
"Putra anda mengambilkanku beberapa buah ceri." ucap Putri Amerilya sambil menunjukkan beberapa buah ceri yang ada di genggaman tangannya.
"Kau lapar putriku?." tanya Raja Azvago yang mengira putrinya itu sedang kelaparan sehingga ingin memetik beberapa buah ceri, dengan cepat Putri Amerilya menggelengkan kepalanya.
"Apa ini ayah?." tanya Putri Amerilya yang menunjuk sebuah denah dengan gambar sungai yang diarsir dengan warna hitam.
Raja Azvago melihat ke arah putri kecilnya itu, bagaimana ia bisa menjelaskan hal serumit itu pada seorang gadis berusia dua tahun. Pencemaran air adalah sebuah permasalahan yang cukup sulit untuk diatasi, beberapa kerajaan juga sulit mengatasi masalah ini.
"Ini adalah pencemaran air yang terjadi di wilayah saya." ucap Tuan Duke Rigel Elister yang memberikan jawaban untuk pertanyaan Putri Amerilya.
Dikehidupannya yang sebelumnya pencemaran air seperti ini terjadi akibat pembuangan limbah oleh pabrik pabrik yang membuah bahan kimia kesungai, namun di kehidupannya yang sekarang belum ada pabrik pabrik kimia. Jadi apa alasan dari pencemaran air yang terjadi di wilayah Duke Rigel Elister.
"Humm apa ada kegiatan pertambangan di daerah anda?." tanya Putri Amerilya tanpa berfikir panjang.
Tuan Duke Rigel Elister berfikir sejenak, ia mengingat ingat apakah di wilayah kekuasaanya ada pertambangan. Tuan duke ingat beberapa bulan yang lalu ada orang orang yang bermigrasi ke wilayahnya, mereka meminta izin menggali sebuah tempat yang berada di dalam hutan, mungkin itu yang dimaksut Putri Amerilya dengan kegiatan menambang.
"Mungkin saja ada, apa tuan putri mengerti mengapa pencemaran air ini terjadi?." tanya Tuan Duke Rigel Elster yang berharap semoga putri kecil itu memiliki solusi atas permasalahannya.
"Aku akan mengetahui alasannya jika sudah sampai di sana." ucap Putri Amerilya dengan senyum polosnya. Raja Azvago cukup terkejut dengan pemikiran putri kecilnya itu.
"Kau berniat mengunjungi pertambangan itu? tempat itu bukanlah taman bermain putriku. Sangat berbahaya jika kau pergi kesana." ucap Raja Azvago yang tak bisa membiarkan putrinya pergi ke tempat yang berbahaya, mungkin di dalam hutan ada kelompok bandit ataupun hewan buas yang siap menyerang kapanpun.
"Ayah bisa mengirim saya bersama dengan pangeran pertama dan juga para kesatria. Mereka akan menjaga keselamatan saya selama ada di sana." ucap Putri Amerilya yang sedang berusaha meyakinkan sang ayah agar ia bisa pergi memeriksa pertambangan itu.
"Baiklah besok pagi kau akan pergi bersama Pangeran Mixo, Pangeran Luxe, dan para kesatria dari kelompok Black Night." ucap Raja Azvago, ia menghela nafas berat semoga tak ada hal buruk yang terjadi di sana nanti.
"Saya dan putra saya akan menjaga keamanan tuan putri, Yang Mulia Raja jangan khawatir." ucap Tuan Duke Rigel Elister yang ingin ikut turun tangan melihat pertambangan itu.
Tuan Duke Rigel Elister keluar dari ruang kerja Raja Azvago, ia harus kembali ke kastilnya dan mempersiapkan semua keperluan untuk perjalanan esok hari. Sedangkan Raja Azvago dan Putri Amerilya berjalan keluar dan pergi menuju taman belakang.
Di taman belakang sudah ada para Kesatria Black Night yang sedang menunggu kerajaan Azvago, mereka ingin membicarakan tentang beberapa jurus pedang baru yang harus dipelajari para prajurit biasa untuk meningkatkan keamanan Kerajaan Meztano.
"Salam hormat kami pada Yang Mulia Raja Azvago dan Putri Amerilya." ucap para anggota Kesatria Black Night. Mereka sedikit tak menyangka jika sang raja akan membawa putrinya dalam rapat kali ini.
"Saya terima salam kalian, maaf saya membawa putri saya karna tak ingin meninggalkannya sendirian di ruang kerja." ucap Raja Azvago yang tak ingin para kesatria itu membenci kehadiran putri kesayangannya.
