
Aura kecantikan gadis itu membius bingarnya dan membelah keraiaman jama'ah yang hadir. Tepat disaat nama Onci disebut oleh pembawa acara untuk memberikan sambutan pembuka, semua mata tertuju kepada Onci dan Dhea.
Di tengah keramaian, padatnya jema'ah dan di antara beberapa kepala berhijab, terselip satu wajah yang tak asing dan terus menatap tajam ke arah mereka. Sesekali ia tersenyum saat melihat ustadz muda itu melangkah menuju panggung.
"Gagah banget sih Kak, sudah sulit untuk Bila bisa menemani Kakak."
Namun senyumnya terbias dan terasa hambar saat melihat gadis yang berjalan menemani Onci.
"Mengapa perempuan itu terus bersamanya?" gumam Nabila yang ikut membaur dengan ratusan jama'ah. Dan Dhea mendapatk kursi kosong, lalu duduk tepat di ujung barisan dengan Nabila.
Onci dengan lantang memberikan sambutan dengan muqadimah atau mengawalinya menggunakan bahasa arab yang fasih. Begitu tegas, lugas, singkat dan padat. Ia pun menceritakan sejarah berdirinya yayasan, dan membawa dampak yang baik bagi masyarakat, serta seperti apa yang abah atau Kiayi Syahrullah harapkan, bahwa tak lama lagi akan dibentuknya panitia atau petugas pemugaran yayasan dan menaikan taraf pendidikannya lebih modern dengan akan segera dibangun gedung baru untuk pondok pesantren dan boarding school.
"Mohon doa restu semua, baik dari para Habaib, Ulama,Kiayai, guru sepuh,keluarga besar Yayasan Pendidikan Islam Cikal Insan Cendikia, serta jama'ah yang hadir dalam acara yang insyallah membawa keberkahan untuk kita semua, semoga kami bisa memberikan pelayanan pendidikan yang dapat terjangkau oleh masyarakat, dan dari sinilah, di tempat inilah Insan Rabbani serta Cendikiawan itu lahir. Akhirul Kalam, Wabillahi Taufik Walhidaya Wassalamu'alikum Warahmatullahu Wabarakatuh." Ustadz Fahrurrozi atau yang dikenal Onci itu menutup sambutannya, dan spontan membuat para jama'ah yang hadir berdiri dan bertempuk tangan, karena baru pertama melihat dan mendengar Onci sambutan.
"Ayaaaank, aku makin cinta kamu." Gumam Dhea saat melihat betapa gagahnya orang yang selama ini ia kenal dan menyembunyikan status dirinya, kemampuan dan kepintarannya. Onci yang hanya dia kenal sebatas pemilik usaha event organizer, dan yang ia kenal sebagai kekasihnya itu ternyata memiliki keilmuan yang luruh.
"Subhanallah, sudah gagah, tampan, soleh pula." Pujian yang sama pun Nabila ucapkan.
Sambil menatap Dhea yang tertawa bangga melihat pria yang berdiri di atas podium, keceriaannya seperti direnggut oleh kehadiran gadis itu.
Sambil merundukan pandangan ia berucap lirih dalam hatinya," Sayang Tuhan, dia milik orang." Rasanya tak pantas ia membanggakan pria yang dia sadar, bahwa bukanlah miliknya.
Rangkaian acara demi acara sudah di lalui, hingga akhirnya Tabligh Akbar yang juga sebagai acara rutin setiap dua minggu sekali itu pun selesai dilaksanakan, Dhea pun berjalan menghampiri Onci.
"Kamu keren banget yaaank!" Sanjung Dhea.
"Kan memang sudah biasa."
Onci dan Dhea menghampiri Abah, dan membaur dengan para tamu istimewa. "Hei Ustadz, kenalkan putri ane Arumi Nasha Razeta, atau panggil saja Zeta." Kiayai Bustomi memperkenalkan putrinya dengan Dhea dan Onci.
"Dhea." Gadis itu menyambut lembut jemari Zeta, dan Onci hanya memberi isyarat senyum sebagai perkenalannya.
"Harusnya aku yang berada di dekat mu Kak, bukan gadis itu." Ucap Nabila dari kejauhan.
Dari keramian jama'ah yang masih lalu-lalang Ustadz Burhan memperhatikan gerak-gerik dan raut wajah Nabila. Ia pun membelah jama'ah, berusaha mendekati Nabila.
"Heeey ngelamun aja! Sudahlah jangan terus perhatikan Ustadz Ozi dan calonnya itu. Masih ada kesempatan untuk Bila bisa memperbaiki hubungan dengan beliau." Suara Ustadz Burhan memecahkan lamunannya.
