
Ale mengangkat handphone nya, memastikan ada apa dia menghubunginya.
"Semoga nggak ada kabar buruk." Gumam Ale dan menggeser jemarinya ke tombol hijau di layar handphone.
"Iyaaaa bos Koko, ada apa nih? Numben telepon malem-malem."
"Nggak ada apa-apa Le, cuma mau mastiin aja, bagaimana foto dan video prewedding gw? Terus kapan lo mau ketemu ngebahas acara? Waktunya nanti kepepet loh!"
"Iya Bos Koko, nanti kalo udah selesai di edit saya langsung merapat ketemu bos koko."
"Yaudah lah yah, gw tunggu. Jangan lama-lama, biar cepet-cepet fee lo turun juga. Emang nggak butuh duit? Atau lagi kebanyakan Job?"
"Ah bisa aja bos koko, bukan gitu bos emang lagi ada urusan yang harus diurus dulu."
"Bisa aja lo, yaudah kalo ada apa-apa telepon Dhea aja ya Le."
"Slow Bosku, pasti saya akan merapat kalo semuanya sudah shuttle."
"Oke gw tunggu."
"Sip."
Rupanya Jonathan yang baru saja menghubungi Ale, ia kira ada masalah dengan kawannya satu itu, rupanya hanya menanyakan hasil editan sama minta urus cepat-cepat proses pernikahannya.
"Huuuuft, gw kira ada apa." Ucap Ale selesai komunikasi dengan Jonathan.
"Asli gw nggak enak, kalo sampe dia tahu calon istrinya masih komunikasi dengan si Ozi, apa lagi dia nggak tau kalo Dhea dan Ozi itu masih terikat hubungan, bisa-bisa jadi bubur tuh anak."
Sehabis menerima telepon dari Dhea, Ale sudah menunggu Ozi di ruang tamu, sambil menikmati seruput kopi hangat.
"Lo belom tidur Le?"
"Belom, nungguin elo teleponan sama Dhea aja." Ucap Ale dengan jutek-nya.
"Darimana elo tau gw telepon-teleponan sama Dhea?"
"Tau aja, apa sih yang cowo obrolin di tempat gelap-gelapan begitu dan nyaris menghidari kermaian, apa lagi istrinya sudah tidur."
"Perasaan elo aja bro, gw habis telepon-teleponan sama orang yayasan aja."
"Yakin lo orang yayasan? Coba gw liat panggilan WhatsApp lo?"
"Aduh apa-apan si Bro, kalo pun gw telepon-teleponan sama Dhea nggak ada apa-apa kok, sebatas temen aja."
"Temen tapi mesrah, maksud loh?!"
"Kok loh jadi aneh gini? Apa karena gw numpang di rumah lo jadi elo bawaanya marah-marah mulu liat gw? Santai aja, Nabila udah mendingan, gw cari kos-kosan kok Bro."
"Bukan gitu, gw nggak masalahin lo mau tinggal berapa lama di rumah gw, yang gw nggak mau liat itu kalo elo nantinya ada apa-apa karena berhubungan dengan perempuan yang sebentar lagi jadi istri orang...Gw takut aja loh kebablasan."
"Terlalu jauh mikir lo Bro..."
"Sebelum kejadian aja, gw sebagai temen lo ngingetin."
"Thanks lo udah care sama gw dan Nabila."
"Eh, kapan foto dan vidio orang selesai? Barusan si Jonathan telepon gw."
"Maunya gw sih cepet-cepet, lo tau sendiri baru hari ini gw agak tenangan."
"Iya gw nggak enak aja, orang udah kasih uang muka, tapi belom ada hasilnya."
"Besok gw ke yayasan, ngambil laptop, baru gw kerjain di sini."
"Terserah, yang jelas gw nggak mau aja Jonathan kecewa sama kerjaan kita."
"Iya gw paham, bukan pertama kali gw kerjain kaya gini Bro, lo juga kan tau bagaiamana job-job gw dulu."
"Udahlah itu kan dulu, sekarang yah sekarang, yang jelas gw nggak mau client gw kecewa."
"Iya Bro...."
"Yaudah gw tidur dulu, ngantuk. Gw tunggu kabarnya ya...Info-info ke gw kalo kerjaanya udah selesai."
"Iyeeee...."
Ale menghindari perselisihan dengan Ozi dan ia juga menjaga client yang sudah menitipkan kepercayaan kepadanya, ia tidak mau mengecewakan siapa pun, yang pasti ia jaga hubungan dengan beberapa orang yang sudah memberikan dia kerjaan.
