Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Berdamilah Dengan Keadaan


Selepas Isya, perasaan dan pikirannya dibut tak menentu. Ini kali pertama Onci absen untuk menemani gadisnya itu, beberapa kali ia menghubungi Dhea baik WhatsApp atau pun mengubunginya via phone, tetapi tak juga ia mengangkatnya.


"Ya Allah, nggak seperti biasanya Dhea seperti ini." Pikirannya semakin gelisah, perasaan cemas pun terus memburu.


"Entah meeting dengan siapa dia!"


Tanpa berpikir panjang, dan tak ingin terus diburu penasaran, serta dihantui kecemasan. Ia pun langsung menuju garasi dan melajukan mobilnya, ia pun langsung meluncur ke rumah Dhea.


__________________¤¤¤_______________


@Kediaman Dhea


20.30 Wib.


Baru saja Dhea sampai ke rumah, dalam keadaan yang masih letih. Tak seperti biasanya, mamah menghampirinya.


"Dhea mamah mau tanya, itu di tas kamu dan tempat cuci pakaian ada baju terusan dan jilbab, itu punya siapa?"


Baru saja ia menyandarkan tubuhnya di atas kursi di halaman rumah, masih terasa letihnya.


"Baju apa sih mah?!"


"Ini." Mamah pun memberikan Dhea pakaian yang dimaksud. Dan Dhea pun bingung untuk menjawab pertanyaan itu.


"Oh ini? Yang mamah maksud?"Sambil memperhatikan satu persatu pakaian muslimah miliknya.


"Mama tidak melarang kamu untuk dekat dengan siapa pun, tetapi kalo masalah iman jangan pernah kamu permainkan."


"Ini bukan baju milik Dhea mah, kemarin ada acara fashion show, aku meragakan baju muslimah."


"Kalau itu benar yasudahlah, tapi mamah pesan ke kamu, jangan pernah berpaling dari agama yang sudah kita anut turun-temurun."


"Mah semua agama pasti mengajarkan kasih sayang,setiap agama pasti menanamkan cinta kasih. Jangan karena berbeda kita berselisih paham, nanti yang akan tertawa itu mereka yang tak pernah percaya Tuhan, mereka akan ngomong, 'liat tuh yang berantem justru mereka yang memiliki agama.' Benarkan mah? Kalau ngebahas perbedaan tak akan pernah ada habisnya, dan kalau bicara mana agama yang paling benaler, semua akan mengklaim kalau agamanya paling benar. Makanya perang tidak pernah redah hanya karena merasa paling bener. Maaf loh maah, aku hanya ingatkan aja."


Mamahnya pun terdiam, dan mendengarkan apa yang Dhea katakan. Bukankah jika sesuatu yang keluar dari ***** ayam, kalau bermanfaat ambil. Begitu juga, apa yang diucapkan Dhea, jika itu bermanfaat maka terima sebagai kebenaran.


"Yasudahlah, mamah rasa kamu sudah besar dan tahu mana yang baik untuk kamu. Mamah hanya berpesan itu, Tuhan Yesus itu sang penebus dosa manusia, semoga kamu paham itu Dhea."


Tak lama suara Onci pun terdengar memanggil, "Malam, Dheeea...Tante...Intan...permisi."


Tante Lee pun keluar menemui Onci,"Eh Onci, Dhea ada kok di dalam. Sebantar yah?"


Selang beberapa menit, Dhea pun keluar dan menemui Onci.


"Masuk yaaank."


Onci pun langsung menuju pintu samping dan duduk di balkon.


"Kamu baru pulang? Kenapa telepon dan WhatsApp aku tak dijawab."


"Kamu taulah bagaimana sibuknya aku, pastinya kan jarang pegang handphone. Aku ambil minum untuk kamu dulu yah?"


Thea pun masuk ke dalam rumah, dan terkejut dengan suara h**andphone Thea yang tertinggal, tertulis di LED nya 'Kak Jo EO.'


"Handhphone kamu bunyi tuh."


Dhea pun mengambilnya tergesa-gesa, tidak seperti biasanya.


