PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Saran Dari Putri Amerilya


Saat ini Putri Amerilya tengah tertidur lelap di sofa ruangan khusus Ibu Suri Sinya, gadis itu sengaja berada di sana karna ia memiliki firasat yang cukup tak baik. Di sisi lain saat ini Yang Mulia Raja Azvago sudah menyelesaikan beberapa dokumen dan ia langsung keluar dari ruang kerjanya. Raja Azvago berjalan menuju ruangan khusus ibu suri dan mengetuk pintu beberapa kali. Setelah mendapatkan izin untuk masuk, Raja Azvago langsung masuk ke dalam dan menghampiri Ibu Suri Sinya yang sedang duduk di kursinya. Yang Mulia Raja Azvago tak melihat keberadaan Putri Amerilya yang sedang tertidur di sana.


"Selamat sore Ibu Suri Sinya, saya datang untuk membicarakan sesuatu dengan Anda." ucap Yang Mulia Raja Azvago dengan tatapan serius. Ia perlu saran dari ibunya itu mengenai permintaan dari Ciela Marques.


"Silahkan duduk Yang Mulia Raja Azvago, katakanlah apa yang ingin Anda katakan." jawab Ibu Suri Sinya dengan tatapan santai.


"Ciela Marques baru saja menyerahkan beberapa kertas berisi informasi mengenai pemberontakan yang dilakukan oleh Keluarga Duke Marques. Saya menanyakan imbalan apa yang gadis itu inginkan, dan ia mengatakan ingin menjadi anak angkat saya. Apakah Ibu Suri Sinya bersedia menerima gadis itu menjadi cucu Anda?." tanya Yang Mulia Raja Azvago yang membuat Ibu Suri Sinya terkejut.


Mengapa ia harus menerima cucu perempuan baru yang tak memiliki hubungan darah dengannya? selain itu Ciela Marques memiliki dendam pribadi pada Putri Amerilya. Jika Ciela Marques menjadi putri angkat dari Yang Mulia Raja Azvago kemungkinan besar gadis itu akan membalas dendam atas perbuatan Putri Amerilya.


"Lakukanlah, maka ibu akan memimpin ribuan prajurit untuk menghancurkan kepemimpinan mu." jawab Ibu Suri Sinya dengan tatapan tajam. Sebagai seorang ibu suri bisa dikatakan ia adalah Ratu sebelumnya ketika Raja Azvago masih kecil, karna itu Ibu Suri Sinya memiliki puluhan ribu prajurit yang akan menuruti setiap keputusannya.


"Gadis itu tak memiliki siapapun untuk saat ini, haruskah saya mencarikan keluarga angkat untuknya?." tanya Yang Mulia Raja Azvago dengan tatapan bingung. Ia merasa kasihan pada Ciela Marques setelah melihat kondisi gadis dengan lebih teliti.


Putri Amerilya yang saat itu sedang tertidur lelap mulai membuka matanya perlahan, ia mendengar sang ayah sedang membahas Ciela Marques pada neneknya. Putri Amerilya meremas tangannya dengan kuat kemudian menunjukkan ekspresi tak suka, mengapa sang ayah sangat peduli dengan nasib Ciela Marques, bukankah gadis itu bagian dari para pengkhianat yang ingin menghancurkan Kerajaan Meztano.


"Lancang sekali gadis itu meminta diangkat menjadi putri mu, apakah dia berfikir pantas disandingkan dengan Putri Amerilya?." ucap Ibu Suri Sinya yang masih tak habis fikir dengan permintaan kurang ajar dari Ciela Marques.


"Saya sudah berjanji untuk memberikannya kesempatan untuk memperbaiki diri. Saya tak bisa mengingkari janji itu ibu." ucap Yang Mulia Raja Azvago yang sedang bimbang dengan keputusan yang akan ia ambil.


"Ayah bisa mengangkatnya menjadi putri ayah, saya akan meminta Pangeran Zingo untuk mengangkat saya menjadi putrinya." jawab Putri Amerilya yang masih dalam posisi tidur, mungkin akan lebih baik jika ia terlahir di keluarga Pangeran Zingo yang menerima kehadirannya sejak ia lahir.


Raja Azvago menoleh kebelakang kemudian berdiri untuk mencari dimana putri kecilnya itu berada. Setelah berkeliling di sekitar ruangan khusus Ibu Suri Sinya, Raja Azvago menemukan Putri Amerilya sedang dalam posisi tidur di atas sofa sembari menatap ke arah plafon. Raja Azvago mengangkat sebelah alisnya, sejak kapan putrinya berada di ruangan itu? mengapa ia tak melihat sang putri sebelumnya.


"Apa kau juga tak menerima gadis itu putriku?." tanya Yang Mulia Raja Azvago sembari menatap ke arah Putri Amerilya.


