
Hingga sepertiga malam menjelang, moment yang ditunggu pasangan muda itu hilang, disaat bunga berharap disinggahi sang kumbang. Malam di mana puncak 'pengabdian' bagi seorang istri dalam melayani lelaki yang kini menjadi pasangan hidupnya.
Sudahlah, Nabila pun tak banyak berharap tentang malam pertamanya itu. Ia balut sabarnya dengan solat. Namun, ia terkejut saat terbangun dari tidurnya, tak ia temui Onci dalam kamar.
Nabila bergegas mencarinya, dan ia temukan suaminya itu terbaring di ruang tamu dengan membiarkan handphone nya tergeletak. Disaat Nabila ingin merapihkannya, tak sengaja ia melihat beberapa panggilan tak terjawab, tertulis nama Dhea my lovely. Onci tidak mengganti nama tersebut di phone book nya sekalipun statusnya kini sudah berganti menjadi suami bagi Nabila.
Tak bisa dipungkiri, Nabila pun terenyu melihat nama itu masih tersimpan di phone book lelaki yang menjadi penjaganya dunia dan akhirat.
Nabila belajar memahaminya, mencoba bersyukur dengan apa yang sudah ia dapatkan sekarang. Ia pun mengingat kembali kesepakatan sebelum hari pernikahan, bahwa Nabila tidak dipernakankan membuka handphone dan apa pun yang berhubungan dengan barang pribadi Onci. Hingga akhirnya, ia hanya merapihkannya saja dan tidak ingin mencari tahu lebih banyak. Percuma, semakin ia penasaran dan mencari tahu, maka ia akan terus dihantui api cemburu.
Pelan-pelan, ia pun membangunkan suaminya, untuk sholat Tahajud. Mengingat, sudah jam tiga pagi, sebentar lagi adzan Subuh.
"Kak, bangun. Sholat Tahajud yuk?" begitu lembut Nabila membangunkannya.
"Aaaaah apa sih, nggak liat orang lagi ngantuk begini apa? Udaaah kamu aja dulu solat!"
Bukan mendapatkan perlakuan baik, justru Onci membalasnya dengan begitu kesalnya, karena Nabila sudah mengusik tidurnya. Nabila pun tak ingin menganggunya, ia pergi ke dapur dan memasakan air hangat untuk suaminya itu, di ambilnya batang daun sereh, beberapa siung jahe menjadi satu dalam satu wadah air untuk direbus sebagai ramuan untuk suaminya mandi nanti.
Ia pun mencari sisa sayur atau bahan di dalam lemari es untuk menu sarapan pagi mereka, Nabila begitu pelan-pelan mengerjakan itu semua, agar tidak membangunkan sang suami yang masih tertidur pulas.
Sambil menunggu air hangatnya mendidih dan setelah selesai menyiapkan bahan untuk menu sarapan, Nabila pun solat tahajud dahulu. Setelah selesai menunaikan solat, Nabila kembali melanjutkan masak sarapan pagi, sambil menunggu waktu Subuh.
Suara Tahrim pun terdengar, " Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk. Yâ imâmal mujâhidîn yâ Rasûlallâh. Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk. Yâ nâshiral hudâ yâ khayra khalqillâh. Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk.Yâ nâshiral haqqi yâ Rasûlallâh.Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk.
Yâ Man asrâ bikal muhayminu laylan nilta mâ nilta wal-anâmu niyâmu.Wa taqaddamta lish-shalâti fashallâ kulu man fis-samâi wa antal imâmu Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman
Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman wa sai’tan nidâ ‘alaykas salâm.Yâ karîmal akhlâq yâ Rasûlallâh.Shallallâhu ‘alayka wa ‘alâ âlika wa ashhâbika ajma’în."
Nabila sudah bersiap-siap dengan mukenahnya, dan tertengar suara adzan Subuh, ia tetap menunggu sang suami terbangun, seperempat menit berlalu tetapi Onci tak kunjung bangun, ia memberanikan diri untuk membangunkannya.
"Kaaak, bangun...Kaaa, sudah adzan Subuh," begitu hati-hatinya ia membangunkan suaminya.
