Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Asisten Pribadi apa Tukang Ojek, Bos?


Sebagian wanita, menganggap bahwa semua pria itu egois, menyampingkan pasangannya dan me-nomordua-kan dirinya dibandingkan dengan yang lain.


Tetapi wanita tidak pernah tahu, dan begitu mudahnya menilai dan menyimpulkan, dan dengan keterbatasan pandangan dan jarak serta ruang, tidak ada kesempatan untuk pria menjelaskan apa yang terjadi, wanita tidak menyadari itu.


Apa yang terjadi pada Onci, ia memilih untuk meninggalkan teman dan tugas, hanya lantaran memilih untuk melayani apa yang menjadi keinginan Dhea. Ia khawatir dan takut, ada pria lain yang akan mencari celah untuk memberikan perhatian lebih darinya, apa lagi usia hubungan mereka masih bisa terhitung jari.


"Duuh, mulai deh kebiasaan telat." Ucap Dhea dengan wajah bete.


"Ya..elaah yaank...baru telat 5 menit. Tadi aku ada masalah sedikit dengan anak-anak dan mesti dijelaskan saat itu juga. Maaf deeh, janji aku nggak ulangin." Onci mencoba menjelaskan.


"Sekarang telat 5 menit, besok-besok 1 jam...awaas ajaa." Sindir Dhea.


"Iya, nggak akan aku ulangin."


"Kamu kan tahu jadwal aku."


"Iya...maaaf! Udah jangan ngambek gitu yaah, luntur nanti cantiknya."


Yah, itulah wanita yang ia tidak tahu bahwa ada hal yang baru saja orang yang kini di hadapannya selesaikan dan apa yang ia pilih, tak lain dirinya. Tetap saja, masih selalu salah dan sudah aturan mutlak sepertinya, bahwa wanita selalu benar, tak mau disalahkan.


"Terus, kita mau kemana sekarang?" tanya Onci.


"Kemping ke bulan."Jawab Dhea masih juga belum selesai kesalnya.


"Tuhkaaan kamu, ditanya baik-baik. Jawabnya begitu."


"Kita cari makan dulu, abis itu ke rumah Sisil sebenar, ambil tugas kampus. Lalu ke tukang fhoto copy, ada yang perlu dibeli disana, terus kita ke mini market beli cemilan dan minuman seger, habis dari mini market kita ke rumah deh." Jawab Dhea dengan wajah manja seperti anak kecil yang mengingat-ingat sesuatu dengan jumlah yang banyak.


"Siaaap bosku...."


Dan mereka pun melaju, menghilang di celah kendaraan, untuk ke tempat pertama yang mereka tujuh yakni rumah Sisil, kawan Dhea mulai dari bangku Taman Kanak-Kanak sampai perguruan tinggi.


 


______________***_____________


 


Sesampainya di rumah Sisil, disebuah perumahan elite, masuk gerbangnya saja harus menunjukan kartu identitas, bukan hanya itu saja, si pemilik rumah pun dihubungi melalui Wireless Intercom, telepon tanpa kabel untuk jarak beberapa meter atau satu cluster.


Sesampainya di sana, ada hal yang tidak diduga terjadi, dan pasti ujung-ujungnya Onci yang disuruh.


"Yaaaaaa ampun, aku lupa pelastik di dekat teras rumah dan aku harus kasih ke Cicil." Ucap Dhea dengan wajah panik.


"Ayaaank...kamu nggak capek kaaan yaaah??! Balik lagi yuk ke rumah, ada yang ketinggalan." Pinta Dhea begitu manja.


Kontan, Onci tidak bisa mengelak dan memang Thea memiliki wajah yang mirip boneka Barbie, apa lagi dengan rambut kritik ozon yang teruruai. Pria mana yang tidak ingin memilikinya? Di kampus saja sudah ada beberapa mahasiswa yang waiting list menunggu Thea Jomblo, belum lagi yang di akun sosial medianya.


( Yang sabar ya bro...sudah pilihan dirimu...)


Mau tidak mau mereka harus kembali ke rumah dan mengambil kantung plastik yang tertinggal.


Lalu balik lagi ke rumah Sisil, yang jaraknya kurang lebih 40 kilometer, melewati jalan pintas pemukiman penduduk, barulah sampai ke jalan raya, kalau tidak mencari jalan alternatif akan memakan waktu lebih lama, ditambah perut keroncongan.


( "Ci, kalo nggak ada jalan alternatif coba cari jalan lain seperti Rock atau Jazz!," Ucap Pembaca Usil )


"Sil, ini make up elo yang gw pinjem kemarin, sekalian gw liat tugas kampus yaa? Gw Fotocopy dulu dan besok gw anterin di kampus." Ucap Dhea, yang memang paling cuek dengan tugas kampus.


"Slow, gw dah bisa dan tau siapa elo dari TK."


Sindir Sisil yang sabar dan sudah terbilang menjadi sahabat Dhea.


" Oh iya Sil, kenalin cowo gw...Onci..."


Thea memperkenalkan Onci setelah mau pamit pulang, setengah jam lalu kemana aja?


"Terus sama yang si kriwil udahan?" tanya Sisil yang dia maksud si Dandi.


"FINIIIIISH! I don't like such possessive and abusive men."


Artinya, kalau Dhea itu tidak suka dengan pria yang posesif dan kasar.


"Oh, kalo yang ini kasar dan posesif, selesai juga?" tanya gadis yang memiliki mata Panda, sambil mengerlikan mata sebagai isyarat, kalau Onci kasar akan mengalami nasib yang sama dengan Dandi.


Dengan perasaan hati yang tidak karuan, ditambah mendengar nama Dandi, plus perut keroncongan menjadi hari yang paling menyebalkan bagi Onci.


"Kamu nggak akan seperti Dandi kan yaah?!" Canda Dhea.


"............." Onci hanya mengangguk dan senyum.


( Sabar ya Ci, entah mimpi apa loh semalem...)


"Ok ya Sil, gw Capcus dulu...Bye..Bye..See you in college."


"Onci yang sabar yaaah sama Dhea, emang begitu orangnya tapi baik kok...nggak gigit." Canda Sisil.


"Pereees...yaudah gw kapan baliknya?"


"Bye...bye Dheeeyla." Ucap Sisil sambil menutup pintu gerbang.


Kalau sampai Dhea bilang Onci cowok super cuek, salah besar. Justru dia cowok yang cukup sabar untuk beberapa bulan dari tanggal jadian.


Berlahan Onci mulai memahami sifatnya yang manja dan memang terbilang gadis yang humble serta supple. Sifat seperti ini juga menjadi permasalahan yang besar bagi keduanya, dan sering banget memicu perselisihan.


Apa lagi Dhea juga terbilang mahasiswi yang kerap menjadi inceran mahasiswa di kampusnya, bahkan sampai ada yang nekat berucap, "Dheaaa, kalo sudah putus kabarin yaaah..!!" jelas-jelas di samping Thea ada Onci, sering juga Dhea merelai dan membisikan Onci untuk tidak terpancing emosi.


Ada juga yang berucap, "Dheaaa, kaya dispenser yang nggak bisa jauh dari galon."


Bahkan ada yang sampai berkata sadis, "Dhea, kapan sih ke kampus nggak bawa peliharaanya...!"


Benar-benar memancing emosi Onci, dan rasanya ingin dia hajar habis-habisan, kalau sudah menemui keadaan seperti ini, Dhea sering memberikan isyarat dengan cubitan kecil, untuk tidak melayani.


Sejak jadian sampai saat ini, waktu Onci dihabiskan hanya untuk berdua dengannya, apa lagi kalau sudah masuk week day, ia harus mengantarkan Dhea ke kampus.


Sering banget mamahnya menyuruh Dhea untuk memakai mobil miliknya, tetapi Dhea punya alasan sendiri, disamping ia tidak bisa sehari saja tidak bertemu Onci, ditambah lagi kalau mengendarai mobil, memakan waktu yang cukup lama.


Waktu libur Onci hanya hari Minggu, itu pun kalau Dhea tidak ada jadwal ngajar, latihan atau performance dance.


Jadi bingung dengan status Onci, sebenarnya kekasih, asisten atau tukang ojek Dhea?!