"Seorang pengkhianat tetaplah pengkhianat, siapa yang dapat menginformasi keaslian dari semua yang ia tulis. Ciela Marques adalah gadis yang cukup licik, ia akan melakukan apapun untuk mendapat semua yang ia inginkan. Daripada hidup satu atap dengan seseorang yang telah menjadi musuh saya, sebaiknya saya tinggal dengan paman Zingo." jawab Putri Amerilya dengan tegas, ia siap meninggalkan Istana Kerajaan Meztano jika sang ayah sampai melakukan hal itu. Mungkin beberapa penghuni istana itu akan ikut pergi bersama dengannya.


"Begitu kah putriku? baiklah ayah tak akan mengangkat Ciela Marques menjadi putri ayah. Bagaimanapun kebahagiaan mu adalah prioritas utama ayah." ucap Yang Mulia Raja Azvago. Ia tak akan rela jika putri kecilnya itu menjadi milik Pangeran Zingo, sudah lama ia menantikan kehadiran anak perempuan dan ia tak akan membiarkan Putri Amerilya menghilang dari kehidupannya.


"Bisakah ayah membawakan kertas berisi informasi yang dituliskan oleh Ciela Marques?." tanya Putri Amerilya yang ingin membaca sekaligus menilai apakah Ciela Marques berbohong ataukah tidak.


Raja Azvago mengeluarkan beberapa lembar kertas dari saku bajunya, ia menyerahkan kertas kertas itu pada putri kecilnya. Dengan segera Putri Amerilya memposisikan dirinya duduk bersandar di sofa kemudian membaca beberapa lembar kertas itu dengan teliti. Beberapa kali Putri Amerilya menunjukkan ekspresi yang cukup aneh dan membuat Yang Mulia Raja Azvago merasa bingung.


"Banyak sekali kebohongan yang gadis itu tulis." gumang Putri Amerilya sembari berdecak kesal. Ia telah mendapatkan banyak informasi mengenai pemberontakan yang dilakukan oleh Keluarga Duke Marques bersama beberapa petinggi dari Kerajaan Meztano, semua kata kata yang tertulis di dalam kertas itu hanyalah omong kosong belaka.


"Mengapa kau berkata demikian putriku? apa kau mengetahui kebenaran dari pemberontak kali ini?." tanya Raja Azvago yang langsung duduk di samping Putri Amerilya, ia ingin mendengar semua penjelasan dari putri kecilnya itu.


Putri Amerilya meminta beberapa lembar kertas pada Ibu Suri Sinya dan meminjam pena pada neneknya itu. Dengan senang hati ibu Suri Sinya menyiapkan semua barang yang diperlukan oleh cucu kesayangan, dengan segera Putri Amerilya menggambarkan denah Istana Kerajaan Meztano secara detail gambar anak berusia dua tahun itu lebih bagus dari gambar peta Kerajaan Meztano yang disimpan Yang Mulia Raja Azvago.


"Bagaimana bisa kau menghafal semua tempat yang ada di istana ini?." tanya Raja Azvago dengan tatapan bingung, putri kecilnya memanglah seorang jenius dalam berpedang, membuat startegi, dan juga menjadi mata mata. Menghafal denah sebuah tempat yang cukup besar seperti Istana Kerajaan Meztano bukanlah hal yang mudah dan Putri Amerilya bisa melakukan itu.


"Putri mu bahkan lebih pintar darimu putraku." ejek Ibu Suri Sinya yang masih duduk dengan tenang di kursi dan meja tempatnya bekerja.


"Dia sangat hebat seperti ayahnya, mengapa ibu malah mengejekku." ucap Yang Mulia Raja Azvago dengan tatapan kesal.


Saat Raja Azvago dan Ibu Suri Sinya sibuk berdebat, Putri Amerilya mulai memberikan beberapa tanda pada peta Istana Kerajaan Meztano yang telah selesai ia buat. Putri Amerilya memberikan lingkaran berwarna merah pada penjara tempat Nyonya Riana Marques dan kedua anaknya pernah di tahan, Putri Amerilya membuat sebuah garis lurus menggunakan pena berwarna hijau kemudian melingkari kamar tamu terbengkalai yang ada di bangunan bagian belakang Istana Utama.


"Ayah dan nenek sudah selesai bertengkar?." tanya Putri Amerilya sembari minat ke arah ibu dan anak itu. Ibu Suri Sinya dan Yang Mulia Raja Azvago tak pernah akur dan selalu bertengkar mengenai hal hal kecil seperti itu.


"Ahahaha maafkan ayah." ucap Yang Mulia Raja Azvago yang langsung mengalihkan pandangannya ke peta yang sudah dibuat oleh Putri Amerilya.


