
Kesatria Richal berlari melalui beberapa prajurit yang menjaga pintu masuk istana utama, para prajurit itu menatap Kesatria Richal dengan tatapan bingung.
"Apa yang terjadi? mengapa Tuan Kesatria tergesa-gesa seperti itu?." tanya salah seorang prajurit penjaga pintu masuk istana utama pada prajurit yang lain. Mungkinkah sedang terjadi sesuatu yang buruk di suatu wilayah?.
"Entahlah, yang saya tau Kesatria Richal baru saja keluar dari istana putri. Mungkin saja hal ini menyangkut Putri Amerilya, sebaiknya kita tak ikut campur dan tetap berjaga di sini." jawab seorang prajurit yang menyarankan pada rekannya itu untuk menghilangkan rasa ingin taunya yang terlalu besar.
Kesatria Richal terus berlari menuju ruang kerja Yang Mulia Raja Azvago, ia mengetuk pintu ruang kerja itu dengan cukup kencang namun tak ada jawaban apapun dari dalam. Sepertinya saat ini Raja Azvago sedang tak berada di dalam ruang kerjanya, Kesatria Richal pergi ke tempat lain dan ia harus cepat karna saat ini Putri Amerilya sudah mulai kehilangan kesabarannya. Beberapa pelayan yang ada di istana utama melihat ke arah Kesatria Richal dengan ekspresi heran, apa yang membuat kesatria itu sangat panik? dan siapa yang sedang ia cari.
"Maaf Tuan Kesatria, jika kami boleh tau siapa yang sedang Anda cari?." tanya salah seorang pelayan, ia memberikan diri untuk bertanya pada Kesatria Richal karna merasa kasihan pada kesatria itu yang mondar-mandir sedari tadi.
"Apa kalian tau dimana Yang Mulia Raja Azvago saat ini?." tanya Kesatria Richal, wajah pria itu terus menunjukkan ekspresi panik yang berlebihan hingga membuat para pelayan yang ada di hadapannya merasa takut.
"Saat ini Yang Mulia Raja Azvago sedang berada di halaman samping istana utama bersama dengan Raja Alenzie." jawab pelayan itu yang ikut merasa panik. Seorang kesatria tingkat tinggi seperti Tuan Richal pasti mampu mengatasi masalah masalah kecil, jika sampai ia membutuhkan Yang Mulia Raja Azvago berarti masalah yang dihadapi saat ini cukup besar.
"Terimakasih atas informasinya, saya pergi terlebih dahulu." ucap Kesatria Richal yang langsung berlari menuju halaman samping istana utama.
Setelah kepergian Kesatria Richal, para pelayan itu bergegas kembali menjalankan tugas mereka masing masing meski mereka saat ini dihantui dengan rasa penasaran. Karna terlalu cepat berlari, tak perlu waktu lama bagi Kesatria Richal untuk sampai di halaman samping istana utama, kedatangannya membuat Raja Azvago dan Raja Alenzie kebingungan.
"Salam hormat saya pada Yang Mulia Raja Azvago dan Raja Alenzie, sebaiknya kalian segera pergi ke istana putri sebelum terjadi hal yang lebih buruk nanti." ucap Kesatria Richal, ia sedang mengatur nafasnya yang tak karuan. Kesatria Richal khawatir Putri Lena terus memprovokasi Putri Amerilya hingga putri kecil itu mengamuk.
"Atur nafas Anda terlebih dahulu Tuan Kesatria Richal, apa yang sedang terjadi di istana putri hingga Anda sepanik ini?." tanya Raja Azvago dengan tatapan bingung, tak mungkin jika Putri Amerilya tiba tiba ingin menghancurkan istana putri.
"Tuan Putri Amerilya bertengkar dengan kedua putri Raja Alenzie. Sepertinya Putri Lena masuk ke dalam kamar pribadi Putri Amerilya tanpa meminta izin terlebih dahulu, saat Putri Amerilya meminta Putri Lena untuk pergi dari kamarnya secara baik baik Putri Lena malah mengusirnya." ucap Kesatria Richal yang memberikan penjelasan secara singkat mengenai permasalahan yang terjadi di dalam istana putri.
Tanpa berlama lama lagi Yang Mulia Raja Azvago dan Raja Alenzie langsung bergegas pergi menuju istana putri, Kesatria Richal berjalan dengan sedikit lebih santai dari sebelumnya karna ia merasa lelah. Di sisi lain saat ini Putri Lena menatap Putri Amerilya dengan tatapan tak suka, mengapa putri itu sangat marah hanya karna pedang jelek miliknya diambil oleh Putri Lena.
