
Nabila bernafas lega, untuk tahap pertama Arul berhasil menunaikan janjinya, untuk menghafal beberapa surat yang Nabila pinta. Untuk tahap kedua, ia meminta Ustadz Hafidz menjadi perantara untuk proses ta'aruf atau mengenal satu sama lain.
"Untuk selanjutnya biar Ustadz Hafidz yang menjelaskan siapa saya dan status saya secara administrasi negara."
"Jadi begini Mas Arul, adik kita satu ini sebenarnya pernah menikah."
Ekpsresi wajah Arul mengerenyitkan dahi,saat mendengar kalau Nabila pernah menikah, dan agak terkejut.
"Tapi tenang, secara hukum agama dan negara sudah diselesaikan, namun sekarang semua dikembalikan ke Mas Arul semuanya, apa mau melanjutkan ta'aruf ini atau cukup sampai disini, kami selaku keluarga tidak maj nantinya ada hal yang tidak diinginkan setelah ketahap yang lebih serius lagi. Lebih baik kami jelaskan di awal, agar Mas Arul tidak kecewa."
Kerenyitan di dahi sudah tak terlihat, saat tahu kalau perceraian Nabila sudah berdasarkan hukum dasar agama dan negara.
"Lalu dimana mantan suaminya Nabila?"
"Ia sedang menjalani masa tahanan, karena ada perbuatan yang harus ia pertanggung jawabkan."
"Kalo boleh tahu, ditahan dimana dan siapa namanya?" Mungkin dengan akses dan jaringan yang dimiliki Arul ia bisa membantu mantan suaminya Nabila.
"Di lembaga pemasyarakatan, namanya....." Lidahnya keluh dan terlalu tabu bagi Ustadz Hafidz menyembutkan nama, yang pasti Arul juga mengenalnya.
"Fahrurrozi alias Ustadz Ozi itu mantan suami saya." Nabila memotong pembicaraan dan memberikan keterangan langsung dari mulutnya.
"Astaghfirullah, Ustadz Ozi anak dari Pak Kiyai?!!"
"Iya, dia lah mantan suami Nabila. Mas Arul sudah kenal, saat pembangunan pertama yah?"
"Bukan kenal lagi, tapi akrab."
"Namun sudah hampir selesai masa hukumannya."
"Mungkin kekurangan Nabila bisa saya terima, karena saya juga tak sempurna, insyallah bukan karena itu juga yang menjadi pertimbangan saya untuk menikahi Nabila, dan masalah dengan Ustadz Fahrurrozi bisa saya selesaikan secara personal dengan beliau."
"Syukurlah, kalau Mas Arul sudah bisa menerima keadaan Nabila."
Nabila mendengar hal itu cukup lega, bukan karena keinginannya ingin menikah, tetapi keberanian Arul yang tanpa basa-basi mengutarakan perasaannya kepada Nabila. Dan tak menampik, Arul memiliki jiwa enterpreneur dan kemampuan pengembangan usaha, soleh yang lebih utama.
"Mungkin setelah ini, saya akan menemui Ustadz Ozi untuk menjelaskan semua ini, dan saya pribadi juga belum tahu lebih banyak apa yang menjadi penyebab percerian Nabila dengan Ustadz Fahrurrozi."
"Intinya, dan kami juga sudah memaafkan, mungkin lebih baik Ustadz Ozi saja yang menjelaskannya."
"Insyallah sehabis ini, saya akan menemui Ustadz Ozi."
"Yah, itu lebih baik Mas mendengar dari Kak Ozi. Kalau mau minta dianter silahkan temui Ustadz Burhan, ia yang selama ini membesuk dan mengurus Kak Ozi." Jawab Nabila.
Selepas mendapat izin dari Ustadz Hafidz dan Nabila, keesokan harinya ia meminta Ustadz Burhan untuk membantu menemuinya dengan Ozi.
"Stadz, boleh saya minta tolong untuk antarkan menemui Ustadz Ozi?" Pinta Arul.
"Kapan?"
"Kalau Ustadz tidak sibuk, bisa hari ini?"
"Selepas saya selesaikan tugas, saya antar yah?"
"Siap Ustadz, terimakasih yah?"
"Sama-sama."
Lagi-lagi Ustadz Burhan merelakan perasaannya dan berusaha untuk ikhlas membantu Arul, yang jelas-jelas Ustadz Burhan pernah mengutarakan perasaanya kepada Nabila, namun ia berusaha melupakan kejadian yang cukup memalukan seumur hidupnya.
Mencintai tanpa dicintai, itu yang Ustadz Burhan alami, dan bukan hal yang mudah untuk ia melupakan kejadian itu.
Setelah menyelesaikan tugas, Ustadz Burhan bergegas menemui Arul dan pergi menemui Ozi.
______oOo______
Petugas sipir sudah hafal dan kenal dengan Ustadz Burhan, ia memanggil Ozi dan menyampaikan pesan untuknya.
