Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Dilema


Rampung sudah pekerjaan Onci dan Ale hari ini, masih ada tugas mereka setelah prewedding yakni persiapan pernikahan Dhea dan Jonathan.


"Syukur yah, hari ini selesai...hari yang melelahkan." Ucap Dhea mencuri waktu untuk bisa berbicara dengan Onci.


Ale tengah merapihkan peralatan, dan Jonathan seperti biasa asik diskusi via telepon dengan rekan bisnisnya.


"Kalo aku nikah, apa kamu masih bisa aku ajak diskusi dan keluar berdua?" Bisik Dhea, khawatir obrolan mereka ada yang mendengar.


"Kita jalanin aja yank, kalo memang masih aman, bisa kita lanjutkan, tapi kalo sudah tak aman, terpaksa kita akhiri semua."


"Nggak segampang itu aku bisa lupakan kamu, butuh waktu lama aku bisa melepas kamu." Tegas Dhea.


"Habis mau bagaimana lagi? Hubungan kita semakin jauh, sudah tidak wajar Dhe...!!"


"Tapi kamu udah milik Jonathan, pria seiman yang memang kamu harapkan dulu bukan?"


"Aku tau semua salahku, aku yang tidak bisa menetukan sikap, dan buat kamu kecewa. Tapi semua tidak sepenuhnya salah aku kan Yaaank, aku yang tidak bisa pindah keyakinan, kamu juga lahir di keluarga yang taat memeluk agama."


"Jujur aku kecewa ketika aku tau kalo kamu memilih Jonathan di bandingkan aku yang dari awal menemani karir kamu. Aku berusaha menyembunyikan semua itu dari kamu, sampai aku mau bantu kamu untuk urus semua keperluan pernikahan kamu dan Jonathan. Nggak ada cowok yang mau berada di posisi seperti aku, sudah kecewa tetapi berusaha memaafkan."


"Karena kebesaran hati kamu, aku masih mau mempertahankan hubungan ini Yaaank, sayang sama Jonathan tak sebesar sayangku ke kamu, itu yang harus kamu tau!!!"


"Kamu tau apa akibatnya jika Jo tau dengan hubungan kita?"


"Yah, aku tau,..."


"Bahkan dia bisa mengancam nyawa kita, ingat itu!!"


"Aku rasa nggak sejauh itu, aku tau Jo..." Dhea berusaha menyembunyikan kekhawatirannya.


"Aku yakin, aku akan melakukan hal lebih ekstrim jika tau orang yang aku cinta, bermain di belakang ku."


"Terlalu jauh kamu mikirnya Yank, jalanin aja semua."


"Semoga aja nggak terjadi apa-apa."


"Yah nggak akan terjadi apa-apa..."


Ketika tengah pembicaraan antara Onci dan Dhea, Jonathan menghampiri mereka.


"Kita pulang sekarang Bee?"


"Eh, kamu sudah telepon-teleponannya?"


"Sudah, ada masalah sedikit di kantor...Mas Onci, kita duluan yah?"


"Ok siap Koh, silahkan...Kita masih rapihin alat dulu."


"Ditunggu preview-nya yah?"


"Pasti, selesai ini kami edit dan nanti saya report hasilnya."


Dhea dan Jonathan meninggalkan Onci, Jonathan nampak jalan lebih dahulu menuju mobil.


"Jangan telepon aku, tunggu aku yang hubungi kamu." Bisik Dhea sebelum meninggalkan lokasi.


"Yah..."


Selepas Dhea meninggalkan Onci, Onci mengela nafas panjang, "nggak ngerti sama jalan pikirannya, senekat itu..." Ucap Onci sambil melihat Dhea dari kejauhan dan berlalu pergi.


"Cii ayo cabut, alat udah beres, tinggal pembayarannya aja yang belum beres..."


"Bayar pake uang gw dulu aja Le, gw belom nagih ke Jonathan."


"Okeee..baru bos namanya..."


"Alaaaah bisa aja lo, kalo urusan uang ..."


"Hati gini siapa juga yang nggak butuh cuan bos..."


"Yaudah kirim no rekeningnya, biar gw transfer."


"Ok, sebentar ya...nanti gw WA."


"Sip...gw langsung balik ya?"


"Eits, transfer dulu...."


"Iya...iyaaaa....gw paham..."


"Bisa-bisa gw diteriakin crew paaak, kalo semua diutang."


"Nggak lah, gw bayar cash, nanti baru gw tagih ke Jo."


"Bisa aja lo..."


