Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Wisdome : Gue Suka Gaya Loh!


Seperti gemawan yang kelam, dan siang tanpa angin, begitu pekatnya. Sama seperti apa yang Onci rasakan hari ini, benar-benar semraut. Dilain sisi ia harus profesional menjalankan profesi yang sudah diberikan pihak Mall, ia pun sadar bahwa dirinya terlahir di lingkungan yang kental dengan religi, dan orang tuanya menginginkan Onci untuk menjadi seorang mubaligh, atau ustadz yang akan meneruskan mimpi Abah, setidaknya perjuangan Abah hanya sampai membangun sekolah tingkatan Paud atau Tk, dan Madrasah Ibtidaiyah, tugas Onci lah meneruskan ke tingkat sekolah lebih tinggi lagi.


Harapan Abah, yayasan pendidikan yang ia dirikan menjadi pondok pesantren, dengan ribuan santri. Orang tuanya berharap Onci dapat meneruskannya apa yang dicita-citakan Abah Syahrul dan Umi Aisyah.


Namun semua berbalik dari harapan orang tua, justru Onci memilih jalur entertaiment. Walau pada prinsipnya tak semua jalur dunia hiburan itu buruk. Tetapi sudut pandang orang berbeda-beda, apa lagi dengan orang tua Onci yang menganggap hal itu amat tabu dan bertentangan dengan ajaran Islam.


Yang Abah dan Umi pahami, bahwa dunia ini hanya sementara dan urusan agama di atas segalanya. Mereka begitu teguh memegang ajaran Islam, dan menganggap setiap hal baru dianggap suhbat atau tidak sesuai dengan Al-Qur'an dan Hadits.


Onci sendiri masih memiliki darah Arab, jika diurut kepada garis keturunan, bahwa buyutnya adalah seorang Kiayi ternama di tanah Jawa.


"Apakah setiap keturunan Rasulullah itu adalah Nabi? Apa salah jika aku terlahir sebagai anak seorang Kiayi harus menjadi Kiayi juga? Rasanya terlalu rumit menjadi orang dewasa." Hal itu yang tertanam di pikirannya.


Kadang ia sendiri ingin melepas bayang-bayangan dari nama besar Abah, yang begitu disegani di lingkungan keluarga dan sekitar yayasan. Jika ada hal buruk yang Onci lakukan, orang selalu mengaitkan dirinya dengan Abah dan Umi.


Onci pun sadar, bahwa nama besar orang tuanya sering menjadi keberuntungan baginya. Bahkan orang-orang begitu patuh dengan Abah dan Onci.


'Anak Kiayi,' itu yang sering ia dengar jika bertemu dengan santri-santri Abah. Tak jarang ia disalami orang yang kenal dengan Abah, seakan dirinya itu sama dengan orang tuanya.


Masing-masing memiliki pilihan dalam hidup, sesekali juga ia pernah berpikir kalau Abah sudah tiada, bagaimana dengan aset yang Abah miliki, kalau tidak dirawat dengan baik dan dikelola oleh orang yang tepat, mungkin akan besar, tetapi jika dipegang dengan orang yang salah, akan menjadi mesin uang hanya bermodalkan menjual doa dan ayat-ayat Tuhan.


Terbesit juga dalam dirinya, kelak ia akan akhiri profesinya di dunia entertaiment, dan memilih jalur agama. Tetapi nanti, setelah ia benar-benar dapat menentukan pilihan dan jati diri.


Dan satu hal lagi yang selama ini Onci sembunyikan dari orang tuanya, tentang hubungan cinta antara dia dengan Dhea. Yah, mungkin semua tahu kriteria seperti apa yang orang tua inginkan untuk mendapatkan menantu.


Pasti rujukanya adalah Al Quran dan Hadits sebagai acuannya, bahwa menikahi seorang wanita harus memperhatikan harta, keturunan dari orang yang baik atau bertaqwa, paras nan anggun, dan pemahaman tentang agamanya. Namun, yang menjadi pilihan untuk mencari jodoh adalah kriteria yang terakhir, paham dengan agama dan ibadahnya.


________________________________________


Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Wanita umumnya dinikahi karena 4 hal: hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Karena itu, pilihlah yang memiliki agama, kalian akan beruntung."


