Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Luka Tak Nampak Memar, Tapi Membekas Di Hati


Selepas menyelesaikan tugas sekolah, sambil berdiskusi ringan tentang progres pembangunan dengan Ustadz Burhan.


"Ustadz, ada perkembangan baik apa untuk pembangunan?"


"Pembugaran gedung lama sudah hampir delapan puluh lima persen dan untuk gedung baru sendiri baru empat puluh persen, tapi kekejar sih setelah ente nikah nanti."


"Ah ustadz bisa aja, mana ada hubungannya nikah sama gedung sekolah."


"Ada hubungannya, karena kan yang dipikirkan Abah Yai ente dan sekolah." Abah Yai, panggilan untuk Kiayai Syahrullah yang tak lain orang tua Onci.


"Ah itu akal-akalan ente saja stadz."


"Bagaimana persiapan calon manten? Lahir batinkah? Atau hanya batin saja dan lahirnya belum siap?!"


"Kok pertanyaanya ada begitunya yah?"


"Kan memang harus dijawab."


"Insyallah lahir dan batin."


"Yah, semoga lancar dan umur pernikahan panjang."


"Amin Stadz."


"Nah, ustadz sendiri kapan nikah?Ha-ha." Sindir Onci.


"Nunggu bidadari dari langit, sebentar lagi Allah kasih untuk ane. Ente dulu lah yang sudah ready segalnya."


"Paling bisa ngelesnya."


"Ane hanya titip pesan ke ente, Nabila itu benar-benar cinta ke ente dan dijaga dengan baik."


"Iyalah, namanya amanah yah harus dijaga."


Selagi asik diskusi, Ale muncul dari belakang Onci. Ia tahu kalau Onci ada di depan ruang guru setelah bertanya dengan salah satu pengajar.


"Assalamu'alikum ustadz-ustadz." Ucap Ale.


"Wa'alaikum salam. Nah, kebetulan sekalian aja kita bicarakan persiapan nikah juragan. Mumpung ada Ustadz Burhan dan Ustadz Onci."


"Bagaimana...bagaimana?" Tanya Ustadz Burhan.


"Mungkin tiga hari sebelum malam mangkat, alat-alat sudah masuk yah Stadz? Dan minta tolong sama Ustadz Burhan apa aja yang diperlukan bisa di listing, biar maksimal hasilnya karena ini acara penting bos kita."


"Iya nanti ane buatin lis nya yah?!"


"Naaah cakep, nanti WhatsApp saya aja ya stadz, jangan lagi ke calon manten ane chatnya."


Ale pun menyimpan nomor Ustadz Burhan untuk kordinasi persiapan pernikahan Onci dan Nabila.


"Di save nomor ane stadz."


"Ok."


"Ustadz Onci, sekarang giliran gw minta tolong sama loh bro, temenin gw meeting, sam orang yang minta gw urus pernikahannya. Nah, kan elo jago persentasi konsep tuh, bantuin gw ngomong ya?"


"Heeem...pantes ke sini, ada maunya."


"Tolong menolong dalam kebaikan itu pahala ya stadz?"


"Iya aja ane mah." Jawab Ustadz Burhan.


"Eeh ngomong-ngomong ane pamit dulu ya?Biasa banyak yang diurus." Ucap Ustadz Burhan.


"Oh yaudah stadz, nanti kita buat group aja yah?"


"Ok, ane tunggu..Assalamu'alikum."


"Wa'alikum salam." Jawab mereka kompak.


"Elu dadakan banget sih!"


"Yaaah maklum, orangnya juga baru kemarin sampe ke Jakarta."


"Yaudah gw beres-beres dulu, tunggu gw di masjid."


"Ok, bosqyu."


Dua puluh menit berlalu, dan akhirnya Onci keluar dari Masjid setelah menunaikan solat Ashar.


"Yuk cabut!" Ajak Onci.


"Kapan nanemnya udah maen cabut aja."


Onci tidak pernah tahu siapa yang ia ingin temui, bagaimana pun juga Ale itu sahabatnya selain ia dibutuhkan untuk membantu mempersiapkan pernikahan Onci.


Tak lama sampailah ia disebuah kawasan perumahan elite. Rumahnya menjuoang tinggi, tamanya begitu luas dan berjajar kendaraan mewah.


"Banyak orang ya Le?"


"Makanya gw ngajak elu bos, ini orang tajir melintir, pengusaha entertaimen sama seperti bos gw dulu, tapi sekarang milih jadi ustadz." Sindir Ale.


"Nyindir gw kan loh?!"


"Oh ente kesindir stadz?"


"Au ah."


Setelah memarkirkan mobil, dan mereka pun masuk ke dalam rumah mewah tersebut.


"Loh gw tunggu-tunggu, masuk...masuk Le..." Sambut tuan rumah.


