Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Jangan Salahkan Umi Mengandung


Karena desakan Ale, akhirnya Ozi mau memeriksa keadaan Nabila. Ia menyentuh kening Nabila dengan punggung tangannya.


"Le, mau nggak mau gw harus bawa Nabila ke klinik, panasnya tinggi."


"Nah elo gimana, kan dari tadi gw suruh bawa dia ke klinik, malah ke apotik..."


Ozi menopang tubuh Nabila, baru kali ini semenjak mereka menikah, Ozi menyentuh tubuh istrinya itu, kalau bukan didorong Ale untuk segera di periksa, mungkin Ozi membiarkan Nabila menahan sakitnya.


"Mas Ozi,...." Suara perawat mengejutkan Ozi yang sedang asik berbincang dengan Ale, ia pun segera menghampiri.


"Iya Sus..."


"Silahkan masuk ke ruangan dokter nya Mas..."


Ozi masuk ke dalam ruangan dokter yang ditunjukan perawat, Ozi duduk berhadapan dengan dokter.


Sang dokter menghela nafas, "Huuuuhfh..mas suaminya?"


"Iya dok...."


"Istri Mas, ada sedikit pembengkakan di lambung, dan perlu perawatan..."


"Tapi tidak terlalu parah kan dok?"


"Kita liat nanti perkembangannya yah? Intinya istri mas perlu istirahat, dan kami selaku medis, berusaha mengobati istri mas..."


"Iya, terimakasih dok..."


Ozi meninggalkan ruangan, dan kembali menemui Ale.


"Bagaimana Bro?"


"Nabila perlu dirawat, ada pembengkangkan di lambungnya."


"Yaudah loh tunggu disini, biar gw ambilin pakaian lo sama Nabila, dan gw bawain apa yang loh butuhin disini."


"Tengkyu Le..."


"Slow....nggak lama gw balik lagi ya..."


Ale bergegas meninggalkan Klinik, ia menyiapkan apa yang menjadi keperluan Ozi dan Nabila, mulai dari pakaian, bantal, selimut, tikar sampai ia bawakan termos.


"Gilaaaaa kali lo, dikira gw mau ngungsi?"


"Udah sekalian aja, gw temenin kok. Tapi kalau gw ada urusan, gw tinggal sebentar ya?"


"Iya Le, segini juga gw udah makasi banget sama lo."


"Kita temen dari kecil Ci, selama kita bisa bantu,kenapa nggak? Kecuali kalo gw dah nggak mampu bantu, paling cuma bisa minta maaf."


"Untung ada lu,...."


"Untung-rugi cuma di dunia dagang bro, di dunia pergaulan, yang ada rugi mulu..."


"Haha..bisa aja lu..."


"Bisa laaah, masa nggak bisa, udah lo cek dulu keadaan istri lo, dia minta apa-apa nanti, terus gantiin bajunya,"


"Masa gw yang gantiin baju, kan ada perawat bro..."


"Yaakalli sama istri sendiri nggak mau gantiin bajunya, tinggal buka, pasang, gitu doang...mana ada ribetnya.."


"Iyaaaa..iyaa..."


"Naaah gitu, jadi suami siaga..."


"Apa tuh siaga?"


"Siap anter janda...Hahaha..."


"Bisa ajaa botol infus kalo ngomong."


Ozi mengikuti apa yang disarankan sahabatnya, ia masuk ke dalam ruang rawat inap, hanya bisa melihat tubuh lunglai Nabila yang tak berdaya.


"Kaak.." Suara Nabila memanggil Ozi.


"Iya Bil, mau apa?"


"Minum..haus Kak..."


Onci mengambilkan sebotol air mineral, dan memberikannya ke Nabila.


"Kaka istirahat aja dulu, Nabila bisa sendiri kok. Kasian Kak Ozi capek bukan?"


"Udah jangan mikirin Kakak, istirahat dan kaga kondisi badan Bila."


"Bila ganti pakaiannya yah?"


"Iya Kak..."


"Sebentar." Ozi keluar mengambil pakain Nabila, yang ia lupa membawanya.


Tak lama Ozi datang kembali, dan membawa pakaian untuk salinan Nabila.


"Ini bajunya sus, terimakasih ya Sus." Onci memberikan baju dan celana, meminta suster untuk menggantikan pakaian Nabila.


"Ya Allah, kirain mah mau gantiin baju aku, malah nyuruh orang." ucap Nabila di hati.


Ozi menunggu di luar, Ale begitu sabar menemani keduanya.


"Laaah kenapa elu balik lagi Onciii, harusnya lo disamping Nabila, mana tau dia mau buar aer kecil, mau makan, minum, minta diselimutin, selang infusnya abis. Kalo ada apa-apa bagiamana?!"


"Di ruangan Nabila udah ada bel, dia bisa manggil perawat kapan aja."


"Aduuuh capeeeek deh,..."


"Udahlah, jangan terlalu dipikirin, gw aja suaminya tenang kok."


"Bukaaaan tenang namanya, tapi Bego!Bodo Amatlah." ucap Ale dalam hati.


