PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Pertandingan Dimulai


Di istana putri seluruh tamu telah selesai menyantap makan malam mereka dan mulai kembali ke kamar masing masing kecuali Putri Amerilya, Putri Liene, dan Putri Lena. Mereka bertiga saling bertatapan tajam satu sama lain kemudian bergegas keluar dari ruang makan menuju istana utama, malam ini akan diadakan pertandingan antara Yang Mulia Raja Zivaya dengan Ratu Jeylena. Beberapa orang telah berkumpul di lapangan bagian belakang istana utama, mereka terlihat antusias menantikan pertandingan antara Ratu dari Kerajaan Meztano dengan Ratu dari Kerajaan Antez.


"Lihat saja nanti, ibuku pasti akan mengalahkan Ratu Zivaya." ucap Putri Lena sembari menatap remeh ke arah Putri Amerilya.


"Baiklah saya akan menantikan hal itu, siapa yang menang masih menjadi misteri. Jangan terlalu sombong Putri Lena, saya khawatir Anda akan merasa malu jika hasilnya Ratu Jeylena kalah." jawab Putri Amerilya dengan santai, ia sangat yakin ibunya pasti bisa mengalahkan wanita licik itu. Bagaimanapun juga pertandingan kali ini dilakukan agar Putri Amerilya mendapat keadilan setelah diserang oleh Ratu Jeylena.


Ketiga putri itu terus berjalan hingga mereka sampai di lapangan bagian belakang istana utama, terlihat anggota Kesatria White Rose dan Kesatria Black Night sedang menjaga di sekitar area pertandingan agar tak terjadi kecurangan oleh pihak Kerajaan Antez. Para prajurit dan beberapa pelayan istana Kerajaan Meztano sudah duduk dengan rapi beralaskan rumput, mereka sudah tak sabar menantikan pertandingan berlangsung.


"Salam hormat kami pada Tuan Putri Amerilya." salam Kesatria Richal pada Putri Amerilya yang baru saja datang. Semua anggota Kesatria White Rose terlihat senang ketika Putri Amerilya datang, di sisi lain Putri Lena menatap sinis ke arah Putri Amerilya karna ia mendapat perhatian dan kasih sayang dari banyak orang.


"Salam saya pada seluruh anggota Kesatria White Rose, senang rasanya melihat area pertandingan dijaga oleh kalian. Saya permisi untuk melihat di barisan paling depan, sampai jumpa semua." ucap Putri Amerilya, kaki kecil anak perempuan itu terus melangkah hingga ia bertemu dengan keempat kakak laki lakinya.


Pangeran Mixo menyadari kedatangan adik kecilnya itu, sebelum direbut oleh pangeran yang lain Pangeran Mixo terlebih dahulu menggendong Putri Amerilya. Pangeran Luxe dan Pangeran Zico yang menyadari hal itu langsung menatap tajam ke arah Pangeran Mixo.


"Putri Amerilya bukan adik perempuan Anda saja, kami juga kakak laki lakinya. Apakah Anda tak bisa menurunkan Tuan Putri agar kami juga bisa dekat dengannya?." tanya Pangeran Zico yang merasa tak terima karna saat ini adik perempuannya sangat dekat dengan kakak pertama mereka.


"Saya yang pertama kali menyadari keberadaan Putri Amerilya karna itulah saya berhak untuk menggendongnya. Salah kalian sendiri yang tak menyadari kedatangan putri kecil." jawab Pangerang Mixo, sang pangeran tidak ingin mengalah dengan adik adiknya yang lain jika sudah menyangkut Putri Amerilya.


"Ini sungguh tidak adil, biarkan Putri Amerilya bermain main bersama kakaknya yang lain." ucap Pangeran Luxe dengan ekspresi kesal.


