Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Cemburu ( Nggak Pake ) Buta


Kriiiing..treeeet.....kriiing


Suara jerit bel seakan menjadi angin syurga bagi tenaga akademik dan murid-murid sebagai tanda berakhirnya Kegiatan Belajar-Mengajar ( *** ), terlebih untuk Onci mendengar suara bel menjadi nafas segar baginya, karena ia harus berbagi waktu dengan Dhea, pagi tadi pun Dhea meminta untuk dijemput dan diantar latihan.


Butuh cadangan kantong kesabaran baginya, ia harus berjibaku dengan kemacetan, deru dan bisingnya lalu lintas. Belum sempat makan siang, ia pun harus segera sampai lebih awal di kampus Dhea, dengan harapan bisa menyelipkan waktu istirahatnya karena perjalanannya begitu melelahkan, minimal ia bisa menyantap mie rebus dan segelas kopi.


Dari kejauahan gadis itu sudah terlihat, dan menghampiri Onci yang tengah asik menikmati makanannya. Sekalipun Dhea dibesarkan dari kalangan orang berada tetapi tidak risih untuk makan di pinggir jalan.


"Duuuh laparnya pacaaaar aku." Sapa Dhea


"Bang, mau dong mie rebusnya satu, pake cabe diiris ya? Telornya setengah mateng aja, minumannya jeruk dingin." Pesan Dhea melihat Onci makan begitu menggugah selera.


"Kamu udah lama yank?" Tanyanya


"Baru tiga puluh menitan."


"Itu maah lama namanya."


"Oh lama yah? Daripada terlambat nanti bu bos marah-marah lagi."


"Kamu bisa aja." Sambil mencupit kecil lengan Onci


"Ini Mie nya kakak..." Abang tukang mie rebus itu memberikan pesanan Dhea.


"Terimakasih bang."


Ditengah percakapan dan makan mereka, ada yang mengusik suasana. Tiba-tiba handphone Onci yang tergeletak di meja berbunyi dan tertulis nama Nabila Guru terlihat oleh Dhea, dengan sedikit emosi Onci mengangkat teleponnya.


"Assalamualikum, sibuk nggak Kak?" Suara lembut yang keluar dari speaker handphonenya, Dhea pun mendengar pemicaraan mereka.


"Walaikum salam, ada apa Bil? Sibuk sih dikit."


"Kak, laporan yang tadi aku input ada sedikit masalah, karena barusan mati lampu dan lupa ke simpen."


Kontan membuat Onci bereaksi walau pun tidak marah tetapi membuatnya kesal.


"Kok bisa sih?!"


"Namanya mati lampu kak."


"Heeem...Saya harus ulangi lagi dari awal doong!"


Rupanya perkerjaan Onci terhapus tanpa sengaja oleh Nabila.


"Maaf Kaaak," terdengar nada bicara penyesalan.


"Yaudah deeh besok saya buat lagi."


"Ok deh Kak, sekali lagi maaf yaaa?"


"Iya dimaafin, asal jangan keseringan aja."


"Yaudah yah Kaak, maaf ganggung, terimakasih. Assalamualikum," ia menutup pemicaraan.


"Walaikum salam."


Selang beberapa detik dari Onci menutup telopon. Thea pun bertanya,"siapa sih yank?"


"Oh itu Nabila, guru disekolah Abah. Kerjaan yang aku buat itu dia nggak simpen dan mati lampu. Terpaksa aku harus buat ulang lagi."


"Oh, kirain siapa kamu."


"Emangnya kenapa? Cemburu yaah?!"


"Idiih pedee banget! Aku nanya doang."


"Yakiiin nggak cemburu?Nggak sayang namanya." Canda Onci


"Cemburu siih tapi dikit."


"Berarti sayangnya juga dikit."


"Apa sih kamu bahas-bahas gituan, sekarang aku tanya sudah solat belum?"


"Astaghfirullah! Belum."


"Sama Tuhan aja kamu lalai, apa lagi untuk inget dan jagain aku!" Sindir Dhea.


"Nanti di jalan kalau ada masjid kita mampir sebentar ya? Aku solat dulu."


"Hahaha, pinter nyindirnya yaaah?"


"Kan gurunya kamu."


"Yaudah yuu jalan!" Pinta Onci


Mereka pun meninggalan warung kopi, menuju Studio latihan Dhea. Jarak dari kampus ke studio memakan waktu dua jam. Onci pun memacu kendaraanya dengan cepat.


