
Ketika yang lain begitu bergembira dengan keputusan dan momen istimewanya. Tidak dengan Onci yang begitu datar dengan keputusan yang diambil kedua belah pihak keluarganya. Dan menjadi babak baru dalam kehidupan Onci yang tak lama lagi akan melepas masa lajangnya, kurang lebih dua bulan kedepan.
Hari-harinya seakan dirampas, senyum yang dahulu mereka kini tak ada lagi. Canda yang dahulu ada seakan hilang begitu saja, seakan semangat itu pun hilang, dan hambar. Mau rasanya ia jujur dengan keadaan, tapi apa boleh buat kini ia hanya bisa menengadahkan tangan dan pasrah dengan naskah hidup yang akan ia terima.
*Illahi, Ya Maulana...
Kini sudah tertulis lembaran kisah hidupku, yang aku yakin semua ini adalah kehendak Mu, tangan-tangan Mu yang menggerakan ini semua.
Aku hanyalah makhluk yang tak berdaya, dan hanya berlindung dari ketidakberdayaan.Aku sadar, hambamu begitu lemah dengan keputusan ini, aku hanya mencari ridho dalam hidup, ridho Engkau ada di dalam ridho kedua orang tuaku. Kini aku hanya berserah diri dengan takdir hidup, ikhlas menerima apa pun keputusan itu.
Kuatkan, tabahkan dan berilah kesejukan dari setiap perubahan nasibku yang ada dalam catatan takdirmu dalam Lahul Mahfudz, takdir hidup manusia tersusun rapih di sana.
Wahai Tuhan,...
yang Maha Mempertimbangkan dan Maha Adil dengan segala ketentuan takdir Nya. Hindarilah hamba dari takdir buruk dalam hidup, hapuslah air mata dan lapangkan hati ini yang untuk ikhlas itu sulit.
Illahi Ya Maulana...
Hapuslah kesedihan dalam hidup ini, dan lapangkan hati untuk tunduk dengan setiap apa pun keputusan yang Engkau berikan.Hamba lemah, hamba buta akan misteri hidup yang hanya Engkaulah semua tercatat rapih dalam setiap lembaran takdir manusia.
Sungguh hamba orang yang merugi, jika tak mampu untuk ikhlas dengan apa yang tertulis dalam naskah hidupku. Lapangkan dada ini untuk dapat menerima segala ketentuan hidup. Air mata ini, bukti aku lemah dan aku tak berdaya. Hanya kepada Engkaulah lelaki yang tak berdaya ini mencurahkan segala keresahan hidup.
Wahai yang takdir baiknya aku menunggu...
Maafkanlah segala kesalahan, khilaf dan kealfaan hamba mu ini.
Ya Illahi...
Aku mohon berikan petunjuk dalam hidup ini atas takdir baik dalam hidup*.
Dalam ratapan malam, yang Onci hanya menemukan kedamaian, ia merasa nyaman dengan semua ini. Dan tak ada lagi tempat untuk nya mengadu hanya kepada Tuhan ia bercerita tentang apa yang ia rasakan.
Selesai ia melaksankan sholat tahajud, Subuh dan Dhuha, Onci pun sarapan bersama dengan abah dan umi.
"Zi, ente mau urus pernikahan sendiri atau biar abah dan umi yang siapkan? Tinggal pesen sama Haji Anwar untuk peralatannya. Maunya abah sih ente yang urus bareng si Nabila."
"Iya Bah, udah biar Ozi aja yang urus. Abah dan umi nggak usah capek. Biar Ozi sama Nabila yang urus. Lagi juga ini kan untuk Ozi Juga."
"Umi yang atur catring dan makanan, biar ibu-ibu pengajian yang bantu." Ucap umi.
"Ente urus dah tuh, siapa-siapa yang abah, umi, ente, keluarganya Nabila mau undang. Abah maunya manggil Kiayi Kondang, dan habaib yang biasa hadir di pengajian rutin."
Kebayang betapa banyaknya tamu undangan yang hadir, dan megahnya acara pernikahan Onci dan Nabila.
