya mengalami beberapa luka parah akibat tubuhnya berbenturan dengan batuan batuan yang ada di dasar jurang itu.
"Lalu bagaimana dengan Putri Anye? apakah kalian tidak menemukan jejak atau informasi apapun mengenai keberadaannya saat ini?." tanya Tuan Marques Jordy Montiqu dengan tatapan tajam, ia ingin putrinya itu segera ditemukan bagaimanapun caranya.
"Para prajurit masih berusaha untuk menemukan Nyonya Birara dan Nona Muda Anye. Mohon agar Tuan Marques sedikit bersabar. Ah iya lebih baik Anda mencoba untuk menghubungi Yang Mulia Raja Ruzel yang masih berada di area Istana Kerajaan Meztano, mungkin beliau memiliki informasi mengenai keberadaan Nyonya Birara dan Nona Muda Anye." ucap sang prajurit dengan memberikan sedikit saran pada tuannya.
"Cukup sampai di situ dan kau boleh pergi sekarang, saya tidak ingin mendengar apapun kecuali informasi mengenai istri dan anak perempuan saya." potong Tuan Marques Jordy Montiqu.
"Baik saya permisi terlebih dahulu, kami akan mengupayakan yang terbaik untuk menemukannya." ucap prajurit itu kemudian ia keluar dari ruang kerja Tuan Marques Jordy Montiqu.
Setelah kepergian sang prajurit, Marques Jordy Montiqu kembali mencoba untuk memikirkan siapa dalang di balik semua ini dan motif apa yang ia gunakan?.
Waktu terus berlalu teriknya sinar matahari di siang hari telah tergantikan oleh dinginnya suasana malam. Putri Amerilya yang memulai tidur dari siang hari baru saja bangun saat malam telah tiba. Putri Amerilya membuka matanya perlahan kemudian meregangkan otot-otot yang terasa kaku. Sang putri menatap ke arah Pangeran Mixo yang sedang duduk di sofa kamar sang putri sembari menikmati secangkir teh hangat dan membaca buku.
"Kakak." Panggil Putri Amerilya pada Pangeran Mixo dengan suara yang sangat menggemaskan. Pangeran Mixo meletakkan cangkir tehnya itu kemudian berjalan untuk menghampiri adik Perempuannya yang masih berbaring di atas tempat tidur.
"Ada apa putri kecilku, apakah kau membutuhkan sesuatu? katakan saja pada kakak."jawab Pangerang Mixo dengan senyum tampan andalannya itu.
"Amerilya merasa lapar, bisakah kakak memanggilkan Lilian untuk datang kemari. Ada beberapa hidangan yang ingin Amerilya makan dan hanya Lilian yang bisa membuatnya." ucap Putri Amerilya, ia meminta bantuan Pangeran Mixo untuk memanggilkan Lilian.
"Baik tunggulah di sini sebentar dan jangan kemana mana." pesan Pangeran Mixo sebelum ia pergi meninggalkan Putri Amerilya sendirian di dalam kamar.
Saat Pangeran Mixo pergi samar samar Putri Amerilya mendengar suara berisik tepat di atas atap kamarnya itu. Dengan segera sang putri bersembunyi di bawah kolong kasur sebelum penyusup itu masuk ke dalam. Setelah bersembunyi Putri Amerilya memperhatikan kaki seseorang yang masuk ke dalam kamarnya melalui jendela.
"Kemana putri kecil itu pergi, bukankah beberapa saat yang lalu dia masih ada di sini?." ucap Raja Ruzel dengan ekspresi bingung.
Orang yang menyusup masuk ke dalam kamar sang putri adalah Raja Ruzel, sepertinya ia sudah tidak sabar menunggu waktu hingga Putri Amerilya keluar sendirian dari istana putri hingga nekat menyusup masuk ke istana saat suasana terasa sangat sepi seperti sekarang ini.
"Tuan Putri Amerilya dimana Anda, apakah sedang sedang bersembunyi dari saya. Mari keluar dan saya akan membelikan kue ceri kesukaan Anda." ucap Raja Ruzel yang membujuk Putri Amerilya keluar dari persembunyiannya dengan iming-iming kue ceri kesukaan sang putri.
Setelah menunggu beberapa menit tidak ada respon apapun yang diberikan oleh Putri Amerilya sehingga Raja Ruzel merasa kesal dan mulai mencari gadis kecil itu ke berbagai tempat. Saat Raja Ruzel ingin me lihat ke bawah kolong tempat tidur sang putri tiba tiba terdengar suara langkah kaki dari arah luar ruangan itu, sepertinya ada seseorang yang ingin masuk ke dalam. Akhirnya Raja Ruzel bergegas pergi dengan cara melompat ke luar jendela untuk bersembunyi, sedangkan Putri Amerilya merangkak dari bawah kasurnya.
