
Dhea dengan aman bisa melalui beberapa pengunjung tanpa harus terlihat dengan Jonathan, ia menuju mobilnya yang terparkir di Basemant, namun Onci memiliki sedikit hambatan, saat ia berusaha melalui pengunjung.
BRAK!
"Sorry...." Ucap Jonathan yang tak sengaja menabrak Onci.
"Iya nggak apa..."
Keduanya terkejut saat melihat dan bertemu wajah.
"Mas Onci..."
"Mas..Jo...."
"Ada disini juga?" Tanya Jo.
"I....i...iya ada meeting dengan client...baru aja selesai..Mas Jo sama siapa?"
"Sama saya juga lagi ada ketemuan sama temen,..."
"Dhea nggak diajak?"
"Katanya mau ketemu Mas juga, belum ketemu kah?"
"Oh...i...iya...tadi telepon nggak ke angkat, mungkin habis ini saya coba hubungi Mba Dhea nya."
"Sebentar Ai call dia..."
"Aduuuh...." Gerutu Onci dalam hati.
"Bee, kamu dimana? Hey, aku ketemu Mas Onci disini niih....Di resto yang kita pernah ketemuan sama Angga waktu itu...Kamu dimana?"
"Ini aku mau otw ketemu Mas Onci.."
"Kamu mau kesini?"
"Yaudah aku ke sana deh, sekalian aja ketemuan bareng kamu."
Mendengar obrolan mereka, Onci tak mau nantinya salah persepsi, ia juga menghubungi Ale.
"Le, lho dimana?"
"Lagi di rumah, kenapa Bro?"
"Loh bisa merapat ke sini nggak? Sekalian bahas preweddingnya Jo sama Dhea?"
"Dimananya?"
"Nanti gw Share loc."
"Yaudah, gw siap-siap dulu."
Tak lama Onci memberikan titik lokasi pertemuan, antara Dhea, Onci dan Ale,serta Jonathan.
Beberapa puluh menit mereka membahas agenda prewedding namun Jonathan menyerahkan semuanya kepada Dhea untuk mengatur urusan tersebut, Jo melanjutkan obrolan dengan rekan kerjanya yang lain.
"Mas Ale, Mas Onci, saya tinggal dulu yah, semua saya serahkan sama Dhea untuk urus persiapan-persiapannya, sekaligus mekanisme pembayarannya." Jo menutup pembicaraan, Dhea, Ale dan Onci masih melanjutkan obrolannya, setelah semua dianggap clear dan on going, Ale pamit karena ada urusan.
"Ci, Dhea gw duluan ya? Ada yang harus gw temui juga." Pamit Ale.
"Lah terus gw bagaimana?"
"Dilanjut aja juga nggak apa, kalo lo kan memang bahasan panjang tentang konsepnya, kalo gw tinggal eksekusi doang kan..."
Onci dan Dhea melanjutkan obrolan, tetapi pembahasannya tidak lagi seputar persiapan prewedding, melainkan kejadian yang baru saja mereka alami sebelumnya.
"Kenapa bisa jadi kita ketemuan semua sih?"
"Aku nggak sengaja ketemu Jo, dia baru kembali dari toliet."
"Sekerang bagaimana? Apa kita lanjut ngobrol di luar? Jangan di tempat ini..."
"Yah terserah kamu, baiknya bagaimana. Aku tinggal ikut aja..."
"Yaudah, aku pamit ke Jo, nanti kita janjian aja di luar."
"Ya." Jawab Onci singkat.
Dhea menghampiri Jonathan, dan pamit untuk pulang lebih awal.
"Bee, aku pulang duluan ya?"
"Loh kamu nggak mau gabung disini?"
"Kamu kan tau Bee, aku urus semua nya."
"Yaudah deh, aku nggak bisa anter yah?"
"Kamu lanjut aja kalo memang belum selesai."
"Iya, maaf ya Bee.."
"Nggak apa kok..."
Mana mungkin Dhea marah, justru dia senang jika Jonathan tak menahannya dan memaksa untuk ikut ngobrol bareng dengan client usahanya. Jo memang tekun dan sibuk dengan beberapa usaha yang digelutinya, Dhea sendiri terbilang jarang bertemu lama atau menghubunginya seperlunya saja.
Dhea dan Onci janjian di luar, dan mereka memilih untuk melanjutkan obrolannya di Hotel yang tak jauh dari resto yang baru saja mereka tinggalkan.
