
Duke Zidan Marques semakin kesal mendengar ejekan bocah berumur dua tahun itu, darimana datangnya semua keberanian yang dimiliki oleh Putri Amerilya. Karna tak bisa mendapatkan sang putri meski ia nanti sudah menginjak dewasa, Duke Zidan Marques mengambil sebuah keputusan untuk menghabisi nyawa Putri Amerilya. Jika Duke Zidan Marques tak bisa memilikinya maka orang lain tak boleh memilikinya juga, sungguh malang nasib Putri Amerilya bertemu dengan pria gila seperti itu.
"Aku akan membunuhmu, dengan begitu kau tak akan menjadi ancaman bagiku." ucap Duke Zidan Marques, ia kembali menyerang Putri Amerilya dengan sangat cepat.
Meskipun sang putri kecil memiliki kemampuan berpedang yang sangat mahir di kehidupan sebelumnya, ia sedikit kesulitan mengendalikan pedang Rad Moon karna ukuran yang cukup panjang dan berat lebih dari lima puluh kilo. Putri Amerilya terus menangkis serangan dari Duke Zidan Marques sebisa mungkin sampai sang ayah tiba ke tempat mengerikan ini, tak lupa sang putri terus berteriak meminta tolong agar ada orang luar yang membantunya.
Di sisi lain Raja Azvago sudah sampai di depan gerbang utama Kediaman Keluarga Duke Marques, namun ia merasa heran karna tak ada satupun prajurit yang menjaga di depan gerbang. Samar samar Raja Azvago mendengar suara teriakan yang terdengar familiar, ia baru ingat bahwa itu suara dari putri kecilnya.
"Hancurkan gerbang sialan ini sekarang juga." ucap Raja Azvago ada anggota Kesatria White Rose.
Kesatria Richal mendekat ke arah gerbang, pria itu melapisi pedang miliknya dengan qi pedang yang sangat padat lalu menghancurkan gerbang setinggi tiga meter dalam satu kali tebasan saja. Alangkah terkejutnya Raja Azvago dan anggota Kesatria White Rose saat melihat putri kecil mereka berjuang sendirian melawan Duke Zidan Marques, kemana kedua pangeran dan Kesatria Black Night yang seharusnya menjaga tuan putri?.
"Sialan mengapa mereka datang kesini." ucap Duke Zidan Marques yang baru saja menyadari kedatangan Raja Azvago bersama anggota Kesatria White Rose.
"Apa yang kau lakukan pada putriku, dasar pria sialan." ucap Raja Azvago yang langsung berlari ke arah Duke Zidan Marques dan menyerang pria itu sampai terpojok. Raja Azvago tak akan memaafkan perbuatan sang duke pada putri kecilnya, jika diperbolehkan ia akan membunuh pria itu dengan tangannya sendiri.
Saat Raja Azvago sedang sibuk melawan Duke Zidan Marques, Kesatria White Rose mendekati Putri Amerilya untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi di sini.
"Apa kau baik baik saja Tuan Putri?." tanya Kesatria Richal yang sangat khawatir dengan keadaan Putri Amerilya, hanya putri kecil itu satu satunya anak Raja Azvago yang dapat menggunakan pedang sebagai senjata utamanya.
"Saya baik baik saja." ucap Putri Amerilya yang merasa lelah kemudian menjatuhkan pedang Rad Moon nya ke lantai.
Kesatria Richal dan Kesatria Albert saling berpandangan satu sama lain, mereka merasa heran dari mana putri kecil itu mendapatkan pedang tersebut. Dari auranya saja, pedang berwarna merah itu setara dengan pedang seorang kesatria kelas tinggi, sangat mustahil jika Duke Zidan Marques memberikan pedang tersebut pada sang putri agar mereka bisa berduel. Kesatria Albert mencoba untuk mengangkat pedang Rad Moon milik Putri Amerilya, namun pedang itu sama sekali tak bergerak.
"Bagaimana anda bisa mengangkat pedang seberat ini?." tanya Albert dengan nada bicara cukup tinggi karna ia sangat terkejut dengan berat pedang merah itu.
"Karna pedang itu milik saja, dan mengakui saya sebagai pemiliknya." jawab Putri Amerilya dengan sisa tenaga yang ia miliki sekarang.
Sangat melelahkan bertarung menggunakan tubuh mungil seperti ini, Putri Amerilya berharap ia akan segera beranjak dewasa dan bisa memegang pedangnya dengan tegap tanpa takut dijatuhkan oleh siapapun. Kesatria Richal mengerti jika saat ini sang putri butuh istirahat, akhirnya Kesatria Richal menggendong putri kecil itu.
"Bagaimana cara kami membawa pedang milik anda ini?." tanya Kesatria Richal pada Putri Amerilya. Ia yakin sang putri tak akan meninggalkan pedangnya begitu saja.
"Rad Moon kembalilah, terimakasih telah membantuku hari ini. Aku akan memanggilmu lagi nanti." ucap Putri Amerilya dengan nada bicara yang sangat lembut disertai senyuman manis yang menggemaskan.
Pedang Rad Moon milik Putri Amerilya melesat ke atas langit kemudian menghilang dalam sekejap, sepertinya pedang itu mengerti bahwa saat ini pemiliknya belum bisa membawanya kemanapun pemiliknya pergi. Di saat Putri Amerilya tersenyum senang karna pedangnya yang sangat pengertian, di sisi lain para anggota Kesatria White Rose semakin terkejut melihat hal itu.
"Pedang itu memiliki kesadarannya sendiri, mungkin ada jiwa yang tinggal di dalamnya." ucap Kesatria Lauret yang masih memandang ke arah langit cerah itu.
"Dia rekan sekaligus sahabat baik saya." jawab Putri Amerilya dengan polosnya, para Kesatria White Rose menganggukkan kepala mereka sebagai tanda setuju atas ucapan sang putri kecil.
Saat ini Duke Zidan Marques semakin terpojok, kemampuan berpedang miliknya ada di bawah Raja Azvago. Selain itu sang duke mendapatkan luka yang cukup parah hingga darah keluar terus menerus dari punggung dan perutnya yang terkena sayatan itu.
"Apa kau ingin ayah melakukan sesuatu pada pria ini?." tanya Raja Azvago sembari melihat ke arah putri kecilnya yang sedang digendong Kesatria Richal.
"Pukul dia hingga pingsan ayah, pria jahat itu telah memasukkan obat tidur kedalam makanan semua orang." triak Putri Amerilya penuh dengan semangat, ia ingin melihat Duke Zidan Marques babak belur kemudian pingsan.
Tentu Raja Azvago akan memenuhi keinginan putri kecilnya itu, sang raja memukuli tubuh Duke Zidan Marques dengan kedua tangganya hingga beberapa area tubuh sang duke mengalami lebam. Karna tenaganya yang sudah habis duke itu tak dapat melakukan apapun, setengah jam kemudian Duke Zidan Marques pingsan.
"Ya benar, pria jahat itu harus mendapat pelajaran yang berat." ucap Putri Amerilya melayangkan beberapa pukulan ke udara kosong menirukan gerakan sang ayah tadi.
Raja Azvago dan anggota Kesatria White Rose tersenyum melihat tingkah lucu putri kecil mereka, setelah itu tubuh Duke Zidan Marques dimasukkan kedalam kereta kuda yang ada di kediaman sang duke dengan keadaan terikat. Raja Azvago menanyakan dimana kedua pangeran dan para Kesatria Black Night berada, dengan tatapan polosnya Putri Amerilya mengatakan bahwa mereka sedang tertidur di ruang makan.
"Mengapa kau menulis surat seperti itu pada ayah?." tanya Raja Azvago, ia ingin tau alasan putri kecilnya menulis surat seakan akan sudah menyadari bahwa Duke Zidan Marques sedang mengincar nyawanya.
"Aku mengetahui alasan di balik semua ini setelah penyerahan yang dilakukan beberapa pembunuh bayaran tadi malam." jawab Putri Amerilya dengan jujur pada ayahnya. Dengan begini di masa depan Raja Azvago akan lebih berhati hati lagi, ia akan mencari kesatria yang lebih kompeten untuk mengawal putri kesayangannya itu.
"Kau di serang??." tanya Raja Azvago dengan tatapan terkejut, Kediaman Duke Marques memiliki keamanan yang sangat ketat. Seorang penjahat dari luar akan kesulitan masuk kedalamnya tanpa bantuan
seseorang.
"Malam itu dua pembunuh bayaran mengintai di luar kamar tempat ku tinggal, setelah menyadari hal itu aku langsung pergi dari kamar melewati jendela kamar mandi. Seorang prajurit yang berjaga tak percaya dengan hal yang ku ceritakan, tak lama setelahnya datang seorang pelayan dan Tuan Muda Arges Marques, akhirnya kami berempat pergi ke kamar untuk membuktikan prkataa ku. Singkat cerita aku dan Tuan Muda Arges Marques berhasil mengalahkan kedua pembunuh bayaran itu, Tuan Duke Zidan Marques dan rombongan Kerajaan Meztano segera masuk kedalam kamar untuk memastikan konsisi kami berdua. Aku masih mengingat dengan baik tatapan ketakutan yang para pembunuh bayaran itu berikan pada Tuan Duke Zidan Marques, artinya duke sendiri yang membantu mereka masuk kedalam." jawab Putri Amerilya dengan rinci mengenai awal mula ia mulai mencurigai Duke Zidan Marques sedang mengincar nyawanya.
"Apa kau tau alasan dibalik semua hal yang Duke Zidan Marques lakukan untuk mencelakai mu putriku?." tanya Raja Azvago, untunglah putrinya memiliki kecerdasan yang luar biasa hingga bisa menyadari hal hal sekecil itu.
"Tuan Duke Zidan Marques pernah menjalin hubungan dengan Putri Haru, kemungkinan besar ayah sudah mengetahui hubungan mereka dan meminta pada tuan duke untuk menjauhi adik perempuan ayah itu. Namun faktanya sebelum Putri Haru tertangkap karena mencoba melakukan pembunuhan padaku, sang putri masih berhubungan dengan Tuan Duke Zidan Marques secara diam diam. Tuan duke menganggap akulah yang menjadi penyebab sulitnya mereka berkomunikasi saat ini, selain itu Duke Zidan Marques sangat terobsesi dengan para wanita dengan kemampuan di atas rata rata." jawab Putri Amerilya secara detail pada ayahnya. Raja Azvago hanya bisa diam mematung mendengar semua penjelasan lengkap dari putrinya itu, masalah yang sudah disembunyikan bertahun tahun dapat diketahui oleh putri kecilnya kurang dari satu hari.
"Mengapa kau sangat hebat seperti ini, ayah sangat bangga padamu." ucap Raja Azvago menciumi pipi Putri Amerilya berkali kali. Untunglah ia tak kehilangan permatanya yang sangat berharga ini.
"Tentu karna Amerilya adalah putri ayah." jawab Putri Amerilya dengan bangga, dalam kehidupannya yang baru ia berhasil mendapatkan kasih sayang dari keluarganya.
Saat ini Kesatria White Rose sudah berada di ruang makan Kediaman Duke Marques, mereka melihat kedua pangeran, Kesatria Black Night, dan beberapa anggota Keluarga Duke Marques pingsan. Richal segera membangunkan Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe, ia memastikan kondisi kedua pangeran itu baik baik saja tanpa ada luka yang serius.
"Bangun pangeran bangun." ucap Kesatria Richal sembari menggoyang goyangkan tubuh Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe dengan cukup keras.
Dengan sedikit usaha akhirnya kedua pangeran itu bangun, Pangeran Mixo merasa pusing karna ia makan cukup banyak sedangkan Pangeran Luxe menatap heran ke arah Kesatria White Rose yang berada di Kediaman Duke Marques.
"Apa yang sedang terjadi di sini?." tanya Pangeran Luxe dengan memijat pelan pelipisnya.
"Tuan Duke Zidan Marques ingin membunuh Putri Amerilya, untunglah kami datang tepat waktu bersama Yang Mulia Raja Azvago." jawab Kesatria Richal dengan apa adanya.
Beberapa anggota Kesatria White Rose yang lain sedang membangunkan anggota Kesatria Black Night yang sedang tertidur dengan pulas, entah seberapa banyak duke itu memasukkan obat tidur kedalam makanan semua orang. Nyonya Riana Marques dan keempat anaknya bangun karna mendengar suara yang cukup bising, suasana menjadi sangat aneh setelah wanita itu melihat keadaan sekitar.
Tiba tiba saja Raja Azvago masuk kedalam ruang makan bersama dengan Putri Amerilya yang berada dalam gendongannya, seketika semua orang berdiri walau kepala mereka masih terasa pusing dan sedikit sakit.
"Salam hormat kami pada Yang Mulia Raja Azvago dan Tuan Putri Amerilya." ucap semua orang yang ada di dalam ruang makan tanpa terkecuali.
Nyonya Riana Marques merasa ada yang kurang, ia baru menyadari suaminya tak ada di ruangan itu. Mungkinkan sang suami diculik oleh seseorang saat mereka semua pingsan? ataukah suaminya sedang mengejar orang yang telah memasukkan obat tidur kedalam makanan.
"Maaf Yang Mulia Raja, apakah anda melihat suami saya?." tanya Nyonya Riana Marques pada Raja Azvago. Nyonya Riana berharap saat ini suaminya baik baik saja.
"Saya akan membawa suami anda ke pengadilan Istana Kerajaan Meztano, suami anda telah melakukan percobaan pembunuhan pada putri saya dan memasukkan obat tidur kedalam makan Keluarga Bangsawan." ucap Raja Azvago dengan tatapan datar dan nada dingin.
Jantung Nyonya Riana Marques seperti berhenti berdetak seketika, ia tak percaya suami yang sangat ia cintai tega melakukan hal itu. Lagipula untuk apa suaminya mengincar nyawa Putri Amerilya yang masih kecil? bukankah suaminya memiliki hubungan yang baik dengan Raja Azvago. Ditengah kebingungan Nyonya Riana Marques, Putri Amerilya meminta turun dari gendongan sang ayah. Setelah turun Putri Amerilya memberikan sebuah buku harian milik Duke Zidan Marques yang ia ambil dari ruang kerja sang duke. Nyonya Riana Marques menerima buku harian itu dan mulai membaca apa yang ada di dalam sana, perasaan Nyonya Riana menjadi sangat hancur setelah mengetahui suaminya memiliki hubungan spesial dengan Putri Haru.
"Bagaimana ini bisa terjadi? suami saya adalah pria yang baik." ucap Nyonya Riana Marques dengan air mata yang membasahi wajah cantiknya. Keempat anak Nyonya Riana Marques memeluk ibu mereka dengan sangat erat, mereka tak tau apa yang sedang terjadi namun mereka tak ingin melihat sang ibu menangis.
"Tenanglah ibu, apa yang sedang terjadi pada ayah?." tanya Ciela Marques pada ibunya, dia satu satunya anak perempuan dari Kediaman Duke Marques.
"Mengapa ibu menangis seperti ini?. Apakah perkataan Yang Mulia Raja Azvago itu benar." tanya Eren Marques dengan rasa penasaran tinggi, sang ayah terkenal sangat dingin pada semua gadis ataupun wanita yang pernah ia temui kecuali anggota keluarganya sendiri.
Hai semuanya, author up lagi nih novel Putri Amerilya. Gimana kondisi kalian saat ini? semoga kalian sehat selalu ya guys. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun makasih banget, like semua chapter, komen buat ninggalin jejak saran ataupun kritikan, rate bintang lima, share juga ya.