Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Tak Perlu Ke Dokter Bedah


"Apa yang kalian lihat pada fisik ini, tak sesempurna yang kalian bayangkan, Allah sedang menyembunyikan aib dan kekuranganku." Nabila sambil bersolek dan memandang cermin.


"Kalaulah kalian memandang fisik semata, seberapa lama fisik ini bertahan seutuhnya, lambat laun akan menua juga, jikalau harta yang memikat di atas cinta, satu malam saja harta bisa Allah ambil seketika. Aku juga bukanlah Khadijah, yang ikhlasnya tanpa penghalang dan memberikan hartanya kepada Muhammad untuk menyempurnakan dakwahnya, aku juga bukanlah Fatimah, yang begitu tabah merasakan manisnya penderitaan hidup, aku juga tak sesuci Maryam, perempuan yang berhasil menjaga kesuciannya, aku bukan pula Masitho yang mejewantah ke langit-langit cintanya kepada Rabb, Nabila hanya perempuan yang jauh dari sempurna. Mungkin sebagian wanita akan menganggap dan mengasihani aku dengan kesabaran yang masih terbilang ada batasnya ini, atau sebagian perempuan menganggap aku terlalu dungu hingga mampu tertipu daya dengan cinta," Sambil tersenyum Nabila masih bercermin dan muhasabah diri, bertafakur dan bertadabur.


"Terlalu meletakan cinta di hati, akan membuat kita akan tersiksa dan terus tersiksa, letakan cinta manusia di bawah cinta kepada Allah, kamu akan merasakan manisnya iman Nabila." Gumam Nabila menguatkan diri.


"Tiada cinta di atas cinta dari pemilik cinta itu sendiri, Dialah Rabb yang selalu dinantikan para perindu hakikatnya cinta." Begitu dalam Nabila menjewantahkan Cinta.


Tidak akan kata-kata itu keluar dari lisan yang begitu dangkal menafsirkan ketauhidan. Hanya mereka yang hatinya sudah meraskan nikmatnya keikhlasan dalam mencinta.


Rasa kantung meradang, Nabila terkulai pulas di atas meja rias. Suara sholawat Nariyah, dan Tahrim membangunkannya untuk menunaikan sholat Subuh. Setelah mengerjakan tugasnya sebagai wanita di dalam rumah, Nabila berganti profesi sebagai perempuan yang diamanahkan mengelola lembaga pendidikan dan pengembangannya.


Hari ini pembahasan akhir, antara pihak pengusaha muslim untuk mendadatangani perjanjian kesepakatan kerjasama. Mas Arul dan tim sudah menunggu di ruang meeting, Nabila masih merapihkan laporan yang mesti ia tanda tangani. Ustadz Burhan terlebih dahulu menyambut kedatangan Mas Arul dan rekan, di sela menunggu kedatangan Nabila. Mas Arul mencari tahu tentang sosok perempuan berlengan besi itu, yah Nabila.


"Ustadz Afwan, kalau Bu Nabila sendiri suaminya juga ikut terlibat di yayasan ini?" Tanya Mas Arul, memulainya dengan kata maaf.


Sambil tersenyum Ustadz Burhan menjawab," Mba Nabila baru saja single Mas."


"Maksudnya? Baru putus cinta?"


"Bukan, baru saja menyelesaikan talak nya di pengadilan."


"Ooh, sudah memiliki anak?"


"Belum Mas, kenapa?"


"Aah nggak kenapa-kenapa, penasaran aja."


Obrolan mereka terputus, Nabila sudah masuk dan bergabung dalam satu meja.


"Assalumu'alikum, maaf ya Mba-Mba, dan Bapak-Bapak, serta Mas-Mas nya, ada yang harus saya selesaikan dulu."


"Wa'alikum salam, nggak apa Bu, kita juga masih sedikit diskusi," jawab Arul.


"Oke, kita mulai aja yah? Semoga hasil hari ini final dari proyek kita untuk rumah sakit, dan sesuai proposal yang sudah saya ajukan sebelumnya, serta mekanisme kerjasamanya. Mungkin kita mulai dengan Bismillah, kita langsungkan saja prosesi penandatangan perjanjian." Ucap Nabila singkat dan padat.


"Sebelum tanda tangan, apakah ada pertanyaan yang perlu dijelaskan?"


"Kami rasa sudah cukup jelas Bu."


Ustadz Burhan mempersiapkan surat perjanjian untuk kedua belah pihak dan dibubuhi tanda tangan masing-masing pihak serta saksi.


"Alhamdulillah, semoga membawa kebaikan untuk semua." Ucap Nabila setelah selesai menandatangani perjanjian kerjasama.


