
Putri Amerilya benar benar tak suka dengan sikap pemuda itu, sang pemuda tak bisa menerima kenyataan jika sang ayah memang bersalah.
"Suaramu membuat telingaku sakit." ucap Putri Amerilya dengan ekspresi kesakitan. Merasa putri kesayangannya sedang di ganggu membuat amarah Raja Azvago semakin memuncak ia menggores sedikit luka di leher Baron Seven Salnver. Baron tersebut sangat ketakutan mungkin hidupnya tak akan lama lagi karna Raja Azvago terkenal dengan kekejamannya.
"Apa yang harus ayah lakukan pada pria ini putriku?." tanya Raja Azvago yang meminta pendapat pada Putri Amerilya, apapun pemintaan sang putri akan Yang Mulia Raja kabulkan dengan senang hati.
Putri Amerilya tampak berfikir sejenak, jika ia meminta sang ayah untuk membunuh Baron Seven Salnver maka akan terjadi keresahan dan kekacauan akibat kabar kabar buruk yang akan beredar nanti. Jalan satu satunya Putri Amerilya akan meminta pada sang ayah untuk mencabut jabatan Baron Seven Salnver dan mengganti dengan Baron yang baru.
"Ayah harus mencabut posisi pria itu, kita perlu mencari kandidat yang memiliki sikap baik untuk menggantikan posisinya." ucap Putri Amerilya dengan tegas, ia menatap tajam mata sang Baron.
"Tolong ampuni kami Yang Mulia Raja, jangan turunkan jabatan saya." ucap Baron Seven Salnver, ia tak ingin kerja kerasnya selama ini menjadi sia sia. Walaupun sikapnya yang sangat angkuh Baron Seven Salnver memiliki kontribusi yang cukup besar pada Kerajaan Meztano.
Raja Azvago sedang mempertimbangkan keputusannya, ia merasa sedikit ragu jika mengingat orang yang telah berjasa membebaskan wilayah desa tersebut dari serangan monster adalah keluarga besar Baron Seven, sang raja menghela nafas dan memasukkan kembali pedangnya kedalam sarung pedang ia menatap ke arah Putri Amerilya seperti sedang memberi isyarat bahwa ia tak bisa seenaknya menurunkan jabatan seseorang.
Melihat sang ayah yang tak bisa memenuhi keinginannya, tentu Putri Amerilya merasa sedikit kecewa. Sebagai seorang raja ayahnya memiliki hak dan kewajiban yang harus di jalankan dengan baik. Menurut aturan Kerajaan Meztano untuk menurunkan seseorang dari pangkatnya, raja memerlukan bukti yang kuat serta diadakan rapat terbuka oleh orang orang yang terlibat.
"Baiklah kali ini akan ku maafkan tindakanmu." ucap Raja Azvago ia mengajak kedua anaknya untuk kembali ke istana meski mereka belum mendapat sepotong kue. Baron dan putranya merasa senang karna sang raja tak bisa bertindak apapun.
"Kau lihat itu putraku, seorang rajapun tak bisa mengusik kehidupan kita." ucap Baron Seven Salnver dengan sangat sombong.
"Itu sangat luar biasa ayah." ucap Glance Salnver dengan senyuman bangga.
Tak ada yang tau jika Putri Amerilya masih bisa mendengar pembicaraan mereka dari kejauhan, sang putri mengepalkan tangannya dengan geram. Jika sang ayah tak bisa menghukum mereka maka ia akan turun tangan untuk menegakkan keadilan dan tak ada yang boleh merendahkan keluarga kerajaan.
Akhirnya mereka bertiga sampai di Istana Kerajaan Meztano, Raja Azvago segera turun dari kereta kuda ia masuk kedalam Istana dengan tergesa gesa. Mungkin saat ini suasana hati sang raja sedang buruk, ia ingin menenangkan diri sementara waktu. Di sisi lain Pangeran Azxo membantu adiknya untuk turun dari kereta kuda yang cukup tinggi setelah berhasil mereka berdua berjalan menuju istana putri.
