
Dibalik jendela terlihat seorang wanita yang hanya menatap seseorang lelaki dari kejauhan, lelaki tinggi dengan kemeja putih, dengan rambut yang selalu basah. Hidungnya mirip paruh Elang, sedang asiknya berbicara dengan kepala yayasan.
Mata Nabila terus memandang dari kejauhan, menangkap setiap gerak-gerik lelaki yang menurutnya tidak peka dengan perasaan yang ia rasakan.
"Cobalah sesekali kamu masuk ke ruang hati ku, Kakak akan temukan nama kamu di hati." Matanya memandang dan suara hati itu terus berbicara.
"Kalau tahu ujung-ujungnya seperti ini, aku iyakan saja sewaktu lamaran kemarin." Nabila menyesali kembali kejadian waktu itu, disaat keluarga Haji Syahrul memintanya untuk menjadi pendamping lelaki pewaris tunggal keluarga besar Haji Syahrul.
"Memang Ustadz Rozzi keren, cerdas dan cukup berwibawa." Suara itu mengejutkan Nabila yang sedari tadi memandang Onci dari balik ruang administrasi.
"Ya Allah Ustadz Burhan, ngagetin aja. Siapa juga sih yang memperhatikan Ustadz Ozi."
"Sudahlah Bila, jangan bohongi perasaan kamu. Kenapa kamu tidak terima lamaran Pak Haji waktu itu, saat ia meminta Bila untuk jadi calon istri Ustadz Ozi."
"Ustadz Burhan tidak tau, ada cerita sebelum kejadian itu."
"Kejadian apa?"
"Aaah bingung juga kalau aku ceritakan. Dan cukup Nabila saja yang tahu."
"Kalau Nabila nggak keberatan dan percayakan itu sama saya, siap kok jadi teman curhat Bila." Lelaki dengan janggot dan kumis tipis itu menawarkan diri untuk menjadi kawan berbagi cerita.
"Sebelum hari H, Kak Ozi menemui Nabila, dan meminta Bila untuk memberikan alasan kalau Bila belum siap untuk menikah. Dan Bila pun ikuti arahannya. Nabila kira memang Kak Ozi belum siap menikah, nyatanya?"
"Nyatanya? Muncul perempuan yan kemarin ibu haji kenalkan kepada kita bukan? Kalau Bila memang benar suka sama Ustadz Ozi, kenapa Bila tidak coba untuk mencuri perhatiannya."
"Bukannya mencuri itu dosa stadz? Kalau ada cara halal kenapa harus mencuri?"
"Hahaha...Bukan itu maksud saya Bil, tapi lebih kepada memperhatikan Ustadz Ozi dan bantu kerjaannya, sebentar lagi ada pembangunan gedung baru. Nah, cobalah bantu Ustadz Ozi, atau kamu bisa kasih dia isyarat bahwa Bila punya hati yang perlu ia perhatikan."
"Bila masih terlalu polos untuk melakukan hal itu stadz."
"Ah kamu belum mencoba sudah menyerah. Besok kan ada pengajian mingguan, coba saja Nabila juga ikut ta'lim dan pastinya ada Ustadz Ozi. Dan bukannya Nabila juga sering bertemu beliau? Karena kan Bila juga bagian dari staf administrasi. Nanti biar saya akan dorong Bila untuk menjadi sekertaris yayasan dengan begitu akan lebih sering bertemu dengan Ustadz Ozi dan Pak Haji. Ingat Bila! Semua butuh proses."
"Jadzakumullah ustadz, sudah mau membantu. Nabila ikuti prosesnya saja, lagi juga perempuan pilihan Ustadz Ozi lebih cantik dan cerdas keliahatannya."
"Yasudah Nabila cukup diam saja, pelan-pelan saya bantu. Kalau memang Nabila suka sama Ustadz Ozi."
"Nabila itu perempuan Ustadz, masa iya Bila yang langsung bicara ke lelakinya, tabu rasanya wanita mengungkapkan perasaannya lebih dahulu. Iya kan stadz?"
"Iya saya paham, tetapi apa salahnya jika seperti saran saya tadi, untuk diam-diam ambil perhatiannya."
"Tapi...Bila bingung Ustadz. Dan baru kali ini Nabila mengalami seperti ini."
"Yaudah nanti pelan-pelan saya bantu Nabila, agar Ustadz Ozi paham perasaan Nabila."
"Terimakasih Ustadz Burhan sudah mau bantu, mohon jaga rahasia ini ya Stadz?"
"Insyallah ane jaga."
Ustadz Burhan yang juga staf pengajar Bahasa Inggris memergoki Nabila sedang memperhatikan Onci dari kejauhan dan ia pun berhasil membuat Nabila terbuka tentang perasaanya. Ia pun ingin membantu Nabila untuk bisa mendapatkan Onci, yang tak lain adalah Ustadz Ozi atau Farurrozi.
_________________¤¤¤______________
Selepas sholat Dhuha, umi dan abah sudah menunggu Onci untuk sarapan pagi. Karena hari ini acara akan padat, sebelum Dzuhur persiapan pengajian mingguan sudah dilakukan oleh panitia pelaksana.
