Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Menjemput Cinta


Suara kicau burung pagi, masih terdengar indah dan bersautan, langit menghampar biru, nampak beberapa panita persiapan launching Rumah Sakit Assyifa mulai sibuk, begitu juga Ustadz Burhan yang merupakan penangung jawab acara, selepas solat Subuh sudah lebih awal memastikan semua berjalan dengan baik.


Sudah biasa bagi Ustadz Burhan, estafet dalam mempersiapkan acara baik internal atau pun yang menghadirkan ratusan jama'ah, beberapa karangan bunga terlihat mulai berdatangan baik dari internal management, mitra dan vendor yang terlibat dalam proses dan bermitra dengan rumah sakit.


Sesangkan Ozi, pun sibuk menggantikan Ustadz Burhan mengatur Masjid, mulai dari kebersihannya, jadwal imam, khotib, bilal baik harian dan mingguan.


Fasilitas yang dahulu Ozi miliki, kini hilang semua dari dirinya, kamar yang luas, kasur yang empuk, mobil mewah yang membawanya kemana pun ia pergi kini semua berganti, Ozi harus rela tidur di ruang marbot atau pengurus masjid, yang luasnya hanya 2x3 meter, mobil mewah berganti motor tua yang menjadi inventaris, pendingin ruangan, hanya kipas angin kecil, home teater berganti radio tua.


Yang dahulu ia tinggal teriak, dan meminta tolong karyawan yayasan kini semua-semua harus ia kerjakan sendiri. Untungnya masih ada Ustadz Burhan yang menentukan kebijakan penuh untuk pengelolaan Masjid.


Nyaris, semua tenaga pengajar dan pengurus yayasan menghindar untuk bertemu dengannya, hanya satu, dua orang saja yang simpati dengan keadaanya sekarang.


Mau tidak mau Ozi jalani itu semua sebagai konsekwensi dari apa yang sudah ia lakukan di masa lalu. Ozi hanya bisa pasrah dan berharap semua akan kembali normal walau butuh waktu. Nama besar Abah sudah tidak lagi berpengaruh dalam hidupnya, Tokoh agama yang memiliki pengaruh besar untuk umat dan masyarakat, tercoreng dengan ulahnya.


Dan mungkin memang semua ada timing Allah dan kini saatnya estafet dakwah diwariskan oleh Ustadz Burhan dan Nabila yang istiqomah, tekun mengelola aset milik yayasan, walau seharusnya secara hirarki Ozi lah yang Abah siapkan untuk menjadi penggantinya, tapi kenyataanya? Justru Ozi lah yang menghancurkan reputasi Abah, bukan orang lain tetapi anak sendiri.Mirip dengan kisah Nabi Nuh dan Putranya, Kan'an. Walau Nuh seorang nabi tetapi tak melulu Anak yang akan mewarisi keilmuan sang ayah, justru ia tak percaya kalau Ayahnya seorang Nabi.


Oke, sejenak kita tinggalkan aktifitas Ozi, dan hari ini agenda Nabila serta Arul bertemu Abah.


Sebelum membuka dan meresmikan rumah sakit, Nabila berinisiatif menemui Abah Syahrul, untuk meminta restu Abah untuk segera membuka rumah sakit secara resmi untuk umum, sejumlah dokter dan perawat sudah siap mengisi bagian dan tanggung jawab medis, jajaran management pun sudah siap, singkatnya, rumah sakit akan beroperasional.


Sampailah sepasang pengantin baru itu di halaman rumah Abah, namun terlihat sepi, tal ada tanda-tanda aktifitas di dalam. Arul dan Nabila berkali-kali mengucap salam tetapi Abah tak menjawab salam.


"Assalamualikuuuuum Abaaaah ini Nabila.....!"


Nabila teriak namun tak juga ada reaksi. Ia berusaha menghubungi via telepon, Abah juga tak angkat teleponnya.


"Aku khawatir, takut ada apa-apa sama Abah!"Ucap Nabila kepada sang suami.


"Tenang bee, aku coba masuk ke dalam dan manjat pagar," Arul berusaha menenangkan Nabila dan ia mencoba melompati pagar.


Nabila bergegas menghubungi Ustadz Burhan untuk segera datang ke kediaman Abah.


"Assalamu'alikum...Staaadz, bisa ke rumah Abah sebentar nggak?!"


"Walaikum salam, emangnya ada apa Bil?"


"Abah susah dihubungin, dan di rumah juga ketutup rapet, Bila takut ada apa-apa."


"Yaudah, ane ke sana ..."


Ustadz Burhan pun segera meluncur ke kediaman Abah.