"Kakak tak mendapatkan kue." ucap Putri Amerilya dengan ekspresi sedih, ia merasa kasihan pada Pangeran Azxo karna tak mendapat apa yang ia inginkan.
"Ini bukan masalah besar, aku bisa meminta koki istana untuk membuatkan kue yang lezat, nah sekarang pergilah ke kamarmu dan beristirahat." ucap Pangeran Azxo setelah mereka berdua sampai di depan pintu masuk istana putri.
Putri Amerilya mencium pipi sang pangeran kemudian berjalan masuk menuju istana putri, mendapat perlakuan manis dari adik kecilnya membuat pipi Pangeran Azxo menjadi merona. Dengan langkah yang sempoyongan ia berjalan menuju istana pangeran, ia akan tidur dan mengistirahatkan hatinya yang tak karuan itu.
Raja Azvago berada di dalam ruang kerjanya, ia masih memikirkan kejadian hari ini. Bagaimana bisa hatinya merasa ragu saat akan memberi hukuman pada keluarga Baron yang tak memiliki etika itu, mungkin putri kecilnya sangat kecewa saat ini karna sang ayah kurang tegas dalam mengambil sikap.
"Apa aku masih memiliki muka untuk bertemu dengan putri kecil." ucap Raja Azvago dengan perasaan putus asa.
"Bagaimana bisa aku sebodoh itu." ucap Raja Azvago lagi, ia sedikit menyesal karna tak memberi hukuman pada Baron Seven Salnver.
Ditempat lain tepatnya istana putri, Putri Amerilya sedang sibuk mempersiapkan diri untuk pergi malam nanti ia akan mengambil tindakan pada sang Baron yang telah merendahkan harga diri keluarga kerajaan. Putri Amerilya mengambil sebuah kaos panjang dan celana yang berwarna hitam ia juga mengambil pedangnya.
"Malam nanti akan ku buat kalian merasakan apa itu hukuman keadilan." ucap Putri Amerilya penuh dengan semangat, ia menyembunyikan semua peralatannya dengan baik agar kesepuluh pelayan tak curiga padanya.
Tok tok tok.
Suara pintu kamar Putri Amerilya yang diketuk oleh seorang pelayan setia, sang putri mempersilahkan pelayan itu untuk masuk kedalam.
"Saya dengan putri keluar bersama Yang Mulia Raja dan Pangeran Azxo." ucap pelayan itu dengan ekspresi senang, sekarang putri kecil mereka sudah bisa menikmati udara luar yang sejuk.
"Kami membeli beberapa gaun dan baju." ucap Putri Amerilya dengan logat anak kecil yang menggemaskan.
"Yang Mulia Raja yang membelikan semua itu?." tanya sang pelayan lagi.
"Tentu saja karna saya tak memiliki uang untuk membelinya sendiri." ucap Putri Amerilya dengan cengiran khas miliknya. Pelayan wanita itu menata rapi semua gaun dan baju yang dibelikan oleh Raja Azvago di lemari. Sebelum keluar dari kamar sang putri ia berpesan agar Putri Amerilya segera tidur.
Setelah sang pelayan keluar dari kamarnya, Puri Amerilya bergegas untuk menyiapkan semua keperluan untuk keluar malam ini. Ia sudah memakai baju serba hitam dan membawa sebilah pedang, gadis kecil itu membuka jendelanya pelan kemudian lompat keluar. Putri Amerilya bersembunyi di semak semak karna banyak prajurit yang menjaga Istana Putri, mungkin Raja Azvago tak ingin insiden penyerangan tempo lalu terulang kembali. Setelah beberapa saat menunggu ada sebuah celah untuk sang putri kabur, Putri Amerilya berlari menuju gerbang dan menyelinap di antara para prajurit yang sedang keluar masuk. Entah mata mereka yang rabun atau karna sang putri yang terlalu kecil gadis itu bisa kabur dengan leluasa tanpa diketahui oleh siapapun.
"Akhirnya sampai di luar istana." ucap sang putri yang berjalan dengan santai menuju rumah Keluarga Besar Baron Seven Salnver, di perjalanan tak ada seorangpun yang memperhatikannya hal itu membuat Putri Amerilya sedikit bingung.