Teng...
Teng...
"Oziiiiii....ada yang besuk." Ucap petugas sipir, sambil mengetuk jeruji besi dengan tongkatnya, Ozi terbangun dari tidurnya, lalu menemui pembesuk.
Arul berdiri di depan jeruji, dan mengawalinya dengan salam.
"Assalamu'alakum."
"Wa'alaikum salam, looh kok ada disini Mas? Sama siapa?"
Ustadz Burhan keluar dan ikut menemui Ozi.
"Oh sama Ustadz Burhan."
"Iya, sehat Stadz?" Tanya Arul memulai pembicaraan.
"Alhamdulillah sehat Mas, tapi ngomong-ngomong tumben ada waktu? Biasanya kan sibuk."
"Yah, sebuah bentuk tanggung jawab dari masalah dan perbuatan saya sendiri Mas."
"Semoga tabah jalaninnya yah Stadz?! Oh iya, sebelumnya saya mau izin."
"Untuk?"
"Sebelumnya saya dapat kabar, bener Nabila itu mantan istri Ustadz?"
"Iya bener, kenapa memangnya Mas?"
"Sudah resmi cerai?"
"Sudah Mas, talak tiga, dan memang semua salah saya, yang tidak bersyukur punya istri sebaik Nabila, malah saya sakiti perasaannya."
"Maaf banget ya? Bukan mau tahu urusan pribadi Ustadz, tapi cukup penasaran aja."
Ozi begitu berat menjelaskannya, ia larut dalam suasana dan membenarkan, " salah saya, yang tergoda wanita lain, hingga sampai suaminya tau."
"Masyallah, kok bisa sejauh itu Stadz?"
"Mau bagaimana Mas, namanya khilaf dan kurang bersyukur dengan apa yang sudah Allah berikan. Saya khiananti kepercayaan Nabila, sejujurnya saya amat menyesal."
"Kalau ada lelaki yang melamar Nabila, apa ustadz ikhlas?"
"Insyallah saya sudah ikhlaskan semua."
"Bener Stadz?"
"Benerlah, masaa saya bohong sama Mas. Mungkin selepas bebas dari sini, saya mau minta kerjaan di tempat Mas, kali aja ada lowongan."
"Loh kenapa harus kerja di saya?! Kan enak sudah ada Yayasan sendiri, bisa kelola bareng Nabila."
"Kalo untuk kembali ke Yayasan rasanya sudah tidak ada kesempatan dan tidak akan diterima."
"Kalo masalah pekerjaan, semua pasti ada jalannya Stadz, asal kita mau hijrah dan berubah, ikhlas mengahadapi yang sudah terjadi, sebentar lagi kan ada Rumah Sakit, mungkin Ustadz bisa kerja disitu."
"Yaaaah mudah-mudahan aja."
"Jangan psimis, optimislah."
"Makasih Mas, sudah mau support saya, yang keluarga sendiri saja sudah nggak menganggap dan menerima saya, apa lagi Nabila."
"Jangan berprasangka buruk, siapa tahu mereka akan menerima semuanya dan membuka lembaran baru, pasti ada jalannya."
"Iya Mas."
"Ini ada bekal untuk Mas, dan sedikit uang untuk kebutuhan sehari-hari." Arul memberikan bingkisan dan amplop putih berisi lembaran uang yang cukup banyak.
"Ya Allah untuk apa ini?"
"Untuk keperluan Ustadz dan rekan-rekan di dalam."
"Jadzakumullah."
Setelah Arul memberikan bingkisan ia juga meminta izin kepada Ozi.
"Ustadz, maaf sebelumnya yah? Dan semoga ustadz mau menerima permintaan izin saya."
"Apa itu Mas?"
"Setelah saya tadi mendengar latar belakang perceraian Ustadz dengan Nabila, dan saya juga sudah mendengar kalau Ustadz sudah ikhlas melepas Nabila, saya izin ingin menikahi Nabila."
Sontak Ozi terkejut, dan baru paham arah pembicaraan Arul dari awal bertemu, kalau kehadirannya meminta izin untuk menikahi Nabila, Ozi pun melamun dan tidak tahu harus menjawab apa.
"Bagaimana Stadz? Diizinkan kah?"
"Heeeem, ...." Ozi menghela nafas panjang.
Bersambung >>>
__________oOo________
Bagaimana kisah selanjutnya, apakah Ozi mengizinkan Arul untuk mempersunting mantan istrinya itu? Simak terus yah kisahnya, semoga dilancarkan urusan Nabila dan Arul, Amin.
Terimakasih untuk pembaca yang baik hati, dan sudah mengikuti cerita ini dari capter awal.
Vote, like dan give serta komentar dari pembaca membuat penulis semangat meneruskan novel ini.
Terus ikuti yaah? Nanti di akhir kisah asa give away ratusan ribu rupiah serta hadiah menarik lainnya.
Salam Hangat,...
@emhaalbana