Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
H-1


Ozi mendengar pembicaraan Ale dan Nabila, Ozi merasa tersinggung karena Ale sudah ikut campur urusan rumah tangganya.


"Rumah tangga itu nggak semudah yang elo kira Bro, dan kamu juga Nabila walau Ale teman aku, harusnya kamu tau batasan-batasan pembicaraan, jika kamu buka aib aku sebagai suami mu, sama saja kamu melemparkan kotoran ke wajah ku."


"Nggak ada maksud gw ikut campur urusan rumah tangga elo, tapi elo juga harus mikirin perasaan pasangan elo juga."


"Hak gw, untuk jaga atau nggak, jangan mentang-mentang gw kemaren numpang di rumah lu, terus seenaknya ikut campur urusan rumah tangga gw!"


"Kalo elo merasa gw ikut campur urusan rumah tangga lu, sorry, bukan tipe gw ikut campur, urusan gw juga lebih banyak, paham lu?! Daripada gw nanggung masalah lu...Sorry, masalah lu tinggal di rumah gw, itu kewajiban gw nolong elu! Paham Lu?!" Ale meninggalkan Ozi dan Nabila.


"Ini semua gara-gara kamu!Nggak bisa jaga diri sebagai perempuan." Ucap Ozi mencari kambing hitam.


Nabila hanya bisa terdiam, tak jarang moment seperti ini, saat tersudut Nabila masih menyimpan sabar.


"Maaf kalo Nabila salah Kak."


"Maaf melulu bisanya, kapan berubahnya?!"


Lagi-lagi Nabila terdiam, di saat waktu yang tidak tepat, dan masih dalam suasana berkabung. Abah, masih duduk bersimpuh di sisi makam sang istri, justru Ozi mempermasalahkan hal kecil Nabila, yang tak lain istrinya.


"Abah, pulang yuk?" Suara lembut itu meminta Abah pulang.


"Umi sudah tenang di alam barzah." Ucap Nabila menenangkan Abah.


"Ya Bil,..."


"Seeeh, ane pamit yah?" Ucap Abah sambil menatap nama yang tertulis di papan nisan.


________________oOo______________


Ozi dan Nabila berkemas meninggalkan rumah Ale, untuk kembali pulang. Karena kini Abah hanya seorang diri tinggal di rumah, terlebih tak ada yang membantu Abah menyiapkan malam tahlil untuk mendoakan Umi, dan sudah menjadi tradisi.


Ozi hanya meninggalkan pesan di whatsApp, dan pamit.


[OZI]


gw cabut ya bro dari rumah loh, sorry udah ngerepotin.


[ALE]


Ya..bayaran prewedding nanti gw transfer, kirim aja no rek loh. Sorry gw urus wedding Dhea, dan elo fokus dulu aja urus Abah.


Ale sibuk mempersiapkan pernikahan Dhea dan Jonathan, ia sudah memutuskan untuk tidak melibatkan Ozi alias Onci. Dan Ale memilih mengerjakannya dengan rekanan vendor lain. Ale sudah tahu hubungan Dhea dengan Ozi, ia tidak ingin semua larut akhirnya akan menimbulkan masalah besar.


Sesampainya Ozi dan Dhea di rumah, Abah nyaris tak mau bicara dengan Ozi, Abah hanya mau berbicara dengan Nabila. Tidak seperti bisa, abah hanya duduk terdiam, nyaris tidak banyak bicara.


"Bah, ini di makanannya, mumpung masih anget." Ucap Nabila sambil membawakan senampan makanan.


"Taro aja Bil."


"Dimakan ya Bah..."


Nabila kembali ke dapur, ia merapihkan semua ruangan. Menyiapkan segala kebutuhan tahlil bersama beberapa santri serta guru-guru yayasan, termasuk Ustadz Burhan.


Ozi hanya asik di dalam kamar, seperti biasa ia asik chat dan telepon Dhea. Ia tahu, kalau esok adalah hari pernikahan Dhea dan Jonathan.


"Kalo malem ini ada waktu, dan aku bisa keluar, nanti kita ketemu di tempat biasa ya yank." Ucap Dhea.


