
Hati mana yang kuat, melepas orang yang hampir setiap waktu bersamanya? Hati mana yang bisa menerima jika gadis yang ia harapkan untuk menjadi pendampingnya, justru menjadi pelaku utama yang menorehkan skenario takdir, sekali pun semua memang kehendak Nya, tetapi ada asbab yang merubah apa yang baik untuk manusia.
Dan hati mana yang mampu meredang air mata saat pernikahan gadis yang ia cintai, justru ia yang mengatur pernikahan gadis itu. Tak mudah untuk melupakan semua, dan tidak semudah mengedipkan mata untuk menghapus cerita yang sudah dilalui bersama.
"Nabila lihat beberapa hari ke belakang, Kak Ozi terlihat murung. Ayo dong senyum Kak, sebentar lagi kan mau nikah." Nabila mencoba menghiburnya.
"Kamu tahu Dhea kan?"
"Iya tahu, mantan kakak itu kan?"
"Ale dapat kerjaan untuk mengatur konsep pernikahannya dan aku lah yang akan mengatur semua prosesnya weddingnya."
Entah apa yang ada di pikiran Onci, sampai tega menceritakan sesuatu yang harusnya ia sembunyikan dari calon istrinya itu.
"Kalau menurut Kakak itu yang terbaik dan tak ada perasaan yang nantinya akan menyiksa batin Kak Ozi, aku sih tak akan melarang."
Jawaban Nabila diluar dugaan Onci, malah gadis itu yang memberikan support dan mentipkan nasihat untuk calon suaminya kelak.
"Kamu yakin? Mengizinkan aku untuk membantunya?"
Gadis itu menganggungkan kepala," Selama Kakak bahagia, dan mampu menjaga hati bagi Nabila tak masalah. Nabila tahu, banya tugas dan beban yang harus Kakak selesaikan."
"Terimakasih Nabila."
"Iya Kak, sudah tugas Nabila untuk menguatkan hati dan langkah Kak Ozi. Insyallah, jika memang ini kehendak Allah Nabila siap dengan apa pun resikonya. Nabila yakin, bahwa seperti inilah Jihad seorang wanita untuk imamnya di dalam rumah tangga."
"Iya Nabila, maafin aku yah? Belum bisa melupakan Dhea."
Sambil tersenyum gadis itu mengucapkan," Semoga Allah menjaga Kakak di setiap langlah hidup dan Allah mudahkan urusan Kakak."
Onci pun tersenyum,"Jadzakillah Nabila."
"Wa barakallah alikum." Balasnya.
Yah, Nabila justru lebih berat menanggung perasaanya, dan ia berusaha menerima ketentuan yang terjadi, karena ia paham konsekwensi dari ucapannya itu. Ia sadar, bahwa ini lah pilihan hidupnya.
Di tengah perbincanganya, suara orang mengetuk pintu ruangan Onci.
"Assalamu'alikum." Suara Ustadz Burhan.
"Wa'alikum salam, masuk stadz."
"Waah, maaf ane ganggu rupanya ada Nabila."
"Ada apa stadz?"
"Ente dipanggil Abah Yaiy diminta ke ruangannya."
"Oh, iya stadz ane akan temui beliau. Terimakasih."
"Siap, sama-sama."
Onci pun memenuhi panggilan Abah dan entah apa yang mau dibicarakan.
"Assalamu'alikum."
"Wa'likum salam, masuk."
"Ada apa Bah?"
"Aah nggak ada apa-apa, hanya mau tanya aja persiapan pernikahan ente dan progres pembangunan."
"Sudah siap semua kalau masalah pernikahan. Dan kalau untuk pembangunan, Abah bisa lihat sendiri, pemugaran bangunan lama sudah selesai, tinggal gedung baru yang masih enam puluh persen."
"Kalau kekurangan logistik suruh Burhan pesan dan atur semua tukang, jangan sampai terlalu lama barang-barang tidak tersedia, bayar upah tukang secepatnya dan jangan sampai ane denger tukang belum di bayar, ini pembangunan sekolah, durhaka kalau sampai di denger orang banyak tukang tidak sejahterah, paham ente? Dan untuk persiapan pernikahan ente juga, jangan ada yang belum di panjer, pastiikan semuanya sudah ente bayar. Ane sudah bilang ke Burhan kalau undangan di tambah jadi sepuluh ribu, karena banyak alumni dan orang tua wali murid yang mesti diundang, jangan sampai ada yang terlewat."
