
Setelah sampai di halaman depan Istana Putri, Ratu Zivaya dan Ibu Suri Sinya melihat Pangeran Luxe dan Pangeran Lunxi sedang bertarung dengan sengit. Keduanya menyerang dengan ritme dan gerakan yang berbeda, Ratu Zivaya merasakan bahwa pertarungan itu tidak imbang karna pada dasarnya Pangeran Lunxi memang sangat mahir dalam berpedang berbeda jauh dengan Pangeran Luxe.
Tiba tiba Pangeran Lunxi melakukan serangan dari bawah hingga pedang milik Pangeran Luxe terpental jauh. Saat Pangeran Lunxi dengan percaya diri ingin melakukan serangan terakhir untuk melukai Pangeran Luxe, muncul sebuah pedang berwarna merah darah yang menghadangnya.
Bukan Ratu Zivaya ataupun Ibu Suri Sinya yang datang menyelamatkan Pangeran Luxe melainkan Putri Amerilya yang tiba tiba saja muncul dari belakang kakaknya itu kemudian menghadang serangan dari Pangeran Lunxi. Mata Putri Amerilya menatap tajam ke arah sang paman yang ingin melukai kakaknya.
"Bukankah putri kecil ini sedang sakit? mengapa tiba tiba kau berada di sini?. Mungkin sakit mu itu hanya sebuah pengalihan agar tidak ada yang menuduh mu sebagai pembunuh Putri Haru?." ucap Pangeran Lunxi dengan senyuman miring.m
Ratu Zivaya, Ibu Suri Sinya, dan Juylin segera pergi menghampiri sang putri dan Pangeran Luxe. Mereka tidak tampak sangat marah pada Pangeran Lunxi yang telah mengganggu waktu beristirahat Putri Amerilya.
"Mengapa kau keluar dari kamar putriku? kondisi mu masih belum stabil dan seharusnya kau beristirahat dengan baik." ucap Ratu Zivaya dengan wajah cemas.
"Kondisi Amerilya sudah jauh lebih baik ibu. Untuk masalah ini biarkan Amerilya yang menyelesaikannya." ucap sang putri kecil dengan senyuman manis.
"Baiklah kau harus berhati-hati karna ibu tak ingin kau terluka." jawab Ratu Zivaya, ia tidak melarang Putri Amerilya untuk bertarung secara langsung dengan Pangeran Lunxi karna percaya dengan kemampuan yang dimiliki oleh sang putri.
Pangeran Lunxi meremas tangannya dengan kuat, akhirnya ia bisa membalaskan dendam atas kematian sang adik perempuan yang disebabkan oleh Putri Amerilya. Hawa dingin meluap dari dalam tubuh Pangeran Lunxi, kepadatan es yang membentuk pedang semakin tinggi.
"Hari ini satu Kerajaan Meztano akan berduka untuk kepergian dua orang putri sekaligus. Matilah Tuan Putri Amerilya!!!." triak Pangeran Lunxi yang mulai menyerang sang putri terlebih dahulu.
Putri Amerilya menangkis dengan mudah setiap serangan yang diberikan oleh Pangeran Lunxi untuknya. Suara dentingan pedang terdengar sangat nyaring hingga beberapa orang yang berada di aula istana utama dapat menyadari ada pertarungan yang sedang terjadi.
"Sialan mengapa anak berusia tiga tahun seperti mu memiliki kemampuan berpedang yang sangat bagus." umpat Pangeran Lunxi, ia merasa tidak terima jika harus kalah dengan Putri Amerilya.
"Mungkin karena saya rajin berlatih tidak seperti Pangeran Lunxi yang hanya bermalas-malasan saja sepanjang hari." jawab Putri Amerilya dengan tatapan mengejek.
"Seharusnya kau tidak pernah lahir ke dunia ini agar kehidupan kami bertiga tetap baik baik saja!!." bentak Pangeran Lunxi yang mulai menyalakan kelahiran Putri Amerilya ke dunia ini.
"Memangnya Anda ini siapa? jika Sang Pencipta menghendaki kelahiran saya ke dunia ini, apa yang bisa Anda lakukan untuk menentang hal itu!." bentak balik Putri Amerilya yang tak ingin kalah dari sang pangeran.
Tiba tiba saja langit berubah menjadi hitam, terdengar suara gemuruh petir dari atas langit. Terlihat kilasan cahaya berwarna hitam yan muncul dari mata Putri Amerilya.
"Kakak laki laki yang menyedihkan seperti Anda tidak pantas untuk berdiri di hadapan saya, karna itu lenyapnya Pangeran Lunxi." ucap Putri Amerilya dengan nada dingin dan suara yang rendah, akan tetapi suara itu menggema hingga sampai ke seluruh area Istana Kerajaan Meztano.
Tiba tiba saja tubuh Pangeran Lunxi menjadi kaku, ia tidak bisa bergerak meskipun sudah berusaha keras untuk melakukan hal itu. Pangeran Lunxi ingin berteriak untuk meminta tolong akan tetapi suaranya tidak mau keluar, yang bisa bergerak hanyalah kedua bola matanya. Ibu Suri Sinya dan Ratu Zivaya membelalakkan mata mereka secara bersamaan, mereka melihat bagian tubuh bagian bawah Pangeran Lunxi berubah menjadi hitam dan semakin naik ke atas.
"Anda bersikeras menuduh saya yang telah membunuh Putri Haru, maka akan saya tunjukkan secara langsung apa yang akan saya lakukan ketika ingin membunuh seseorang." ucap Putri Amerilya, aura yang keluar dari tubuh sang putri kecil berwarna hitam pekat mirip dengan milik Raja Azvago ketika sedang marah.
Seseorang datang dari arah belakang Putri Amerilya, orang itu melesat dengan kecepatan tinggi dan hendak menebas kepala sang putri.
Trangggg......
Suara dengungan ketika dua pedang saling bertabrakan dengan kencang. Beberapa orang yang berada di dalam aula semakin panik, mereka khawatir ada sekelompok penjahat yang berniat untuk menyerang Istana Kerajaan Meztano.
"Sebaiknya beberapa diantara kita pergi untuk melihat apa yang sedang terjadi di luar sana." ucap salah seorang pelayat.
"Benar, kita harus memastikan semua baik baik saja sebelum jasad Putri Haru dimakamkan." ucap pelayat yang lain.
"Saya dan Putri Alexsi akan pergi untuk melihat apa yang sedang terjadi di luar sana." ucap Raja Yuminxo.
"Baiklah mari pergi sekarang." jawab Raja Yuminxo yang mengizinkan Putri Lena untuk ikut bersamanya.
Di sisi lain saat ini Putri Amerilya bertatapan secara langsung dengan Pangeran Zogtu yang menyerangnya dari belakang, sungguh tindakan yang mencerminkan seorang pecundang. Putri Amerilya tersenyum ke arah Pangeran Zogtu, ia melompat kecil kemudian menendang ke arah sang pangeran hingga terjatuh.
"Seperti inikah cara bermain kalian berdua? seperti sekelompok pecundang yang tidak mampu untuk mengalahkan seorang anak perempuan seperti saya." ucap Putri Amerilya, ia benar benar puas dengan kata kata hinaan itu.
"Argh menyebalkan sekali!" triak Pangeran Zogtu dengan frustasi. Ia mencoba untuk berdiri akan tetapi sebuah pedang menancap di lututnya.
"Hei diamlah, ini belum giliran mu untuk pergi menyusul Putri Haru. Siapapun pelaku pembunuhan Putri Haru saya benar benar berterimakasih padanya." ucap Putri Amerilya, seringai menyeramkan terbentuk di wajah manis sang putri. Pangeran Zogtu hanya diam mematung tanpa mengucap apapun karna ia ketakutan.
"Bagus putriku!!! lakukanlah dengan bena." triak Ratu Zivaya dengan suara lantang. Sang ratu mendukung Putri Amerilya bersikap kejam pada kedua musuhnya itu.
"Ya benar tebas saja kepala mereka berdua agar berhenti untuk mengatakan hal hal sampah!!." triak Ibu Suri Sinya.