___________________oOo________________


Nabila kembali berjalan sendiri, dari rumah ke yayasan yang memang tak jauh dari tempat tinggalnya.


Ia berjalan begitu tergesa-gesa, bukan karena ia mengejar waktu, tetapi menghindari banyak orang, yang membuatnya enggan untuk menjawab setiap pertanyaan.


Tak diduga justru ia bertemu Ustadz Burhan yang pertanyaannya lebih tajam dibandingkan warga setempat.


"Assalamu'alikum....Kali ini ente nggak bisa ngelak ane Nabila, kenapa sudah beberapa hari ane liat ente jalan sendiri? Kemana Ustadz Fahrurrozi?"


Nabila terkejut dan menjawab salam,"alikum salam, eh Ustadz Burhan, Kak Ozi lagi nggak enak badan."


"Bener nggak enak badan? Bahaya kalo ente bohong sama ane Nabila."


"I..iya Ustadz..."


"Oke, kalo bener dia kurang enak badan, ane mau bawain dokter ke rumah, atau tabib."


"Kak Ozi nggak ada di rumah, ada urusan dengan Bang Ale."


"Kemana?"


"Katanya ada kerjaan motret,.."


"Nah, kalo jawab jujur kan enak. Inget! Sekali manusia berbohong, maka ia akan berbohong terus, untuk menutupi kebohongannya yang lain."


"Iya Stadz, maaf..."


"Iya ane maafin, dan jangan lupa ente juga istighfar."


"Iya stadz."


"Yaudah, ente nggak mau bareng ane ke yayasan? Kenapa jalan kaki?"


"Makasi Ustadz, ane memang suka jalan kaki kan dari dulu."


"Yasudah kalo memang itu jawaban ente, ane nggak komentar apa-apa, karena ente sudah milik orang, semoga ente menikmati berkahnya menjadi istri. Ane duluan yah? Assalamu'alikum..."


"Wa'alikum Salam."


Nabila paling tidak bisa menghindar dari pertanyaan Ustadz Burhan, karena ia juga orang terdekat Abah, atau Kiayi Syahrullah.


Sesampainya di Yayasan, Umi dan Abah memandang dingin.


"Nabila, kemana Ozi?" Tanya Umi.


Nabila dihadapkan dua pilihan dan dilema dalam menjawab, jika ia berbohong, maka ia Umi dan Abah sudah tidak percaya lagi dengannya, namun jika ia terbuka, sang suami siap memakinya.


"Aku tidak bisa berbohong, dan mungkin saja Umi sudah tahu jawabannya dari Ustadz Burhan."


"Kak Ozi tadi pagi pamit, ia ada kerjaan sedikit dengan Bang Ale, ada pemotretan yang harus dikerjakan dan selesaikan Bah...Mi..."


"Bener-bener itu anak, ane udah nggak abis pikir maunya apa, dinikahin malah tetep aje ngurusin kerjaan yang nggak berfaedah, ente urus deh Seh..." Ketus Abah.


Umi langsung menghubungi Fahrurrozi, namun tidak diangkat.


"Aye sudah telepon nggak diangkat Bah..."


"Yaudah nanti di rumah ente urus si Ozi, daripada ane kalaf, dan usir dia dari rumah."


"Sabar Baaah, bagaimana juga dia kan anak kita, amanah...."


"Amanah si Amanah, dia udah bangkotan bukan dewasa lagi, tau mana tanggung jawabnnya,..bikin kesel orang tua aja...!!"


"Nanti Umi yang nasehatin..."


"Aah percuma orang kaya dia dinasehatin, udah bebusa mulut kita ngurusin itu anak, abis waktu kita, nggak jelas maunya dia apa!"


"Istighfar Bah, nggak enak di depan Nabila."


"Alaaaah Ane nggak peduli, di depan orang juga ane berani damprat, kalo memang orang itu salah. Lagi juga si Nabila udah bukan siapa-siapa lagi, anak kita juga. Entee sih dari dulu manjain itu anak, udah gedenya ngerong-rong begini."


"Ya Maaf Baah, dari kecil kan kita tau memang keras adatnya di Ozi."


"Ente atur deh tuh anak, atau kalo nggak bisa diatur, ane yang ngatur...."


Nabila merasa bersalah, terlalu jujur untuk menjawab pertanyaan Abah dan Umi, ia juga siap menerima resiko dari Ozi, jika memang ia tidak terima dengan apa yang sudah Nabila sampaikan ke kedua orang tuanya.


Bersambung....