"Iya Bah."
"Iya Bah, Insyallah."
"Biar semuanya berjalan dengan baik, kalau gedung sudah siap, dan pastinya surat-suratnya juga disiapkan. Dan buat spanduknya sekarang, mohon doa restu untuk pembangunan Madrasah Aliyah, dan pondok pesantren."
"Iya Bah, kalau pemberkasannya sendiri sudah Ozi kirim ke kanwil depag, dan materi spanduk atau publikasi nanti malam biar Ozi buatkan."
"Yaudah, itu aja yang Abah pinta sama ente. Inget, usia Abah sudah tua dan ente yang akan meneruskan ini semua."
"Insyallah Ozi siap Bah."
Mereka pun mengakhiri pembicaraan dan melanjutkan kembali tugasnya masing-masing. Abah begitu menitik beratkan perhatianya untuk tukang dan para tenaga kerja yang terlibat untuk memberikan sesuai haknya dan segera mungkin, jangan sampai keringat meraka sudah mengering baru diberikan upah.
_________________¤¤¤_______________
Selang Onci meninggalakan ruangnya, Nabila bercermin dan menghapus air mata yang membasi pipinya.
Ya Allah, bagaimana pun juga aku wanita yang memiliki perasaan dan hati. Mungkin mudah lisan berkata,'aku baik-baik saja' tetapi hati manusia siapa yang tau. Kuatkan hambamu Ya Rabb, jika ini jalan untuk memperoleh ridho Mu, jika inilah cara ku memperoleh pahala seperti para Mujahiddin dan Mujahiddah yang mengharapkan ke ridho-an Mu.
Mungkin seperti ini perjuangan wanita setelah tak ada lagi peperangan yang menoreh luka dan ajal. Seperti ini jihad wanita dalam rumah tangga yang harus mengikhlaskan sesuatu yang tidak berkenan di hati dan semoga pahala atas kesabaran.
Wahai hati, duhai tubuh ku yang rapuh maafkan ke dzoliman yang aku lakukan pada mu, seharusnya kamu layak untuk bahagia dan tidak melulu harus menangis. Sebentar lagi kamu menjadi wanita yang semoga langkahnya sudah sampai ke syurga dan mendampingi Maryam Binti Imran, Khadijah Binti Khuwailid, Siti Masyitoh yang menjemput Syaidah demi iman, Fatimatuzzahra wanita paling sabar di dunia ini. Berikanlah karunia itu pada diriku, karuniakanlah ketabahan wanita suci dan sabar.
Saat ia sedang menangis, Nabila dikejutkan suara daun pintu yang diketuk.
"Nabila kamu kenapa?" Tanya Onci.
"Ah nggak kok, habis masukin softlens kan memang begini banyak keluar air mata."
"Oh, aku kira kamu nangis."
"Ada apa Kak?"
"Kamu sudah siapkan siapa saja yang harus diundang? Dan sudah tanya Haji Romli, berapa banyak yang akan diundang beliau. Abah meminta penambahan undangan sebanyak sepuluh ribu undangan."
"Iya nanti Nabila tanya ke Babeh."
"Mungkin satu, dua hari kamu siap-siap pemotretan nanti Ale yang atur jadwalnya."
"Iya Kak."
"Jangan panggil aku Kakak, panggil aku-kamu saja."
"Iya siaap Kak..eh, kamu."
"Heeem, nggak segitu juga."
Dan tiba-tiba handphone Onci berdering, Nabila melihat nama di LCD, 'My Lovly Thea'. Namanya saja belum Onci ganti dan ada apa ia menghubungi pria yang sebantar lagi menikah.
"Ah, mungkin membahas pernikahannya. Kan Kak Ozi sudah cerita tadi." Nabila mencoba menghibur diri.
Onci pun menghindar dari Nabila dan entah apa yang mereka bicarakan, Nabila hanya belajar untuk membiasakan diri dengan perilaku Onci.
"Semoga Allah berikan aku stock kesabaran yang tak pernah habis." Ucap Nabila dalam hati.
________⚠️ Perhatian-Perhatian⚠️_____
Hi Readers, terimakasih atas dukungan kalian untuk terus update novel ini, dan apalah arti 10 poin yang anda berikan untuk kami lebih semangat menulis novel-novel kami, karena membaca novel kami GRATIS.
*T**erima kasih juga yang sudah mendonasikan Vote, Like dan Rate nya*.
Terimakasih untuk yang sudah apresiasi Novel kami.