_______________________________________


Terlepas dari masalah dirinya dengan Abah dan Umi, ada persoalan lain yang harus ia hadapi, yakni tim event organizer nya. Mereka menganggap bahwa semenjak Onci kenal dengan gadis itu, kinerjanya menurun dan Onci lebih asik dengan Dhea.


Wajar rasanya jika mereka berpikir demikian, karena meraka tidak pernah tahu permasalahan paling besar yang Onci hadapi, tak lain urusan orang tuanya itu. Tetapi tidak semua ia ceritakan, dan Onci membiarkan tim nya berasumsi lain.


Harusnya mereka pun memahami perasaan Onci saat ini. Yang hati nya tersirami dengan hadirnya Thea, ia harus belajar terbiasa untuk memberikan waktu untuk memperhatikannya. Cukup lama ruang hati dan pikiran Onci kosong, nyaris hampir lupa rasanya jatuh cinta.


( Loh kok kedua?! Yah kan tau sendiri ia perokok akut, nggak ada yang lebih utama selain rokok nya )


Yah, seperti itu orang yang di mabuk cinta. Namanya juga mabuk, terbilang sadar tetapi sudah tak wajar, dibilang normal tetapi sering tersenyum sendiri.


"Bosqyu, gw sih nggak jadi masalah elo jatuh cinta, tetapi ada yang sudah nggak wajar gw liatnya." Hanya Ale yang berani berucap seperti itu.


"Nggak wajar nya dimana?"


"Yah, keliatan aja. Dari elo yang jarang banget senyum, jadi lebih banyak senyum."


"Loh!! Kan bagus orang banyak senyum?!"


"Senyum loh sudah nggak wajar Ci, senyam-senyum sendiri. Gw tau itu dari Thea, gw sebagai temen dan sekaligus partner kerja loh, ngeliat elo sudah menurun produksifitasnya. Yah, wajar sih namanya loh lagi jatuh cinta. Tak ada yang lebih penting dari itu semua buka!"


"Aah nggak juga sih Le, gw masih fokus sama event. Lagi juga, kaya elo nggak pernah seperti ini. Dulu, loh lebih parah waktu pacaran sama si Alien."


"Yah, apa yang terjadi sama gw jangan elo alamin juga bosqyuu..."


"Yaah, mudah-mudah tak separah elo."


"Gw ingetin sama elo Ci, jangan sepenuhnya elo letakan dia di hati elo, karena biarkan urusan dunia letakan di tangan, biar ketika elo kehilangan bisa mencarinya lagi, dan tidak membuat elo akan terasa sakit, namanya juga Jatuh cinta, yaaah siap-siap terluka bro.."


Tolong dicatet apa yang Ale ucapkan, biar menjadi quote sakti untuk para readers, " Jangan letakan urusan dunia itu di hati, tetapi di tangan. Agar ketika kita kehilangan tidak membuat kecewa berlebihan. Letakan ia di tangan, disaat hilang dan pergi kita masih mampu untuk mencarinya." Kurang lebih seperti itu, maksud pemicaraan Ale.


"Ok, gw akan ingat itu bro..." Jawab Onci.


"Teruskan jatuh cinta elo, ketika loh kecewa dan sedih. Kuping gw siap mendengar luapan emosi, kecewa dan perihnya...catet itu brother..." Tutup Ale sebelum meninggalkan ruangan breafing.


Apa yang terjadi saat itu, tengah ada meeting persiapan event colouring PAUD dan playgroup, Ale melihat Onci berkurang fokusnya dan ia sebagai kawan sekaligus team merasa perlu mengingatkan ketidakwajaran yang Onci alami.


Ale tahu betul dan pernah mengikuti jalan cintanya Onci dengan Windi yang ujung-ujungnya bubar. Dan butuh waktu untuk mengembalikan keadaan Onci saat itu, Ale tidak ingin hal itu terjadi dan terulang kembali.


Demi menjaga produksifitas dan kemampuan yang Onci miliki, kalau sudah larut terbius cinta, akibatnya hilang kesadaran dan telinga sulit membedakan, mana yang benar dan salah. Apa lagi kalau sudah terjangkit virus cemburu dan rindu, bisa menghilangkan akal sehat yang manusia normal miliki, bukan begitu para readers?


***Bersambung >>>