PUTRI AMERILYA

PUTRI AMERILYA
Ingin Tinggal Di Istana Putri


Setelah selesai makan Putri Amerilya langsung kembali ke kamarnya untuk tidur, kesepuluh pelayan setia sang putri masih berada di ruang makan dan memikirkan sebuah cara yang tepat untuk menyingkirkan Ciela Marques dari Istana Kerajaan Meztano ini. Cara yang sesuai dengan permintaan Putri Amerilya cukuplah sulit, biasanya mereka akan langsung menghabiskan nyawa seseorang di tempat tanpa memikirkan unsur unsur lain seperti menjaga nama baik seseorang ataupun hal hal lainnya.


"Mengapa sulit sekali untuk menyingkirkan gadis itu dari istana ini, sebaiknya kita menunggu waktu sampai Ciela Marques mulai melakukan pergerakan dan membunuhnya saat berada di luar istana utama. Dengan begitu orang orang akan berfikir mungkin ada orang lain yang masuk ke dalam Istana Kerajaan Meztano hanya untuk membunuh gadis itu." ucap Liliana yang sudah mengambil sebuah keputusan. Ia meminta pada rekan rekannya yang lain untuk kembali ke kamar mereka masing masing sedangkan Liliana akan membereskan meja makan terlebih dahulu.


Di sisi lain saat ini Ciela Marques sedang berbaring di sebuah tempat tidur yang ukurannya tak terlalu besar namun sangat cukup untuk beristirahat. Ciela Marques tak menyangka keinginannya di tolak begitu saja oleh Yang Mulia Raja Azvago, lagipula mengapa saran dari Ibu Suri Sinya dan Putri Amerilya sangatlah penting?. Raja Azvago adalah seorang raja di Kerajaan ini dan ia yang berhak memutuskan sesuatu tanpa perlu meminta izin pada siapapun.


"Bagaimana caraku untuk tetap bertahan hidup bila seperti ini? mungkin setelah pesta ulang tahun Putri Amerilya, Raja Azvago akan menjatuhkan hukuman mati padamu." batin Ciela Marques dengan ekspresi kesal. Anda saja ia masih bisa berbicara dengan lancar ia pasti sudah mendapatkan bantuan dari beberapa orang.


"Akan lebih baik jika Putri Amerilya mati bersama dengan saya. Dengan begitu Kerajaan Meztano tak akan memiliki seorang putri lagi." batin Ciela Marques dengan sorot mata tajam. Ia begitu membenci Putri Amerilya, mengapa sang putri tak mati seperti saudarinya yang lain dan mengapa ia masih bisa bertahan hidup hingga sekarang ini.


Saat Ciela Marques sedang memikirkan sebuah cara untuk menyingkirkan Putri Amerilya ia mendengar suara langkah kaki yang semakin dekat dengan ruangan yang ia tempati. Ciela Marques langsung menarik selimut kemudian memejamkan matanya untum berjaga jaga jika orang itu masuk ke dalam kamarnya. Beberapa saat setelahnya terdengar suara pintu yang dibuka secara perlahan oleh seseorang, Ciela Marques berusaha untuk memejamkan mata dan menyingkirkan fikiran untuk melihat siapa yang masuk ke dalam kamar.


"Mengapa kau masih berada di tempat ini setelah semua anggota keluarga mu mati." ucap orang yang masuk ke dalam kamar Ciela Marques dengan suara pelan.


Beberapa saat setelah mendengar suara itu Ciela Marques merasakan bahwa tubuhnya tenggelam kedalam air yang sangat dalam, gadis itu kesulitan bernafas dan menggerakkan tangganya seperti sedang meminta tolong. Dalam beberapa saat Ciela Marques merasa bahwa ia sangat dekat dengan kematian, jantungnya berhenti berdetak dan ia hampir pingsan. Anehnya setelah satu menit berlalu semuanya kembali menjadi normal, Ciela Marques dengan segera membuka selimutnya dan melihat bahwa saat ini ia masih berada di ruangan yang sama. Lalu apa yang tejadi padanya barusan? mungkinkah ia hanya berhalusinasi saja? atau mungkin memang ada seseorang yang ingin membunuhnya.


"Siapa orang itu? jika di dengar dari suaranya ia seperti seorang wanita dewasa. Tak mungkin jika Ratu Zivaya yang melakukannya, bukankah di depan ruangan ini ada seorang prajurit yang sedang berjaga?." ucap Ciela Marques di dalam hatinya. Ia rasa istana utama bukan lagi tempat yang aman untuk ia tinggal, mungkin ia harus meminta pada Yang Mulia Raja Azvago untuk memindahkannya ke istana putri.


