
"Penggal kepala iblis wanita itu untuk saya Red Mood." ucap Putri Amerilya sembari mengangkat tangannya yang terasa lemas itu.
Pedang Red Mood milik sang putri berdiri dengan tegak kemudian melesat dengan cepat ke arah iblis wanita itu, dalam satu tebasan tubuh sang iblis terpisah dari kepalanya. Bukan hanya itu saja beberapa saat setelah terpenggal, kepala milik iblis wanita itu terbakar dengan kobaran api besar bersamaan dengan hilangnya Pedang Red Mood milik sang putri.
"Terimakasih Red Mood, terimakasih telah berjuang bersama saya dalam kehidupan kali ini." ucap sang putri kemudian ia tak sadarkan diri.
Ratu Zivaya dan Lilian menjerit histeris melihat kondisi Putri Amerilya yang sangat memprihatikan, Ratu Zivaya dengan segera membopong tubuh anak perempuannya dan berlari keluar dari Istana Putri menunju istana utama agar Putri Amerilya mendapatkan penanganan medis dari para tabib ataupun alkemis.
Tangan Raja Azvago mengepal dengan kuat, ia tidak bisa menerima apa yang telah dilakukan oleh anggota Keluarga Kerajaan Belgize pada putri kesayangannya itu. Sang raja bertekad untuk membalaskan dendamnya malam ini juga dengan cara memenuhi keinginan sang putri kecil untuk melenyapkan seluruh anggota Keluarga Kerajaan Belgize.
"Kemana Anda akan pergi Yang Mulia Raja?." tanya Lilian saat melihat Raja Azvago melangkah pergi dari istana putri.
"Membunuh seluruh anggota Keluarga Kerajaan Belgize yang masih ada di wilayah Kerajaan Meztano." jawab Raja Azvago dengan tatapan tajam. Matanya menyiratkan kemarahan yang begitu besar, jika sesuatu yang lebih buruk sampai terjadi pada Tuan Putri Amerilya entah apa yang akan dilakukan oleh sang raja.
"Biarkan kami ikut membantu membalaskan dendam Tuan Putri Amerilya, silahkan Anda membunuh seluruh Keluarga Kerajaan Belgize namun Putri Bilgiz adalah target kami bertiga. Sampai jumpa Yang Mulia Raja Azvago." ucap Lilian sembari berlari keluar dari istana putri bersama dengan Juylin dan Amena. Mereka bertiga akan menyusuri area istana untuk menemukan tempat persembunyian Putri Bilgiz.
"Terserah apa yang ingin kalian lakukan, yang terpenting Kerajaan Belgize harus mendapatkan balasan yang berat atas tindakan mereka kali ini." ucap Raja Azvago. Sang raja berjalan keluar dari istana putri dengan aura hitam yang menyelimuti tubuhnya. Di setiap lantai ataupun tanah yang diinjak oleh Raja Azvago akan meninggalkan jejak kehitaman seperti baru saja terbakar.
Dua pelayan lain yang ikut serta dalam insiden itu bergegas pergi untuk membangunkan para pelayan yang lain, mereka harus pergi ke Istana Kerajaan Belgize secara pribadi untuk membunuh beberapa anggota kerajaan yang tidak berada di Kerajaan Meztano. Pesan yang diberikan oleh Putri Amerilya sebelum ia tak sadarkan diri adalah membunuh seluruh Keluarga Kerajaan Belgize bukannya membunuh beberapa anggota yang berada di area Kerajaan Meztano. Yang Putri Amerilya inginkan sebuah kehancuran untuk Kerajaan Belgize yang dengan berani bersekutu dengan bangsa iblis.
Di sisi lain lingkaran sihir yang dibuat oleh Putri Bilgiz meledak dengan suara ledakan yang cukup kencang. Sang putri terpental beberapa meter akibat ledakan tersebut, Putri Bilgiz tidak tau mengapa ritual yang dilakukan bisa gagal. Saat ini sang putri berfikir bahwa tumbal yang diberikan pada Pangeran Lich kurang berkesan hingga membuat sang pangeran merasa marah.
"Ck seharusnya Putri Aria yang menjadi tumbal saya saat ini ataupun putri dari kerajaan lain. Sekarang sudah terlambat karna Pangeran Lich terlanjur marah pada saya." gumam Putri Bilgiz.
Bruak......
Suara pintu gudang yang didobrak oleh Lilian, dengan penuh kemarahan Lilian bersama dua pelayan yang lain masuk ke dalam gudang itu. Aura dingin dan panas menjadi satu mengisi seluruh gudang, samar samar Putri Bilgiz merasakan niat membunuh dari ketiga pelayan istana putri itu. Putri Bilgiz berusaha untuk berfikir positif karna bagaimanapun juga seorang pelayan tidak memiliki kemampuan yang cukup bagus.
"Jadi ini anggota Keluarga Kerajaan Belgize yang melakukan ritual untuk meminta bantuan para iblis?. Karna ulah orang gila seperti mu saat ini Tuan Putri Amerilya terluka parah!." bentak Juylin, mata hitamnya memancarkan aura yang tidak biasa hingga Putri Bilgiz dapat merasakan bahwa kematiannya sudah sangat dekat.
"Ahahaha putri pembawa sial itu pasti akan mati cepat atau lambat. Semua ini adalah pilihannya sendiri, mengapa kalian bertiga malah menyalahkan saya." ucap Putri Bilgiz dengan santai.
Putri Bilgiz menyadari saat ini tidak memungkinkan jika ia kabur karna satu satunya akses keluar masuk gudang itu hanyalah pintu depan, sang putri juga tau kekuatan sihir milik pelayan bernama Lilian itu sangatlah mengerikan dan mungkin dia bukan tandingannya.
"Saya bisa menyembuhkan Tuan Putri Amerilya jika kalian bersedia untuk melepaskan saya." tawar Putri Bilgiz. Tentu yang dikatakan olehnya hanyalah kebohongan semata sebagai bentuk perlindungan diri agar tidak terbunuh.
"Anda kira kami akan percaya? iblis wanita itu juga mengatakan hal yang sama sebelum Putri Amerilya mengirimkan ke alam baka."jawab Amena sembari menunjukkan tatapan sinis.
"Seorang anak perempuan yang rela menjadikan ayahnya sendiri sebagai tumbal tidak akan pernah memiliki hari baik untuk mengobati orang lain. Pilihan terbaik yang Anda miliki adalah mati di tangan kami." ucap Amena.
Juylin membuat sebuah pedang berwarna hitam sedangkan Amena mengerahkan tanaman rambat miliknya untuk melilit tubuh Putri Bilgiz. Saat ini sang putri sedang terlilit dengan sangat kuat, ia mulai kesulitan untuk bernafas dan bergerak.
"Lepaskan saya....cepat lepaskan!!." bentuk Putri Bilgiz yang merasa tidak terima.
"Ucapkan selamat tinggal pada dunia, ini adalah hari terakhir untuk Anda." Lilian menunjukkan seringai menyeramkan miliknya sembari berjalan mendekat ke arah Putri Bilgiz.
Lilian menggerakkan kedua tangannya kemudian ratusan tombak es yang ada di atas kepala Lilian melesat ke arah Putri Bilgiz, dalam sekejap mata tubuh sang putri dipenuhi dengan ratusan tombak.
"Uhuk uhuk....saya akan mati begitupun dengan Putri Amerilya." ucap Putri Bilgiz dengan senyuman lebar.
"Itu tidak akan terjadi meskipun di dalam mimpimu. Tuan Putri Amerilya akan bertahan dan kalianlah yang akan musnah dari dunia ini." jawab Lilian.
Di sisi lain Raja Azvago baru saja keluar dari istana pangeran dengan membawa sebilah pedang yang dipenuhi dengan darah, sang raja baru saja membunuh Pangeran Geri dan Pangeran Zen yang masih tertidur dengan kedua tangannya sendiri. Awan hitam yang menyelimuti area istana Kerajaan Meztano perlahan lahan mulai berkurang seiring bertambahnya korban dari pihak Keluarga Kerajaan Belgize, sepertinya mereka semua memiliki hubungan dengan Pangeran Iblis yang dikatakan oleh Putri Amerilya.
"Bereskan kedua mayat pangeran itu, kalian tidak perlu memendamnya di dalam tanah cukup bakar saja mereka." ucap Raja Azvago sembari berjalan melewati beberapa prajurit yang sedang berjaga di depan istana pangeran.
"Siap, kami akan melaksanakan tugas sesuai dengan perintah dari Yang Mulia Raja Azvago." jawab para prajurit itu secara serempak. Beberapa prajurit langsung masuk ke dalam istana pangeran untuk mengurus kedua jasad itu.
"Waktunya untuk membunuh Putri Arbel dan Ratu Luncia. Tidak ada yang tau apa yang akan mereka lakukan jika dibiarkan tetap hidup." gumam Raja Azvago.
Hai hai semua author balik lagi nih gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.