Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Asal Kau Tahu dan Cukup Tahu


Setelah Ustadz Burhan pergi, mereka pun kembali membahas, persyaratan yang diinginkan Nabila.


"Jadi apa yang Bila inginkan?"


Nabila mencoba mengumpulkan nyalinya kembali. Dan memastikan bahwa lidahnya tak akan keluh.


"Bismillah." Ucapnya dalam hati.


"Kaka ingat, sewaktu meminta Nabila untuk menolak tawaran Abah? Kakak ingetkan bagaimana Kakak meminta Bila untuk tidak mengiyakan rencana orang tua kita? Kakak tidak pernah tau, sejak pertama kita dikenal kan, dan Kakak melempar senyum ke Nabila. Saat itu Bila menaruh harapan agar bisa dekat degan Kak Ozi. Nabila berharap banyak dari pertemuan saat itu, bahkan Allah pun menjawab doa Bila, hingga akhirnya Pak Haji ingin menjodohkan kita. Tetapi sebelum hari itu, Kakak meminta Nabila untuk mengaggalkan apa yang menjadi keinginan orang tua Kakak. Ternyata? Kakak memilih gadis itu sebagai pengganti dari apa yang orang tua Kakak inginkan. Hingga akhirnya harapan Bila pun pupus setelah muncul gadis itu bersama umi, dan dengan bangganya mengenalkan dia kepada Nabila. Bila hanya bisa diam, berusaha menerima kenyataan itu."


"Jadi maunya Bila seperti apa?"


"Nabila hanya mau Kakak mengerti perasaan aku."


Onci menghela nafasnya dalam-dalam, memengang kepalanya sambil mengingat kembali kejadian itu. Dimana disaat Onci meminta Nabila untuk menunda proses lamaran yang Abah pinta.


"Kakak meminta seolah-olah Nabila menolak lamaran orang tua Kakak. Asal Kak Ozi tahu, Nabila pun sama dengan Dhea, i..i...ingin..."


Di balik pintu, Ustadz Burhan mendengar pembicaraan mereka, saat ia ingin menyerahkan kembali laporan pertanggung jawaban acara tabligh akbar kemarin. Namun ia mengurungkan diri untuk masuk ke dalam dan kembali ke mejanya.


"Ingin apa Bila?"


"Yah ingin memiliki Kak Ozi!"


Mendengar ucapan Nabila, Onci mengingat kembali doa yang ia munajatkan di sepertiga malam.


"Ya Allah, apa Nabila jawaban dari doaku?" ucapnya dalam hati.


"Terus? Apa Nabila mau menerima Kak Ozi dengan keadaan yang Nabila sudah lihat dan tau?"


"Nabila bicara seperti ini bukan untuk menuntut Kakak menerima Bila, tetapi biar Kakak tau apa yang Nabila rasakan."


"Aku minta maaf Bila, memang itu salah Kakak."


"Nabila juga perempuan, tau bagaimana rasanya jika Dhea Kakak tinggalkan. Dan Bila tidak ingin merebut kebahagiaan Dhea."


Onci semakin bingung, dan tidak tahu keputusan yang ia harus pilih dan tentukan. Dan rasanya hari ini ia tidak bisa menemani Dhea, dikarenakan tidak ada alasan lagi untuk meninggalkan rapat hari ini.


"Maaf kalau Nabila kurang sopan, aku hanya ingin ungkapkan apa yang selama ini aku pendam. Nabila pamit, karena harus mempersiapkan materi rapat siang ini. Assalamu'alikum Kak."


"Wa'alikum salam."


Nabila pun meninggalkan ruangan dan hilang di balik pintu. Onci tak dapat berkata apa-apa karena memang kesalahan dari dirinya.


___________________¤¤¤___________________


Matahari tepat di kepala, suara adzan Zuhur terdengar, Handphone Onci terus bergetar ia pun tak berani untuk mengangkatnya, karena tahu kalau itu adalah telepon dari Dhea. Dan untuk kesekian kali handphone berdering barulah ia angkat.


"Yank, maaf aku tidak bisa anter kamu. Karena ada rapat penting dan aku tidak bisa tinggalkan." Ucap Onci gugup.


"Seharusnya kamu bilang dan biar aku jalan sendiri yank, kalau sudah begini aku harus kejar waktu. Ayank kan tahu kalau aku ada meeting dengan sponsor dan management artis, untuk breafing dan menjadi penarinya."


Untuk pertama kali semenjak jadian, Onci tidak bisa menemani Dhea. Dan amat ia sesali dengan keadaan yang tak berpihak kepadanya.