"Itu bukanlah sebuah masalah bagi kami, kami hanya sedikit terkejut saja." ucap Nicko yang melihat sang putri, ya Putri Amerilya memang sangat mirip dengan mendiang raja terdahulu.
"Baiklah kita mulai saja pembahasan hari ini." ucap Raja Azvago yang tak ingin terlalu lama membuang buang waktu, masih banyak pekerjaan lain yang harus ia selesaikan dengan cepat agar bisa bersantai dengan putrinya itu.
"Saya menyarankan agar para prajurit kita belajar tentang ilmu pedang yang fokus pada serangan." ucap Kesatria Nicko yang menunjukkan beberapa gambar mengenai gerakan yang harus dilatih pada para prajurit biasa. Mungkin melatih serangan adalah hal penting untuk para prajurit namun ada hal yang mengganjal di hati Putri Amerilya.
Anak itu tanpa sengaja meremas tangan sang ayah hingga Raja Azvago melihat kearah Putri Amerilya yang sedang dalam pangkuannya. Raja Azvago melihat mata sang putri dan menemukan fakta bahwa saat ini putri kecilnya tak setuju dengan saran yang diberikan oleh Kesatria Nicko, Raja Azvago berfikir mungkin putrinya itu takut untuk mengatakan hal itu.
"Ada apa putriku? jika kau memiliki saran lain silahkan sampaikan saja tanpa ragu." ucap Raja Azvago dengan senyum yang menawan.
Putri Amerilya tampak ragu ragu, ia hanya takut jika para Kesatria Black Night akan merasa tersinggung dan membencinya nanti. Putri Amerilya melihat kearah beberapa anggota Kesatria Black Night termasuk Kesatria Nicko kemudian ia menundukkan kepalanya. Kesatria Nicko tau kekhawatiran sang putri, ia tak menyangka anak sekecil itu bisa memikirkan perasaan orang lain.
"Katakan saja tuan putri, kami akan merasa sangat senang mendengar saran dari anda." ucap Kesatria Nicko, mendengar perkataan itu membuat Putri Amerilya lebih semangat dan tak khawatir lagi.
"Mungkin fokus pada serangan saat mengayunkan pedang memanglah penting, namun untuk para prajurit yang ada di barisan depan saat menghadapi perang mereka harus memiliki langkah kaki yang tepat dan gerakan yang cepat saat menggunakan pedang." ucap Putri Amerilya, ia hanya menyampaikan tentang hal hal yang ia ketahui.
Kesatria Nicko dan anggota Kesatria Black Night yang lain merasa terkejut tentang pengetahuan berpedang yang dimiliki oleh sang putri, Yang Mulia Raja Azvago sampai terdiam dan tak bisa mengatakan apapun. Pada awalnya Raja Azvago merasa bahwa rencana Kesatria Black Night sudah sangat sempurna, namun putri kecilnya menemukan celah di dalam rencana tersebut.
"Mengapa langkah kaki dan kecepatan lebih penting daripada serangan inti?." tanya Kesatria Rozel yang ingin menguji sejauh mana Putri Amerilya memahami hal ini.
"Jika seorang prajurit bisa mahir dalam menyerang musuh keberhasilan mereka untuk menang adalah tuju puluh persen namun keselamatan mereka tak akan terjamin, namun jika seorang prajurit bisa memperhitungkan kapan dia harus menyerang dan kapan dia harus mengambil langkah untuk mundur serta memiliki gerakan yang tepat maka keberhasilan untuk menang sembilan puluh persen dengan keselamatan yang terjamin. Setiap langkah kaki yang diambil harus tepat, gerakan tubuh harus lentur, serta tebasan yang intens itulah hal penting yang harus dipelajari mereka sekarang, jika kita mengirim seribu prajurit mereka akan pulang dengan jumlah yang sama walau sebagian mengalami luka yang cukup serius." ucap Putri Amerilya dengan wajah seriusnya, tanpa sadar sang putri juga menggambar beberapa pola langkah kaki dan tahapan tahapan yang harus di lakukan.
Para Kesatria Black Night dan Raja Azvago ingin pingsan di tempa, mereka sangat puas dengan penjelasan yang diberikan oleh Putri Amerilya hingga ingin menangis. Mungkin ada satu titik harapan agar sang raja memiliki keturunan yang ahli dalam hal berperang, meskipun itu seorang anak perempuan Raja Azvago tak mempermasalahkannya.
"Benarkah kau putri kecilku?." ucap Raja Azvago dengan mata yang berkaca kaca, ia ingin segera melakukan tes bakat pada putrinya itu kemungkinan Putri Amerilya memiliki jiwa pedang yang hebat.
