PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Tidak Menghadiri Makan Siang


Saat ini Putri Amerilya sedang berdiam diri di dalam kamarnya, ia merasa sedikit bosan namun tak tau apa yang harus dilakukan untuk mengusir kebosanannya itu. Sang putri duduk di tepi ranjang tempat tidurnya ia bermain main dengan beberapa sulur tanaman kecil yang baru saja ia tumbuhkan di lantai kamar. Putri Amerilya berfikir akan sangat menyenangkan jika kamarnya dipenuhi dengan beberapa jenis bunga serta pohon buah dengan ukuran kecil.


Amerilya memejamkan matanya beberapa saat dan mencoba membayangkan tanaman seperti apa yang ia inginkan, perlahan lahan muncul cahaya berwarna hijau dari kedua telapak tangan sang putri. Dalam sekejap kamar tersebut dipenuhi dengan bunga serta beberapa tanaman buah seperti semangka, melon, pohon apel kecil yang dipenuhi oleh apel berwarna merah, serta pohon strawberry.


Sang putri kecil membuka matanya perlahan, ia menatap dengan takjub ke arah tanaman yang memenuhi kamarnya itu. Akhirnya ia tak bosan lagi berdiam diri di dalam kamar sembari menunggu malam datang. Putri Amerilya memetik beberapa buah buahan kemudian memakannya. Di sisi lain saat ini Putri Abel sedang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang sangat nyaman, tiba tiba saja ia merasa ada seseorang yang menggunakan sihir tanaman di sekitar istana tersebut. Putri Arbel menunjukkan wajah bingung, seingatnya tak ada siapapun di sini yang menguasai sihir tipe tanaman kecuali dirinya.


"Aura alam yang dikeluarkan sangatlah pekat, siapa orang dengan bakat semengerikan ini?." tanya Putri Arbel pada dirinya sendiri. Ia menumbuhkan sejenis rumput namun rumput tersebut menjalar di sekitar dinding kamar Putri Arbel.


"Cari dimana manusia yang menggunakan sihir alam ini, saya ingin tau Tuan Putri mana yang sedang menyembunyikan kemampuannya." ucap Putri Arbel dengan tatapan tajam. Bakat seperti ini tak boleh di biarkan begitu saja, ia harus diberikan bimbingan agar tak salah jalan nantinya.


Rumput rambat milik Putri Arbel mulai menjalar di sekitar istana putri, rumput itu terus tumbuh hingga ia hampir sampai di kamar Putri Amerilya tempat aura alam itu berasal. Di sisi lain Juylin yang saat itu sedang membersihkan beberapa vas bunga yang tak jauh dati kamar Tuan Putri kecilnya melihat tumbuhan yang sangat aneh.


"Siapa orang yang ingin mengusik ketenangan Tuan Putri Amerilya. Sang putri berhak menyembunyikan kekuatan yang ia miliki dan orang luar tak perlu ikut campur dalam maslah ini." gumam Juylin dengan sorot mata tajam.


Juylin membuat sebuah pedang menggunkan mana sihir miliknya, dengan segera ia memotong rerumputan yang terus menjalar dan hampir sampai ke kamar Tuan Putri Amerilya. Tak butuh waktu lama bagi si pelayan setia untuk membereskan masalah seperti ini, satu tebasan pedang miliknya akan menghambat proses regenerasi rumput rambat tersebut.


Putri Arbel berdecak dengan kesal, ia tak tau apa yang sedang terjadi di luar sana namun ia sangat yakin orang yang berhasil menghentikan regenerasi tumbuhan miliknya bukankah orang biasa. Rencana Putri Arbel untuk mencari orang pemilik aura alam yang sangat kental itupun gagal.


"Sepertinya ia dilindungi oleh seseorang atau mungkin Istana Putri yang ada di Kerajaan Meztano menyimpan begitu banyak misteri." batin Putri Arbel dengan rasa penasaran yang menyelimuti dirinya.


"Cepat atau lambat identitas orang itu akan terbongkar dengan sendirinya, sebaiknya saya tak perlu terlalu ikut campur dalam masalah ini." ucap Putri Arbel yang memilih untuk menyerah daripada ia mengusik ketenangan orang yang salah.


Hari terus berjalan dan kini matahari sudah tepat di atas kepala. Beberapa tamu undangan yang lain mulai berdatangan termasuk anggota Keluarga Marques Montiqu, kedatangan mereka disambut dengan hangat oleh Raja Azvago dan Ratu Zivaya meskipun keduanya sekedar berakting saja.


"Selamat datang di Istana Kerajaan Meztano, semoga perjalanan Tuan Marques Jordy Montiqu dan keluarga tak menemukan hambatan ketika menuju kesini. Silahkan masuk ke dalam dan makan siang bersama dengan yang lain, kami akan meminta pelayan untuk menyiapkan kamar." sambut Raja Azvago dengan sangat ramah.