"Oh,Ka Jo. EO yang baru saja aku temui. Sekalian aja, dan mumpung ada kamu. Aku mau bilang, mungkin minggu-minggu ini aku sibuk latihan dance, dan kemungkinan aku juga akan dikarantina untuk persiapan beberapa acara di Singapur dan Malaysia."


Mendengar ucapan Dhea, semakin membuatnya cemas dan gelisah, Onci tidak bisa melarang untuk masalah profesi yang ditekuninya itu. Karena dari situ lah ia mendapatkan penghasilan yang cukup besar. Kalau pun Onci melarang, ia tak bisa banyak menuntut karena paham dengan posisinya.


"Aku harap kamu paham." Onci sudah merasakan ada yang berbeda dengan sikap kekasihnya itu, yang tidak biasanya.


"Iya, kapan kamu berangkat?"


"Mungkin minggu depan aku sudah mulai sibuk dan terikat kontrak dengan managament artis."


Onci sadar betul, betapa rentannya di dunia hiburan, dengan mudah bergonta-ganti pasangan. Dan besarnya ujian kesetiaan itu, Onci tidak tahu seberapa teguhnya pendirian Dhea, terlebih hubungannya itu dihadapkan dinding dan jurang yang tinggi serta terjal, bukan karena perbedaan materi, justru lebih dari itu. Yah, tentang keimanannya yang sama-sama begitu teguh.


Kalau urusan agama dan keimanan tidak bisa dipaksakan, karena mereka pun begitu kuat dengan keyakinan yang mereka anut. Dari pihak Dhea pun begitu ta'atnya, apa lagi dengan abah dan umi Onci, tidak ada kompromi kalau urusan keimanan.


"Sebelum berangkat, aku akan mampir ke rumah kamu untuk pamitan dengan Abah dan Umi."


"Iya yank, kalau itu impian kamu aku tidak dapat melarang."


"Maaf yah."


"Terus bagaimana dengan hubungan kita?"


Dhea pun menghela nafas dalam-dalam, dan Onci terdiam menanti jawaban Dhea.


"Kalau kamu mau jalanain seperti biasa, dan tidak menuntut banyak untuk bertemu, kita akan teruskan. Kamu pasti tahu bagaimana sibuknya aku nanti, dan akan jarang sekali memegang handphone. Aku harap kamu bisa terima keadaan seperti itu."


"Yah yank, aku sadar itu."


Pertemuannya malam itu, seperti pertemuan yang tak wajar dan ada gejala aneh yang akan terjadi.


"Aah mungkin perasaan ku saja, yang cemburu dengan impiannya dan profesinya, sedangkan aku? Sudah kehilangan banyak peluang dan memutuskan menghentikan usahaku di dunia entertaimen." Onci terus diburu rasa cemas.


"Kamu juga pasti sibuk mengurus pesantren mu itu bukan? Apa lagi aku dengar dalam sambutan kamu kemarin ada pengembangan untuk pembangunan sekolah milik keluargamu itu. Mungkin sekolah kamu itu lebih butuh perhatian dari ayank."


"Ah entahlah yank, aku akan terima segala konsekwensi dari apa yang aku pilih dalam hidupku."


"Aku harap kamu bisa terima dengan keadaan ini, dan pasti kita bisa lalui. Hanya saja, kita sadar bahwa keimanan yang tak bisa menyatukan kita, mau sampai kapan?"


"Aku juga berpikir seperti itu, waktu kita habis membahasa perbedaan ini. Hingga akhirnya kita memaksakan untuk tetap pertahankan hubungan atas dasar ketulusan dan sisi kemanusiaan. Bukan saja keimanan, bahkan hukum negara pun tak mengizinkan untuk kita satu."


"Bukan lagi bicara minoritas dan mayoritas juga yank, tetapi semesta yang tidak berpihak sama kita, seakan agama dan perbedaan itu menjadi jurang dari ketulusan cinta. Yang aku sendiri nggak ngerti, jika semua itu dijadikan alasam untuk kita tidak bisa satu, lalu untuk apa Tuhan menciptakan hati dan cinta?" Mata Dhea pun mulai berbinar dan berkaca-kaca, seakan malam itu, malam yang tak akan lagi mereka temukan.


Bersambung >>>


Terimakasih para pembaca yang baik, jangan lupa VOTE, 👍Like dan komentarnya yah Kak?