Tok tok tok......
"Ini saya Tuan Putri Amerilya, Pangeran Mixo mengatakan bahwa Anda ingin saya masukkan sesuatu." ucap Lilian dari luar pintu kamar sang putri kecil.
"Masuklah Lilian." jawab Putri Amerilya yang mempersilahkan Lilian untuk masuk ke dalam kamarnya.
Lilian pun masuk ke dalam kamar Putri Amerilya dan berjalan mendekat ke arah sang putri yang sedang duduk santai di ujung tempat tidurnya. Putri Amerilya meninta Lilian untuk menunduk, setelah itu sang putri membisikkan sesuatu ke telinga Lilian, yang membuat ekspresi wajahnya berubah secara drastis.
"Apakah dia masih ada di sini Tuan Putri?." tanya Lilian dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh Raja Ruzel yang masih bersembunyi di semak semak yang ada di luar jendela kamar Putri Amerilya.
"Dia masih ada di sana. Apakah Lilian bisa membuat satu ember air dingin kemudian menyiramkan air itu ke luar jendela." bisik Putri Amerilya ke telinga pelayannya itu.
"Jika itu yang Tuan Putri Amerilya inginkan maka saya akan melakukannya dengan senang hati." jawab Lilian dengan sebuah senyuman lebar.
Lilian membuat sebuah ember dari sihir es miliknya kemudian mengisi ember tersebut dengan air yang ada di dalam kamar mandi Putri Amerilya, Lilian menambah beberapa balok es berukuran untuk menambah sensasi dingin air itu. Sebelum membuangnya melalui jendela kamar, Putri Amerilya dan Lilian melakukan beberapa percakapan agar Raja Ruzel tidak curiga.
"Lilian tolong buang air kotor yang ada di dalam kamar mandi saya itu. Saya kesulitan saat ingin membuangnya sendiri. Maaf karena merepotkan mu malam malam seperti ini." ucap Putri Amerilya yang sedang memberikan perintah pada Lilian untuk menuangkan air kotor.
"Baiklah Tuan Putri Amerilya, sudah menjadi kewajiban saya untuk melayani Anda." jawab Lilian sembari berpura pura baru saja keluar dari kamar mandi sang putri. Setelah itu Lilian membuka jendela kamar Putri Amerilya dan membuang air es tepat di bawah jendela.
Byur.....
Suara air dingin yang Lilian buang ke bawah. Raja Ruzel yang saat itu sedang bersembunyi di balik semak semak yang ada di bawah jendela kamar Putri Amerilya menjadi basah kuyup. Raja Ruzel sangat marah akan tetapi ia harus menahan suaranya agar tidak terdengar oleh sang pelayan yang masih berada di dalam kamar Putri Amerilya.
"Terimakasih Lilian." ucap Putri Amerilya sembari menahan tawanya yang hampir pecah. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajah Raja Ruzel saat ini. Pasti sang raja sangat marah namun ia tidak bisa melakukan apapun.
"Apakah ada hal lain yang bisa saya lakukan untuk Tuan Putri Amerilya?." tanya Lilian dengan senyuman lebar.
"Tolong buatkan saya nasi goreng, cumi balado, dan sup ayam. Saya akan menunggu sembari berbaring di atas kasur." ucap Putri Amerilya sembari naik me atas kasurnya kemudian memposisikan diri berbaring dengan nyaman.
"Baiklah saya akan pergi untuk menyiapkan makan malam Anda. Tuan putri jangan kemana mana karna Pangeran Mixo sudah menunggu di luar kamar sedari tadi." ucap Lilian kemudian ia pergi meninggalkan kamar Putri Amerilya.
Beberapa saat setelah itu Putri Amerilya melihat Raja Ruzel keluar dari tempat persembunyiannya dalam kondisi basah kuyup dan tubuhnya yang menggigil. Raja Ruzel langsung berlari pergi dari halaman belakang istana putri sebelum ada orang lain yang menemukan keberadaannya.
"Ahahaha, dia terlihat seperti seekor tikus yang baru saja naik setelah tercebur got. Malang sekali nasib Anda." gumam Putri Amerilya dengan suara tawa yang cukup kencang. Besok pagi dapat dipastikan bahwa Raja Ruzel akan terkena demam mungkin sampai jamuan makan malam penutup dilakukan.
Hai hai semua tangan author udah mau putus karena harus kejar kata novel ini, Entah mengapa novel satunya udah ga menghasilkan lagi tapi tatap aku up kok cuma kalau akhir bulan ya fokus kejar kata kayak gini. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya