
Lilian menarik paksa Putri Bilgiz hingga sampai ke halaman belakang istana putri, mata Lilian mengeluarkan cahaya berwarna biru cerah dengan aura dingin yang menyeruak dari dalam tubuhnya. Putri Bilgiz terdiam karna ia tidak bisa melakukan apapun, sang putri sangat ingin berlari akan tetapi cengkraman Lilian terlalu kuat.
"Lepaskan saya, pelayan rendahan seperti mu tidak pantas menarik narik paksa seorang putri kerajaan." bentak Putri Bilgiz setelah mengumpulkan semua keberanian yang ia miliki.
"Diamlah!." bentak balik Lilian sembari melepaskan cengkraman tangannya dari kerah belakang sang putri. Karna hal itu Putri Bilgiz terdorong kebelakang dan jatuh tersungkur ke tanah.
"Sekali lagi Anda berani mengganggu waktu istirahat Putri Amerilya maka akan saya pastikan kedua kaki Anda hilang." ucap Lilian dengan tatapan serius. Setelah mengatakan hal itu Lilian segera meninggalkan Putri Bilgiz sendiri di taman belakang tak lupa Lilian mengunci semua pintu yang ada.
Putri Bilgiz menatap kepergian pelayan dari istana putri itu dengan tatapan tak percaya, baru kali ini ia melihat keberanian seorang rakyat jelata. Putri Bilgiz sering ikut bepergian bersama ayah dan ibunya untuk datang mengunjungi kerajaan lain namun baru sekarang ia tau bagaimana rasanya direndahkan. Sang putri segera bangun dan membersihkan gaunnya yang kotor, ia berjalan mengitari halaman belakang istana putri untuk mencari jalan keluar.
"Lihat saja nanti, saya akan membalas penghinaan ini." dumal Putri Bilgiz.
Waktu terus berjalan dan malam semakin larut, beberapa orang sudah terlelap dalam tidur mereka sedangkan sisanya sedang sibuk dengan urusan masing masing. Yang Mulia Raja Azvago bersama beberapa prajurit bayangan miliknya pergi menuju sebuah goa yang ada di hutan perbatasan Kerajaan Meztano, sang raja menggunakan pakaian serba hitam serta topeng yang menutupi seluruh wajah kecuali mata, hidung, dan mulut.
"Salam hormat kami pada Tuan." ucap keempat prajurit bayangan yang menyebut Raja Azvago sebagai Tuan, semua itu dilakukan agar tawanan mereka tidak merasa curiga.
"Bagaimana dengan para tawanan yang ada di dalam terutama kedua pangeran dari Kerajaan Belgize?." tanya Raja Azvago sembari berjalan melewati lorong goa yang sangat panjang.
"Kedua pangeran belum sadarkan diri hingga sekarang, sepertinya obat tidur yang diminumkan dalam dosis besar." jawab salah seorang prajurit bayangan.
"Lalu bagaimana dengan kelompok pembunuh bayaran yang ingin bekerjasama dengan mereka, apakah kalian sudah membereskannya?." tanya Raja Azvago. Ia tak ingin ada lalat lalat pengganggu yang tinggi di wilayah Kerajaan Meztano.
"Mereka semua telah kami bereskan, tidak ada yang tersisa bahkan markasnya saja telah habis terbakar." jawab sang prajurit bayangan.
"Baguslah jika begitu, bawa saya ke sel tahanan tempat kedua pangeran itu berada." perintah Raja Azvago.
Suasana di dalam goa tampak sepi dan sangat gelap, hanya ada beberapa obor saja sebagai penerang itupun berjarak sekitar sepuluh meter antara obor satu dengan obor yang lain. Setalah berjalan selama kurang lebih dua puluh menit akhirnya Raja Azvago dan beberapa prajurit bayangan sampai di tempat para tahanan kerajaan berada.
"Siapa kalian sebenarnya, lepaskan saya!!." triak Nona Muda Anye Montiqu dari salah seorang sel tahanan.
"Diamlah, jangan membuat keributan di sini." bentak salah seorang prajurit bayangan yang sedang berjaga di depan sel tersebut.
"Kalian semua pasti akan dihabisi oleh ayah dan ibu setelah mereka mengetahui tempat ini!." triak Nona Muda Anye Montiqu.
Raja Azvago berjalan mendekat ke arah sel tahanan tempat Anye Montiqu berada, ia menunjukkan seringainya di hadapan gadis itu. Dalam sekejap tubuh Anye Montiqu langsung gemetaran tanpa alasan yang jelas.
"Tidak mungkin, ayah sangatlah kuat dan tidak akan mati dengan mudah. Ucapan mu itu hanyalah kebohongan untuk menakut nakuti ku saja." balas Nona Anye Montiqu, dia tidak ingin mempercayai perkataan orang asing.
"Terserah kau ingin percaya ataukah tidak karna itu bukanlah urusan saya, tunggu saya hingga mayat ayah mu datang." jawab Raja Azvago, ia berjalan pergi meninggalkan sel tahanan Anye Montiqu.
Raja Azvago melihat ke arah sel tahanan tempat Pangeran Nanzo dan Pangeran Argaf berada, keduanya tertidur dengan sangat pulas meski hanya beralaskan jerami dan sebuah tikar yang cukup lebar. Mungkin saat ini Ratu Luncia sedang sangat panik menunggu kapan putranya akan kembali.
"Jaga tempat ini dengan baik, jangan sampai ada orang asing yang masuk ke dalam. Saya akan kembali ke kerajaan untuk melihat bagaimana kondisi di sana." pamit Raja Azvago, ia hendak pergi meninggalkan goa tersebut.
"Selamat tinggal Tuan, kami akan menunggu Anda kembali." jawab beberapa prajurit bayangan sembari membungkukkan badan mereka.
Hari semakin larut, para tabib dan Alkemis masih berusaha untuk membuat obat penawar untuk racun yang menyebar di dalam tubuh Putri Arbel. Berbagai jenis penawar racun mereka minumkan namun tidak ada reaksi apapun.
"Bagaimana ini, semua obat penawar racun yang ada di wilayah Kerajaan Meztano tidak bisa menekan racun di dalam tubuh Putri Arbel. Jika terus seperti ini dia akan segera mati." ucap salah seorang tabib dengan raut wajah panik.
"Kita bisa membekukan tubuh Putri Arbel untuk sementara waktu agar racun itu berhenti menyebar, namun metode ini hanya dapat bertahan hingga besok siang. Jika terlalu lama di bekukan saya khawatir beberapa organ tubuh sang putri akan rusak." ucap salah seorang alkemis, ia hanya memiliki sebuah solusi meski tak bertahan lama.
"Sebaiknya kita meminta persetujuan Raja Ruzel terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan." ucap seorang tabib. Ia hanya tak ingin disalahkan jika terjadi sesuatu pada Putri Arbel.
Salah seorang alkemis keluar dari ruang perawatan, ia meminta Raja Ruzel untuk masuk ke dalam ruangan itu dan berdiskusi dengan para tabib dan alkemis mengenai tindakan yang akan dilakukan pada Putri Arbel. Tanpa basa basi Raja Ruzel langsung masuk ke dalam ruang perawatan, ia sempat menatap wajah pucat putri kesayangannya itu.
"Apa putri saya benar benar tidak bisa di selamatkan?. Saya mohon agar kalian melakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya." gumam Raja Ruzel dengan tak berdaya.
"Sudah banyak jenis obat penawar racun yang kami minumkan pada Putri Arbel, sangat disayangkan tubuhnya tidak merespon apapun. Kami memiliki sebuah saran agar sang putri bisa bertahan hingga besok siang, kami juga pelu waktu untuk menemukan obat penawar yang cocok." jelas salah seorang tabib.
"Lakukan apa saja yang penting Putri Arbel selamat." jawab Raja Ruzel.
"Kami akan membekukan tubuh Putri Arbel untuk sementara waktu, dengan begitu racun yang ada di dalam tubuhnya akan berhenti menyebar. Metode ini dapat bertahan hingga besok siang karna jika terlalu lama berada dalam suhu dingin organ tubuhnya akan rusak. Karna itu sebelum mengambil tindakan lebih jauh kami membutuhkan persetujuan dari Anda." ucap salah seorang alkemis yang memberikan penjelasan pada Raja Ruzel.
"Membekuk putri saya?." tanya Raja Ruzel sekali lagi.
"Apa Anda setuju dengan saran yang kami berikan?. Ini satu satunya jalan keluar yang kami miliki Yang Mulia Raja Ruzel." ucap sang tabib dengan perasaan bimbang.
Hai hai semua maaf chapter kali ini cuma sedikit karna author lagi sakit. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.