Pengajian mingguan akan diikuti masyarakat umum, orang tua wali murid, dan dihadiri oleh Habaib serta Kiayi-Kiayai besar.
Kebayangkan? Yang hadir ratusan bahkan ribuan orang memadati masjid nantinya. Bahkan ada jama'ah yang hadir dari luar daerah. Disamping Haji Syahrul merupakan mubaligh atau kiayai yang memiliki pergaulan yang luas, dan abah juga ketua alumnus pondok pesantren serta penceramah yang cukup berpengaruh.
"Ente jangan lupa hadir nanti Zi, dan ajak Dhea untuk ikuti ta'lim. Kewajiban suami nanti itu mendidik istri dengan baik. Kalau sudah menikah, amanah yang awalnya dari orang tua akan beralih kepada suami. Dan bagaimana ente bisa daparkan istri soleha kalau ente sendiri tidak mensolehkan diri. Bagaimana ente bisa mendapatkan istri yang soleha seperti Aisyah, jika ente tidak menteladani Rasulullah."
___________________Catet!________________
"Bagaimana kita bisa mendapatkan istri yang soleha seperti Aisyah, jika kita tidak menteladani Rasulullah."
_________________________________________
"Iya Bah, Ozi paham dan mengerti. Habis sarapan Ozi ke sekolah sebentar dan menjemput Thea."
"Yasudah, jaga aurat dan jarak dengan lain mahram, takut ente nyetrum."
"Iya Bah."
"Abah tidak akan lupa, dan tolong ente atur biar abah bisa bertemu dengan orang tua Dhea. Abah paling nggak suka, kalo urusan agama ente main-mainkan. Tinggal pilih, selesai hubungan ente dengan Dhea atau segerakan sunah rasul, sempurnakan agama ente dan menikah, paham itu!"
Terkejut bukan kepalang dan suapan sarapan Onci terhenti di depan bibirnya, saat abah mulai mengintimidasi dan menekankan sebuah kalimat,"Abah paling nggak suka, kalo urusan agama ente main-mainkan. Tinggal pilih, selesai hubungan ente dengan Dhea atau segerakan sunah rasul, sempurnakan agama ente dan menikah, paham itu!"
Abah tidak suka jika Onci mempermainkan urusan agama dan abah tidak segan-segan meminta Onci untuk tidak berhubungan dengan Dhea, jika abah tidak segera di pertemukan dengan kedua orang tua Dhea. Sekalipun abah dan umi berangkat ke negara Jiran Malaysia pun mereka siap.
"Ya Allah, kenapa urusannya jadi begini runyemnya ya?" ucap Onci dalam lamunan.
"Selesaikan sarapan ente, dan tolong kontrol persiapan acara, lalu jemput Dhea."
"Iya Bah,.."
Selesai ia menyegerahkan sarapan paginya, Onci pun bergegas menuju sekolah, lalu menjemput Dhea.
Ia mengampiri Ustadz Burhan yang sedang mengatur persiapan acara.
"Cang Roni, nanti tim hadroh jangan lupa disiapkan ya?" pinta Ustadz Burhan kepada panitia lainnya.
"Sound system pastiin jangan ada yang noise Yah Mang Endang?"
Aktifitas Ustadz Burhanuddin terhenti saat Onci datang dan mendekatinya.
"Assalamu'alaikum." Sambut Ustadz Burhan mendahului Onci mengucap salam.
"Wa'alikum salam. Apa lagi yang kurang stadz?" setelah menjawab salam, Onci pun mempertanyakan kesiapan acara kepada Ustadz Burhan.
"Sejauh ini sudah ok semua sih Stadz. Ente disuruh Pak Kiayi sambutan, sudah siap?"
"Sambutan? Sambutan apa maksud ustadz?!" Onci terkejut saat diminta Ustadz Burhan untuk sambutan dalam acara.
"Iya sambutan pembuka, yah paling perkembangan akademis yayasan saja."
"Astaghfirullah! Ane baru denger dari Ustadz Burhan aja. Abah tidak bicara apa-apa, padahal sarapan pagi bareng."
"Kemarin malem beliau telepon ane untuk masukan nama ustadz Ozi untuk sambutan."
"Apa lagi maunya abah? Pake acara disuruh sambutan." Ucap Onci dalam hati, yang kesal dengan ulah Abah. Yang justru diam-diam memasukan namanya dalam acara.
"Kalo begini bisa mati berdiri gw!"
Bersambung >>>>
Onci semakin tidak mengerti dengan sikap abah, yang selalu saja membuatnya keram otak, mulai dari ancaman sampai ia tidak mengerti, kenapa dengar kabar dari orang lain kalau hari ini Onci diminta sambutan di acara yang sebegitu besarnya, nyaris tak ada persiapan apa-apa. Terlebih ia harus menjemput Dhea, ngajar sekolah minggu.
Agghhhrrrr!
Hari yang menyebalkan bagi Onci, kita tunggu apa yang terjadi di hari Minggunya Onci*.
Bersambung >>>