Raja Azvago dan Ratu Zivaya yang baru saja datang sedikit terkejut karna mendengar pertengkaran diantara ketiga putra mereka, Raja Azvago menatap datar ke arah ketiga pangeran itu, sang raja melihat wajah tertekan dari Putri Amerilya karna ia diperebutkan oleh kakak kakaknya sendiri. Raja Azvago berjalan mendekat kemudian mengambil putri kecilnya itu dari gendongan pangeran pertama, sontak Pangeran Mixo menunjukkan ekspresi terkejut sekaligus kesal pada Raja Azvago.


"Mengapa ayah tiba tiba mengambil adik saya?!." ucap Pangeran Mixo dengan nada yang sedikit tinggi.


"Anda hanyalah kakak laki lakinya sedangkan saya adalah ayahnya. Apakah Anda sudah faham mengenai perbedaan diantara kita berdua?." jawab Raja Azvago dengan tatapan datar. Daripada putri kecilnya itu merasa pusing lebih baik sang putri kecil ada dalam gendongannya.


Pangeran Mixo langsung terdiam, ia tak bisa membantah atau mengatakan apapun lagi. Statusnya sebagai kakak tertua akan kalah dengan status sebagai seorang ayah, setelah Pangeran Mixo diam suasana kembali menjadi hening. Putri Amerilya menghela nafas lega karna ia tak perlu mendengar perdebatan diantara ketiga pangeran yang membuat telinganya sakit.


Setelah suasana lebih kondusif, Yang Mulia Raja Azvago naik ke atas arena pertandingan dengan menggendong Putri Amerilya. Wajah lucu sang putri membuat semua orang kini menjadi terfokus padanya.


"Selamat malam semuanya, terimakasih karna telah bersedia untuk hadir dan menyaksikan pertandingan antara Yang Mulia Ratu Zivaya dengan Ratu Jeylena. Sebelum itu saya akan memberitahukan apa yang dipertaruhkan dalam pertandingan kali ini." ucap Raja Azvago sembari tersenyum hangat ke arah istrinya namun Ratu Jeylena tiba tiba memberikan sebuah senyuman padanya.


"Kalian semua pasti sudah mengetahui bahwa Tuan Putri Amerilya mendapatkan serangan dari Ratu Jeylena, saya ingin menghukum sang ratu dengan aturan yang berlaku di Kerajaan Meztano namun pihak Kerajaan Antez menentang hal itu. Jika Yang Mulia Ratu Zivaya menang maka Ratu Jeylena akan menjalankan hukuman sesuai aturan yang ada di wilayah Kerajaan Meztano, selain itu mereka juga harus mengumumkan bahwa Pangeran Mixo tidak menerima lamaran dari Putri Liene pada penduduk Kerajaan Antez. Jika Ratu Jeylena yang menang maka pertunangan antara Pangeran Mixo dan Putri Liene akan dilangsungkan satu bulan setelah ulang tahun Tuan Putri Amerilya. Itulah pertaruhan dalam pertandingan kali ini, saya persilahkan Ratu Zivaya dan Ratu Jeylena untuk naik ke atas arena." ucap Raja Azvago dengan senyuman tipis yang terlihat sangat tampan.


Ratu Zivaya naik ke atas arena dengan sangat anggun dan penuh dengan wibawa, sang ratu tersenyum hangat ke arah putra putranya. Di sisi lain Ratu Jeylena naik ke atas arena dengan cara berlari, hal yang paling memalukan adalah Ratu Jeylena mendekati Raja Azvago secara sengaja kemudian berusaha menarik perhatian sang raja dengan mengusap punggungnya secara perlahan.


"Raja Alenzie!! setelah acara ini selesai tolong ajari istri Anda sopan santun!!." ucap Putri Amerilya yang melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan Ratu Jeylena pada ayahnya.


"Tolong jaga ucapan Anda Tuan Putri Amerilya." jawab Raja Alenzie yang tak ingin kehilangan muka di hadapan semua orang. Pria itu juga dapat melihat apa yang dilakukan sang istri pada Yang Mulia Raja Azvago.