"Iya, kamu atur lah, aku mana tau jadwal kamu. Tapi sehabis aku tahlilan yah?"


"Oke. Kamu atur aja waktunya...."


Dhea dan Ozi mengatur waktu untuk bisa bertemu, seblum keesokan harinya Dhea sudah melangsungkan pernikahan.


Ozi harus berpikir keras bagaimana ia bisa keluar dari rumah, karena ia tahu butul bagaimana jam'ah yang hadir nantinya, apa lagi Umi yang memiliki murid dan kenalan yang begitu banyak, ditambah tamu Abah. Setidaknya di atad jam 10 malam ia baru bisa meninggalkan rumah, biasanya tahlil itu mulai sepi jam-jam 10 sampai 11 malam.


Sedari jam 12 siang, Nabila dan beberapa orang sudah sibuk menyiapkan jamuan untuk para jama'ah yang hadir. Sehabis Maghrib sudah terlihat jam'ah sudah hadir, demi mendapatkan posisi terdepan dan dapat bertemu Abah. Abah merupakan tokoh yang memiliki karisma dan memiliki jama'ah begitu banyak, beliau begitu disegani, ditambah lagi pergaulan abah dengan tokoh agama, apratur pemerintah, pejabat serta petinggi kepolisian dan militer.


Wajar jika tamu-tamu Abah begitu membludak, apa lagi Abah termasuk imam dalam perkumpulan pada da'i. Belum lagi, para santrinya, yang pernah menimbah ilmu di yayasan pendidikan yang Abah dan Umi kelola.


Tak mudah bertemu Abah, minimal harus tahu jadwal kegiatannya, yang itu diatur oleh Ustadz Burhan, selaku asisten Abah. Ustadz Burhanlah yang dihubungi ketika siapa pun jam'ah atau tamu yang datang atau juga mereka yang ingin meminta Abah hadir mengisi majlis, tablig akbar, Haul, dan beragam acara keagamaan.


Tamu dan para jama'ah mulai memadati aula, dan pelataran rumah, kendaraan baik roda dua dan empat sudah berjajar di tempat yang sudah disediakan.


Suara sholawat, tahlil dan tahmid berkumandang membahana, mengisi celah ruang hingga terdengar jarak puluhan meter. Abah dan para ustadz mulai sambutan serta memimpin tahlil, acara perjalan hampir tiga jam.


Ozi begitu gelisah, ia memperhatikan jam yang melingkar di tangannya, dan tak henti-hentinya suara handphone nya menyala, siapa lagi kalau bukan telepon dan chating dari Dhea.


Sekalipun acara tahlil sudah selesai, puluhan jama'ah masih duduk dan membacakan ayat alqur'an biasanya akan dilakukan setiap malam, sampai nanti di malam ke Tujuh. Ozi mencari cara bagaimana ia bisa meninggalkan rumah dan menemui Dhea.


Ia mencuri waktu, ketika Abah sedang menerima tamu dan Nabila sibuk melayani para tamu serta jam'ah yang masih tersisa. Ia keluar dari rumah, mengendarai mobil yang sengaja ia sudah taruh di ujung jalan, hingga ia keluar tak ada satu orang yang tahu.


_______________oOo_____________


Di sebuah cafe, Dhea sudah menunggu kedatangan Ozi, nampak ia mulai gelisah dan khawatir Jonathan mencarinya.


"Duh kemana sih nih orang, jam segini belum juga dateng, malah susah dihubungin." Gerutu Dhea yang sudah menunggu Ozi hampir dua jam.


"Kalo setengah jam lagi nggak ada kabar, terpaksa gw tinggal." Ucap Dhea dalam hatinya.


Rasa gelisah Dhea terobati, saat ia melihat mobil yang baru saja datang, dan ia memastikan kalau itu adalah Ozi.


"Sorry aku telat, ada acara tahlilan di rumah, ini juga masih belum selesai, aku curi waktu aja."


"Bagus kamu dateng, kalo setengah jam lagi nggak nongol aku udah tinggalin kamu. Tau sendiri besok aku sudah sibuk acara nikahan aku sama si Jo, aku mau ketemu kamu dan minta kamu hadir."


"Pasti aku dateng kok."


Bersambung >>>