"Tentu aku putimu ayah." ucap Putri Amerilya dengan ekspresi kesal, ia menggembungkan pipinya dengan sangat lucu.
"Baiklah baiklah maafkan ayah, ayah hanya terlalu senang memiliki putri yang pintar sepertimu." ucap Raja Azvago dengan tawa kecilnya. Para Kesatria Black Night pergi dari halaman belakang karna mereka harus mempersiapkan latihan untuk para prajurit biasa.
Raja Azvago menggendong putri kecilnya itu, ia akan membawa sang putri untuk berjalan jalan keluar dari istana mereka akan membeli beberapa makanan ringan dan baju baru untuk sang putri. Belum sempat Raja Azvago keluar dari istana utama tiba tiba saja Pangeran Azxo datang menghampiri.
"Kakak." jawab Putri Amerilya dengan logat yang sangat lucu.
"Kemana kalian ingin pergi? apakah aku bisa ikut?." ucap Pangeran Azxo yang ingin pergi bersama adik perempuannya itu, mungkin diantara pangeran yang lain hanya Pangeran Azxo yang tak memiliki banyak waktu bermain dengan Putri Amerilya karna sang pangeran lebih sening menghabiskan di dalam istana pangeran saja.
"Baiklah jika kau ingin ikut, jangan sampai pangeran yang lain mengetahui hal ini." ucap Raja Azvago dengan segera mungkin membawa kedua anaknya untuk naik ke kereta kuda.
Kereta kuda itu mulai pergi meninggalkan Istana Meztano mereka menuju sebuah kawasan pertokoan untuk membeli beberapa baju baru untuk Putri Amerilya dan juga Pangeran Azxo. Setelah menghabiskan waktu selama setengah jam akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju, Raja Azvago turun dengan menggendong Putri Amerilya dan menggandeng tangan Pangeran Azxo.
"Tolong tunggu di sini hingga kami kembali, ini uang jika anda ingin membeli sesuatu." ucap Raja Azvago yang memberikan beberapa keping koin emas pada kusir kuda. Tentu sang kusir kuda merasa senang, ini pertama kalinya sang raja memberikan tip.
"Baiklah kita harus membelikan barang untuk siapa dahulu??." tanya Raja Azvago ia bingung ingin pergi ke toko gaun atau ke toko baju laki laki.
"Aku di sini hanya untuk menemani adik, belikan saja kue untukku ayah." ucap Azxo yang tak ingin dibelikan baju baru ataupun barang barang lainnya, ia hanya meminta kue untuk di bawa pulang nanti.
Akhirnya mereka bertiga masuk kesebuah toko yang menjual gaun gaun cantik, Putri Amerilya melihat kesekeliling apakah ada gaun yang cocok untuknya atau tidak. Ia sempat berfikir akan sangat sulit berjalan di hutan menggunakan gaun panjang, mungkin ia akan meminta dibelikan satu set baju santai.
"Ayah." ucap Putri Amerilya yang memanggil sang ayah. Raja Azvago menoleh ke arah putri kecilnya dan melihat kemana sang putri menunjuk.
"Kau menginginkan baju itu? mengapa bukan sebuah gaun?." tanya Raja Azvago yang sedikit bingung dengan selera berpakaian putri kecilnya.
"Gaun panjang akan sangat menganggu saat berada di hutan ayah." ucap Putri Amerilya dengan senyum polos, Raja Azvago menuruti keinginan putri kecilnya. Sang raja mengambil baju itu serta beberapa gaun yang cocok untuk Putri Amerilya.
Setelah selesai membeli beberapa baju dan gaun Raja Azvago mengajak kedua anaknya masuk kedalam toko kue yang sangat terkenal di wilayah Kerajaan Meztano. Ternyata di toko kue itu terjadi sedikit keributan, keributan itu disebabkan oleh salah satu keluarga Baron yang berselisih paham dengan pembeli lain.
"Kami keluarga Baron Salnver, tentu kami mendapat keutamaan untuk dilayani terlebih dahulu." ucap seorang pemuda yang merupakan putra dari sang Baron. Putri Amerilya mendengar perkataan itu, ia menunjukkan ekspresi kesal karna kesombongan seorang putra Baron.
"Kami datang lebih awal daripada kalian, entah kalian siapa dari keluarga mana namun kalian harus antri." ucap salah seorang pelanggan toko kue itu yang tak terima dengan perlakuan putra Baron itu.
