Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Mencari Luka Sendiri


Sudah cukup lama pria ini berdikari, jatuh, bangun dalam menitih Karir. Tidak mudah baginya untuk bisa berada di posisi seperti ini. Berbagai usaha sudah ia tekuni dan geluti, tertipu, ditinggalkan karyawan, bangkrut dan lain sebagainya, ia nggap sebagai pembelajaran yang sangat berharga.


Jalan hijrah yang ia dapatkan dalam proses menuju puncak materi, saat terjatuh ia berusaha bangkit, ia menemukan sebuah perjalanan hidup, karir dan bisnisnya, tidak lepas dari campur tangan Allah.


Dan yang menarik dari sosok pemilik nama Aruliansyah ini adalah, ia mengingat apa yang menjadi pesan mendiang ayahandanya, yang telah mendahulinya ketika ia masih duduk di bangku kelas Enam Sekolah Dasar, untuk hidup sederhana, jujur, bertanggung jawab serta berguna untuk orang banyak.


Ia bersama Pengusaha Muslim lainnya, membangun sebuah yayasan Amanah Ibu, untuk mengelola Corporate Social Responsibility yang ia sumbangkan untuk pendidikan Anak Yatim dan kurang mampu untuk memiliki hak sosial dan pendidikan yang sama. Hingga kini Yayasannya telah membina ratusan anak yatim dan berhasil mengenyam pendidikan tinggi.


Namun dibalik profesi, karir dan bisnis ia memiliki trauma dalam urusan percintaan, gadis yang ia ingin persunting tiba-tiba menghilang ketika ia mengalami kebangkrutan. Setelah bertemu Nabila, melihat ketekunan, keuletan dan kecerdasaan perempuan yang baru saja ia kenal, keinginan nya untuk mencoba menyulam hati yang koyak untuk dirajut kembali. Untuk pertama kalinya ia memberanikan diri, mengungkapkan perasaannya kepada Nabila, semua spontan.


Saat itu dan seketika itu juga ia memberanikan diri dan kalah beragumentasi untuk masalah hati dengan Nabila. Bahkan ia ditantang menghafal tiga surat. Arul menerima tantangan, dan dalam waktu dekat setelah ia mampu menghafal ketiga surat itu, ia akan menemui Nabila, semakin cepat ia menghafal maka semakin terbayar tunai apa yang menjadi keinginannya.


"Kalau begini lamanya menghafal sampai nunggu rumah sakit berdiri baru kesemapean tuk serahkan hafalan ke Nabila." Ucap Arul yang memiliki sedikit kendala dalam menghafal.


"Baru satu surat aja sebegini sulitnya, ada aja yang ganggu,demi Nabila, harus bisa..."


Kembali ia menghafal, untuk satu sampai lima ayat, bahkan seringkali Mamak menemukan Arul tertidur pulas di atas Al-Qur'an, Ibunda-nyalah yang merapihkan dan membangunkannya.


"Rul, pindahlah ke kamar mu." Rubiyah, sang Ibu begitu lembut membangunkannya.


"Hmm...Iya Mak." Arul terbangun dan melanjutkan tidur ke dalam kamar.


Keesokan harinya hal itu terulang kembali, dan Arul memulai menghafal mulai dari selepas Subuh. Dan mengingat kembali hafalannya di waktu Dzuhur, apa yang dihafal selepas Ashar, ia ingat kembali di waktu Maghrib, begitu dan seterusnya.


"Nak, akhir-akhir ini Mamak melihat kamu giat menghafal qur'an, apa yang membuat kamu begitu rajinnya?" Tanya Mamak, panggilan untuk seorang Ibu di tanah Sumatra.


"Ada perempuan meminta emas mahar tiga surat yang harus Arul hafal mak."


"Elok rupa perangainya kah? Sampai meminta Arul menghafal surat-surat tu?" Mamak menanyakan indah budi pekerti sang gadis yang meminta Arul mahar tiga surat.


"Insyallah Mak, doakan saja ya?"


"Siapa nama gadis tu?"


"Nabila Mak."


"Dimana kau jumpa?"


"Ada proyek rumah sakit yang Arul kerjakan, disana Arul kenal."


"Bagimana keluarganya? Apa kerja bapaknya tu?"


"Insyallah keluarga yang paham agama Mak, dan Nabila itu ketua yayasan di rumah sakit yang Arul kerjakan."


"Mamak bahagia kali dengarnya, moga lah kau bejodoh dengan Nabila, sudah pingin Mamak ni meminang cucu."


"Restu Mamaklah yang menjadi qobul apa yang Arul harapkan."


"Insyallah, mogalah Allah ridho atas mu Nak."


Mamak sudah berkeinginan mendapatkan seorang cucu, ia juga tahu bagaimana dahulu Arul pernah gagal menikah, hingga rasa khawatir itu masih membekas.


"Nak, luruskan niat, jangan pula kau menghafal surah-surah tu hanya ingin mendapatkan anak gadis itu, niatkan mencari ridho Allah, Insya allah disampaikan apa yang menjadi keinginan Arul."


