Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Selamat Tinggal Orang Baik


Gelagat Nabila membuat tamu undangan bertanya-tanya, ada apa? Terlebih, salah satu panitia memberikan isyarat, setelah kehadiran salah satu perawat di sisi podium, berjarak 40 meter dari tempat Nabila menyampaikan sambutan.


Dengan isyarat dan gesteur tubuh dari Panita dan perawat, membuat Nabila segera mengakhiri sambutannya.


Pastinya, tamu yang datang pun terlihat aneh dengan gelagat Nabila, yang menyegerakan turun dari podium, sesekali ia melempar senyum menepis rasa cemas.


Tak lama sebagian tamu undangan pun berbisik, "Abah Yai sakit." Ucap perempuan dengan hijab berwarna hijau marun.


"Iya, sudah beberapa lama nggak liat pak Kiayai." Balas perempuan disebelahnya.


"Kita coba liat aja yuk?! Takut ada apa-apa."


"Yuk!"


Begitu juga beberapa tamu undangan dari kalangan pria, berucapa hal yang sama.


"Abah Yai, banyak jasa di kota ini, mewakafkan semua hartanya untuk pendidikan, dan sekarang mewakafkan lagi rumah sakit, walau Ustadzah Nabila yang kelola, tapi peranan Abah Yai begitu berarti." Ucap Pria berkacamata.


"Seharusnya Ustadz Ozi yang lanjutkan semua, yaaah, namanya anak nggak bisa sama dengan Bapaknya. Lain lubuk, lain ikannya." Tepis Pria berbatik dengan kopiah putih.


Nabila berjalan dengan tergesa-gesa didampingi sang Suami, Arul, yang tak lain sebagai komisaris di Rumah Sakit.


"Jangan terlalu tergesa-gesa Umi."


"Aku khawatir, ini yang terakhir aku bertemu abah."


"Yah, aku paham, serahkan semua sama Allah."


"Bagaimana pun juga, Abahlah yang sudah membesarkan karir ku,"


Nabila sudah mendekati bibir ruang tempat Abah di rawat, nampak Ozi dan Ustadz Burhan berdiri menunggu kabar dari dokter mengenai keadaan Abah.


Suasana semakin berbeda, saat Nabila dan Arul menghampiri mereka, wajah Ozi yang cemas dengan keadaan Abah, bertambah gugup saat berhadapadan dengan Arul dan Nabila. Apa lagi di depan Nabila, yang tak lain mantan istrinya, wanita cantik, Soleha, dan orang yang pernah mencintai Ozi sepenuh hati, wanita yang selalu menanti kedatangan sang suami, wanita yang menyembunyikan rasa kesal dengan senyumnya, wanita yang dengan sabar menerima keadaan sang suami kala itu, kini sudah melabuhkan hatinya kepada seorang pengusaha muslim, yang juga patner usahanya.


"Assalamualikum Kak Ozi, Ustadz Burhan."


"Walaikum salam." Jawab mereka kompak.


"Bil." Sapa Ozi malu.


"Bagaimana keadaan Abah, Stadz Burhan?"


Nabila bertanya kepada Ustadz Burhan, karena menjaga perasaan suaminya, yang melempar senyum kepada Ozi, dan pria dengan nama lengkap Fahrurozi tersebut tertunduk, malu.


"Belum ada kabar apa-apa Bil, kami juga nunggu tim medis keluar dari ICU."


"Semoga nggak ada apa-apa sama Abah."


"Amin."


Nabila mencari tempat duduk, Arul mendampinginya dan berusaha menenangkan perempuan yang kini menjadi istrinya.


"Kita serahkan semua kepada Allah yaank."


"Iya."


"Kamu belum makan seharian, mau aku pesenin makan? Atau cemilian sekedar isi perut, biar nggak kosong."


"Nabila sudah menemukan jalan pilihannya sendiri Ji, dan mungkin ini yang terbaik untuk ente dan dia."


"Yah Stadz, semua ane yang salah, ane tahu betul apa yang Abah dan Umi inginkan, harapkan, memang ane yang nggak tau diri aja." Sesal Ozi.


"Sekarang waktunya evaluasi dan berbenah diri, nggak ada kata terlambat Zie." Ustadz Burhan berusaha menenangkan.


Selagi mereka sedang asik dengan percakapanya masing-masing, dibuat hening seketika, rasa cemas semakin bertambah, saat Maura, dokter yang menangani Abah keluar dari ruang ICU. Nabila dan Ozi datang menghampiri.


"Bagaimana Dok?" Tanya Nabila dan Ozi kompak, hingga Ozi tertunduk malu.


"Yang pasti kami sudah berusaha, tapi semua kembali kepada Allah pemilik jiwa kita. Silahkan Mas Ozi dan Bu Nabila bisa temui Pak Kiyai, sepertinya ada hal yang ingin Abah sampaikan." Ucap Maura, yang masih mengenakan pakaian operasi.


"Yang lain nanti saja yah, tunggu di luar, Abah sebut nama Ozi dan Nabila."


"Ya Bu Dokter." Ucap Ustadz Burhan.


Dan Arul memberikan isyarat anggukan kepala serta senyum, sebagai tanda dan mempersilahkan. Nabila, Ozi serta Dokter Maura masuk kembali ke dalam ruangan, mengiringi keduanya menemui Abah.


Air mata Nabila tiba-tiba tumpah, melihat keadaan Abah, Ozi pun tidak bisa menyembunyikan perasaanya, ketika selang terpasang di sekujur tubuh Abah, dengan terbata-bata, "Zii, Bila, sudah waktunya A....aaa....Abah menemui Umi, dan pasrahkan semua apa yang menjadi ketentuan Allah, A....aaa..Bah titipkan jamaah dan orang banyak, di yayasan sama kalian, layani mereka, karena kita lah yang menjadi pelayan umat, jangan berharap pada manusia, dan jadilah karyawan Allah, jaga baik-baik apa yang sudah diwakafkan, dan sebaik-baiknya harta, iyalah Ilmu, jangan berselisih untuk urusan dunia. Maaafiiin Aaaaa...bah, kalau banyak salah."


Wajahnya pun sudah pasih, pandangan Abah layu, ucapannya terbata-bata, bibirnya basah hanya untuk menitipkan mereka yang mengenyam pendidikan, dan berharap Yayasan yang beliau dirikan menjadi rumah bagi mereka. Abah menitipkan semua kepada Nabila dan Ozi, untuk menggantikannya melayani umat, sekarang sudah purna tugas Abah, beliau tidak ingin warisan yang dititipkannya menjadi perselisihan, dan jelas, Abah meminta Nabila dan Ozi untuk melanjutkan amanah menjadi pelayan Umat, bukan untuk dilayani Umat.


"Insyallah Bah, Ozi akan jalani amanah abah, maafin Ozi Baaah, jauh dari apa yang Abah harapkan."


"Berubahlah, taubatlah, pinta maaf sama Allah, dan jangan ulangi lagi."


"Iya Bah."


"Nabila, Nabila yang besarkan yayasan, terusin apa yang sudah Abah tanam, libatkan mereka yang sudah ikut membesarkan yayasan, abah wakafkan semua harta Abah untuk jama'ah, Abah titip Ozi yah, maafin kesalahan dia."


"Insyallah Abah, Nabila akan jaga amanah Abah."


"Burhaaan? Mana Burhan?!" Tiba-tiba lisan Abah memanggil Burhan, orang yang dengan sabar melayani Abah. Salah satu perawat memanggil Ustadz Burhan untuk masuk.


Air mata Ustadz Burhan pun tumpah, melihat keadaan Abah.


"Baaah, Ya Allah Baaah..."


"Han, nggak usah lagi ditangisi, datang dan pergi itu sunatullah, Abah cuma titip yayasan, dan jagain Nabila sama ozi yah? Layani Jama'ah dengan baik."


"Yaaah Baaah."


"Maafin Abah semuanya, maafin salah abah, aaa...aaaaa...bah tugas Abah sudah selesai...aaaa...abaaah pamit. Asshadu'ala ilahaillah...waa asyahadu ana Muhammadaaar rosuuu...lllluuuu...llaaaaah..." Lepas sudah ruh dengan jasadnya, lepas sudah urusan dunia, amanah orang tua kepada anaknya, amanah seorang hamba yang Allah percayakan dengan keilmuanya untuk membina Umat, yang tidak semua orang bisa mewariskan peradaban keilmuan, kini Abah memenuhi panggilan Allah, dan menjemput perempuan yang ia cintai dan sayangi, cintanya yang sehidup-semati.


Ozi menutup wajah Abah, kembali berdiri, terapit Maura diantara dua pria, Ustadz Burhan dan Ustadz Ozi, keduanya saling menatap ke arah dokter pertama yang menjadi pelayan rumah sakit.


Tak lama, Arul masuk dan menenangkan Nabila yang sudah berlinangan air mata, dihadapan jenazah Abah, "Selamat Jalan KH.Syahrullah, semoga Allah terima segala kebaikan dan amal ibadahnya. Amin..."


Terimkasih untuk pembaca setia JODOH TITIPAN ABAH, terimakasih atas komentar, kesabarannya menunggu update, dan akhir kisah ini, mohon titipkan doa, untuk ayahanda KH.SYAHRULLAH dengan nama aslinya USTADZ ASRULLAH A.L semoga Ayah dan Ibu saya, diterima Allah SWT segala kebaikannya, serta dedikasi Ayah dan Ibunda mendidik murid-muridnya, keduanya adalah guru ngaji kampung.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\= TAMAT \=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Siapakah jodoh Maura, dokter cantik dan soleha itu? Tinggalkan komentar yah, dan apakah saya lanjutkan kisah ini? Silahkan ditunggu masukan temen-temen pembaca.