Rampung sudah urusan Nabila untuk hari ini, dan tim dari kontraktor serta dari Pihak Yayasan tinggal mengacu kepada proses teknis dan persiapan pembangunan. Arul mencari celah untuk bisa berdiskusi dengan Nabila.


"Saya denger dari Ustadz Burhan, Mba mengelola Yayasan ini semua, sampai programnya jalan?"


"Ah Ustadz Burhan berlebihan, kalo nggak ada pengurus mana bisa saya kerja sendiri Pak."


"Jangan panggil Bapak, saya masih single Bu."


"Jangan juga panggil saya Ibu, karena belum memiliki anak."


Arul merasa sudah mendapatkan peluang untuk bisa mendekati Nabila, dan mulai masuk ke urusan pribadi.


"Kapan ada waktu untuk bisa membicarakan peluang usaha di Yayasan ini Bu? Eh Maaf Mba maksud saya?"


"Aduh saya kalah kalau urusan meloby dengan Mba Nabila, ada saja bahasa yang digunakan, sampai saya kehabisan kata."


"Apa semua pria seperti ini yah? Jika ingin mendekati wanita? Maaf bukan saya ke-pede-an, tetapi dari arah pembicaraan Mas Arul sudah menjurus ke pribadi bukan?"


"Haha...kirain Mba hanya ketua Yayasan aja, ternyata bisa tahu isi hati orang juga yah?"


"Saya juga awalnya Mas Arul ini hanya pengusaha, ternyata marketing cinta juga yah?"


"Haha...Kalah gombal saya, kursus merangkai kata dimana Mba?"


"Bukannya lelaki yang pinter ngegombal, dan sebatas ghosing selebihnya maen tinggal, kalo apa yang diinginkannya sudah tercapai."


"Kenpa selalu lelaki yang disalahkan? Bukannya nggak sedikit juga lelaki yang kena rayuan manis perempuan Mba? Dan ditinggalkan pas lagi sayang-sayangnya? Apa perempuan menganggap lelaki tidak punya kelopak mata? Dan tidak pernah menangis?! Kita punya kantung air mata dan hati yang sama Mba..."


Untuk kali ini Nabila tak berkutik, dan diam, tidak tahu mesti menjawab apa.


"Bisa dipersingkat dan di pertegaskah? Maksud pembicaraan perempuan dan lelaki dewasa yang mungkin pengalaman nya berbeda?!"


"Saya simpati sama Mba, dan saya mau menikahi Mba."


Merasa mendengar suara letupan erupsi gunung merapi Nabila mendengarnya, tak menyangka ada lelaki yang se-gentle Arul yang berani to the point dan tanpa basa-basi seperti lelaki pada umumnya.


"Apa yang Mas harapkan dari perempuan yang biasa-biasa saja seperti saya?"


"Tutur kata nencerminkan perilaku hati seseorang, itu yang dapat saya pahami. Tak perlu ke ahli bedah untuk tahu hati sesorang."


Dari ucapan Arul, tersimpan sebuah pesan yang amat dalam, dan Nabila sudah trauma dengan basa-basi atau perkenalan seperti ABG lainnya.


Tetapi tidak cukup bagi Nabila untuk menguji keseriusan seorang pria, dan memahami akhlak nya tanpa ia lihat bagaimana lelaki itu berkomitmen kepada Tuhannya, dalam menjaga segala Ibadahnya, itu yang menjadi dasar penilaian Nabila, dan belajar dari pengalaman yang sudah pernah terjadi dalam hidupnya.


"Silahkan Mas hafalkan surat Al Mulk, Ar-Rahman dan As-Sajadah, yang saya pinta itu saja, jika sudah hafal, kita akan bahas hal ini lebih lanjut." Entah kenapa tiba-tiba Nabila meminta Arul untuk menghafalkan ketiga surat dalam Al-Qur'an itu.


"Insyallah akan saya penuhi, dan saya akan temui Mba lagi."


"Insyallah." Tutup Nabila.


Sungguh bukan perkara yang mudah bagi Nabila untuk meninta hal itu kepada seorang lelaki yang baru saja ia kenal, dan apakah Arul dapat menunaikan apa yang menjadi keinginan Nabila?


Bersambung >>>>


______________oOo_____________


Selalu tak pernah bosan, saya meminta dukungan para pembaca yang budiman, telah meluangkan waktunya untuk mengikuti cerita ini, semoga yah, menjadi bacaan yang bermanfaat.


Beribu terimakasih untuk anda yang sudah mendarmakan vote, give, like dan menjadikan novel ini bacaan favorit.


Dan sudah dibaca sebanyak 60.000 orang, sebuah prestasi bagi saya.


Jadzakumullah


Salam Hangat...


@emhaalbana