"Aku akan melapor pada ayah tentang apa yang kalian lakukan." ucap Tuan Muda Glance Salnver dengan kesal ia keluar dari toko kue itu.
Glance Salnver pergi ke rumah untuk melapor pada ayahnya, mendapat keluhan dari putra kesayangan tentu membuat Tuan Baron Seven Salnver tak terima. Tuan Baron bergegas pergi menuju toko kue yang telah menghina putranya, ia melewati keluarga kerajaan begitu saja tanpa menoleh sedikitpun.
"Siapa yang berani menindas putraku?." ucap Baron Seven Salnver dengan penuh emosi, ia menggebrak salah satu meja yang ada di sana dengan sangat kencang hingga membuat beberapa pekerja di toko kue merasa takut.
"Putra anda harus mengantri jika ingin mendapatkan sepotong kue." ucap Putri Amerilya dengan berani, ia tau para penduduk yang tak memiliki kekuasaan hanya bisa diam saat sang Baron datang.
"Hey siapa kau gadis jelek hingga berani mengatur ngatur apa yang harus putraku lakukan!!." teriak Baron Seven, ia menatap Putri Amerilya dengan hina andai saja sang Baron tau jika gadis itu putri dari seorang raja.
"Apa kau sedang menggertak putriku?." ucap Raja Azvago yang sudah mengeluarkan pedang miliknya, ia menyodorkan pedang itu pada kepala Baron Seven.
Baron Seven terkejut karna ada yang berani menodongkan pedang padanya di wilayah kekuasaan Baron Seven. Dengan penuh emosi ia mengangkat kepala dan melihat siapa orang lancang itu, akhirnya mata Baron Seven bertemu dengan mata Raja Azvago. Tubuh Baron Seven bergetar saat mengetahui Yang Mulia Raja Azvago ada di hadapannya, dengan segera ia bersujud di hadapan sang raja untuk meminta pengampunan.
"Siapa yang memberimu wewenang untuk bertingkah seenaknya?." ucap Raja Azvago yang masih sangat marah, seorang Baron dengan sangat berani menindas penduduk sipil tentu ini tindakan yang melanggar hukum.
"Maaf atas kebodohan yang saya lakukan Yang Mulia Raja, saya berjanji tak akan mengulanginya lagi." ucap Baron Seven yang sangat ketakutan, hal yang tak ia sangka sangka sang raja datang ke wilayahnya tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu.
Putri Amerilya menatap tak suka ke arah putra sang Baron, pantas saja putranya tak miliki etika ayahnya saja seorang penjilat yang suka berkata kata manis. Sang putri yakin ini bukan pertama kalinya keluarga Baron Seven menindas penduduk sipil seperti ini. Putri Amerilya berjalan mendekat ke arah sang ayah kemudian memberikan isyarat pada ayahnya.
"Apa kau ingin mengatakan sesuatu putriku?." tanya Raja Azvago yang memberikan hak pada sang putri untuk menyampaikan pendapatnya.
"Putra dari pria ini memiliki sikap yang sangat buruk ayah, bagaimana mungkin sebagai seorang Tuan Putri saya membiarkan rakyat ditindas seperti ini?." ucap Putri Amerilya dengan tegas dan sangat berani, di kehidupannya yang lalu ia gagal melindungi hak haknya sendiri dan si kehidupan sekarang ia harus bisa melindungi banyak orang.
"Kau sedang mengatai ku gadis sialan!!." ucap Glance Salnver dengan sangat kesal, ia mengumpulkan mana sihir dan memusatkan di telapak tangan hingga muncul beberapa bola api. Pemuda itu ingin menyerang Putri Amerilya menggunakan bola api miliknya.
Pangeran Azxo tak tinggal diam saat melihat adik kecilnya ingin diserang, ia merapalkan sebuah mantra kebangkitan, di luar toko kue muncul beberapa tengkorak dengan mata merah mereka masuk kedalam toko kue dan berbaris rapi dibelakang sang pangeran.
"Jika kau ingin melukai adikku maka aku akan melawan mu." ucap Pangeran Azxo yang sudah siap bertarung dengan pemuda itu.
Suasana di dalam toko kue semakin kacau, untuk mengurangi kerugian dari pemilik toko sang raja menyerat tubuh Baron Seven Salnver keluar diikuti oleh putra sang Baron.
"Mengapa anda memperlakukan ayah saya seperti ini!!!." teriak Glance Salnver dengan sangat keras, ia tak menerima penghinaan yang dilakukan oleh Raja pada sang ayah.
Hai hai semua akhirnya novelku yang ini update juga, gimana kangen ga sama aku?. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun, like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga.