Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Rujak Coklat : Nasihat Pernikahan


Setelah menjelaskan dan meminta restu Abi yang tak lain, Haji Romli, hari ini hari kedua agenda pertemuan antara Arul dengan keluarga besar dan pengurus yayasan, serta pembahasan waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan.


"Assalamu'alikum..." Sapa Arul dengan perasaan yang tak menentu.


"Wa'alikum salam." Jawab Haji Romli.


"Abi kenalin ini yang semalem Bila cerita."


"Oh ini yang namanya Arul."


Arul juga menyalami Abah, Abi yang juga sedang menginap di rumah Abah, sahabat baiknya.


"Mungkin kalo Abah sudah kenal Arul kan?"


"Abah kenal banget lah, orang dulu-dulu sering setor uang ke dia...Haha..."


Yah,Abahlah yang awal mengurus keuangan untuk pembayaran pembangunan gedung sekolah kejuruan.


"Ah Abah bisa aja, kan udah lama lunas, masih diungkit."


"Ada apa nih ente kesini?"


"Mau silaturahmi aja Bah."


"Bener mau silaturahmi? Mentang-mentang Nabila yang megang yayasan sekarang, ente ngebanung rumah sakit nggak kasih kabar, minimal dateng ke kerumah, kaya rumah ane jauh aja ente."


"Ini kan ke rumah Bah, sekalian silaturahmi."


"Bukan nagih bayaran kan? Haha."


"Nggak lah Bah, kan sekarang nagihnya ke Ibu Ustadzah Nabila."


"Eh, ane tanya serius, apa maksud ente ke rumah ane?"


"Telanjur di tembak, yaudah saya buka aja deh Bah. Insyallah, ane mau minta restu Abah dan Abi untuk sekirannya saya bisa diterima di keluarga besar Yayasan."


"Maksudnya apa nih? Ane kurang paham sama kalimat basa-basi."


"Niat saya kesini minta restuuu, mau nikahin Nabila Bah."


"Waduh, emangnya ente udah kenal Bila berapa lama?"


"Baru juga Tiga bulanan Bah."


"Laah, baru Tiga bulan udah berani-beraninya minta anak orang."


"Yaaah, itu juga kalo Abah dan Abi kasih restu, kalo nggak ngasih juga nggak apa-apa, saya gulung lagi aja itu dua gedung." Canda Arul yang sudah terlibat di dua proyek yayasan.


"Pake ngancem segala, haha...kawin kan tinggal kawin." Sindir Abah.


"Ini kan anak orang Bah, bukan anak kucing, pake tata kerama mintanya, nggak asal maen kawin aja."


"Eh Rul, kalo ane yang namanya mantan mertua Nabila, nerima, nerima aja. Nah, tinggal anak sama Abi nya, mau ngasih apa nggak, gitu aja rumusnya kan."


"Nah ini kan mau dibicarakan Bah, dan saya mau minta restu dari Abah sama Abi."


"Ji, kalo gw sih liat si Arul, memang anak muda yang lempeng, nggak macem-macem dan yang penting bisa nyari duit. Nggak guna gelar pendidikan elu berjejer, kalo nggak pinter cari duit, ane kalo jadi Nabila, nggak bakalan mau nerima kalo punya calon suami numpang idup sama mertua, sama orang tuanya, jangan kaya yang udah-udah Biiil, masih numpang sama orang tua." Sepertinya Abah menyinggung Ozi, walau pun dia anaknya, Abah sudah kurang suka dengan sifatnya.


"Insyallah, kalo itu kan Abah juga tau, saya ada beberapa usaha."


"Nah ituuu yang buat ente keren, masih muda udah punya usaha." Abah terus menyanjung Arul yang memang Abah juga sudah tahu beberapa usaha milik Arul.


"Tinggal keputusan Abinya deh kalo gitu, ane udah tau ente Ruuul...."


"Abi sendiri bagaimana?"


"Insyallah kalo untuk seperti itu saya paham Bi, nggak akan buat Nabila kecewa."


"Terus keluarga ente dimana?" Tanya Haji Romli.


"Kebetulan yang masih tinggal sama saya, hanya Ibu, kalau Ayah sudah lama meninggal, waktu saya umur Lima tahun."


"Perih juga hidup ente ya? Terus berapa bersaudara?"


"Saya anak satu-satunya Bi, kalau sepupu ada sih, paman, bibi semua di Sumatra."


"Jauh juga."


"Yah namanya anak rantau Bi, mesti nyebrang laut dulu kalau mau ketemu. Selepas Abah dan Abi restuin kita, saya mau izin juga, bawa Nabila ke rumah untuk saya kenalkan ke Ibu."


"Naaah itu yang perlu, bawa Nabila kenal ke sanak famili dan orang tua, mungkin ente juga paham apa yang menjadi kriteria calon pendamping hidup yang Rasulullah ajarkan, itu aja rumusnya." Ucap Haji Romli.


"Iya Bi, Arul tahu apa yang menjadi kriterianya, yang terakhir bagaimana dari segi agama, itu kan yah?"


"Naaaah itu ente sudah paham, kalo Abi sudah tua, tinggal maunya nimang cucu dan liat anak satu-satunya bahagia. Ente harus paham, istri itu pengganti ibu ente, jadi hargai dan hormati istri ente layaknya ente menghormati Ibu, itu aja pesen Abi."


"Insyallah Bi, semoga saya amanah dan mampu bahagiakan Nabila, amin."


"Amin..." Jawab Abah.


"Amin Ya Rabb," Ucap Abi.


"Insyallah, ane terutama merestui ente dan ane terima niat baik Arul untuk meminang putri Abi satu-satunya, kalau ente tidak amanah, bukan lagi urusannya sama Abi, tapi sama Allah dan Rasulnya, maaf sebelumnya omongan Abi sebegini pedes kaya rujak, insyallah nggak kalah manisnya sama coklat."


"Iya Bi, Arul paham dan akan menjaga amanah Abi dan Abah. Boleh Arul pamit bawa Nabila ke Ibu?"


"Silahkan, inget juga ente belum muhrim, ajak orang ketiga untuk jaga anak ane." Pinta Haji Romli.


"Bawa aja si Burhan Bil, untuk nemenin ente." Celah Abah.


"Iya Bah." Jawan Nabila singkat.


Lagi-lagi Ustadz Burhan yang diminta Abah, dan pastinya menjadi catatan tersendiri baginya yang pernah menitipkan perasaan sama Nabila.


"Yaudah ane telepon dia untuk dateng ke sini."


Abah menghubungi Ustadz Burhan, dan memintanya datang ke rumah, lalu temani Nabila untuk menemui Ibu dari Arul. Kalau Abah sudah manggil, tak perlu waktu ĺama akhirnya Ustadz Burhan datang ke rumah dengan Vespa tua miliknya.


"Assalamu'alikum, ada apa Bah?"


"Wa'alaikum salam, ini Han, si Bila kan mau ke rumah calon mertuanya, ente wakilin ane berdua untuk temenin Nabila sama si Arul, ente ikut deh yah?"


"Siaap Bah..."


"Yaudah ente rapih-rapih dulu, jangan kucel juga ketemu calon mertua si Nabila."


"Iya Bah, saya mandi dulu dan salin pakaian."


Ironis, sebuah kenyataan yang harus ditanggung Ustadz Burhan, dia hanya lelaki biasa yang juga memiliki hati yang sama, perasaan yang sama dan kesedihan yang sama dengan lelaki lainnya. Nabila hanya tertunduk, ia ikuti apa yang diinginkan kedua orang tua, yang sudah mewarnai hidupnya.


Semoga Allah memberikan jodoh yang terbaik untuk Ustadz Burhan, amin.


Bersambung>>>


_________ oOo_________


Kira-kira siapa yang nantinya jadi jodoh Ustadz Burhan, ayooo tebak....


Ups, jangan lupa supportnya ya para pembaca yang baik hati, biar Authornya semangat update ceritanya.