Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Belum Berakhir


Nabila besar hati dengan kenyataan yang tengah ia hadapi, kurang bijak dan ikhlas bagaimana lagi, dalam keadaan terpuruk Nabila masih bersedia menemani Ozi. Mungkin Ozi sudah merasa malu dengan keadaannya, terlebih ia tahu ada keterlibatan keluarga Nabila untuk membesarkan Yayasan yang Abah dan mendiang Umi Aisah dalam mengelolanya.


Hari-hari Nabila dipenuhi pertanyaan yang ia hadapi tentang apa yang terjadi antara dirinya dengan Ozi. Tak sedikit dari rekan dan orang yang kenal dengannya.


"Bila, apa bener Ustadzah Fahrurozi di penjara? Masalahnya apa sih?" Tanya Ustadzah Masitoh, guru Akidah Akhlak tingkatan Madrasah Ibtidaiyah atau setingkat Sekolah Dasar.


"Yang Ustadzah tahu seperti apa?" Tanya balik Nabila.


"Karena kasus usaha yah?"


"Mungkin, sampai sekarang aku sendiri belum tahu pasti karena memang belum ada keputusan pengadilan."


Ada juga yang memang simpati kepadanya, "Moga Ustadzah Bila kuat hadapi ujian ini ya?" Ucap Ibu Hamidah wali murid.


"Amin Bu."


"Ustadzah, saya denger suami di penjara ya?" Tanya Bu Amel tetangga depan rumah.


"Mungkin sudah jalannya Bu Amel, kita sebagai manusia hanya ikuti apa yang Allah kehendaki, dan cuma bisa bersabar." Jawab Nabila simple.


Hari-harinya penuh pertanyaan dan penjelasan, Abah tak banyak bicara dan memang tak ada yang berani mempertanyakan keadaan Ozi dengan beliau.


________ oOo_______


Fahrurrozi duduk termenung di dalam ruang penjara, Ustadz Burhan mendatanginya untuk menyelasaikan apa yang Abah perintahkan. Sambil membesuk dan membawakan makanan serta keperluan Ozi di dalam penjara.


"Assalamu'alikum."


"Wa'alikum salam...Iya Stadz..."


"Zi, ane hanya jalankan perintah Abah untuk ente tanda tanganin surat talak untuk Nabila." Ustadz Burhan memberikan dua lembar surat pernyataan yang dibubuhi matrai.


"Iya ane paham..." Ozi mengambil surat dan menandatanganinya.


"Ini Stadz, sampaikan salam untuk Abah dan Nabila yah?" Ucap Ozi.


"Insyallah ane sampaikan, dan ini ada makanan ringan sama sedikit bekal untuk entr dari Nabila." Ustadz Burhan memberikan bungkusan dan sedikit uang saku.


"Makasih stadz."


"Sama-sama Zi. Ane pamit yah? Assalamu'alaikum..."


"Wa'alikum salam."


Selepas Ustadz Burhan pergi, Ozi kembali ke ruangannya dan membagikan makanan untuk rekan lainnya.


Hanya sebatas itu saja pembicaraan Ustadz Burhan dengan Ozi. Tak banyak yang ia sampaikan dan Ustadz Burhan berlalu pergi meninggalkan ruang tahanan.


_____ oOo______


Dalam waktu yang sama, Dhea mengalami hal serupa dengan apa yang Ozi dapatkan dari perbuatannya. Dhea masuk ke sel perempuan, keluarganya merasa malu dan memilih kembali ke kampung halaman, keluarga hanya menitipkan apa yang menjadi keperluan Dhea kepada pengacara yang ditunjuk pihak keluarga.


Sesekali Jonathan membesuknya, dan membawakan makanan untuk Dhea.


"Makasi Jo..."


"Sama-sama...Besok sidang pertama kamu, aku harap hakim memutuskan hukuman yang ringan untuk kamu."


"Iya Jo...kamu nggak mau maafin aku?"


"Sudah aku maafkan, tapi hukuman mesti kamu terima, agar kedepannya kamu lebih baik."


"Aku nggak akan ulangi, dan cukup sekali kejadian seperti ini aku alami."


"I Hope,...aku tinggal yah? Tadi habis ketemu penyidik dan pengacara, seklian aja aku mampir ke sini."


"Iya Jo, thank you udah tetap care dengan aku."


"Bagaimana juga aku manusia biasa, dan masih punya hati, walau kamu sendiri nggak punya hati ya? Haha..." Sindir Jo.


"Nggak gitu juga Jo..."