"Ente siapin aja makanan untuk sepuluh ribu tamu undangan. Dan anak yatim di malam mangkat atau untuk acara maulid-annya."
"Iya, nanti umi hitung semuanya. Ozi bantu umi catet dan buat panitia biar Ustadz Burhan yang jadi ketua panitia." Umi pun meminta Onci untuk menghubungi Ustadz Burhan yang menentukan panitia kecilnya.
"Iya nanti Ozi hubungi Ustadz Burhan."
Onci pun mulai disibukan untuk mengundang orang-orang yang bisa ia minta untuk menyelenggarakan pernikahan itu, menjalankan apa yang abah inginkan dan jodoh yang abah pilih. Ia pun menghubungi Ale sahatabatnya itu dan beberapa rekan yang biasa terlibat dalam event orginizer-nya.
"Le, loh bisa dateng ke sekolah nanti malam ya? Ada yang mau gw bicarakan dan gw minta tolong panggil anak-anak juga."
"Wew, gile tumben-tumbenan loh manggil gw bos, ada apa nih?"
"Udah nanti malam kita ceritanya."
"Siaaaap bos."
________________πββDHEAπββ______________
Rupanya Dhea pun meng-iyakan apa yang menjadi rencana Kak Jo untuk melamar dan menikahinya setelah selesai tour promo ia berniat untuk menikahinya. Dan niat nya itu sudah disampaikan Via Telephone kepada orang tua Dhea.
Disamping memang Kak Jo sudah cukup usia, ia pun terbilang mapan dengan usaha-usahanya. Dan yang membuat Dhea tertarik adalah bahwa Jonathan itu seiman.
Namun Dhea belum membicarakan hal ini kepada Onci dan bagaimana pun ia harus cerita serta mencari moment yang pas untuk mengungkapan ini semua. Diam-diam Dhea pun masih komunikasi dengan Onci. Walau sekedar 'say hi ' menanyakan kabar dan perhatian, walau tak sesering dahulu. Mereka menyembunyikan tentang rahasia semua.
"Hai, apa kabar kamu? Sehat kan?"
"Alhamdulillah sehat, bagaimana tour promo kamu? Sukses?"
"Iya sudah penampilan ke dua dan rencana mau berangkat ke Singapur."
"Sukses terus karir kamu, jaga kesehatannya."
"Kamu juga jaga kesehatannya, bagaimana dengan renovasi sekolah, lancar?"
"Alhamdulillah lancar, dan ini sudah mau masuk pondasi gedung baru."
"Kereeen, semangat dong! Jangan lesu dan imani apa yang kamu yakini, pasti berhasil."
"Iya, thanks aku banyak belajar dari kamu kok."
Dan tiba-tiba komunikasi mereka terputus.
"Ih kamu ngagetin aja sih, lain kali ketok pintu dulu."
"Oh ada aturannya yah?" Tanya Kak Jo.
Yang semula Dhea memanggilnya Kakak, sekarang sudah berganti, 'aku-kamu' dan Jonathan sendiri dengan leluasa masuk ke kamar Thea, No Control.
"Habis nelepon siapa?"
"Nelepon siapa lagi, kalau bukan mamah, yah temen kampus."
"Makan malam yuk?"
"Ayo, tunggu di luar yaah? Aku ganti baju dulu."
"Yaudah, jangan lama yaah?"
"Paling dua jam, he-he."
"Empat jam aja deh."
"Sebentar kok."
"Aku tunggu yaah?"
Jonathan pun meninggalkan kamar Dhea dan menunggi di ruang tengah. Dhea pun segera menghapus telepon masuk dan memblokir sementara nomor telepon Onci, menghapus chat.
Thea pun bergegas menemui Jonathan, dan mereka pun lanjut makan malam. Sedangkan Onci berkali-kali menghubungi Dhea,namun susah dan sulit.
"Aneh, baru tadi telepon-teleponan, tiba-tiba susah dihubungi."
Onci pun mematikan handphone dan rencana malam ini mau bertemu Ale dan rekan-rekannya di EO dahulu.
Bersambung>>>