"Zi, ente harus ikut, kita ke rumah Abah." Ajak Ustadz Burhan, yang memang sengaja ia berada di Masjid untuk meminjam beberapa peralatan Masjid.


"Ada apa Stadz?!"


"Udah jangan tanya kenapa, ane juga nggak tau, Nabila barusan telepon."


"O...o...oke...Ane siap-siap dulu."


"Aduuuh siap-siap apa lagi Zii, udah nggak ada waktu dandan, cepeeet kita ke rumah Abah."


Mereka segera meluncur dengan menggunakan motor tua milik masjid.


____________ oOo ___________


Sesampainya di rumah Abah, Nabila nampak panik berdiri di tepat di pintu gerbang rumah, sedangkan Arul masih berusaha masuk ke dalamnya. Ozi begitu canggung melihat Nabila, dan gugup.


"Eeeh Nabila..."


"I...iya." Nabila pun gugup untuk memanggil nama Ozi.


"Eeeh, udah nggak ada waktu baper-baperan, Nabila udah milik orang, cepeeeet kita masuk ke dalem." Cela Ustadz Burhan melihat keduanya gugup saling bertemu.


Ozi pun naik ke atas gerbang, dan masuk bersamaan dengan Arul dan Burhan. Mereka mulai mendobrak pintu rumah Abah.


"Ayoo kita dorong aja barengan," Pinta Ustadz Burhan.


"Nggak usah, ane coba sendiri dulu." Pinta Ozi, dan mulai pasang kuda-kuda dan menendang tungkai pintu.


BRAAAAK!


Tak lama pintu terbuka, mereka pun secepat mungkin masuk dan mencari keberadaan Abah, Ustadz Burhan dan Ozi masuk ke kamar Abah.


"Nggak ada di Kamar, kemana ya?"


Sedangkan Arul mencari di ruangan lain, Ustadz Burhan mencari ke bagian ruang belakang, Ozi ke ruang depan. Betapa terkejutnya Ozi saat melihat Abah, yang juga Ayahandanya, duduk sambil tertunduk, tanpa bergerak sekalipun.


"Abaaaaaaaaaaaaaaaah!!!!" Ozi menghampiri dan memeriksa jantung serta Nadi Abah, masih ada tanda-tanda kehidupan. Mendengar Ozi teriak kencang, Ustadz Burhan dan Arul menghampirinya.


"Cepeeeeet kita angkaaat, bawa ke rumah sakit!!" Pinta Arul.


Mereka membawa Abah keluar rumah, Nabila terkejut saat melihat mereka membawa tubuh pria rentah yang memilih mengasingkan diri dari keramaian nampak sudah tidak berdaya.


"Ya Allaaaaaaaah Abaaaaah!!!" Sentak Nabila melihat tubuh Pria yang memberikan kepercayaan kepadanya untuk mengelola yayasannya itu dalam keadaan kritis.


"Telepon Ambulance Rumah Sakit kita Bee...!!" Pinta Arul yang tergopoh membawa tubuh Abah, Nabila pun langsung menghubungi management RS. Asyifa. Tak lama mobil Ambulance yang nampak masih baru datang dengan suara lengkingan sirine nya, mereka membawa Abah secepat mungkin, diiringi mobil Nabila, Ustadz Burhan dan Ozi ikut ke dalam mobil.


Suara sirine mobil memecah keramaian, membelah kerumunan orang yang sedang berkatifitas pagi hari, mereka yang melihat langsung tubuh Abah masuk ke dalam Ambulance bertanya-tanya, "Ada apa dengan pria yang dermawan itu? Sakit apa beliau?!" Hampir semua tetangga mempertanyakan itu, mengingat Abah adalah sosok Kiayai yang bersahaja dan kini sudah tidak aktif lagi berdakwa semenjak Umi meninggal dunia, dan Ozi masuk ke dalam penjara.


Ustadz Burhan dan Ozi begitu khwatir dengan keadaan Abah, tak putus mereka bersholawat dan membacakan doa. Kedua pasang mata mereka begitu berkaca-kaca, seakan sudah pasrah dengan keadaan yang akan mereka hadapi, namun tetap berperasangka baik dengan takdir Allah.


"Kita serahkan semua takdir baik kepada Allah, semoga apa pun keputusan Allah itulah pilihan yang tepat Zi." Ucap Ustadz Burhan menenangkan Ozi.


__________ Bersambung _________


Terimakasih untuk para pembaca setia Jodoh Pilihan Abah semoga saya sebagai penulis akan terus semangat melanjutkan kisah dan akhir dari cerita ini.


Terimakasih juga untuk kamu, yang bersedia menjadikan novel ini, bacaan favorit kalian, dan bersedia vote serta komentar.