
"Zi, ane tinggal dulu sebentar yah? Ada yang mesti diurus. Kalo mau makan, makan aja. Kalo ente mau istirahat, ke ruangan ane aja."
"Oh, gampang stadz, kalo memang ada urusan yang urgent silahkan selesaikan dulu."
"Oke ane tinggal yah.."
"Sip."
Selang sepeninggalan Ustadz Burhan, Ozi berdiri sepuluh meter dari jarak bibir pintu, pandanganya tertujuh kepada Nabila yang sedang menyambut tamu dengan salam dan senyum. Begitu juga dengan Arul sangat mesrah menatap wanita si pemilik hidung mancung, alis tebal, dan gigi yang tersusun rapih.
"Istri Mas Arul cantik yah? Denger-denger sih Janda, tapi resepsinya megah banget." Ucap salah satu tamu undangan, yang berdiri tak jauh dari tempat Ozi.
"Suaminya ninggalin Mba Nabila, bagi gw kebodohan yang amat tol*l, wanita sepintar dan cantik seperti Ustadzah Nabila disia-siakan." Lagi-lagi ucapan tamu Undangan membuat panas telinga Ozi.
Arul melihat Ozi dari kejauhan diantara tamu undangan.
"Ada Ozi, aku temui dia dulu yah sayang."
"Aku ikut ya...?"
"Yakin?"
"Insyallah Ainul Yaqin."
Semula hanya Arul yang ingin menemui Ozi, ternyata Nabila juga ikut menemani suaminya untuk bertemu dengan Ozi, mantan suami Nabila.
Puluhan mata menyaksikan, saat kedua pasangan itu pergi meninggalkan pelaminan, hanya menemui pria yang berdiri di depan pintu.
"Ustadz Ozii...." Ucap salah satu pengurus yayasan, pandangannya mengiringi kedua mempelai itu berjalan.
"Assalamu'alikum Ustadz." Arul menyalaminya.
"Wa'alaikum salam."
Disusul ucapan salam dari Nabila, "Assalamu'alikum Kak."
"Alaikum salam Bila, Barakallahulakum, semoga menjadi keluarga Sakinah Mawaddah."
"Terimakasih Stadz, sudah mau hadir di pernikahan kami."
Bukan hadir, justru Ozi tak sengaja datang ke Yayasan hanya untuk sekedar melihat keadaan, dan bertemu Ustadz Burhan.
Tanpa rasa cemburu, Arul membiarkan Nabila bertemu dengan Ozi, yang tak lain mantan istrinya itu.
"Silahkan cicipi hidangan alakadarnya Stadz."
"Terimakasih Mas, masih kenyang."
"Kapan sampai Kak?" Tanya Nabila.
"Ba..baru aja Bil." Ozi begitu canggung dan terpesona melihat cantik paras mantan istrinya itu.
"Abah dimana Bil?"
"Abah ada di rumah, Kakak mau ke sana?"
"Oh yaudah."
"Kalian silahkan aja dilanjut sapa tamu undangan, saya keliling-keliling Yayasan dulu, sekalian silaturahmi dengan yang lain."
"Oh, oke kalo begitu, maaf kami tinggal yah ?"
"Silahkan."
"Kak, Nabila tinggal yah?"
Berlahan Nabila dan Arul melangkah saling beriringan. Ozi melepas nya dengan berat hati. Sungguh begitu mudah Allah membalikan takdir hidup manusia, belum lama ia duduk bersanding dengan Nabila di pelaminan, kini justru ia hanya menjadi tamu, tanpa diundang.
Dahulu ia begitu dihormatinya oleh para pengutus Yayasan, kini tak satu pun yang mau menyapanya. Ozi bagai orang asing di tanah kelahirannya, seperti tamu di rumah sendiri.
Jika Allah sudah berkehendak, tak ada satu pun makhluk yang mampu menghalang-halanginya. Amat mudah bagi-Nya untuk menjatuhkan dan mengangkat anak manusia.
Pandangan Ozi kosong, seakan orang kehidupan sosial sedang menghukumnya, ia jatuh ke dalam lumpur yang begitu dalam, tak ada satu pun dahan yang dapat menyelamatkannya.
Langkah kaki Ozi berlahan meninggalkan pelataran Aula, tak jauh dan masih di dalam komplek Yayasan, ada pemakaman yang sudah Abah siapkan untuk keluarga, di sana hanya baru ada satu penghuni, tak lain sang Ibunda Ozi tercinta.