"Di sini tempat Riana Marques dan kedua anaknya bersembunyi, hanya tempat ini yang layak mereka jadikan sebagai tempat persembunyian." ucap Putri Amerilya sembari menunjuk kamar tamu terbengkalai yang ada di bangunan bagian belakang Istana Kerajaan Meztano.


"Mengapa tempat ini sangat strategis?." tanya Yang Mulia Raja Azvago.


"Ruangan ini memiliki jarak yang tak terlalu jauh dari penjara tempat mereka ditahan, tempat ini juga sangat dekat dengan pintu yang terhubung dengan halaman belakang istana putri. Jadi sudah dapat dipastikan bahwa mereka bersembunyi di sini saat kekacauan pesta makan malam terjadi, di dalam informasi yang diberikan oleh Ciela Marques ia mengatakan bahwa ia tak tau secara pasti letak tempat persembunyian mereka. Jika gadis itu berniat memberikan informasi yang akurat ia pasti akan menuliskan sebuah tempat yang tak jauh dari penjara dan berada di bangunan bagian belakang istana utama." ucap Putri Amerilya yang memberi penjelasan pada ayahnya.


"Kau dengar itu putraku, apa kau ingin mengangkat gadis licik itu menjadi putrimu?." ucap Ibu Suri Sinya dengan nada dingin.


"Nama nama pejabat Kerajaan Meztano yang ia tuliskan juga salah, bukankah ini sebuah hal mendasar yang seharusnya ia ketahui sebagai bagian dari pemberontak itu." ucap Putri Amerilya dengan tatapan tajam yang ia tujukan pada sang ayah.


"Lihat itu, bagaimana bisa kau menukar putri kandung mu yang sangat pintar dan menggemaskan ini dengan seorang sampah." cela Ibu Suri Sinya pada Raja Azvago. Sang raja hanya bisa terdiam dan menyesali kebodohannya itu, untunglah ia meminta pendapat pada Ibu Suri Sinya terlebih dahulu.


"Maaf kan ayah putriku, ayah hanya memikirkan betapa malangnya nasib gadis itu tanpa memikirkan bagaimana perasaan mu nanti." ucap Yang Mulia Raja Azvago dengan mata berkaca-kaca.


"Sudahlah, yang terpenting ayah tak perlu merasa kasihan lagi pada Ciela Marques. Sebanyak apapun informasi yang ia berikan, ia tetaplah pengkhianat yang harus disingkirkan dari Istana Kerajaan Meztano." ucap Putri Amerilya dengan tatapan penuh kebencian, ia akan menyingkirkan Ciela Marques bagaimanpun caranya.


"Lalu bagaimana dengan pria asing yang selalu datang ke Kediaman Duke Marques untuk menyusun rencana pemberontakan yang mereka lakukan?." tanya Raja Azvago, ia khawatir jika ada pihak luar yang ikut dalam pemberontakan kali ini. Setidaknya Raja Azvago harus mengetahui siapa orang itu agar ia merasa lebih tenang.


"Ada tiga jenderal dari istana Kerajaan Meztano yang ikut dalam rencana pengkhianatan oleh Keluarga Duke Marques, mereka adalah pria asing yang dibicarakan oleh Ciela Marques. Penjagaan di wilayah perbatasan bukanlah hal yang mudah untuk ditembus jadi tak ada pihak luar yang ikut dalam pengkhianatan kali ini." jawab Putri Amerilya dengan sangat logis. Ibu Suri Sinya bertepuk tangan atas kepintaran dari cucu perempuannya itu, mungkin setelah Raja Azvago turun dari tahtanya maka Putri Amerilya akan naik tahta menjadi seorang ratu.


"Sebaiknya kau belajar pada putrimu itu, di saat saat genting seperti ini jangan mudah terkecoh dengan tipu muslihat orang lain. Dilain hari sebaiknya Anda lebih berhati hati lagi dalam bertindak Yang Mulia Raja Azvago." ucap Ibu Suri Sinya yang memberikan sebuah pesan pada putra pertamanya itu. Meskipun Raja Azvago dikenal sebagai seorang raja yang ganas dan juga kuat, ia sering kali ceroboh dalam beberapa hal kecil.


"Baiklah, saya akan belajar lebih banyak lagi. Lalu hadiah apa yang harus saya berikan lada Ciela Marques?." tanya Raja Azvago, ia ingin tau pendapat dari ibu dan juga anak perempuannya.


"Biarkan saja ia hidup untuk satu minggu kedepan, jika ia melakukannya sesuatu yang mencurigakan maka ayah bisa langsung membunuhnya. Jangan merawat ular berbisa di dalam rumah mu sendiri ayah." ucap Putri Amerilya kemudian memejamkan matanya untum kembali masuk ke dalam alam mimpi.


Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.