"Haish masalah kecil ini menjadi besar karna sifat kekanak-kanakan dari Tuan Putri Amerilya. Mengapa Anda tak bisa menyelesaikan masalah ini sendiri?." ucap Putri Lena yang sedang mencibir Putri Amerilya. Masuk ke dalam kamar pribadinya bukankah masalah besar sampai harus melibatkan ayah mereka.
"Biasanya saya menyelesaikan masalah seperti ini dengan cara menebas kepala orang yang telah membuat saya marah." jawab Putri Amerilya dengan tatapan tajam, aura pedang yang cukup kuat tiba tiba keluar dari tubuh Putri Amerilya karna ia merasa tak terima dengan perkataan Putri Lena. Jika putri dari Kerajaan Antez ingin menyelesaikan masalah ini menggunakan caranya, maka dengan senang hati Putri Amerilya akan melakukan hal itu.
"Apa yang ingin kau lakukan, tarik kembali aura pedang milikmu itu!." bentak Putri Liene yang mulai merasa panik saat merasa aura pedang yang cukup besar keluar dari tubuh seorang anak perempuan yang baru menginjak usia tiga tahun.
"Bukankah Putri Lena ingin saya menyelesaikan masalah ini dengan cara saya sendiri? maka dengan senang hati saya akan menuruti permintaannya." jawab Putri Amerilya dengan sebuah senyuman yang terlihat menakutkan bagi orang lain.
Pangeran Mixo dan kesepuluh pelayan setia Putri Amerilya berusaha menghentikan putri kecil itu, mereka tak ingin ada pertumpahan darah yang terjadi di Istana Kerajaan Meztano saat ulang tahun Putri Amerilya akan dilangsungkan sebentar lagi. Lilian menarik tubuh Putri Amerilya kemudian memeluk sang putri dengan erat, perlahan lahan aura pedang yang keluar dari tubuh Putri Amerilya menghilang karna ia sudah merasa tenang. Lilian begitu kesal dengan Putri Lena, mengapa putri itu tak bisa diam dan menutup mulutnya.
"Ahahaha lihatlah Tuan Putri Amerilya dipeluk oleh seorang pelayan, apakah Anda kekurangan kasih sayang dari Yang Mulia Raja Azvago dan Ratu Zivaya?." ucap Putri Lena yang kembali mengejek Putri Amerilya. Tanpa Putri Lena sadari dibelakangnya sudah ada Yang Mulia Raja Azvago dan juga Raja Alenzie.
Raja Alenzie mengusap wajahnya dengan frustasi, mengapa putri keduanya itu tak bisa menjaga kata kata yang keluar dari mulutnya saat berasa di wilayah kerajaan orang lain. Saat Raja Alenzie ingin menghampiri Putri Lena dan menegurnya, Yang Mulia Raja Azvago menahan dan meninta Raja Alenzie untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh Putri Amerilya.
Putri Amerilya melepaskan pelukan dari Lilian, ia kembali menatap Putri Lena dengan sorot mata tajam. Putri Lena ingin bermain menjatuhkan mental seseorang menggunakan kata kata maka ia akan melakukan hal yang sama. Jangan kira seorang Putri Amerilya akan diam saja saat ditindas seperti itu.
"Adik saya tak kekurangan kasih sayang seperti yang Anda katakan." ucap Putri Liene yang sedang membela adik perempuannya.
"Apakah Putri Lena tak sanggup membeli sebuah pedang hingga harus mengambil pedang milik orang lain? ah ataukah Anda tak mendapatkan uang bulanan?. Sebaiknya masalah ini dibicarakan baik baik dengan kedua orang tua Anda. Saat ini Putri Lena masih berusia lima tahun dan sudah berani mengambil barang milik orang lain, mungkin saat besar nanti dia akan menjadi pencuri yang ulung jika tak mendapat didikan yang lebih keras dari Raja Alenzie dan Ratu Jeylena." ucap Putri Amerilya dengan senyuman lebar. Pangeran Mixo hanya diam dan melihat apa yang sedang dilakukan adik perempuannya itu, ia tau Putri Amerilya mampu menyelesaikan masalah ini tanpa bantuan orang lain dan kehadirannya di sana hanya untuk mencegah Putri Amerilya menggunakan pedang merah yang biasa ia panggil untuk menyerang Putri Liene dan Putri Lena.