"Mungkin lah Mak, sulit Arul menghafal."


"Nah itulah yang menjadi penghalang hafalan Arul. Cobalah luruskan kembali niat Arul menghafal Qur'an karena Allah, moga lah cepat menghafalnya."


"Iya Mak, Insyallah."


"Moga lah kau cepat menghafal mahar mu, tak sabar Mamak ingin melihat Arul duduk di pelaminan bak raja sehari. Dan Mamak juga mau liat seberapa cantik paras dan perangai calon menantu Mamak."


"Arul pun sama Mak, mau cepat tuk meminangnya."


"Kalo bisa kau menghafal qur'an itu setelah tahajud sampai masuk waktu Subuh, insyallah pada malam-malam tu rahmat Allah turun ke bumi."


"Iya Mak."


"Yaudahlah yah Nak, Mamak siapkan sarapan dulu, sebelum kau berangkat ikhtiar."


"Sudah menjadi tugas Mamak, tuk itulah cepat kau hafal surat-sura tu, dan Mamak pensiun buat kan kau sarapan."


"Ah Mamak bisa aja, Arul juga mau cepatlah Mak."


"Yaudah Mamak tinggal yah?"


"Iya Mak."


Arul begitu santun, karena hanya tinggal Mamak orang tua satu-satunya, dan Arul juga anak semata wayang.


_______ oOo ______


Pembangunan sudah dimulai, steep awal dengan membuat pondasi, Arul mulai memastikan kembali ke para pekerja untuk dapat menyelesaikan pembangunan itu, paling cepat dalan waktu Enam bulan ke depan.


"Semoga tidak ada halangan proyek yang kita kerjakan, dan kami berharap masing-masing divisi dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya." Pinta Arul di tengah rapat kordinasi pembangunan.


Selepas breafing pagi, ia mulai keliling mengawasi para pekerja, dan Arul berharap melihat Nabila di lapangan. Benar saja, Nabila memastikan progres berjalan.


"Mas Arul, berapa jumlah pekerja nantinya untuk selesaikan semua?"


"Hampir seratus pekerja Mba, dan kami bagi dua shift, karena kita ngejar target selesai Enam Bulan."


"Syukurlah kalo begitu. Oh iya, masih sanggup untuk mengabulkan apa yang saya pinta?" Tanya Nabila memastikan kalau Arul sudah jalankan apa yang menjadi persyaratan untuk mempersunting Nabila.


"Insyallah."


"Ok."


Ustadz Burhan yang menemani Nabila meninjau lapangan terlihat bingung dengan apa yang mereka bicarakan. Dan ia tidak paham apa yang Nabila pinta.


"Apa yang mesti ditunaikan Mas Arul? Ada komitmen apa antara Nabila dengan Mas Arul?" Tanya Ustadz Burhan dalam hati.


"Ustadz saya tinggal dulu yah? Ada yang mesti dikerjakan."


"Oh iya, insyallah saya jalankan apa yang menjadi tugas." Ucap Ustadz Burhan.


Nabila meninggalkan lokasi, dan moment ini dimanfaatkan Ustadz Burhan bertanya tentang apa yang menjadi komitmen mereka berdua, antara Nabila dengan Arul.


"Mas Arul ada komitmen apa dengan Mba Nabila? Tak sengaja saya dengar."


Keingin-tahuan Ustadz Burhanlah justru menjadi bomerang untuknya.


"Yang mana ya Stadz?"


"Mengabulkan apa yang Mba Nabila pinta."


"Ooh yang itu, bukan apa-apa Stadz. Begini, saya pernah mengutarakan perasaan dengan Ibu Nabila, dan ia meminta saya untuk menghafal tiga surat jika ingin mempersuntingnya."


Ustadz Burhan tertegun mendengarnya, ia tidak menyangka kalau Arul dan Nabila menjadi kian dekat, bahkan menjurus ke arah yang lebih serius.


Lalu apa yang akan Ustadz Burhan lakukan? Saat ia tahu kalau Arul berkeinginan mempersunting Nabila.


Bersambung >>>


_______oOo______


Apa yang terjadi yah dengan Arul, setelah Ustadz Burhan tahu, kalau Arul berniat ingin menikahi Nabila?!


Semoga makin semangat ikuti kisah ini yah? Dan ucapan terimakasih untuk para pembaca, dan ikuti terus keseruan ceritanya, bagaimana akhir dari perjalanan cinta dalam Jodoh Pilihan Abah ini.


Terimakasih untuk kamu yang sudah bersedia bergabung di group chat saya, untuk kamu yang juga yang sudah mendonasikan Like, Komen dan Vote serta Give atau hadiah untuk penulis.


Dan dapatkan Give away bagi kamu yang ikuti terus cerita ini sampai akhir. Insyallah penulis akan bagi-bagi hadiah ratusan ribu, t-shirt dan merchendise menarik lainnya.


Salam Hormat,


@emhaalbana