_________ oOo________
"Bah, makan dulu, perut jangan kosong, angin malem bahaya Bah."
"Ane masih kenyang Han, kalo ente laper makan aja."
"Saya sudah makan Bah, cuma kasian aja sama Abah takut masuk angin dan sakit."
"Nggak usah ente kasian sama Ane Han."
"Bah, apa saya harus hubungi Ozi, kasih kabar keadaan Umi?"
"Ngapaaaain ente telepon dia, kalo emang dia memang orang waras, pasti dia telepon Umi-nya lah, sampai detik ini mana ada dia telepon emaknya yang ngelahirin dia."
"Mungkin aja Abah mau dia dateng ke sini, biar ada tanggung jawabnya sama orang tua."
"Nggak perlu Han, dia udah gede, udah kawin malah, masa masih aja kaya anak kecil. Orang tua marahin anak itu karena sayang, dia nya yang nggak tau diuntung disayang orang tua."
"Maafin saya Bah, kalo sampe nyinggung perasaan Abah."
"Nggak apa Han, yang ane pikirin sekarang, Umi belom juga sadarkan diri."
Angin malam menusuk tulang, sejuknya terus merasuk ke rongga hidung sampai ke paru-paru, Abah begitu mengkhawatirkan dengan kondisi Umi, yang terakhir ia lihat hidungnya terpasang alatbantu pernafasan, Venitlator. Tangannya juga sudah dipasang selang infus, membuat Abah semakin khawatir dengan kesahatan Umi yang setiap waktu terus memburuk. Bibir Abah terus basah dengan kalam Ilahi, sesekali waktu ia membaca surat Assajadah, sebagai pembuka tabir ghaib dan penentu nasib seorang anak manusia.
"Bah, dari siang Abah belom makan, saya cari cemilan untuk ganjel perut ya Bah?"
"Nggak usah Han, ane masih kenyang. Ente nggak tau bagaimana perasaan seorang suami yang berpuluh-puluh tahun tinggal dan hidup satu rumah, Aiseh bukan cuma sebagai istri, tapi dia udah kaya sahabat dalam hidup ane. Nanti ente juga ngalamin di posisi ane."
"Iya Bah, saya paham posisi Abah, tapi jangan sampai kesehatan Abah juga keganggu, siapa lagi yang akan merawat yayasan dan ribuan santri, kalo sampe Abah juga sakit."
"Insyallah ane masih kuat."
Selagi asik berbincang dengan Ustadz Burhan, seorang suster datang menemui Abah.
"Maaf, Pak Haji suami dari Ibu Aisah?" Tanya perawat dengan wajah cemas.
"Iya Dee..."
"Bisa Pak Haji temui dokter piket?"
"Ada apa yah?"
"Untuk jelasnya Pak Haji bisa ke ruang UGD sebentar."
"Yaudah ane kesana."
Suasana menjadi sedikit tegang, ketika Abah didatangi seorang perawat terlihat begitu tergesa-gesa, seperti ada hal yang bersifat kondisional.
"Iya dok, ada apa?"
"Bapak suami dari Ibu Aisah?"
"Iye, ane suaminya."
"Begini Pak Haji, kami mau ambil tindakan untuk memopa jantung dari istri pak Haji, karena detak jantungnya kian melemah, dan kadang tidak terdeteksi."
"Ya Allah.....!"
"Tenang Pak Haji, mudah-mudah semua kembali normal. Kami hanya ingin menyampaikan kabar ini ke pihak keluarga. Jika dizinkan kami ingin gunakan defibrillator untuk memompa jantung Ibu Aisah."
"Silahkan dok, jika memang itu yang harus dilakukan, ane ikuti dan percayakan ke dokter."
"Yaudah, kalo nanti perkembangan pasien kami sampaikan kembali ya?"
Abah meninggalkan ruangan UGD, kayuh langkah kakinya semakin melemah, kedua lututnya seakan sudah tidak memberikan kekuatan lagi. Terlebih saat Abah mendengar kondisi perkembangan Umi Aisah, semakin kuat ia mendekatkan diri ke Allah.
"Ada apa Baaaah?" Tanya Ustadz Burhan.
Dan Abah hanya terdiam, bibirnya tak lagi bisa berkata apa-apa.
"Baaah ada apa dengan Umi?"
Bersambung >>>