"Yaudah aku berangkat."


Dhea pun menutup telepon nya, Onci tahu bagaimana sifat Dhea yang masih rentan hatinya, karena satu kelemahan dari hubungan mereka, yang tak lain iman yang berbeda.


Hari ini menjadi hari yang menjengkelkan baginya. Semenjak pagi, Nabila dengan emosinya mengungkapkan apa yang selama ini ia pendam, ditambah dengan sikap Dhea yang membuatnya harus bersabar.


Dan hari ini juga ia harus mengikuti rapat pembentukan pengurus dan panitia pemugaran gedung baru. Lengkap sudah, hari ini menjadi hari penuh emosi.


"Assalamu'alikum Warahmatullahi Wabarukatuh." Ustadz Burhan membuka rapat.


Hasil rapat kali ini, memutuskan bahwa Onci dipilih sebagai ketua pelaksana, dan Nabila menjadi sekertaris, sesuai dengan rencana Ustadz Burhan. Para pengurus yang ditunjuk diharapkan mulai efektif minggu esok, dan untuk penanggung jawab logistik ditunjuklah Ustadz Burhan. Target pembangunan selesai dalam waktu Enam Bulan, untuk tiga gedung baru.


"Tiga gedung dalam enam bulan, kejar target banget.Nggak kebayang sibuknya, pake ditunjuk sebagai Ketua pelaksana segala." Gerutu Onci.


Onci tahu dan memperkirakan tiga gedung baru, dua lantai dengan target penyelesaian enam bulan benar-benar kerja dalam tekanan kerja, belum lagi harus mengurus administrasi tenaga pengajar.


"Entah apa dibalik ini semua aku pasrah."


Dengan ditambahnya kepercayaan abah, justru menjadi ancaman tersendiri bagi hubungan Dhea dan Onci. Dan akan mengurangi jatah bertemu dengannya.


"Nggak akan ada lagi waktu untuk anter Dhea ngajar, latihan dan lainnya. Ya Allah, entah apa dibalik ini semua." Ucap Onci dalam hati.


Dan yang lebih aneh lagi, mengapa harus dengan Nabila dalam satu struktur pengurus harian. Yang otomatis akan terus komunikasi dan bertemu dengannya.


Satu kebiasaan yang akan hilang dalam hidupnya adalah, bertemu Dhea setiap hari dan kemungkinan seminggu hanya dua kali saja, itu pun kalau tidak dikejar-kejar abah siang-malam.


___________________¤¤¤__________________


Di sebuah cafe dan resto di bilangan Selatan Jakarta, Dhea pun meeting seorang diri untuk satu agenda pembahasan tentang tawaran untuknya menjadi penari tetap untuk artis penyanyi wanita terkenal yang menjadi ciri khas setiap penampilannya sering dikelilingi oleh penari, penampilannya mirip penyanyi luar negeri seperi Beonce dan J.Lo.


Menjadi penari untuk artis itu, menjadi impian bagi para penari nasional. Disamping honornya yang besar, pengalaman serta jam terbang menjadi nilai lebih.


"Untuk pertama mungkin kamu bisa ikut performance di Malaysia dan Singapura, siapkan fisik dan kemungkinan kamu akan di karantina." Ucap seorang pria yang dia adalah EO sekaligus management artis, namanya Jhonatan .


"Iya Ka, aku coba untuk tidak mengecewakan semua." Cara dia memanggil Onci dengan kata Kakak mengingatkan kita saat pertama Dhea bertemu Onci.


"Kamu tanda tanganin kontraknya dahulu, dan nanti kita bahas juga masalah performance dengan sponsor. Oh iya, kamu sudah punya pacar?"


"Kenapa gitu Kak?"


"Sebenarnya kita ada aturan untuk tidak boleh memiliki pasangan, karena akan mengganggu konsentrasi nantinya, tapi kalau sudah terlanjur memiliki, yah, kasih pengertian ke pasangannya tentang tuntutan kerjasama yang kami harapkan."


Dhea pun dilema untuk mengatakan yang sebenarnya, kalau ia sudah memiliki kekasih. Tetapi demi impiannya tersebut, akhirnya Dhea katakan," Kalo untuk pacar belum punya sih Kak, kalau lagi dekat yah ada."


'Yang lagi dekat,' maksudnya? Oncikah? Bukannya Onci kekasih hati yang sudah lama ia jalanin hubungan dengannya? Atau apa ada lelaki lain yang Dhea isitilahkan dengan 'lagi dekat.'


Bersambung >>>