"Ke ruangan gw aja di sebelah."


Onci dan Ale mengikuti arahan si pemilik rumah untuk meeting di ruangannya.


"Loh bawa katalognya?"


"Bawa lah, masa iya persentase yang bawa gambar. Sampai gw bawa ahlinya, kenalin temen gw bos."


Jonathan mengulurkan tangan dan Onci menyambutnya.


"Jonathan."


"Onci."


"Nah, gw bawa dia untuk persentasekan konsep praweding dan wedingnya."


"Rencanya mau seperti apa Koh?Modern kah? Tradisional banget apa urban?" tanya Onci.


"Oh kalo untuk konsep preweding dan rencana pernikahanannya, biar bokin gw aja yang bicara yaaah? Kebetulan dia ada disini,mau seperti apanya biar dia yang tentukan, sebantar..."


Jonathan pun memanggil calon istrinya, tak lama gadis itu datang bersama Jonathan.


"Kenalin ini calon istri gw."


"Loh Thea?!" Ale terkejut kalau calon istrinya Jonathan itu Dhea. Dan Onci pun tertunduk saat melihat gadis yang selama ia harapkan cintanya itu dengan mudah hatinya berpaling, dan alasan keimanan.


"Ya Allah, Thea?!" ucap miris Onci dalam hati.


"Kalian sudah kenal?"


"Oh kenal dan sering ketemu di acara dance." Ucap Ale, pandangannya melihat ke arah Onci dan semua diluar dugaan mereka, Ale pun tahu betapa hancurnya perasaan Onci, karena ia tahu sampai sahabatnya itu melepaskan usaha hanya demi orang yang ia cintai, gadis yang ia harapkan menjadi pasangan hidupnya kelak, gadis yang separuh waktunya sudah ia habiskan bersama kini menentukan pilihannya.


"Oh baguslah kalau sudah kenal, jadi nyaman ngerjakan semuanya."


Thea pun tertunduk dan gugup untuk membicarakan konsep pernikahan yang ia inginkan. Seolah ia berkata,"Orang yang ada di hadapanku itu lebih paham tentang konsep yang aku inginkan."


"Yaank, kok bengong?! Mas Onci tadi semangat ngejelaskan semua. Kenapa tiba-tiba sepi begini?"


"Eeemm...lagi mi...mikir konsep yang pas saja. Bagaimana kalau konsep wedingnya neterland ala Belanda. Nanti saya akan hias kamar penganten dengan pohon tulip, dan saya bentuk pola hati. Disisi tempat tidur penganten kami akan pasang sangkar dan sepasang merpati putih, undang untuk tamu kami akan konsep ekslusif dengan pita dan warna merah marun. Nah, konsep prewedingnya, kita ambil natural romance dengan ala-ala pedesaan, dan konsep metamorfosis saat mulai dari pria yang berharap ingin mendapatkan gadis pujaan hatinya, sampai sang gadis dengan konsep bayangan foto menghampiri sang lelaki calon pendampingnya. Nanti kita mainkan di sebuah kolam ikan, si lelaki memberikan ikan besar untuk wanitanya, bagaimana?"


"Waah itu keren kok Mas." Tiba-tiba Dhea menyahut.


"Kamu mau seperti itu?"


"Iya, bagus konsepnya. Seperti apa yang aku ceritakan ke kamu kan yaank?"


"Yaudah buat seperti itu saja ya bro? Elo tinggal buatkan harga penawarannya. Oh iya, rencana tamu yang mau kita undang itu lima ribu orang."


"Oh siaaap bosku." Jawab Ale.


"Kalau mau keluarkan sedikit budget, kita akan buatkan versi movie nya."


"Waaah, boleh-boleh. Film pendek maksudnya kan?"


"Iya Film pendek, awal Koko ketemu dengan Cici Dhea."


Mereka menyepakati konsep prewedding yang Jonathan inginkan. Yaaah, sama seperti apa yang Dhea ucapkan saat Onci pun merencanakan hal yang sama. Tapi semua tinggal mimpi dan apa yang dahulu direncanakan kini hanya isapan jempol semata.


Bagaimana perasaan Onci mengerjakan konsep pernikahan gadis yang dahulu namanya bertahta di hatinya? Gadis yang selama ini ia curhakan cintanya? Dan entah seperti apa perasaan Dhea, kalau apa yang ia inginkan dan rencanakan dengan Onci harus berpindah ke orang yang sebentar lagi menjadi suaminya.


Oke readers, ikuti terus kisahnya yah? Jangan lupa Vote kalian, demi berlangsungnya kehidupan penulis, dan tinggalkan komentar, jadikan novel ini bacaan favorit kamu. Dengan menekan ❤. Terimakasih....