"Terimakasih untuk sambutan hangatnya, kami tak mengalami hambatan apapun saat dalam perjalanan kemari. Baiklah kami akan masuk ke dalam sesuai dengan instruksi Yang Mulia Raja Azvago." ucap Tuan Marques Jordy Montiqu dengan senyum dingin.


Keluarga Marques Montiqu masuk begitu saja ke dalam istana utama tanpa ada basa basi lagi dengan Raja Azvago ataupun Ratu Zivaya. Mungkin mereka masih merasa kesal dengan penghapusan Keluarga Zidan Marques dari wilayah Kerajaan Meztano.


"Anda lihat kesombongan mereka ratuku?." tanya Raja Azvago sembari melirik ke arah Ratu Zivaya.


"Setelah pesta ulangtahun selesai kita harus segera memusnahkan mereka semua. Keberadaan Keluarga Marques Montiqu akan menjadi musuh besar bagi putra dan putri kita di masa depan." jawab Ratu Zivaya dengan sorot mata tajam. Sang ratu berusaha menahan luapan emosi yang hampir saja meledak dari dalam tubuhnya.


"Kendalikan diri mu Ratuku, secepatnya kita akan menyingkirkan mereka." jawab Raja Azvago yang setuju dengan pemikiran istrinya itu.


Setelah itu beberapa keluarga bangsawan dari Kerajaan Belgize mulai berdatangan seperti Keluarga Duke Baviler dan Keluarga Duke Savron. Untunglah kedua keluarga itu tak ikut campur dalam rencana pemusnahan Istana Kerajaan Meztano saat pesta ulangtahun Putri Amerilya.


"Mari kita masuk ke dalam, mungkin saat ini Ibu Suri Sinya sedang kerepotan menjamu para tamu." ucap Ratu Zivaya, ia khawatir jika ibu mertuanya itu akan merasa lelah sebelum pesta ulang tahun putrinya dimulai.


Raja Azvago dan Ratu Zivaya segera masuk ke dalam istana utama, mereka segera pergi menuju ruang makan untuk bergabung dalam jamuan makan siang. Suasana di sekitar istana Kerajaan Meztano terpantau aman, para prajurit sedang memperketat penjagaan agar tak terjadi kerusuhan saat pesta malam nanti.


Putri Amerilya merasa sangat kenyang karna ia terlalu banyak memakan buah buahan.


Tok tok tok.....


Suara pintu kamar sang putri yang diketuk oleh seorang pelayan, dengan segera Putri Amerilya menarik kembali semua tanaman miliknya itu kemudian berjalan membuka pintu kamar.


"Ada apa Gumi?." tanya Putri Amerilya pada seorang pelayan dengan penampilan rambut berwarna putih serta mata coklat tua.


Gumi melihat ke dalam kamar Putri Amerilya dengan tatapan heran, ia merasakan sisa sisa mana yang bertebaran di sekitar kamar tersebut. Mungkin putri kecilnya itu baru saja berlatih sihir? susah bukan rahasia lagi jika kesepuluh pelayan Putri Amerilya mengetahui kemampuan yang dimiliki oleh sang putri.


"Anda baru saja berlatih sihir Tuan Putri?." tanya Gumi dengan suara sangat pelan agar tak di dengar oleh orang lain.


"Amerilya hanya sedikit bermain main karna merasa bosan. Ada apa? mengapa Gumi datang menemui Amerilya?." tanya sang putri dengan tatapan polos.


"Ini saatnya makan siang, para tuan putri dari kerajaan lain sedang menunggu kehadiran Anda di ruang makan." ucap Gumi dengan senyum lebar.


Putri Amerilya terdiam beberapa saat, bagaimana dia bisa lupa bahwa sudah waktunya makan siang. Sekarang perut kecil sang putri sudah sangat penuh dengan buah buahan, bagaimana dia bisa makan siang bersama dengan yang lain?. Sang putri terlihat sedang berfikir keras, ia harus menemukan sebuah alasan agar bisa melewatkan makan siang.


"Ummm Amerilya masih sangat kenyang. Jika dipaksakan untuk makan lagi maka perut Amerilya akan sakit nanti." ucap Putri Amerilya dengan wajah cemberut sembari mengusap usap perutnya yang masih kenyang.


"Usap saja purut ku ini, Gumi pasti bisa merasakan masih banyak makanan di dalamnya." jawab Putri Amerilya dengan nada kesal, ia tak suka dianggap sebagai seorang pembohong oleh salah satu pelayan setianya itu.


Gumi berjongkok di hadapan Putri Amerilya kemudian mengusap perut sang putri secara perlahan. Apa yang dikatakan oleh Putri Amerilya memang benar adanya, perut kecil itu masih penuh dengan makanan dan sepertinya tak bisa dipaksakan lagi.


"Ah maaf karna saya menuduhkan yang tidak tidak pada Tuan Putri. Saya akan memberitahukan yang lain untuk memulai makan siang tanpa Anda." ucap Gumi dengan rasa bersalah.