"Sebaiknya aku tidur lagi." ucap Ciela Marques yang langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur dan berusaha keras mengusir rasa takutnya itu. Beberapa saat setelah Ciela Marques tertidur dengan pulas.


Saat kejadian tadi berlangsung, beberapa prajurit yang ditugaskan untuk berjaga di depan pintu ruangan terlihat melamun dengan fikiran kosong. Para prajurit itu tak menyadari ada sosok wanita yang masuk ke dalam ruangan Ciela Marques, namun setelah wanita itu pergi kesadaran mereka mulai kembali.


Suasana di sekitar Istana Kerajaan Meztano sangatlah sepi tak ada aktivitas dari penduduk ataupun orang orang di sekitarnya, malam terasa begitu sunyi dan sedikit menyeramkan. Beberapa bayangan hitam melesat dari satu atap rumah ke rumah yang lain, mereka sedang mengawasi bagaimana situasi di wilayah Kerajaan Meztano setelah pemusnahan terhadap Keluarga Duke Marques.


"Kau sudah bertemu dengan gadis itu?." tanya seseorang dengan jubah berwarna hitam dan topeng aneh yang melekat di wajahnya.


"Saya sudah menjalankan tugas dengan baik." ucap seorang wanita dengan sorot mata tajam berwarna merah, wanita itu juga menggunakan sebuah topeng.


"Kelangsungan keturunan Kerajaan Meztano adalah tanggung jawab kita semua. Saat ini Putri Amerilya adalah kandidat terbaik yang sudah dipilih, sejak kelahirannya banyak kebahagiaan yang terpancar di dalam istana. Lakukan tugasmu dengan baik, jangan sampai ada seseorang yang berani menyakitinya." ucap orang berjubah hitam itu kemudian melesat pergi.


Tak ada yang tau siapa orang orang berjubah hitam yang sering berkeliaran di sekitar wilayah Kerjaan Meztano, beberapa prajurit kerajaan pernah melihat mereka namun tak ditemukan pergerakan yang mencurigakan.


"Sebaiknya saya kembali sekarang." ucap wanita bertopeng itu, ia menghilang dalam sekejap mata dan tak terlihat lagi dimana pun.


Waktu berjalan dengan cepat hingga lagi pun datang, semua pelayan yang ada di istana utama sedang sibuk mendiskusikan beberapa hal dengan Ratu Zivaya dan Ibu Suri Sinya mengenai pesta ulang tahun Putri Amerilya yang diadakan lusa. Ratu Zivaya menginginkan sebuah pesta ulang tahun yang meriah dengan dekorasi dipenuhi dengan bunga bunga, sedangkan Ibu Suri Sinya menginginkan pesta yang sangat mewah dengan dekorasi berwarna putih dan emas. Kedua wanita itu terus beradu pendapat hingga para pelayan hanya bisa diam menunggu keputusan akhir diantara mereka berdua.


Di sisi lain saat ini Putri Amerilya bangun lebih awal dari biasanya, ia ingin pergi bersama Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe untuk membantu mereka berdua mencarikan hadiah untuk sang putri. Jika biasanya seseorang akan memberi hadiah tanpa diketahui oleh sang penerima namun kedua pangeran itu sangat berbeda, mereka ingin mengajak Putri Amerilya berjalan jalan dan memilih hadiahnya sendiri.


"Selamat pagi Liliana." sapa Putri Amerilya yang saat itu melihat Liliana baru saja keluar dari dapur sembari membawa segelas susu hangat untuk Putri Amerilya.


"Selamat pagi Tuan Putri Amerilya, silahkan diminum terlebih dahulu sebelum Anda pergi." ucap Lilian sembari menyerahkan segelas susu hangat pada sang putri.


Putri Amerilya menerima susu hangat itu dan segera mencari tempat untuk duduk, setelah duduk Putri Amerilya langsung meminum susu hangat itu sampai habis. Ia menyerah gelas kosong pada Liliana kemudian mengucapkan terimakasih pada pelayannya itu.


"Saat berada di luar nanti saya harap Tuan Putri Amerilya berhati hati, meski saat ini Keluarga Duke Marques susah dimusnahkan masih banyak musuh yang berkeliling dengan bebas." ucap Lilian yang menitipkan sebuah pesan pada Putri Amerilya.