"Apaaa siih! Udah kamu aja dulu solat nanti bangunin aku jam lima, masih ngantuk taau!"
Nabila terkejut dengan ucapan lelaki yang di dalam ijab dan qabul serta buku nikah bersedia menjadi imam yang baik dan menjaga amanahnya, ternyata tak sesuai ekpektasi yang ia harapkan. Ia menghela nafas panjang dan meninggalkan sang suami untuk kedua kalinya ia bangunkan.
Kini hilanglah dua momen di hari pertama pernikahannya, Nabila tak merasakan malam pertama dan tak ada kesempatan untuk solat Subuh berjama'ah. Sengaja, Nabila membaca Al Qur'an dengan lantang agar terdengar di telinga Onci dan membangunkannya, tapi? Nyatanya Onci tetap tidur dengan nyenyaknya.
Selesai ia menunaikan solat Subuh dan membaca Alqur'an, ia kembali membangunkan suaminya.
"Bismillah, Ya Allah Engkaulah yang maha membolak-balikan hati manusia." Ucapnya dalam hati.
"Kaaaak, bangun sudah jam lima nanti waktu Subuhnya habis."
Onci tak bergeming, justru menarik kembali selimutnya.
"Kaaaak, Subuh...nanti kesiangan."
Nabila menunggunya di Meja makan, berharap selesai suaminya mandi, berpakaian rapih, dan sarapan bersama. Hampir dua puluh menit Nabila menunggu di meja makan, Onci tak kunjung datang, Nabila pun menghampirinya.
"Kok tidur lagi siih Kaaak?!" Nabila menahan kesalnya.
"Sarapan dulu siih!"
"Udah kamu aja yang makan, aku nanti jam delapan sambil berangkat ke yayasan."
Betapa kecewanya Nabila, sudah kehilangan malam pertamanya, tidak ada solat Subuh berjama'ah, air hangat buatnya tak dipakai untuk mandi, ditambah ia harus sarapan sendiri.
Meredam rasa kesalnya, Nabila memilih berbenah rumah dan menyibukan diri agar hilang emosinya.
"Eeh penganten baru, bagaimana malam pertamanya?" ucap Umi mengejutkannya yang lagi asik merapihkan semua peralatan dan rumah yang begitu berantakannya.
"Aah Umi bisa aja," balasnya sambil tersenyum, seolah ia merasakan malam pertama.
"Ozinya kemana?"
"Kak Ozi lagi beres-beres kamar Umi."
"Ya Allah, penganten baru harusnya nggak usah repot-repot. Biar yang lain aja rapihkan rumah, kalian istirahat yang cukup aja. Kasian, kamaren kan capek."
"Aaah, nggak apa-apa Umi. Nabila juga memang biasa kok, beres-beres rumah."
"Oh yaudah, Umi siap-siap dulu ke sekolah yah? Karena bantu Abah disana, kalian istirahat aja dulu."
"Iya Umi, nggak apa. Nanti selepas ini Nabila dan Kak Ozi nyusul Umi ke sekolah."
"Aaaah nggak apa, kalian di rumah aja dulu dan nikmati suasana menjadi pengantin baru, kan nggak akan terulang lagi masa-masa ini, bukan?"
"Iya Umi, kami pasti ke sekolah."
"Yaudah, Umi nggak bisa maksa kalau itu maunya Nabila dan Ozi."
Umi dan Abah akhirnya meninggalkan rumah, untuk merapihkan pekerjaan yayasan yang harus diselesaikan.
Onci pun bergegas bangun, saat ia mendengar suara handphone nya dan ia pun bergegas menjauh dari kamar, mencari tempat yang aman untuk menerima telepon.
Dari balik jendela, Nabila memperhatikan gelagat aneh suaminya itu, yang begitu asiknya percakapan di handphone tanpa Nabila tahu, dengan siapa suaminya itu berbicara dengan senyum dan tawa tipis, hampir satu jam ia perhatikan dan sang suami tak juga menghentikan obrolannya tersebut.
Nabila hanya bisa terdiam dan tertunduk menyimpan air mata.
Bersambung >>>