"Umm baiklah, terimakasih Gumi atas pengertiannya." ucap Putri Amerilya.


"Saya permisi terlebih dahulu Tuan Putri." ucap Gumi yang langsung pergi dari hadapan sang putri.


Setelah kepergian Gumi, Putri Amerilya kembali masuk ke dalam kamarnya. Untunglah sang pelayan tak memaksa putri kecil itu untuk makan bersama dengan para putri yang lain.


Gumi pergi untuk menemui Lilian, untunglah saat itu Lilian sedang menunggu di depan ruang makan istana utama. Lilian menatap ke arah Gumi dengan tatapan bingung, mengapa rekannya itu kembali sendiri tanpa membawa sang putri bersama dengannya.


"Dimana Tuan Putri Amerilya?." tanya Lilian.


"Sang putri tak bisa makan bersama dengan putri yang lain, ia masih merasa kenyang dan saya sudah memastikan bahwa sang putri tak berbohong." jelas Gumi pada Lilian.


"Ah baiklah saya akan masuk ke dalam untuk meminta para putri yang lain untuk memulai sarapan tanpa menunggu Tuan Putri Amerilya." ucap Lilian.


Lilian meminta beberapa prajurit untuk membukakan pintu ruang makan, tak perlu waktu lama pintu tersebut terbuka dengan lebar dan Lilian langsung masuk ke dalam. Kedatangan pelayan itu tanpa Putri Amerilya tentu menimbulkan tanda tanya bagi yang lain.


"Maaf sebelumnya Tuan Putri Amerilya tidak bisa hadir dan kalian dipersilahkan untuk memulai makan siang tanpanya." ucap Lilian sembari membungkukkan badan. Ia mewakili Putri Amerilya meminta maaf pada semua putri yang hadir.


"Apakah Tuan Putri sedang sakit?" tanya Putri Alexsi dengan tatapan khawatir.


"Putri Amerilya baik baik saja, ia masih merasa kenyang karna itulah ia tak bisa bergabung dengan kalian di sini." jawab Lilian dengan senyum ramah.


"Syukurlah jika Tuan Putri Amerilya baik baik saja. Baiklah kami akan memulai makan siang sekarang." ucap Putri Alexsi yang mendapat anggukan oleh para tuan putri yang lain.


Akhirnya semua putri memulai makan siang mereka tanpa kehadiran Putri Amerilya, semua makan dengan lahap kecuali Putri Lena. Entah mengapa saat ini Putri Lena sedang berfikir Putri Amerilya sengaja menjauhinya karena insiden pagi tadi.


"Ada apa?." tanya Putri Liene pada adik perempuannya.


"Saya baik baik saja kak." jawab Putri Lena dengan senyuman hambar.


Makan siang kali ini berjalan dengan sangat singkat akan tetap semua makanan habis tak bersisa. Setelah selesai makan semua putri mulai pergi meninggalkan ruang makan. Kini Putri Lena memberanikan diri untuk pergi menemui Putri Amerilya.


Tok tok tok...


Suara pintu kamar Putri Amerilya yang diketuk oleh Putri Lena, beberapa saat setelah pintu kamar terbuka dengan lebar dan menunjukkan wajah Putri Amerilya yang sedang mengantuk.


"Hoaam... ada apa Putri Lena?." tanya Amerilya dengan ekspresi malas. Ia berharap kedatangan Putri dari Kerajaan Antez itu bukan untuk mencari masalah dengannya.


"Apakah Putri Amerilya sengaja melewatkan makan siang karna tak ingin bertemu dengan saya? saya benar benar meminta maaf atas kejadian pagi tadi." ucap Putri Lena, ia menurunkan gengsinya dan membungkukkan di hadapan Putri Amerilya.


"Ha? apa yang Anda katakan itu tidak benar. Perut saya masih penuh dengan makanan, jika saya memaksakan untuk hadir dalam makan siang maka perut saya akan meledak." jawab Putri Amerilya dengan jujur.


Mendapatkan jawaban seperti itu Putri Lena langsung memfokuskan pandangannya pada perut sedikit buncit milik Putri Amerilya. Ternyata putri kecil itu tak sedang berbohong padanya.


"Syukurlah jika ketidak hadiran Anda bukan karna saya." ucap Putri Lena sembari menghela nafas lega.


"Apakah saya sudah boleh kembali masuk ke kamar dan melanjutkan tidur siang?" tanya Putri Amerilya dengan mata yang sedikit terpejam.


"Silahkan Tuan Putri, maaf jika saya mengganggu waktu tidur siang Anda. Saya permisi terlebih dahulu." ucap Putri Lena sembari berjalan meninggalkan Putri Amerilya.


Putri Amerilya kembali masuk ke dalam kamar dengan wajah datar, semoga tak ada lagi yang datang untuk mengganggu tidur siangnya. Sang putri mengunci pintu kamar kemudian kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya guys, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.