Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Sebegini Sakitnya


"Bil, aku bicara sesuatu sama kamu?" Ustadz Burhan memberanikan diri untuk meminta waktu Nabila disaat Nabila ingin masuk ke dalam ruangannya.


" Ada apa Stadz?"


"Sejujurnya, aku sudah lama jatuh hati sama kamu, tetapi kamu sudah terlanjur memilih Ozi."


Nabila kaget saat mendengar Ustadz Burhan mengungkapkan perasaanya.


"Ya Allah Ustadz, kirain mau bicarakan apa, dan ada angin apa, pagi-pagi sudah ngomong seperti ini?!"


" Aku...Aku mencoba memberanikan diri untuk ungkapkan ini semua sama kamu, sebelum ada lelaki lain yang nantinya akan kau pilih dan menikahi kamu."


"Tidak semudah itu Stadz, perempuan dewasa dalam menentukan pilihannya, terlebih Bila pernah merasakan bagaimana mencintai seseorang, yang dia tidak mencintai Bila, setidaknya kejadian itu meninggalkan bekas untuk Nabila, bukannya Ustadz Burhan tahu itu?"


"Yah aku tau, hanya saja, aku tidak mau apa yang sudah pernah terjadi juga dalam hidupku, terulang. Aku benci dengan keadaan ku saat itu, yang tidak punya nyali untuk mengungkapkan perasaan, walau sebatas kalimat aku cinta kamu, Bil."


"Nabila harga perasaan Ustadz, tapi butuh waktu untuk Nabila bisa membuka hati ini, dan Bila juga jaga perasaan Kak Ozi, dia akan merasa lebih sakit lagi, kalo tahu Nabila memilih Ustadz Burhan, yang ia sudah anggap sebagai kakak angkatnya."


"Ta...tapi..."


"Tapi apa Stadz?! Nabila mesti jawab apa jika Abah tahu kalo Ustadz dan Nabila menyimpan perasaan, orang di luar sana yang hanya mendengar omongan dari mulut ke mulut akan menganggap dan memandang kita bukan orang baik-baik."


"Aku tidak peduli omongan orang Bil, yang hanya bisa menilai tanpa mau memberikan ruang untuk diskusi, dan lebih mudah menjustifikasi."


"Yah Nabila tahu, setidaknya hal itu jangan sampai terjadi, orang akan mencari kesempatan untuk menghakimi kita, dan butuh energi lebih untuk kita nggak peduli akan hal itu."


"Tak apa, jika kamu berat untuk menerima ku. Mungkin aku akan terlihat jarang untuk bisa menemani kamu di Yayasan ini, anggaplah apa yang aku sampaikan ini tidak pernah kamu dengar dan kejadian ini nggak pernah ada. Assalamu'alaikum..."


"Staaadz...." Belum sempat Nabila menjelaskan panjang lebar, Ustadz Burhan memilih pergi, dan mengakhirinya dengan ucapan, kalau dia akan jarang terlihat di Yayasan.


"Aduh ada lagi masalah, baru selesai masalah yang satu." Gumam Nabila.


"Nggak mungkin aku menerima Ustadz Burhan, walau dia baik, tapi apa kata yang lain, dan akan menganggap aku perempuan yang nggak ada harga dirinya, dinikahi orang yang sudah seperti Kakak sendiri." Batin Nabila makin meradang.


Nabila ingin mencoba acuh dengan kejadian ini, tetapi benar-benar merusak mood nya yang tengah semangatnya mengembangkan Yayasan.


Apa lagi energi Nabila terkuras penuh untuk memikirkan pembangunan Rumah Sakit Islam, yang baru saja memasuki fase awal. Kini ia menghadapi masalah yang tidak bisa dianggap sepele.


Nabila harus berpikir keras untuk menjaga semua ini, dan tidak ingin Ustadz Burhan kecewa berlebihan, hingga akhirnya akan menjadi snow ball yang terus membesar.


Terlalu pagi untuk Nabila mendengar kabar ini, konstrasi nya jelas terpecah dengan kejadian yang terbilang singkat, akan berpengaruh besar nantinya.


"Kalo aku terima Ustadz Burhan, bagaimana perasaan Abah, walau ia membenci Kak Ozi, hati seorang Bapak tak rela jika anaknya terluka." Ucap Nabila dalam hati.


"Entah bagaimana rasanya aku harus memaksakan diri untuk jatuh cinta, dengan lelaki yang aku sendiri tidak pernah terbesit untuk dimilikinya. Ya Allah, Engkau Maha membolak-balikan hati manusia." Batinnya terus diburuh rasa cemas, nyaris duduk hampir satu jam di meja kerja tanpa melakukan apa pun.


Telinganya bagai tersengat lebah, ketika orang yang ia sudah anggap sebagai seorang Kakak mengungkapkan perasaan cintanya, terlebih Ustadz Burhan sudah memendam perasaan cintanya sudah cukup lama, bahkan ketika Nabila sering menyebut nama-nya di telinga Ustadz Burhan, disaat Nabila sering mencurahkan perasaannya dan kagum dengan sosok Fahrurrozi, justru di saat itu juga ia telah lebih dulu melukai perasaan Ustadz Burhan.