Ia bersimpuh di atas pusara Umi Aisah, air matanya jatuh tak bisa ditadah, wajahnya kini dibanjiri dengan air mata. Isak tangis pun terdengar, dan keluar dari bibirnya. Kini tak ada lagi tempat untuknya bercerita.
"Umi, Ozi dateng, semoga Umi tenang di sana. Mii, maafin Ozi yang tak pernah mendengarkan segala nasihat Umi, Ozi merasa punya pilihan hidup sendiri, yang akhirnya seperti ini. Kalo Umi masih ada, mungkin Ozi akan nangis di pangkuan Umi, dan berlutut meminta maaf.
Umi, sebegini sesaknya jalan hidup yang harus Ozi alami, sehina ini jalan hidup Ozi, tak ada satu orang yang memahami keadaan Ozi, tak ada lagi telinga yang mau mendengar cerita, tak ada lagi lisan yang selalu basah mendoakan Ozi, tak ada hati seluas hati Umi yang pemaaf.
Ya Allah, jika ini akhir dari kisah hidup hamba, apakah Engkau mau memaafkan, diri yang berlumur noda dan dosa ini, masih pantaskah hamba mu bersimpuh di hadapan Mu ya Allah!
Ozi menahan sesaknya dada, sudah tak ada ruang untuknya berbagi cerita, tubuhnya bebas dan merasakan udara, tetapi jiwanya terbelenggu dan terpenjara dalam kesepian.
Tak ada lagi kawan sejalan, tak ada tempatnya untuk bersandar, sudah terlalu banyak orang yang kecewa dengannya, tak ada lagi sahabat bagi Ozi untuk berbagi segala keluh kesah, karena ia sadar dari apa yang sudah ia taburkan. Abah? Apa iya ia mau menerimanya? Setelah tingkah laku dari darah dagingnya sendiri telah mencoreng, dan meninggalkan guratan hitam di wajahnya. Reputasi yang lama ia bangun, dihancurkan oleh tangan darah dagingnya sendiri.
Tapi bagaimana pun juga, Ozi harus menemui Abah, yang kini memilih dan banyak berdiam diri di rumah, mungkin hanya rumah tempatnya dibesarkan menjadi harta satu-satunya yang akan diwariskan untuknya.
Ozi meninggalkan pusara, makam sang Ibu, dengan langkah lunglai ia pergi, tak ada jalan lain, ia harus melewati Aula Yayasan, yang sudah penuh dengan tamu undangan, sebelum meninggalkan Yayasan, ia menyempatkan diri untuk melihat Arul dan Nabila untuk terakhir kali.
_________oOo__________
Rumah megah dan mewah itu, kini terlihat muram, telah mengubur semua kenangan indah bagi Abah dan istrinya tercinta. Selepas menikah, Nabila sudah tidak lagi tinggal bersamanya. Mimpi seorang Ayah, hanya ingin menimang cucu dan mendengar tangisan suara bayi di usianya yang senja.
Di dalam kamar, Abah hanya bisa memandang foto almarhumah, sesekali ia menyentuh wajah dalam figura, hanya untuk melepas kerinduan hati.
"Aiseh, ane kangen banget sama ente, apa iye kita bisa berkumpul lagi di akhirat nanti? Apa bener ente mau nemuin ane Seeh di padang ma'syar nanti? Apa ente mau temui ane di alam barzah?" Air mata Abah tumpah membasahi foto dalam figura.
"Aiseh, si Nabila udah nikah lagi, mantu yang ente sayang, yang ente harapin banget punya cucu dari rahimnya, sekarang dia jadi milik orang, ente tahu juga orangnya, si Arul Seeeh...pengusaha soleh, pinter yang bantu kita bangun madrasah." Abah merasa Aisah ada disampingnya.
"Seh, apa ente nggak kangen sama ane? Apa ente betah di liat lahat sendiran begitu, nanti kita ketemu lagi ya? Ane bisa nemenin ente nanti."
Hingga akhirnya Abah tertidur pulas memeluk foto Aisah, istri yang ia cintai, seorang wanita hebat yang menemani dan menguatkan langkah kakinya, ketika kayuh melangkah.
Suara orang mengucapkan salam, terdengar dari depan rumah, tetapi Abah begitu nyenyaknya tidur.
Bersambung >>>