Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Tidak Cukup Sampai Disini


Disaat apa yang kita harapkan sudah kita dapatkan, tugas kita bukan hanya sampai disitu saja. Ada hal yang mesti di lakukan dan membutuhkan kesabaran, yakni menjaga dan merawat dengan baik, apa yang sudah ada dalam genggaman.


Seperti itulah, tugas Onci selanjutnya. Setelah ia mendapatkan gadis si penari itu, yang ia dapatkan dengan perjuangan dan harus melepaskan pertemanan yang ia sudah jaga sedari kecil, hingga akhirnya ia memilih Dhea untuk menemani cerita hidup, semua juga tahu kalau Onci mendapatkan Dhea harus berkelahi dengan mantannya, yang belum terima atas keputusan Dhea, memilih Onci.


Dandi sendiri, masih menyimpan dendam dengan Onci. Bahkan sampai menyimpan rambutnya, entah apa maksud Dandi. Diam-diam ia masih terus memata-matai hubungan mereka.


"Bagaimana kabar kamu? Keliatannya nyaman dengan dia yaaah?" Dandi mengejutkan Dhea, yang muncul tiba-tiba di kantin.


"Mau kamu apa sih?!" Tanya Dhea dengan kesalnya.


"Aduuh pakai nanya, kalau kamu mau tidak terjadi apa-apa dengan pacar mu itu. Aku tunggu sore ini, di base camp tempat dulu kita menikmati hidup...hahaha..." Dengan nada mengancam, ia meminta Dhea untuk datang ke sebuah tempat biasa Dandi dan teman-teman geng motornya berkumpul.


Base camp, mereka menyebut gedung tua bekas rumah yang sudah tak terawat. Hanya menyisahkan dua kamar tidur yang masih layak pakai. Bangunan tua itu, terkadang mereka gunakan sebagai bengkel atau kopdar, tidak jarang tempat itu dijadikan mereka pesta minuman keras dan berujung kepada pesta ****.


Dhea sudah merasa niat buruk Dandi, dan akal bulus lelaki sikopat itu. Ia pun tahu buasnya Dandi untuk masalah ***** biologisnya. Pernah ada kejadian, Dhea diajak ketempat tersebut hanya untuk melampiaskan nafsunya semata. Thea takut akan terulang kejadian tersebut, tetapi jika tidak dituruti Dandi mengancam akan menghabisi Onci.


"Aku jemput kamu yaah?" Seperti biasa, Tiga Puluh Menit sebelum keluar kampus, Onci selalu hubungi Dhea, untuk memastikan kalau gadisnya itu mesti dijemput.


"Yaank, aku ada mata kuliah tambahan. Nanti malam saja ya ke rumah, sekalian kita mau ada acara barbeque sama Tante Ii."


Bagi Onci, ada yang janggal dari ucapan Dhea, yang ia tahu sekalipun ada mata kuliah tambahan, pasti kekasihnya itu memintanya untuk tetap dijemput. Ia pun langsung menuju kampus Dhea, untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja dengan kekasihnya.


Onci sudah menunggu Tiga Puluh Menit di depan kampusnya, dan tak beberapa lama Thea pun keluar dengan menumpang motor seorang cowok, entah siapa dia. Anehnya, tidak ke arah pulang seperti biasa.


Onci pun mengikuti mereka, dengan begitu penasaran. Ia pun jaga jarak agar tidak dikenali Dhea.


"Mau kemana yah dia? Siapa cowok itu?!" Ucap Onci dalam hati.


Ia memperhatikan motor sport merah masuk ke sebuh tempat yang asing bagi Onci. Ia perhatikan dari kejauhan. Onci melihat, ada pembicaraan serius antara cowok yang bersama Dhea, dengan seorang cowok yang Onci tahu itu Dandi.


Terlihat keduanya adu mulut, dan Dandi memukul cowok yang mengenakan jaket jeans itu, perkelahian pun terjadi. Onci mencoba menghubungi Dhea, tetapi handphone nya tak diangkat. Rasa cemburu bercampur emosi yang akhirnya memaksa Onci untuk menghampiri mereka.


Thea terkejut, dengan munculnya Onci di hadapan mereka.


"Kamu ngapain ke sini?!"


"Kamu yang ngapain ke sini, katanya ada mata kuliah tambahan. Tau-taunya jalan sama cowok!!" Ucap Onci kesal.


