
Hanya selisih beberapa menit saja, sejak Onci, Nabila dan Ale meninggalkan Klinik.
Umi masuk ke Ruang Unit Gawat Darurat.
“Bapak-bapak silahkan tunggu di luar yah? Biar kami periksa dahulu, dan salah satu dari
Bapak-Bapak, daftarkan pasien di depan.”
“Iya Mba.” Ucap Ustadz Burhan.
“Abah tunggu sini aja, biar saya yan daftarin Umi.”
“Iya Han.” Sambil mengusap bahu Ustadz Burhan
Abah duduk merenung di ruang tunggu, ia sendiri tak habis pikir dengan apa yang Umi
alami.
“Ya Allah, moga aja nggak terjadi apa-apa sama ente Seeh…”
Begitu gelisahnya Abah memikirkan apa yang terjadi dengan Umi Aisah, mulutnya tak
lepas dari dzikir dan doa.
“Bah,sudah saya daftarkan Umi, ini bukti pendaftaranya.”
“Iya Han, ente pegang aja ya?”
“Iya Bah….”
Pandangan Abah tertuju pada ruangan yang ada di depannya, matanya tak lepas memperhatikan
pintu UGD, berharap ada perawat atau dokter yang keluar dari ruangan itu, dan memberikan kabar perkembangan istrinya.
“Kenapa dengan Umi Aisah Bah?”
“Nggak tau Han, semalem masih ngobrol, makan bareng. Pas tadi pagi ane bangunin kok
nggak bangun-bangun.”
“Semoga Umi baik-baik aja Bah.”
“Iya Han, semoga nggak ada apa-apa sama Iseh.”
Pandangan Abah tak lepas dari pintu ruangan UGD, ia berharap dokter membawa kabar baik
untuknya.
“Keluarga Ibu Aisah…” Suara Perawat memecah lamunan Abah.
“Iya.”
“Bapak keluarganya?”
“Ane suaminya.”
“Oh, silahkan masuk ke ruangan dokter Pak.”
“Iya.”
Abah memandangi Ustad Burhan dengan mata berkaca-kaca.
“Han, ane masuk dulu ya? Ente tunggu aja disini.”
“Iya Bah.”
Abah mengikuti Perawat, ia dihantarkan ke ruangan dokter.
“Silahkan masuk Pak.” Perawat mempersilahkan Abah masuk ke ruangan dokter.
Sang dokter sudah menunggu sambil menulis laporan hasil diagnosis.
“Permisi dok…”
“Iya Pak, silahkan duduk.”
“Bapak suami dari Ibu Aisah?”
“Benar.”
“Ada masalah dengan jantung istri, semoga tidak ada apa-apa dan kami juga menunggu Ibu Aisah sadarkan diri. Yang jelas, kami akan berusaha semaksimal mungkin yah Pak Haji?”
“Iya dok, ane juga sudah pasrahakan semua sama Allah, mana yang terbaik menurut Allah, ane ikhlas.”
“Kita optimis saja Pak Haji, semoga istri cepat siuman. Dan kemungkian istri akan di rawat sampai benar-benar kami bisa tangani.”
“Amin.”
Abah kembali menemui Burhan, dengan langkah lunglai, bibir yang terus berdzikir dan
doa.
“Bagaimana Bah?”
“Kata dokter ada masalah di jantung Aiseh Han.”
“Ya Allah.”
“Ane pasrah apa yang jadi kehendak Allah Haan.”
“Amin.”
“Abah mau ngopi?”
“Nggak usah Han.” Matanya berkaca-kaca.
Ustadz Burhan hanya terdiam dan tidak bisa berkata-kata lagi, dengan keadaan Abah.
“Ente ke rumah Han, siapin baju-baju Umi dan bawa keperluan untuk ane nginep di rumah sakit, kalau sudah ada keputusan dokter lagi, kita minta masukin Umi ke ruangan yang agak enakan, kasian kalo Aiseh di kasih ruangan yang sesek. Atau ente coba cari kamar untuk Umi ya? Ke perawat atau dokter.”
“Iya Bah.”
Ustadz Burhan pergi memenuhi apa perintah Kiyai Syahrullah, atau yang kerap disapa Abah.
“Ya Allah Seeeh, baru kali ini ane bisa nangis.” Ucap Abah yang melamun dan mengingat kembali kenangan bersama Umi Aisah semasa ia sehat.
“Maafin ane kalo banyak salah sama ente.”
Jemari Abah menari di atas tasbih, bibir nya kembali basah mengucap istighfar, sholawat dan doa-doa yang dapat menangkan batinnya.
“Bah, sudah saya sampaikan ke bagian administrasi, nanti setelah ada perkembangan Umi membaik, baru dimasukan ke dalam ruang kelas I.”
“Iya Han, sekarang ente balik ke rumah bawain baju Umi, keperluan solat ane, tikar dan apa aja yang perlu di bawa ya?”
“Siap Bah, saya pamit. Assalamu’alikum.”
“Wa’alikum Salam.”
Abah kembali melanjutkan dzikirnya, dan terus memandang ke ruangan UGD dengan penuh nanar.
_______________ oOo _________________
Sesampainya Ozi dan Nabila di kediaman Ale, Nabila memasukan barang-barang bawaanya.
“Udah Bil, biar gw aja, loh sama Ozi istirahat aja di kamar.”
“Iya Bang….”
Ozi belum mendapatkan kabar keadaan Umi yang tengah di rawat, ia melihat handphone nya, beberapa panggilan tak terjawab dari Umi. Jemarinya ingin sekali menghubungi Umi, tetapi egonya yang mengalahkan kerinduannya.
“Kak, apa kaka nggak mau hubungi Umi?”
“Untuk apa? Untuk apa aku hubungi orang tua yang membiarkan anaknya pergi dari rumah?!”
“Setidaknya Kakak beri tau keberadaan kita sama Umi, biar Umi nggak kepikiran.”
“Kamu yakin Umi mikirin kita?”
“Mana ada sih Kak, seorang ibu yang nggak khawatir dengan anaknya.”
“Kalau memang khawatir, setidaknya cari tahu kemana kita pergi, kan banyak orang yang bisa dimintai tolong Abah dan Umi.”
“Aku khawatir aja, takut Umi kepikiran dan jatuh sakit.”
“Udah yah? Jangan mikirin Abah dan Umi, mereka juga nggak nyariin kita.”
Nabila hanya menghela nafas dalam-dalam, lagi-lagi ia tidak bisa berbuat apa-apa, sebagai istri ia hanya sebatas mengingatkan saja, dan tidak dapat meng-intervensi apa yang menjadi keputusan suaminya.
“Udah kamu istirahat, jangan mikir yang macem-macem.”
Nabila menuruti apa yang menjadi perintah Ozi yang kini ia sebagai suaminya. Ia tidak bisa memaksakan kehendak apa yang menjadi keinginannya bisa di-amini Ozi. Yang a tahu, ta’at kepada suami menjadi bagian dari akhlak dan akidah dalam Islam, sebisa mungkin ia bersabar dengan kerasnya sifat Ozi, karena itu sudah menjadi
sebuah konsekwensi pilihan hidup, tanpa harus meratapi takdir yang kini ia sedang jalani dan hadapi.
Ozi mencari tempat yang sepi, ketika handphone nya berdering dan ia tahu suara nada khusus yang ia sudah setting untuk setiap panggilan masukdari Dhea. Ozi memastikan kalau istrinya sudah tertidur pulas, ia mengintip ke
kamar, saat dilihat Nabila sudah tertidur, barulah ia angkat telepon dari Dhea.
“Iya yank…”
“Bagaimana urusan kamu, sudah selesai?”
“Alhamdulillah sudah.”
“Cukup uang yang aku kasih kan?”
“Cukup yank.”
“Kamu dimana? Apa aman telepon aku? Apa nanti Jo nggak curiga kamu online ?”
“Mana berani aku hubungi kamu kalo semua nggak aman.”
Ale melihat dari balik jendela rumah, ia yakin kalau sahabatnya itu sedang menerima telepon dari Dhea.
“Ci…ci…seharusnya elu ngelayanin istri lu, bukan malah asik dengan si Dhea.” Ucap Ale sambil memperhatikan kelakuan Ozi.
Ale diposisi serba salah, tidak berani menayalahkan semuanya, ia tahu tidak mungkin lelaki mau melayani wanita yang sudah memiliki pasangan, jika tidak dimulai dari wanita itu sendiri. Kasarnya, tak ada kucing yang menolak jika diberikan ikan, taka da asap jika tak tersulut api.
“Semoga aja nggak terjadi apa-apa sama elu berdua. Siapa yang bermain api, bersiap-siaplah untuk terbakar, minimal terpecik baranya.” Ucap Ale yang masih memperhatikan Ozi dari kejauhan.
Selagi memperhatikan tingkah laku sahabatnya itu, tiba-tiba suara handphone Ale berbunyi dan ia lihat di display handphone nya muncul sebuah nama yang ia kenal, dan segera ia angkat teleponnya.
"Tumben nih orang telepon gw, ada apa ya?"
Bersambung >>>