"Seorang wanita yang sudah bersuami berusaha merayu suami wanita lain, sungguh tindakan yang menjijikkan." ucap Raja Azvago, ucapannya membuat Ratu Jeylena merasa sangat malu. Sang ratu tak menyangka bahwa Raja Azvago akan mengatakan hal seperti itu.


"Maaf... maaf karna saya tak sengaja melakukan hal itu." jawab Ratu Jeylena dengan menundukkan kepala, wanita itu meneteskan air mata untuk menarik rasa simpati orang orang yang berada di lapangan.


"Ibu!! jangan lupa memukul wanita itu hingga ia tak akan berani merayu ayah lagi untuk selamanya." ucap Putri Amerilya yang sedang menyemangati Ratu Zivaya.


"Baiklah ibu akan mengabulkan permintaan mu itu putriku, sebaiknya pertandingan segera dilangsungkan karna saya masih memiliki beberapa tugas yang lebih penting." ucap Ratu Zivaya dengan sorot mata tajam.


"Satu..." ucap Raja Azvago dengan santai, semua orang mulai menajamkan pandang mereka masing masing.


"Dua....tigaaaaa!!!." triak Raja Azvago dengan suara yang cukup kencang. Kini pertandingan antara Ratu Zivaya dan Ratu Jeylena resmi dimulai.


Ratu Zivaya berlari dengan sangat cepat ke arah Ratu Jeylena, Ratu Zivaya menendang perut lawannya itu dengan sangat kencang sebagai hukuman karna sang lawan berani menggoda suaminya. Saat itu Ratu Jeylena belum siap karna hitungan ketiga baru saja diucapkan oleh Raja Azvago, akibatnya Ratu Jeylena tidak dapat menghindar dan harus menerima tendangan itu secara langsung.


Ratu Jeylena terpental cukup jauh ia bahkan sampai jatuh ke arena pertandingan, Ratu Jeylena memegangi perutnya yang terasa sakit kemudian ia menatap penuh kebencian ke arah Ratu Zivaya.


Ratu Jeylena membuat sebuah pedang es menggunakan elemen sihir miliknya, wanita itu berlari ke arah Ratu Zivaya dan berusaha melakukan serangan balik. Ratu Zivaya tak tinggal diam ia membaca sebuah mantra kemudian muncul ratusan jarum es yang terjun dari langit dan terjun tepat pada tubuh Ratu Jeylena.


"Sialan kau!!." maki Ratu Jeylena yang merasa kesal karna ia harus bersusah payah menghindari jarum jarum es itu.


Beberapa jarum es berhasil menggoreskan luka lada tubuh Ratu Jeylena, semua orang yang melihat pertandingan itu sudah bisa menebak siapa yang akan menang. Putri Lena meremas tangannya dengan kencang, ia tak ingin ibunya kalah karna itu juga kekalahan untuknya.


"Apa yang harus saya lakukan agar ibu memenangkan pertandingan ini." gumang Putri Lena dengan suara pelan agar tak di dengar oleh orang lain.


Putri Lena terus memikirkan sebuah cara untuk membantu sang ibu, setelah berfikir cukup lama akhirnya sang putri menemukan sebuah cara. Putri Amerilya yang saat itu masih berada di gendongan Raja Azvago merasa gelagat Putri Lena sangat mencurigakan.


"Ayah, bisakah Anda menurunkan saya?." tanya Putri Amerilya dengan suara yang sangat lembut.


"Baiklah ayah akan menurunkan mu, jangan pergi terlalu jauh." jawab Raja Azvago yang langsung menurunkan Putri Amerilya dari gendongannya. Raja Azvago tak ingin Putri Amerilya pergi terlalu jauh karna khawatir ada pihak musuh yang sedang berkeliaran.


"Ayah tenang saja, Amerilya bisa menjaga diri dengan baik." ucap Putri Amerilya yang langsung pergi menyusul Putri Lena.