"Berarti... sewaktu aku sering curhat dan banyak ngebahas Kak Ozi, justru Ustadz Burhan berusaha menenangkan hatinya! Astaghfirullah, sekian lama aku menyakiti perasaan orang." Nabila teringat masa-masa itu, saat hatinya kagum dengan Ustadz muda Fahrurrozi dan sering meminta pendapat Ustadz Burhan, tanpa Nabila sadari ia sudah melukai perasaannya.


Di tempat yang berbeda, Ustadz Burhan memilih untuk melampiaskan kekecewaanya ke dalam masjid, ia mencoba menenangkan pikirannya dengan menegakan sholat Dhuha dan membasahi lisannya dengan surat Ar-Rahman, begitu syahdu dan penuh penghayatan, seolah dengan surat itu batinya tenang, tak kekasih yang terbaik hanya Allah, tak ada penyayang yang setia hanya kasih sayang Allah, Dia-lah tempat dan penjaga rahasia yang paling terpercaya, selepas melafadzkan surat Ar-Rahman, Ustadz Burahan menyampaikan perasaanya kepada Allah melalui doa.


"Ya Allah, mungkin saya terlalu memaksakan perasaan ini, tanpa terlebih dahulu melibatkan Mu dalam urusan hati, yang ego nya aku meruntuhkan kengkuhan, tanpa aku sadari Engkaulah yang Maha membolak-balikan hati manusia.


Jangan biarkan aku menjadi majnun seperti Qais yang merindukan Laila, setidaknya aku sudah utarakan rasa cinta ini, hamba yang begitu mengaggumi makhluk ciptaan Mu, hingga aku lupa dengan sang peciptanya. Hamba begitu mengagumi lukisan, tanpa mau tahu siapa yang melukisnya.


Kini, aku serahkan kepada Mu ya Rabb, walau aku salah melangkah, lalai melibatkan Mu untuk urusan dunia, yang akhirnya ketika aku kecewa, sakit dan terluka, barulah datang merengek meminta belas kasihan kepada Mu, maafkan aku ya Illahi.


Jelaslah, bahwa dunia telah membelengkuku dalam keelokan rupa, rasa iba ini yang salah hamba tempatkan,dan justru seperti bola yang terpantul, hingga memukul wajah ku. Kini aku serahkan semua kepada Mu Ya Allah. Mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan hamba yang menghamba pada cinta makhluk. Terimalah Maafku Ya Allah..."


Ustadz Burhan kembali beraktifitas, kali ini ia harus kuatkan hati untuk mampu melihat wajah Nabila, dan menganggap bahwa apa yang sudah terjadi tak pernah ada, ia berusaha tegar dengan apa yang menjadi keputusan Nabila, ia sadar terlalu dini ia mengungkapkan perasaanya, tanpa berpikir panjang, kalau Nabila itu mantan istri dari lelaki yang sudah menganggapnya abang kepada dirinya, dan apa jadinya jika Abah tahu kalau ia menyimpan perasaanya untuk Nabila.


Ustadz Burhan memberanikan diri untuk datang menemui Nabila dan menyampaikan maaf, karena Ustadz Burhan sadar, urusan dosa dengan makhluk, Allah akan memafkan jika seorang anak manusia, lebih dahulu meminta maaf kepada sesamanya.


"Assalamu'alikum...Bil..."


Ucapan salam Ustadz Burhan mengusik lamunannya.


"Wa...Wa'alikum salam Ustadz."


"Maaf ganggu waktu kamu lagi, tapi kedatangan aku kali ini hanya mau menyampaikan maaf atas sikapku tadi pagi."


"Ya Ustadz, bener-bener buat Nabila kaget aja, pagi-pagi ada yang bawakan kata-kata romantis, bisa jadi karena Nabila belum sarapan, jadi kaget dengernya."


"Kamu bisa aja, semoga kamu ikhlas memaafkan."


"Justru Nabila juga minta maaf, mungkin ucapan Nabila bikin Ustadz sakit hati, pagi-pagi sudah Nabila kasih sarapan kata-kata sinetron...Maaf yah Staadz...."


"Yah Bil, semoga kamu mau memaafkan. Yaudah, aku hanya mau sampaikan itu saja, aku pamit mau ngajar dulu, kebetulan ada Ustadz yang tidak hadir...Assalamu'alikum."


"Wa'alaikum salam."


Nabil sedikit lega dengan keberanian Ustadz Burhan meminta maaf.


Bersambung >>>


___________oOo__________


Terimakasih untuk para pembaca yang sudah setia mengikuti setiap capter cerita ini dan terus bersabar menunggu akhir dari kisah ini.


Author ucapkan juga terimakasih untuk pembaca yang sudah mengapresiasi karya saya, dengan Vote, like dan Komentar, serta menjadikan novel ini, bacaan favorit dan terus ditunggu.


Hormat saya...


@emhaalbana