"Memang kenyataanya kan?"


"Aku sudah terima semuanya Jo, tolong jangan kamu siksa aku dengan ucapan-ucapan kamu itu."


"Apa masih perlu aku jaga perasaan wanita yang dia seenaknya memainkan perasaan orang yang sudah menitipkan kepercayaannya? Dah aah, aku banyak urusan." Jonathan berlalu pergi.


Dan Dhea kembali di kamar perundungan, nyaris tanpa ada tempat berbagi cerita. Menanti esok hari seperti seribu tahun lamanya. Belum lagi keputusan dari Hakim esok hari, lebih berharga dibandingkan dari apa yang sudah ia dapatkan semasa ia menjalani hidup sebagai warga yang merdeka. Kini ia telah banyak kehilangan, termasuk ditinggalkan kedua orang tua dan keluarganya, mereka sudah tak sanggup menahan aib keluarga.


Di waktu yang sama, dan di tempat yang berbeda, Ozi dan Dhea menerima keputusan pengadilan, untuk Ozi menerima hukuman selama lima tahun, dan Dhea empat tahun lima bulan.


Selama itu mereka harus merasakan bagaimana sakitnya melalui masa-masa hukuman dari konsekwensi yang dihadapi.


__________oOo_________


Nabila menjalankan tugas nya seperti biasa, ia tetap membantu Abah untuk mengurus yayasan, dan kini ia menjadi penangung jawab tumbuh dan kembangnya yayasan, bahkan Nabila diberikan wewenang untuk menentukan kebijakan tanpa harus melalui Abah, dan Abah cukup mengetahuinya.


Nabila mulai menata hati dan karir dalam hidupnya, Nabila menggagas untuk mengembangkan dan membuka universitas, sehingga yayasan lebih lenggap, bahkan setelah perguruan tinggi dibuka, program selanjutnya Nabila akan membuka sekolah tinggi ilmu keperawatan, dan di sisa lahan milik keluarga Nabila, sudah tertancap plang bertuliskan, 'Mohon Doa Restu, di Lokasi ini akan kami bangun Rumah Sakit Islam.'


Nabila juga secara paralel membuat sistem aplikasi pendidikan berbasis digital, dimulai dari pendaftaran murid yang tidak harus berbelit, hanya cukup melakukan submit di kategori dalam website yayasan yang sudah disediakan, dengan demikian calon murid dan orang tua wali murid tahu betul visi misi, program pendidikan, kegiatan dan aktifitas akademis hanya dalam satu sistem satu kontrol.


Kemajuan yang luar biasa untuk yayasan, setelah dipegang Nabila. Bahkan beberapa mahsiswi dan mahasiswanya diikuti kejauaraan internasional, serta ada beberapa alumni yang berhasil mendapatkan beasiswa di perguruan tinggi ternama di timur tengah.


Dari segi administrasi Nabila pun melakukan perubahan akreditasi, yang semula diakui menjadi disamakan, bahkan yayasan dijadikan prototipe dari kementrian pendidikan sebagai rujukan akademisi berbasis digital.


Kini yayasan menjadi yayasan favorit dilengkapi berbagai fasilitas seperti laboratorium bahasa, biologi, dan komputer. Di sekolah kejuruan, Nabila menambahkan beberapa fasilitas seperti jaringan komputer, tata boga ia buatkan pabrik roti, sehingga pelajar dibekali kemampuan untuk menjadi wirausaha atau enterpreneur sehingga para alumnusnya dapat bersaing dengan lulusan dari sekolah lainnya.


Nabila juga sudah membuka pemicaraan dengan kementrian terkait untuk program pertukaran pelajar antar provinsi dan beberapa negara di ASIA. Hal itu diaminkan oleh para pemberi keputusan.


"Ya Allah, hamba hanya bisa berusaha dan memberikan yang terbaik dalam hidup ini, mudahkan segala urusan hamba. Hamba percaya Engkau Maha penyayang, lagi Maha Pemberi Petunjuk. Sampaikan segala apa yang menjadi hajat kami, harapan, mimpi untuk bisa berguna bagi orang banyak. Terlalu kerdil jika hamba hanya memikirkan sebatas perut hamba saja ya Rabb. Engkau sebaik-baiknya tempat memberi pertolongan, dan Engkaulah tempat hamba mencurhakan segala permasalahan hidup ini. Kabulkan doa hamba, sebelum waktunya hamba kembali kepada-Mu, Yaa Maulana...." Tutup doa Nabila di akhir sholat Tahajud.


...Bersambung >>>...