Saat ini pertarungan antara Ratu Zivaya dan Ratu Jeylena masih terjadi dengan sengit, Ratu Jeylena mengeluarkan puluhan pedang es dan mengarahkan pedang pedang itu pada Ratu Zivaya. Pedang es bergerak dengan sendirinya dan menyerang Ratu Zivaya secara bersamaan, sang ratu hampiri saja terluka oleh serangan itu namun ia dengan segera membentuk beberapa perisai yang melindungi tubuhnya.


"Sial tinggal sedikit lagi." umpat Ratu Jeylena yang merasa kesal karna serangannya gagal. Seharusnya salah satu pedang es miliknya itu mampu melukai Ratu Zivaya ataupun menancap di jantung sang musuh.


"Sebagai seorang Ratu, etika Anda sungguh buruk. Ah pantas saja putri putri Anda juga memiliki sikap yang buruk, ternyata turunan dari ibunya." ucap Ratu Zivaya yang beberapa kali mendengar Ratu Jeylena mengumpat dengan kata kata kasar.


"Diamlah wanita sialan, aku akan merebut semua milikmu." ucap Ratu Jeylena dengan amarah yang meluap luap. Udara malam itu terasa ratusan kali lebih dingin dari biasanya karna kedua pihak yang melakukan pertarungan sama sama memiliki elemen es.


Ratu Jeylena membuat sebuah gelombang es dengan beberapa bongkahan es dengan ujung runcing, gelombang es itu datang dengan begitu cepat dan menerjang tubuh Ratu Zivaya. Melihat hal itu Raja Azvago menjadi cemas, bagaimana jika Rati Jeylena berencana untuk membunuh sang istri dalam pertandingan kali ini?. Setelah kabut es menghilang, semua orang yang melihat pertandingan itu merasa penasaran sekaligus khawatir dengan kondisi Ratu Zivaya.


"Ahahaha lihatlah saya berhasil menyingkirkan wanita sialan itu." ucap Ratu Jeylena dengan suara yang cukup kencang. Ibu Suri Sinya merasa marah hingga luar asap hitam dari kepalanya, sang Ibu Suri ingin membalaskan kekalahan menantunya itu namun ia dihalangi oleh Raja Azvago. Apapun yang terjadi, pertandingan ini harus berjalan dengan adil.


"Siapa yang kau sebut dengan wanita sialan, dasar wanita tak tau malu." triak Ratu Zivaya dengan kemarahan yang menguasai seluruh tubuhnya. Sebuah ledakan energi yang sangat besar terjadi pada tubuh Ratu Zivaya hingga membuat Ratu Jeylena terjatuh di lantai arena pertandingan. Tatapan mata berwarna biru milik Ratu Zivaya membuat musuhnya tak dapat bergerak, Ratu Zivaya beejalan mendekat ke arah Ratu Jeylena yang masih tersungkur di lantai. Ratu Jeylena menunjukkan ekspresi ketakutan saat mengetahui lawannya baik baik saja dan kini tengah bersiap melakukan serangan balik.


Di sisi lain Putri Amerilya melihat Putri Lena berada di sisi lain arena pertandingan dengan membawa sebuah pedang yang cukup panjang. Putri Lena berjalan perlahan ke arah Ratu Zivaya dan ingin menusuk sang ratu menggunakan pedangnya itu, beberapa penonton yang menyadari hal tersebut ingin berteriak namun tiba tiba ada pedang lain yang menghentikan aksi Putri Lena.


"Pihak Kerajaan Antez melakukan kecurangan!!!!." teriak Putri Amerilya dengan sekuat tenaga hingga perhatian semua orang tertuju padanya. Raja Alenzie menghela nafas lelah, sebenarnya apa yang difikirkan oleh Putri Lena hingga melakukan hal memalukan seperti itu.


Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa baca semua novel yang author punya okey. Follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.