"Kamuuuu jangan kebanyakan main reeeeem! Inget yaaank, kamu belum halalin aku...hahahah."


"Kalo nggak pake rem atuh kebablasan yaaank. Aku sih bisa aja nggak pake rem, bukan ke KUA malah ke Rumah Sakit." Onci balas sindirian Dhea.


"Tuh di depan sebelum lampu merah ada masjid, kamu solat dulu nanti telat."


Onci pun lansung melipir ke masjid yang Dhea tunjukan, ia pun langsung parkirkan motor, dan seperti biasa Dhea menunggu di pelataran masjid, dengan sabar ia menanti Onci merampungkan ibadah.


"Ya ampun, cepet amaaat paak solatnya? Berdoa nggak sih kamu?" Tanya Dhea yang diluar dugaannya, perkiraan dia solat itu akan memakan waktu dua puluh menit-an. Nyatanya? Hanya lima menit saja.


"Berdoalah."


"Yakin berdoa? Kalu doa secepat itu bagaimana mungkin kamu sisipkan namaku dulam doamu......Hahahaa...sok sweet banget aku." Dhea pandai berkelakar dengan sindiran yang satir, sepintas ucapannya itu ringan tetapi begitu menusuk di hati Onci.


"Kalo untuk nama kamu, aku sisipkan dalam doa di malam-malamku....Hahaha..." Onci balas candaan Dhea.


"Oh romantis sekali bapak satu ini, mendoakan aku disaat semua terlelap dalam mimpi malamnya."


"Namanya juga FCA yaank."


" Apa tuh FCA?"


"FANS CHAIRIL ANWAR."


"Hahaa...Yaudah hati-hati bawa motornya. Kalo kecelakaan aku belum pernah merasakan malam pertama....Hahahaha..."


"Wadidoooow..."


Lelah pun terbias dengan candaan ringan di atas motor, jarak seakan tak berarti, dan macet pun tak dirasa. Tanpa sadar mereka pun sampai di studio dance.


Saat Dhea latihan, Onci menunggu di Cafe sambil mengutak-ngatik laptop dan memperbaiki tugas sekolah yang baru saja diacak-acak Nabila.


Enam puluh menit berlalu Dhea pun menemui Onci di Cafe tempat biasa ia menunggu. Dari kejauhan terdengar suara gadis itu tengah asik bercerita dengan teman dance nya.


"Yaaank, kenalin nih anggota tim aku yang baru," Thea mengenalkan Onci dengan teman barunya, dan Onci mengulurukan tangan.


"Onci."


"Puspa." Gadis dengan postur tubuh mirip Dhea itu memperkenalkan dirinya.


"Sini Pus duduk, sambil nunggu pacar kamu jemput."


"Tanks Kak."


Mereka pun berbincang-bincang panjang lebar. Mulai dari pembahasan ringan, profesi dan soal pasangan masing-masing.


"Oh iya hampir aku lupa yank! Barusan pendeta telepon katanya kamu minggu ini sudah bisa ngajar sekolah minggu, ada gajinya kok." Ucap Dhea mengingatkan kembali kalau Onci diminta pengurus gereja untuk ngajar sekolah minggu, dan calon anak didiknya sudah tahu siapa itu Koko Samuel.


Mendengar ucapan Dhea, membuatnya termenung berpikir.


"Ya Allah, malah barengan sama pengajian mingguan Abah." Ucapnya dalam hati.


"Bisa kan yaank?" Tanya Dhea mengusik lamunan.


"Insyallah bi...bisa kok yank." Jawab Onci gugup.


Entah bagaimana nanti saja, dan apa pun yang terjadi hadapi saja.


"Gw alesan apa yaah sama Abah? Masa iya setiap minggu harus kasih alesan ke Abah." Onci kembali berdiskusi dengan kata hatinya.


Dhea pun memastikan kembali, sebagai penyemangat untuk Onci, "kata pendeta akan diberikan uang pengganti transport.


"Tenang aja yaank digaji mingguan kok, lumayaaan tuk teraktir aku bakso." Ucap Dhea menghibur Onci yang nampan ragu.


"Aku sih ok..ok aja yank."


Dan mereka pun melanjutkan obrolannya dengan pembahasan lain. Agar Onci tidak hanyut dengan pembahasan sekolah minggu yang membuatnya bimbang dan resah.


Bersambung >>>>