"Nanti aku jelaskan."


"Elo lagi, masih mau nge tes gw?!"


Satu pukulan telak diterima Dandi, dan ia membalas pukulan Onci. Hingga terjadi perkelahian dan Cowok yang bersama Dhea pun ikut memukuli Dandi. Onci mengabaikan sementara cowok yang bersama Dhea. Ia selesaikan dahulu urusannya dengan Dandi, untuk kedua kalinya ia dikalahkan Onci.


"Sekaraaaang gw tanya, mau elo apa?!!!" Tanya Onci.


"Kalo luuuu masih ikut campur dengan urusan gw sama Dhea, ada yang lebih parah dari ini yang akan elu dapatin!!" Sentak Onci


"Elu lagi! siapanya Dhea?!" Tanya Onci


"Ane cuma temen kampus aja Bang, Dhea minta anter ane ke tempat ini."


"Si Dandi ngancem-ngancem aku. Mau menghabisi kamu, kalo aku nggak datang ke tempat ini." Jelas Dhea.


"Bener bro??! Lu mau ngabisin gw? Sekarang aja elu abisin gw! Jangan ngancem-ngancem cewek beraninya. Masih elu mau ngancem-ngancem dia? Masih mau ngerecokin hubungan gw sama Dhea?!! Jawaaaab kampreeet!!" Onci merasa sudah cukup menahan rasa sabar.


"Iyeee gw nggak ganggu lagi."


"Kalo elo sampai ngerecokin hubungan gw sama Dhea, elu siap menerima lebih buruk dari ini?"


"Iya...."


"Ok, Gw pegang ucapan elo!"


Onci pun masih kesal dengan apa yang terjadi hari ini, dan ia amat menyesali kenapa Dhea tidak cerita dengannya.


"Ayo, pulang!" Ucap Onci sambil memegang jemari Dhea dan menuntunya ke motor.


"Kita selesaikan urusan kamu dan aku di rumah."


Mereka pun meninggalkan Dandi yang wajahnya penuh lembab.


"Sorry sebelumnya gw curiga sama elu bro...siapa nama elu?!" Onci meminta maaf kepada cowok yang mengantarkan Dhea, ia sempat cemburu dan berburuk sangka dengannya.


"Iya Bang, ane maafin. Ane Wildan Bang.."


"Ok Wil, gw cabut duluan ya. Terimakasih udah mau nemenin bokin gw..."


Thea tidak menyangka, kalau Onci bisa marah dan berkelahi sedemikiannya. Yang Dhea tahu, Onci orang yang penyabar dan banyak mengalah. Hari ini, ia melihat sebegitunya Onci menjaga Dhea sampai diam-diam mengikutinya.


Sepanjang perjalanan, Dhea pun menceritakan kronoligis kejadian tersebut, yang berujung pada perkelahian. Dhea jelaskan awal mulanya, sampai akhirnya ia meminta Wilda untuk menemaninya menemui Dandi.


Semula Dhea mau menyelesaikan masalah ini tanpa sepengetahuan Onci, tetapi akhirnya ketahuan juga. Untungnya Onci cepat datang dan membantu mereka, kalau terlambat beberapa menit saja, Wildan sudah babak belur, dan entah apa yang terjadi dengan Dhea.


"Tadi aku ketemu Dandi di kampus, dia ancam aku kalo sampai tidak datang ke base camp nya, ia akan menghabisi kamu. Aku pikir masalah ini bisa aku selesaikan sendiri, tanpa kamu harus tahu. Aku minta tolong Wildan untuk nemenin aku temuin si Dandi."


"Memang si Dandi satu kampus sama kamu?"


"Nggak kok! Kan dia punya kawan di kampus namanya Rahman, dia anak Mahasiswa Pencinta Alam."


"Lain kali ada apa-apa kamu bisa cerita ke aku, untuk apa aku ada? Atau jangan-jangan kamu tak anggap kalau aku ada?!" Sindir Onci


"Bukaaaan gitu juga yaaank, aku kan tahu kamu banyak pikiran, jadi aku nggak mau ngerepotin kamu."


"Tapi akhirnya??"


"Hehehe...." Dhea hanya bisa tersipu malu.


"Udah jangan marah-marah, aku yang salah. Yaudah nanti kita barbeque-an bareng Tante Ii."