
Raja membalikkan badan kemudian menatap tajam putri Lena yang masih berada di sana bersama dengan ayah serta kakak perempuannya. Putri Lena tampak ketakutan saat mendapatkan tatapan tajam dari Yang Mulia Raja Azvago, ia juga tidak mengira akan menjadi seperti ini.
"Bagaimanapun jika saya merobek mulut putri Anda? mulutnya itu sangatlah tidak berguna dan hanya mengucap kebohongan saja." ucap Raja Azvago yang masih menatap ke arah Putri Lena dengan lekat.
"Maaf.... maafkan tindakan putri saya Yang Mulia Raja. Dia masih kecil hingga tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Tolong jangan memberi hukuman yang kejam padanya." mohon Raja Alenzie untuk putri kesayangannya itu.
"Yah setidak dia lebih tua dari putri kecil saya itu akan tetapi otaknya tidak bisa bekerja dengan baik. Ini bukan kali pertama putri Anda bersikap berlebih seolah olah ia mengetahui yang sebenarnya terjadi." protes Yang Mulia Raja Azvago mengenai sikap Putri Lena selama tinggal di Istana Kerajaan Meztano.
"Tolong beri putri saya kesempatan terakhir untuk memperbaiki sikapnya itu. Saya berjanji di masa mendatang hal seperti ini tidak akan terulang lagi." jawab Raja Alenzie dengan mata berkacalah.
"Sebagai hukumannya saya akan membatalkan kerjasama pengiriman ikan salmon ke wilayah Kerajaan Antez. Jika bukan karna Putri Amerilya yang memohon untuk kerjasama ini maka saya tidak akan pernah menyetujuinya, sangat disayangkan Putri Lena tidak tau malu hingga berusaha menjauh nama baik putri saya dihadapan semua orang." ucap Raja Azvago yang telah memutuskan sesuatu untuk menghukum Putri Lena.
Sang raja tau putri bungsu dari Kerajaan Antez menang sengaja berpura pura baik untuk mendapatkan perhatian dari putri kecilnya kemudian mengambil kesempatan dari hubungan baik diantara mereka. Diam diam Putri Lena juga ingin mengambil salah seorang pelayan pribadi milik Putri Amerilya yang bernama Lilian. Sungguh anak perempuan yang sangat licik, untung saja Putri Amerilya tidak memiliki sifat seperti Putri Lena.
"Bagaimana bisa Anda membatalkan kerjasama pengiriman ikan salmon pada Kerajaan Antez?! bukankah kontrak kerjasama itu telah ditandatangani oleh dua belah pihak!. Saya tidak menyetujui pembatalannya." ucap Putri Lena dengan beberapa kalimat yang ia perjelas pengucapannya.
"Memangnya siapa Anda ini? jangan memainkan peran seolah olah Anda seorang tokoh utama saat kenyataan mengatakan Anda seorang figuran yang numpang lewat saja." tegur Raja Azvago.
"Baik saya menyetujui pembatalan kerjasama pengiriman ikan salmon selama kerjasama yang lain masih berjalan dengan lancar." ucap Raja Alenzie.
"Ayah!! mengapa ayah setuju begitu saja dengan keputusan Yang Mulia Raja Azvago. Saya sangat menyukai ikan salmon, tolong mengertilah apa yang saya inginkan." bentak Putri Lena pada Raja Alenzie dengan raut wajah kesalnya.
Plak......
Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat tepat di pipi Putri Lena, kali ini orang yang melakukannya adalah Pangeran Bilge yang sudah tidak tahan dengan sikap sang adik. Putri Lena menatap ke arah Pangeran Bilge sembari memegang pipinya yang terasa panas dengan mata berkaca-kaca. Putri Lena tidak pernah mendapatkan kasih sayang kakak laki-lakinya seperti Putri Amerilya, padahal parasnya tidak seburuk itu untuk menarik belas kasih orang lain.
"Hiks hiks...... mengapa Putri Amerilya sangat disayang oleh keempat kakak laki lakinya sedangkan saya selalu mendapatkan perlakuan kasar." rengek Putri Lena, ia menangis dengan cukup kencang hingga mengganggu banyak orang termasuk Putri Amerilya yang sedang diobati beberapa tabib kerajaan.
Ratu Zivaya yang melihat putri kesayangannya terganggu mulai naik pitam, ia keluar dari kamar Putri Amerilya dengan wajah penuh kemarahan. Tiba tiba saja Ratu Zivaya sudah berada di depan Putri Lena, sang ratu mencekik Putri Lena kemudian mengangkut tubuhnya ke atas. Raja Azvago, Raja Alenzie, Putri Liene, dan ketiga pangeran terkejut akan hal itu. Pangeran Mixo dan Pangeran Zico berlari ke arah Ratu Zivaya untuk membantu meredakan emosi sang ratu yang meluap luap.
"Ibu sudah jangan lakukan hal itu, Putri Lena bisa mati jika ibu cekik seperti ini." ucap Pangeran Mixo.
"Ibu sudah, jangan membuat keributan menjadi lebih besar lagi." ucap Pangeran Zico. Sang pangeran berusaha untuk melepaskan tangan Ratu Zivaya dari leher Putri Lena.
"Tolong lepaskan cengkraman Anda dari putri saya, Yang Mulia Ratu Zivaya!!!." bentak Raja Alenzie yang tidak bisa membiarkan putrinya mendapat siksaan.
Bruk......
Suara tubuh Putri Lena yang dijatuhkan oleh Ratu Zivaya. Sang Ratu masih menatap tajam ke arah gadis pengganggu itu.
"Sekali lagi saya melihat wajah mu di sekitar wilayah Kerajaan Meztano, akan saya robek wajah memuakkan mu itu." ucap Ratu Zivaya dengan aura membunuh yang meluap luap dari dalam tubuhnya. Putri Lena gemetaran saat mendengar perkataan Ratu Zivaya, ia berlari ke arah Raja Alenzie kemudian bersembunyi di balik tubuh sang raja.
"Urus putri mu itu dengan baik, jika kau tidak bisa melakukannya maka saya akan memberi pelajaran sekarang juga." peringati dari Ratu Zivaya pada Raja Alenzie dengan ekspresi wajah serius.
"Pergilah dari sini jika masih ingin hidup Raja Alenzie. Saya tidak bisa mengendalikan Ratu Zivaya ketik kemarahannya sudah di ambang batas seperti ini. Cepatlah pergi sekarang juga!!." ucap Yang Mulia Raja Azvago dengan sedikit berteriak.
Dengan segera Raja Alenzie menggendong Putri Lena dan membawanya berlari keluar dari istana putri. Raja Alenzie merubah rencana untuk pergi dari Istana Kerajaan Meztano sekarang juga tanpa menunggu jamuan makan malam penutup. Saat Raja Alenzie pergi dengan cara berlari, Putri Liene masuk ke dalam kamarnya yang ada di istana putri dengan langka pelan untuk mengemas semua barang barangnya. Di sisi lain kedua pangeran berpamitan terlebih dahulu pada anggota Kerajaan Meztano sebelum pergi.
"Kami mohon undur diri Yang Mulia Raja Azvago dan Yang Mulia Ratu Zivaya. Terimakasih telah memperlakukan kami dengan baik selama berada di sini. Kami mohon maaf sebesar-besarnya atas beberapa kejadian yang tidak mengenakkan, sampai jumpa di lain waktu dengan kondisi yang lebih baik." ucap Pangeran Bilge mewakili adik laki lakinya juga. Kedua Pangeran dari Kerajaan Antez membungkukkan kepala mereka kemudian pergi dati Istana Putri menuju Istana Pangeran untuk berkemas.
"Sampai jumpa lagi. Mari bertemu di luar urusan politik antar dua kerajaan." ucap Pangeran Mixo sembari melambaikan tangannya ke arah kedua pangeran dari Kerajaan Antez.
"Saya tidak membutuhkannya nasehat dari Anda." jawab Ratu Zivaya yang kembali masuk ke dalam kamar Putri Amerilya.
Setelah masalah itu selesai Raja Azvago memutuskan untuk kembali ke istana utama untuk melanjutkan prosesi pemakaman Putri Haru ditemani oleh Pangeran Mixo. Pangeran Zico dan Pangeran Azxo memutuskan untuk tetap tinggal di istana putri.
Suasana di dalam istana putri kembali menjadi hening tidak ada keributan yang mengganggu Putri Amerilya. Beberapa tabib kerajaan telah selesai memeriksa kondisi sang putri, demam yang dialami Putri Amerilya adalah akibat dari penggunaan energi secara berlebihan saat sang putri dalam kondisi yang tidak stabil. Untunglah Putri Amerilya tidak mengalami penurunan kesadaran yang membuatnya dalam masa kritis, ia hanya kelelahan dan membutuhkan asupan makanan bergizi.
"Kami permisi terlebih dahulu Yang Mulia Ratu, setelah Tuan Putri Amerilya bangun tolong berikan satu gelas jus jeruk dan beberapa makanan yang ia sukai. Setelah sepuluh menit minumkan ramuan yang saya letakkan di atas meja." ucap seorang tabib yang pamit undur diri.
"Terimakasih untuk kerja kerasnya, saya akan mengirim sejumlah hadiah saat Putri Amerilya siuman." jawab Ratu Zivaya dengan senyuman tipis.
Tabib tersebut keluar dari kamar Putri Amerilya kemudian pergi menuju gerbang utama. Di sisi lain semua orang yang berada di dalam kamar sang putri memilih untuk pergi dan menyisakan Ratu Zivaya, Ibu Suri Sinya, serta Pangeran Luxe.
"Kita harus benar benar menjaganya hingga pulih, jika terus jatuh sakit selama beberapa hari saya khawatir kondisi tubuh Putri Amerilya akan semakin melemah." ucap Ibu Suri Sinya sembari mengusap rambut cucu kesayangannya itu.
"Ibu benar, saya juga tidak menduga pesta ulang tahun itu menjadi titik awal jatuhnya kondisi sang putri." ucap Ratu Zivaya. Mungkin untuk beberapa tahun kedepan pesta ulang tahun sang putri akan dilangsungkan secara sederhana yang hanya dihadiri oleh anggota keluarga kerajaan dan beberapa keluarga bangsawan saja.
Saat ini Yang Mulia Raja Azvago dan Pangeran Mixo sudah kembali ke aula utama untuk melanjutkan prosesi pemakaman Putri Haru. Raja Azvago memerintahkan pada beberapa anggota Kesatria White Rose untuk mengangkat peri mati itu kemudian di bawa ke lahan pemakaman khusus anggota Keluarga Kerajaan Meztano. Semua pelayat pergi mengiringi kepergian Putri Haru menuju tempat peristirahatan terakhirnya, dari sekian banyak pelayat hanya setengahnya yang bersedia untuk ikut ke pemakaman sedangkan yang lain memilih untuk kembali ke rumah mereka masing masing ataupun ke Istana Kerajaan Meztano.
Perjalanan dari istana menuju laham pemakaman dibutuhkan waktu selama sepuluh hingga lima belas menit. Selama dalam perjalanan suasana sangat hening, beberapa kali rombongan pelayat itu melewati desa akan tetapi tidak ada satu orangpun penduduk yang melakukan aktivitas mereka di luar rumah. Bunga mawar berwarna hitam pekat diletakkan di halaman depan mereka sebagai pertanda bahwa para penduduk desa itu tidak menyukai Putri Haru dan tidak ingin mengantar kepergiannya.
Raja Azvago hanya bisa menghela nafas pasrah, ia tak tau apa saja yang telah dilakukan oleh Putri Haru hingga ia dibenci banyak orang seperti ini.
Sore itu langit masih terlihat cerah seperti biasanya, akan tetapi tiba-tiba muncul ratusan burung gagak yang terbang di atas langit dan terus mengitari rombongan pelayat yang mengantarkan Putri Haru menuju pemakamannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa banyak burung gagak yang tiba tiba datang seperti ini?." ucap salah seorang pelayat dengan perasaan cemas.
"Saya belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya selama mengantar kepergian seseorang menuju tempat peristirahatan terakhir." ucap pelayat lain yang ikut kebingungan akan hal itu.
Para anggota Kesatria White Rose yang sedang tidak mengangkat peti mati berusaha untuk mengusir burung gagak itu menggunakan pedang yang mereka bawa. Usaha para Kesatria White Rose sia sia saja karna sekelompok burung gagak itu terbang tinggi sehingga tidak bisa diraih oleh pedang mereka.
"Tetap lanjutkan perjalanan, jangan hiraukan sekumpulan burung gagak itu." perintah Yang Mulia Raja Azvago. Ia ingin pemakaman Putri Haru segera berakhir dan dapat fokus pada hal hal lain yang harus dikerjakan.
Setelah berjalan kurang lebih selama dua belas menit akhirnya mereka semua sampai di sebuah liang lahat yang telah disiapkan untuk mengubur peti mati milik Putri Haru. Beberapa anggota Kesatria White Rose turun ke bawah lubang itu, mereka menahan peti mati yang ingin diletakkan di bawah agar tidak terjungkir. Setalah peti mati itu dalam posisi yang benar, para Kesatria White Rose yang berada di bawah naik ke atas kemudian mengubur lubang itu dengan tanah hingga tertutup.
"Selamat tinggal Putri Haru, semoga di kehidupan berikutnya Anda bisa menjadi sosok yang lebih baik lagi." ucap Kesatria Richal sembari membungkuk badan bersama anggota kesatria yang lain sebagai tanda penghormatan terakhir.
"Selamat tinggal Putri Haru, maaf karna saya merasa sedikit menyesal setelah mengetahui bahwa Anda bukanlah adik kandung saya. Pantas saja Anda bersikeras untuk membunuh Putri Amerilya, semoga di kehidupan selanjutnya kita tidak bertemu lagi." ucap Yang Mulia Raja Azvago dengan senyuman miris.
Beberapa orang mulai menaburkan bunga di atas gundukan tanah itu, setelah semuanya selesai rombongan para pelayat bersiap untuk pergi termasuk Yang Mulia Raja Azvago dan anggota Kesatria White Rose. Saat mereka berada di sebuah jalan setapak dekat pemakaman kerajaan, tiba tiba terdengar suara ledakan yang sangat kencang. Semua orang menoleh ke arah makam Putri Haru dan menemukan makam itu hancur berantakan dengan mayat sang putri terbakar oleh api. Setelah api itu padam ada sebagian anggota tubuh sang putri yang masih utuh, akan tetapi hal itu tidak bertahan lama karena sekumpulan gagak tadi langsung turun ke bawah untuk memakannya.
"Apa yang harus kita lakukan Yang Mulia Raja Azvago, jika terus dibiarkan seperti ini maka mayat Putri Haru akan habis dimakan oleh burung gagak itu." ucap Kesatria Richal yang merasa panik.
"Biarkan saja dan mari kembali. Mungkin itu yang seharusnya Putri Haru terima." jawab Raja Azvago dengan raut wajah tenang.
"Baik Yang Mulia." jawan Kesatria Richal.
Mereka semua mulai beranjak pergi dan meninggalkan pemakaman Putri Haru, samar samar burung gagak yang memakan sisa mayat sang putri menunjukkan gelagat yang aneh. Mata para burung gagak itu berubah menjadi merah kemudian menghilang secara tiba tiba, Pangeran Mixo yang sempat menoleh ke belakang melihat kejadian itu dengan mata melebar.
Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya guys.