"Baiklah saya akan berhati hati, sampai jumpa Liliana." ucap Putri Amerilya yang bergegas keluar dari istana putri dan pergi menuju istana pangeran.


Putri Amerilya berjalan dengan santai melewati beberapa kebun bunga dan juga halaman depan istana utama, beberapa prajurit yang ia temui di sepanjang jalan membungkukkan badan mereka saat Putri Amerilya sedang melintas. Saat melewati bagian samping istana utama Putri Amerilya menoleh ke arah sebuah ruangan yang ditempati oleh Ciela Marques, sang putri minat Ciela Marques sedang menatapnya dengan tajam dari jendela kaca. Putri Amerilya hanya tersenyum pada Ciela Marques kemudian ia melanjutkan perjalanan menuju istana pangeran.


"Selamat pagi Tuan Putri Amerilya, silahkan menunggu sebentar karna saat ini Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe sedang bersiap." ucap salah seorang prajurit yang berjaga di pintu masuk istana pangeran, prajurit itu mengantar Putri Amerilya masuk ke dalam dan mengarahkan sang putri untuk menunggu di ruang tamu.


"Baiklah terimakasih karna telah mengantar saya." ucap Putri Amerilya dengan senyuman yang sangat manis.


Putri Amerilya menunggu kedua kakak laki lakinya itu sembari duduk santai sembari bersandar di sofa empuk, setelah cukup lama menunggu Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe akhirnya keluar dari kamar mereka dan berjalan untuk menemui Putri Amerilya.


"Mengapa kalian berdua sangat lama, saya menunggu sampai merasa bosan di sini." ucap Putri Amerilya sembari menunjukkan wajah kesal yang terlihat begitu menggemaskan.


"Maaf adikku yang cantik, kakak mu ini harus berpenampilan menarik saat keluar bersama dengan mu." ucap Pangeran Mixo yang langsung menggendong Putri Amerilya kemudian membawanya keluar dari istana pangeran.


"Jadi hadiah seperti apa yang kau inginkan adikku?." tanya Pangeran Luxe pada Putri Amerilya yang sedang digendong oleh pangeran pertama.


"Amerilya belum memiliki keinginan apapun." ucap Putri Amerilya dengan wajah polos.


Kedua pangeran itu membawa Putri Amerilya naik sebuah kereta kuda yang sudah menunggu mereka di depan gerbang utama Istana Kerajaan Meztano, saat berada di gendongan Pangeran Mixo sang putri menyempatkan diri untuk melihat kebelakang dan ia bertatapan langsung dengan Ciela Marques yang masih menatap ke arahnya dengan kesal.


"Lihatlah Ciela Marques terlihat sangat kesal padaku." ucap Putri Amerilya dengan dengan suara sedih.


Setelah mendengar perkataan Putri Amerilya kedua pangeran langsung menoleh ke arah belakang dan menatap tajam ke arah ruangan yang ditempati oleh Ciela Marques. Mata Pangeran Mixo dan Pangeran Luxe bertemu dengan mata Ciela Marques yang sedang menatap terkejut kearah mereka berdua, sepertinya Ciela Marques tak pernah memperkirakan bahwa kita kedua pangeran akan berbalik arah.


"Gadis itu pasti sedang iri padamu adik, lebih baik kita naik ke kereta kuda dan hiraukan saja gadis pengganggu itu." ucap Pangeran Luxe yang langsung naik ke dalam kereta kuda disusul Pangeran Mixo yang sedang menggendong sang putri.


Setelah mereka bertiga berada di dalam kereta kuda, Pangeran Luxe meminta sang kusir untuk memacu kuda kuda itu dengan sedikit lebih cepat agar mereka segera meninggalkan area Istana Kerajaan Meztano. Setelah kepergian kereta kuda yang membawa kedua pangeran dan Putri Amerilya, Ciela Marques berhenti melihat dari jendela dan duduk di kursinya.


"Saya ingin pergi menemui Yang Mulia Raja Azvago lagi, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan." tulis Ciela Marques pada sebuah kertas kemudian memberikan kertas tersebut pada seorang pria pelayan yang berdiri di sampingnya.


"Saat ini semua orang tengah sibuk mempersiapkan pesta ulang tahun Putri Amerilya yang diadakan lusa, sepertinya Raja Azvago sedang berada di aula utama untuk membantu para pelayan menentukan penempatan kursi dan meja untuk para tamu." jawab pelayan itu dengan suara dan raut wajah datar. Sebenarnya sang pelayan tak ingin ditempatkan di ruangan Ciela Marques, ia sangat muak melihat segala hal yang gadis itu lakukan. Entah permintaan kurang ajar seperti apa lagi yang ingin Ciela Marques ajukan pada Yang Mulia Raja Azvago.


"Saya tetap ingin bertemu dengannya, antar saya kesana." tulis Ciela Marques dan kembali memberikan kertas itu pada si pelayan.


Pelayan itu meremas tangan kirinya dengan kesal, mengapa ia harus menuruti permintaan dan perintah dari gadis tak berguna itu. Akan lebih baik jika Yang Mulia Raja Azvago segera menghukum mati gadis itu karena tak baik membiarkannya terlalu lama tinggal di istana.


Akhirnya si pelayan membawa Ciela Marques keluar dari ruangan itu, tak lupa ia meminta izin dari beberapa prajurit yang sedang berjaga di luar ruangan. Ciela Marques dan si pelayan berjalan dengan cepat menuju aula utama, saat ingin masuk ke dalam aula beberapa prajurit menghadang mereka sampai menodongkan pedang pada Ciela Marques.


"Orang asing seperti Anda dilarang untuk masuk ke dalam, saat ini semua orang sedang sibuk mendekorasi aula utama." ucap salah seorang prajurit dengan tatapan tajam, sebelumnya Ibu Suri Sinya dan Ratu Zivaya memberikan perintah agar orang luar tak seenaknya masuk ke dalam aula utama.


"Biasakah kalian memanggilkan Yang Mulia Raja Azvago? Nona Ciela Marques ingin bertemu dengannya." ucap pelayan itu dengan sebuah senyuman yang ia paksakan.


"Yang Mulia Raja Azvago sudah keluar beberapa saat yang lalu, ia pergi untuk mencarikan hadiah untuk Tuan Putri Amerilya." jawab seorang prajurit dengan nada ketus. Melihat wajah Ciela Marques membuat para prajurit itu merasa kesal.


Tiba tiba seseorang membuka pintu aula kemudian menutupnya kembali, terlihat Ratu Zivaya menatap ke arah Ciela Marques dengan tatapan bingung. Mengapa gadis yang saat ini sedang menjadi tahanan istana utama bisa keluar ruangannya dengan bebas? mungkinkah sang suami mengizinkan gadis itu untuk melakukan semua hal sesuka hatinya.


"Ada apa ini?." tanya Ratu Zivaya dengan nada bicara dingin.


"Maaf telah membuat kegaduhan di sini, saya mengantar Nona Ciela Marques untuk bertemu Yang Mulia Raja Azvago. Karna para prajurit mengatakan bahwa Raja Azvago sedang tidak ada maka kami akan kembali sekarang." ucap pelayan itu yang segera mengajak Ciela Marques untuk pergi dari sana.


Ciela Marques menghempaskan tangan pelayan itu, ia tak ingin pergi karna ia ingin mengatakan sesuatu pada Ratu Zivaya. Ciela Marques mulai menuliskan sesuatu di atas kertas dalam waktu beberapa menit, setelah selesai ia menyerahkan kertas tersebut pada Ratu Zivaya. Sang ratu membaca setiap kata yang ada di dalam kertas itu dan setelah selesai ia menunjukkan ekspresi tak suka.


"Sudah bagus suamiku membiarkan gadis sepertimu tinggal di istana utama. Berani beraninya kau meminta untuk pindah ke istana putri!." bentak Ratu Zivaya dengan ekspresi kesal. Ciela Marques susah kelewatan, banyak hal yang gadis itu minta.


"Apa kau merasa sudah menjadi seorang putri dari Istana Kerajaan Meztano ini? berkaca lah dengan baik dan lihat seberapa buruknya dirimu." ucap Ratu Zivaya lagi kemudian masuk kedalam aula meninggalkan Ciela Marques dan si pelayan yang masih diam mematung.


Ciela Marques menunjukkan ekspresi penuh kebencian, mengapa ia tak boleh tinggal di Istana Putri? ia seorang perempuan dan seharusnya berada di sana meski statusnya seorang tahanan. Dengan penuh rasa kesal Ciela Marques pergi dari sana dan kembali ke ruangannya bersama dengan si pelayan.


Hai hai semua author balik lagi dengan Novel Putri Amerilya, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote juga ya, gift hadiah apapun makasih banget, like di setiap chapternya, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.