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya Putri Amerilya sampai di depan gerbang masuk kediaman Baron Seven Salnver, penjagaan di sana terlihat lengah karna tak ada yang mengincar kekuasaan sang Baron.
"Pria itu hidup dengan tenang, pantas saja dia tak takut dengan siapapun." ucap sang putri kecil, sesegera mungkin ia masuk ke kediaman sang Baron. Setelah bisa masuk kedalam ia memanjat sebuah pohon yang lumayan tinggi, Putri Amerilya berencana mengintip melalui atap rumah untuk mengetahui letak kamar Baron Seven.
"Apa tubuh ini muat masuk melalui lubang ventilasi kecil itu?." ucap Putri Amerilya yang melihat sebuah lubang ventilasi di atas dinding, sebuah lubang dengan ukuran yang tak terlalu besar.
Putri Amerilya nekat masuk melalui lubang ventilasi itu, untunglah tubuh mungilnya tak tersangkut di sana. Setelah masuk kedalam kamar Putri Amerilya bersembunyi di bawah kolong tempat tidur karna ia mendengar suara langkah kaki dari luar kamar.
Cklek, suara pintu kamar Baron Seven Salnver yang dibuka oleh seseorang. Dari bentuk kakinya Putri Amerilya bisa menebak bahwa orang yang masuk adalah istri dari sang Baron.
"Suamiku apakah kau sudah tidur?." tanya Nyonya Grinc Salnver.
Setelah wanita itu yakin jika sang suami sudah tertidur lelap ia segera pergi dari kamar dengan wajah ceria, mungkin saja Nyonya Grinc Salnver sedang ingin pergi ke suatu tempat untuk menemui seseorang. Wanita itu pergi dan kondisi kembali aman, Putri Amerilya keluar dari kolong tempat tidur ia memegang pedang dengan sangat kencang dan hendak menusuk jantung Baron Seven Salnver.
Jelb, pedang milik Putri Amerilya menembus jantung Baron Seven Salnver, pria itu tak bisa memberikan perlawanan karna diserang secara tiba tiba. Sebelum menghembuskan nafas terakhir ia sempat melihat ke arah sang pembunuh, Baron itu sangat terkejut mengetahui fakta yang membunuhnya seorang anak kecil.
"Kenapa?." tanya Baron Seven Salnver dengan suara yang terbata bata, ia ingin tau apa alasan anak kecil itu membunuhnya dengan kejam.
"Untuk pembalasan atas apa yang anda lakukan." jawab Putri Amerilya tanpa ragu. Mendengar suara yang familiar baginya membuat sang Baron mengetahui bahwa anak yang telah membunuhnya adalah putri tunggal dari Kerajaan Meztano.
"Kau kejam." ucap Baron Seven Salnver kemudian menutup mata untuk selama lamanya. Mendengar perkataan itu tak menggoyahkan tekad Putri Amerilya sedikitpun, di dunia yang ia tempati sekarang kekuatan dan ketegasan adalah segalanya.
Misi hari ini sudah selesai dengan cepat Putri Amerilya keluar dari kamar Baron Seven Salnver melalui ventilasi tempatnya masuk tadi, sebelum pergi ia juga membersihkan semua barang yang bisa dijadikan bukti penyebab kematian Baron Seven Salnver.
"Mari kita pulang." ucap Putri Amerilya dengan sangat ceria.
Setelah kejadian itu suasana malam menjadi tenang, semua orang sibuk dengan urusan mereka masing masing hingga pagi pun tiba. Putri Amerilya masih meringkuk di atas tempat tidur, ia merasa sangat mengantuk karna kurang tidur semalam. Berita tentang kematian Baron Seven Salnver sampai ke telinga sang kaisar.
"Bagaimana kondisi mayat Baron itu?." tanya Raja Azvago pada salah satu mata matanya.
"Dia detimukan dengan sebuah luka tusukan yang sangat dalam, sepertinya sang pembunuh menargetkan jantung dari Baron Seven Salnver agar pria itu tak bisa mencari bantuan dari orang lain.
"Bagaimana hal ini bisa terjadi, apa yang sudah ditemukan oleh tim khusus?." ucap Raja Azvago yang ingin tau bagaimana konologis dari kematian Baron Seven Salnver.
Tanpa ragu ragu sang mata mata memberitaukan semua informasi yang ia miliki, pembunuhan yang terjadi kali ini terlihat sangat jelas sudah direncakan dari jauh jauh hari hingga tak menyisakan bukti sedikitpun.
"Laporkan pada saya jika ada perkembangan lain." ucap Raja Azvago pada mata matanya. Dengan cepat pemuda yang sudah bekerja lama untuk sang raja pergi, ia akan mencari semua informasi.
"Bukankah kemarin kami baru saja berselisih faham." ucap Raja Azvago dengan kebingungan, ia tak tau siapa yang melakukan semua ini apakah ada orang lain yang memiliki dendam pada Baron Seven Salnver selain para keluarga kerajaan??.
Di sisi lain beberapa pelayan masuk kedalam kamar Putri Amerilya, mereka ingin membangunkan gadis kecil itu karna nanti sang putri akan pergi ke tempat tinggal Duke Elister sesuai dengan kesepakatan mereka sebelumnya. Banyak cara yang digunakan untuk membangunkan Putri Amerilya, akan tetapi gadis itu belum bergeming sama sekali.
"Tuan putri anda harus segera bangun, Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe sudah siap untuk mengantar anda." ucap salah seorang pelayan yang masih berusaha membangunkan Tuan Putri Kesayangan mereka. Karna merasa terus di ganggu akhirnya Putri Amerilya bangun dari tidur, ia membuka matanya perlahan dan melihat kesekeliling.
"Umm jam berapa sekarang?." tanya Putri Amerilya dengan wajah mengantuk dan mata sebelah yang masih tertutup.
"Ini sudah jam setengah tuju pagi, anda harus segera mempersiapkan diri untuk pergi ke kediaman Duke Elister." ucap satu dari sepuluh pelayan wanita yang masih ada di kamar Putri Amerilya.
Mengingat bahwa hari ini ia memiliki janji dengan Tuan Duke Rigel Elister , sang putri langsung bangun dari tempat tidurnya dan masuk kedalam kamar mandi. Setelah siap dengan satu set baju yang dibelikan oleh sang ayah kemarin Putri Amerilya keluar dari istana putri dan pergi ke istana utama. Pangeran Luxe dan Pangeran Mixo sudah menunggu sang putri di meja makan bersama anggota keluarga kerajaan yang lain. Pintu ruang makan istana dibuka, Putri Amerilya masuk kedalam kemudian duduk di tempatnya.
"Pagi semuanya maaf karna saya terlambat." ucap sang putri yang meminta maaf karna sudah membuat semua orang menunggu.
"Putriku masih mengantuk?." tanya Ratu Zivaya yang melihat ke arah putri kecilnya itu, bukan hal yang buruk jika seorang anak yang masih dalam masa pertumbuhan bangun kesiangan.
"Iya ibu, aku masih mengantuk." ucap Putri Amerilya dengan bibir mungilnya yang terlihat cemberut.
"Setelah tugasmu selesai kau bisa tidur sepuas mu putriku." ucap Raja Azvago dengan senyuman yang tertahan, wajah putri kecilnya sangatlah menggemaskan.
"Aku akan tidur seperti beruang nanti." ucap Putri Amerilya yang mengambil beberapa roti dan buah buahan yang sudah di suguhkan di meja makan. Semua orang memakan hidangan yang disediakan dengan lahap begitupun Putri Amerilya walau terkadang matanya terpejam karna masih mengantuk.
"Kasihan sekali cucuku, lihatlah dia makan dengan mata tertutup." ucap Ibu Suri Sinya dengan senyum merekah di bibirnya, suasana istana Kerajaan Meztano berubah menjadi hangat dan ceria setelah kehadiran Putri Amerilya.
Hai semuanya gimana kabar kalian? semoga sehat terus ya. Jangan lupa follow author, vote, like, komen buat ninggalin jejak, gift biar aku seneng, rate bintang lima, share juga.