_______________oOo_____________


Berkali-kali Umi mencoba menghubungi Ozi dan Nabila, HP Nabila tidak aktif, Ozi sering direject.


"Kamu dimana si Jiiii, nggak sayang apa sama umi?" Ucap Umi saat gagal menghubungi Ozi.


"Nabila juga, pake matiin Hp."


Umi kembali duduk termenung, memikirkan keadaan dan keberadaan Putra serta menantunya itu.


"Udah lah Mi, jangan terlalu dipikirin nanti sakit." Suara Abah mengejutkan Umi yang tengah melamun.


"Abah nggak ngerasin bagaimana sakitnya ngelahirin, ngerawat itu anak, sabar ngadepin Oji dari kecil. Nggak gampang Umi lupain Oji, apalagi dia bawa anak orang Baaah, Umi mikirin, itu anak pada tinggal dimana, udah makan apa belom, bagaimana kondisinya."


"Laaah kenapa ente ngungkit-ngungkit, apa ente bisa punya ntu anak si Oji, tanpa ane. Ente kira, ente Mariam?! Punya anak tanpa suami, sembaraaang aja kalo ngomong. Ane cuma kasian sama Umi, takut Umi sakit itu aja. Bukan langsung ente nyerocos bawa-bawa sakitnya lahiran, ente kira rumah sakit nggak dibayar, kalo nggak ada suami siapa yang mau bayar, jangan seolah-olah suami nggak punya peranan Seeh! Ente mana tau, bagaimana sakitnya suami cari nafkah. Yang Haram aja susah, apa lagi yang Halal, semua pake perjuangan, buang yang haram, ambil yang halal....udaaah aaah, ane berangkat ke sekolahan dulu, banyaaak yang ane urus." Setelah nyerocos Abah meninggalkan Umi di rumah dan pergi ke sekolah, karena pasti dia sibuk tidak ada yang membantunya di Yayasan.


Umi kembali mengambil handphone nya, kali ini dia tidak menelpon Ozi, Umi menekan icon salah satu Bank yang ada di HP, dan mentransfer sejumlah uang ke rekening milik Ozi dari Mobile Banking.


"Semoga bisa bantu kamu ya Nak, cuma seperti ini cara Umi nolongin oji."


Semenjak perginya Ozi dari rumah, Umi hanya menghabiskan waktu melamun, dan memperhatikan kamar Ozi. Mau rasanya meminta tolong Ustadz Burhan, tetapi pasti Abah akan marah besar.


"Assalamu'alikum..." Suara Ustadz Burhan terdengar dari luar.


"Waaah si Burhan tuh, panjang umur itu anak."


Umi sesegera menuju ruang tamu, dan membukakan pintu untuk tamu yang ia harapkan.


"Mi, disuruh Abah ambil HP nya ketinggalan."


"Panjang umur lu Burhan, masuk dulu."


"Maksud Umi panjang umur?"


"Baru gw ngarepin elu dateng ke kamari, eh tiba-tiba nongol."


"Emangnya ada apa Mi?"


"Udah lu masuk dulu, nanti Umi ceritain."


Setelah mengambilkan Burhan Handphone Pak Haji, Umi menceritakan semua tentang Ozi kepada Ustadz Burhan.


"Umi berharap, lu nggak usah cerita-cerita lagi sama Abah ya?"


"Masalah apa dulu nih Mi?"


"Han, elu kan udah bukab siapa-siapa lagi di rumah ini. Si Ojii bawa Nabila minggat dari rumah, gara-gara Abah marahin si Oji. Luu kan tau Abah benci banget kalo si Oji masih ngurus-ngurusin ipeeen, ...Si Oji sendiri adatnya keras, malah milih minggat..."


Ustadz Burhan kembali mengingat kejadian sewaktu ia bertemu Ozi malam kemarin.


"Ooooooh pantes, ane ketemu Oji sama Nabila malem ntu Mi, ane tanya malah jawabnya mau pergi keluar kota kalo nggak salah. Burhan mau anteri, Oji bilang ada yang mau jemput." Ucap Ustadz Burhan.


"Naaah ntu, Umi mau minta tolong sama Elu...cariin dia ya? Kalo dijalan ketemu tuh anak, lu nasehatin supaya pulang, Umi mikirin mereka terus."


"Iya Mi, Insyallah Burhan bantu cari."


"Tapi jangan sampe si Abah tau ya? Bisa-bisa dia ngamuk."


"Iya Mi, Burhan juga tau adatnya Abah."


"Naah ntu, Umi takut dia marah."


"Yaudah ya Mi, Burhan pamit dulu, takut Abah nunggu-nunggu handphonenya. Assalamualikum..."


"Alikum salam."


Akhirnya Ustadz Burhan tahu apa yang sedang dialami keluarga Abah, dan ia amat menyelasi sikap Ozi yang memilih meninggalkan rumah.


"Apa-apa pada pake emosi aja, nggak musyawarah...jadi gini ujung-ujungnya." Gumam Ustadz Burhan.


Bersambung >>>>>