"Nanti kamu tinggal masuk ke kamar 305, dan aku 306, sengaja aku booking dua kamar."
Onci berpikir, apa maksud Dhea memesan dua kamar, padahal cukup satu kamar saja agar tidak mubazir.
"Oh, pinter juga caranya memesan dua kamar, biar tidak dicurigai dan pastinya lebih aman."
Sesampainya Onci di hotel yang dipilih Dhea, dengan jantung berdebar ia memasuki hotel dan langsung menuju meja resepsionis.
"Kamar 305 Mba..."
"Atas nama Bapak Onci ya?"
"Iya betul..."
"Ini kuncinya Pak, dan room boy kami akan mengantarkan Bapak ke kamar yah?"
" Terimakasih Mba..."
"Sama-sama Pak."
Onci mengikuti langkah room boy dan sesampainya di kamar 305, Onci mengambil beberapa lembar uang untuk diberikan ke room boy sebagai uang tips.
"Ini untuk Mas..."
"Terimakasih banyak Pak."
"Sama-sama."
Dhea mendengar pintu kamar 305 ada yang membuka, samar terdengar suara yang ia kenal.
Dhea segera menghubungi Onci, dan jika aman dia mau masuk ke kamar Onci.
"Kamu sudah di kamar?"
"Iya, baru aja masuk."
"Oke, buka pintunya ya? Jangan ditutup aku mau masuk."
"Iya..."
Dhea memperhatikan keadaan sekitar kamar hotel, dan sudah dirasa aman, ia segera masuk ke kamar Onci.
"Gila yaaa...kamu bener-bener nekad Dhea!"
"Udah siiih, demi siapa? Kalo bukan untuk kita lebih leluasa, tanpa ada yang ganggu."
Selang beberapa menit, terlihat layar handphone Onci berkedip dan menyala, tertulis 'Nabila Guru' rupanya Onci belum mengganti nama Nabil menjadi panggilan sayang seperti pasangan suami istri pada umumnya. Namun, Onci menolak paggilan masuk, dan langsung meninggalkan pesan untuk Nabila via chat whatsApp. "Aku lagi rapat, nanti kalo sudah selesai aku telepon balik."
Dhea menaruh curiga dengan sikap Onci yang menolak mengangkat telepon.
"Siapa itu yank?"
"Biasa guru di Yayasan, mau kirim laporan, aku suruh taruh di meja kerja aku."
"Oh, aku kira pacar kamu yang baru."
"Ooooh bukan."
Onci tak ingin Dhea tahu, kalau dirinya sudah menikah, karena ia tetap ingin hubungan mereka baik-baik saja.
Dhea mulai mendekat, dan duduk dalam satu kasur dengan Onci, ini baru pertama kali Onci merasakan dan berada dalam satu ruangan dengan lawan jenis, kamar hotel pula.
Jantung Onci semakin berdebar tak menentu, desir darah mengalir begitu deras dari pembuluh darah, dipompa jantung dengan cepat.
"Jangan panas dingin gitu doong, biasa aja..." Sindir Dhea yang melihat Onci panas dingin.
"Ah biasa aja kok."
"Jangan bohooong, coba aku pegang dada kamu?" Dhea menyentuh dada Onci.
"Tuh kan detang jantungnya aja kenceng, pake bohong segala."
"Kamu kan tau, seumur-umur aku masuk kamar hotel baru sama kamu doang loh."
"Serius? Wah aku beruntung dong, jadi orang pertama yang bisa satu kamar dengan kamu."
"Ah, biasa aja...."
Dhea mulai menggoda Onci, ia meraba dada nya yang penuh bulu.
"Gilingan, dada kamu penuh bulu, bikin gimana gitu...."
"Maksudnya?"
"Bikin aku ser....seran..." Jawab Dhea.
"Kamu sudah sering yah begini?"
"Aku nggak muna, dan nggak mau bohong sama kamu, beberapa kali dengan Jo." Jawab Dhea jujur.
"Wah, sudah nggak...."
"Yah, aku nggak perawan lagi, makanya aku minta Jonathan untuk nikahi aku, toh dia harus tanggung jawab lah, jangan cuma mau enaknya doang..."
Mendengar itu, Onci sedikit kecewa," berarti dia sudah berhubungan badan saat setatus aku dengan Dhea masih berpacaran." Gumam Onci dalam hati.
Naluri lelaki Onci timbul, dan tanpa berpikir panjang, terlanjur ia kecewa, dan merasa tidak mau rugi,Onci tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.
Bersambung...