"Apa sih Stadz, orang Nabila hanya memperhatikan betapa tampan dan gagahnya para kiayi. Bukan aku melihat Kak Onci dengan calon istrinya itu."
"Hahahaha...Mungkin bibir mu bisa berkata begitu Bil, tapi? Hati mu?" sindir Ustadz Burhan yang juga orang kepercayaan Kiayi Sahrul.
Namun tawa Ustadz Burhan terhenti seketika, saat memperhatikan lengan tangan gadis di samping orang yang ia hargai itu.
"Sebentar Nabila, kamu tunggu disini yah?"
"Ustadz mau kemana?"
"Tunggu sebantar saja, aku ada urusan dengan Ustadz Ozi."
Ustadz Buran pun terus mendekat ke arah Onci dan Dhea. Ia memastikan bahwa dirinya tidak salah lihat agar tidak menjadi fitnah dan ghibah atau gosip.
"Ustadz, sebentar ane mau bicara." Ucap Ustadz Burhan, dan Onci pun terkejut," Ada apa Stadz?"
"Afwan sebentar saja." Afwan itu dalam bahasa indonesianya memiliki arti,'maaf'
"Yank, kamu tunggu sebentar yah?" pintanya
"Ok yank."
Thea pun membiarkan mereka berbicara tanpa mau tahu apa yang mereka bahas.
Wajah Onci memerah dan malu, serta menimbulkan pertanyaan,"Darimana ustadz Burhan tau? Siapa yang membocorkan rahasia ini?!"
"Ada apa memangnya Stadz? Atas dasar apa antum tuduh dia nasrani?!"
"Sebelumnya ane minta maaf, untuk itulah ane tanya langsung ke ente dan tidak ada yang tahu, hanya ane saja."
Onci pun membawa Ustadz Burhan menjauh dari keramaian.
"Darimana ente tahu?"
"Perhatikan pergelangan tangan kanan harim ente. Ada lambang salib, bukankah itu simbol nasrani?"
Onci pun memperhatikan lengan kanan Dhea dan memastikan apa iya gadisnya itu memakai gelang salib, seperti apa yang Ustadz Burhan tuduhkan. Onci pun menghampiri gadisnya itu.
"Ayank, apa kamu pakai gelang salip?" Onci perhatikan lengannya dan terkejut, apa yang ustadz Burhan katakan itu benar.
"Ya ampun aku lupa lepas yaank!" Thea juga ikut panik dan Onci mencari alasan agar apa yang Ustadz Burhan lihat itu salah.
Dan sesegera mungkin menuruh Dhea melepasnya.
"Tenang yaank, gelang ini aku lepas dan aku punya aksesoris yang sama dengan salip." Dan Dhea pun menunjukan aksesoris serupa tetapi bentuk tanda plus.
"Yaudah kamu ganti itu, tapi cobalah tenang gantinya dan kamu pura-pura menghampiri ku, perlihatkan gelang tangan mu ke ustadz Burhan yah? Aku hampiri ia lagi."
Onci dan Dhea mencari cara agar apa yang Ustadz Burhan lihat itu salah. Onci pun mengalihkan pandangan sang ustadz dan sedikit menjelaskan," Oh itu bukan salib stadz, itu aksesoris tanda palang merah, atau plus."
"Ah yang bener ente?"
Onci pun memberikan isyarat kepada kekasihnya itu, untuk datang menghampirinya dan ia pun melambaikan tangan.
"Yank, kenalin ini ustadz Burhan."
Dan Dhea pun merapatkan kedua jemarinya sebagai simbol salam. Sambil memperlihatkan pergelangan tangannya, dan memastikan bahwa ucapan yang ia lihat itu salah.
Ia pun terlihat malu," Ustadz maaf ane salah lihat, ane kira salip." Bisik sang Ustadz.
"Maaf banget yah stadz, afwan." Ia terus meminta maaf atas kesalahannya.
"Iya tak apa stadz, mungkin antum harus beli kacamata."
"Iya nih, ane kira juga begitu. Ane pamit deh ya? Ada Nabila di sana, kasian sendirian."
"Loh, suruh kesini saja Stadz."
"Coba nanti ane sampaikan ke Nabila."
Ustadz Burhan pun kian menjauh dan kini saatnya mereka mendiskusikan apa yang terjadi.
"Ya ampun yaaaank, hampir aja ketauan! Aku deg-deg an dengar ustadz Burhan manggil ane dan membisikan kalau kamu pakai gelang salip."
"Iya yaaank, maaf yaah? Habis tadi kita terburu-buru dan lupa lepas gelang aku."
"Yasudahlah yank, sudah aman juga. Lain kali lebih hati-hati."
Hampir saja identitas keimanan Dhea terungkap oleh Ustadz Burhan. Namun segera mereka atasi.
**Bersambung >>>