Raja Yuminxo, Putri Alexsi, dan Putri Lena diam mematung saat mereka melihat apa yang dilakukan oleh Putri Amerilya pada kedua pamannya itu, yang paling aneh Ratu Zivaya dan Ibu Suri Sinya mendukung sang putri secara penuh. Putri Amerilya mencabut pedangnya dari lutut kaki sebelah kiri Pangeran Zogtu kemudian menancapkan ke
lutut bagian kanan pangeran itu.
"Sakit bukan?." tanya Putri Amerilya sembari menatap tajam ke arah Pangeran Zogtu.
"Sa... sakit Tuan Putri Amerilya, tolong lepaskan saya. Saya benar-benar menyesal karna telah mengusik Anda." mohon Pangeran Zogtu pada Putri Amerilya dengan tatapan memelas.
Saat ini hampir seluruh bagian tubuh Pangeran Lunxi berubah menjadi hitam, yang tersisa hanyalah bagian kepalanya saja. Pangeran Lunxi sangat marah akan tetapi tubuhnya mengeras seperti batu dan masih belum bisa digerakkan. Setelah satu menit berlalu kini seluruh tubuh Pangeran Lunxi berubah menjadi hitam.
"Apa yang sedang terjadi di sini? mengapa Putri Amerilya bertarung dengan kedua pamannya itu?." tanya Putri Alexsi yang tidak memahami apa yang sedang terjadi.
"Mungkin kedua pangeran itu yang mengusik Putri Amerilya terlebih dahulu? karna sang putri tidak mungkin menyerang seseorang tanpa alasan yang pasti." jawab Raja Yuminxo, meski baru mengenal sang putri dari Kerajaan Meztano itu namun ia sudah mengetahui sifat Putri Amerilya dengan baik.
"Bagaimana jika Putri Amerilya memang sengaja melukai kedua pamannya untuk menutup mulut mereka mengenai kematian Putri Haru?. Bukankah Pangeran Lunxi sempat mengatakan bahwa Putri Amerilya satu satunya orang yang patut untuk dicurigai?!." ucap Putri Lena yang tiba tiba saja memojokkan Putri Amerilya.
"Diamlah, gadis bodoh seperti mu tidak perlu mengatakan apapun. Kau hanya bisa menjilat Putri Amerilya ketika mendapatkan keuntungan darinya." balas Putri Alexsi dengan tatapan tak suka. Baginya Putri Lena tetaplah Putri Lena yang tidak bisa berubah menjadi gadis baik.
Setelah memastikan Pangeran Zogtu tidak bisa berjalan menggunakan kedua kakinya kini Putri Amerilya mencabut kembali pedang Rad Moon miliknya dari lutut kaki kanan sang pangeran. Pandangan sang putri kecil teralihkan pada tubuh Pangeran Lunxi yang telah berubah menjadi hitam secara keseluruhan. Di sisi lain tiba tiba Putri Lena berlari masuk ke dalam istana, mungkin ia ingin mengadukan apa yang tengah terjadi pada semua orang.
Tanpa Putri Lena sadari Putri Amerilya melihat ketika ia berlari masuk ke dalam istana, bukannya merasa takut ataupun khawatir Putri Amerilya malah tersenyum dengan senyuman yang sangat manis.
"Hancurlah atas keinginan saya." ucap Putri Amerilya sembari melakukan gerakan menggenggam secara perlahan.
Duar.....
Suara ledakan kecil saat tubuh Pangeran Lunxi hancur menjadi debu debu kecil. Pangeran Zogtu yang melihat hal itu merasa hancur, ia mencoba untuk mendekat ke arah sang putri namun terasa sangat sulit.
"Hempaskan debu kotor itu wahai angin." ucap Putri Amerilya, dan dalam sekejap angin bertiup dengan kencang membersihkan sisa sisa debu dari tubuh Pangeran Lunxi.
"Itu terlihat hebat untuk seorang Tuan Putri berusia tiga tahun." komentar Putri Alexa sembari mengacungkan kedua jempolnya.
Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.