"Saya tak mengambil apapun dari kamar Anda jadi berhentilah menuduh saya." elak Putri Lena yang tak ingin mengakui perbuatannya.
"Kalau begitu tolong angkat kedua tangan Anda sekarang agar saya percaya dengan perkataan Anda barusan." jawab Putri Amerilya dengan senyuman miring. Jika Putri Lena mengangkat kedua tangannya maka pedang yang sedang ia sembunyikan akan jatuh.
"Mengapa saya harus menuruti perkataan Anda, saya tak mengambil apapun!." bentak Putri Lena dengan suara yang cukup kencang.
"Bagaimana jika berita tentang Putri Lena yang sembarangan masuk ke dalam kamar pribadi milik putri dari Kerajaan Meztano tersebar di seluruh wilayah kerajaan ini dan beberapa kerajaan lain, ditambah berita mengenai Putri Lena yang berani mengambil barang tanpa izin dari pemiliknya. Kira kira keluarga bangsawan mana yang ingin menikahkan putranya dengan Anda di masa depan?." ucap Putri Amerilya dengan ekspresi tenang dan sebuah senyuman sebagai tanda kepuasan.
Putri Lena menelan ludahnya dengan kasar, ia tak berfikir sejauh itu. Jika berita tentang perbuatannya hari ini sampai di dengar oleh keluarga kerajaan yang lain maka nama baiknya akan hancur, kemungkinan terburuknya ia tak akan mendapatkan surat lamaran dari keluarga bangsawan manapun. Putri Lena berlari ke arah Putri Amerilya dan ia langsung mengeluarkan pedang yang disembunyikan sedari tadi untuk menyerang Putri Amerilya. Pangeran Mixo segera menangkis serangan Putri Lena menggunakan pedangnya sedangkan Lilian dan beberapa pelayan yang lain langsung mengamankan Putri Amerilya.
"Beraninya Anda menyerang adik saya!." bentak Pangeran Mixo dengan wajah memerah.
"Ini adalah pertengkaran anak kecil sebaiknya Anda tak ikut campur Pangeran Mixo." ucap Putri Liene yang sedang memberi nasehat pada Pangeran Mixo.
"Diam saya tak sedang berbicara dengan Anda!." jawab Pangeran Mixo dengan kekesalan yang memuncak.
Karna kondisi susah mulai tak terkendali akhirnya Yang Mulia Raja Azvago, Raja Alenzie, dan Kesatria Richal datang untuk melerai kedua belah pihak. Putri Lena menyadari ada yang datang dan ia segera berakting jatuh ke lantai padahal tak ada yang menyentuhnya saat itu.
"Hentikan, jangan bertengkar di dalam istana seperti ini apalagi sampai menggunakan senjata." ucap Yang Mulia Raja Azvago dengan suara yang cukup kencang dan nada bicara tegas. Sebenarnya sang raja tak menyangka bahwa Putri Lena akan dengan berani mengangkat pedang untuk menyerang putri kesayangannya.
"Ayah, Pangeran Mixo menyerang saya." ucap Putri Lena dengan mata berkaca-kaca, air matanya jatuh seolah olah ialah orang yang paling teraniyaya dalam kejadian itu. Andai saja Putri Lena tau bahwa Yang Mulia Raja Azvago dan ayahnya melihat semua yang telah ia lakukan.
Raja Alenzie berjalan mendekat ke arah Putri Lena, ia menjulurkan tangannya untuk membantu Putri Lena bangun.
Plak...
Sebuah tamparan yang sangat kencang diberikan oleh Raja Alenzie pada putri keduanya itu, ia merasa sangat malu karna gagal mendidik putrinya dengan baik. Putri Lena sangat terkejut saat sang ayah tiba tiba menamparnya, mengapa ayahnya melakukan hal itu?.
"Ayah mengapa.." belum sempat Putri Lena menyelesaikan kata katanya, Raja Alenzie langsung memotong kata kata itu.
"Tak perlu berpura pura lagi karna ayah sudah melihat semuanya, kembali pedang milik Putri Amerilya. Apakah mata mu itu perlu diperiksakan hingga tak bisa membaca tulisan yang terukir di sarung pedang dan bagian pedang itu?." ucap Raja Alenzie dengan tatapan tajam, setelah kembali ke Kerajaan Antez nanti ia akan memberi hukuman pada Putri Lena dan Putri Liene.
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, rate bintang lima, share juga ya.