Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Prasasti Abadi Untuk Sebuah Nama


Lengkingan suara sirene ambulance memecah persiapan launching rumah sakit Assyifa, beberapa panita terlihat panik dengan kehadiran mobil yang menjadi hal sakral di tempat itu nantinya, aaah, mungkin bagian dari ceremony saja, atau management hanya ingin memberi kejutan bagi karyawan kalau bentuk kendaraan pengantar jasad milik Assyifa berbeda dengan rumah sakit biasa, makanya sebagian karyawan dan management menganggap biasa, tapi sebagian lagi bertanya-tanya, siapa yang ada di dalam kendaraan yang orang kalau sudah masuk ke dalamnya, diantara dua alam, dunia atau akhirat.


Mobil terparkir di depan ruang Instalasi Gawat Darurat, kontan sebagian tenanga medis menghampiri, ternyata itu bukan dari rangkaian acara nanti, justru orang yang terbaring di dalam mobil tersebut merupakan pasien pertama Assyifa, sekaligus hari pertama tim dokter dan perawat bekerja.


Alangkah terkejutnya, mereka yang tahu kalau pasien pertama rumah sakit itu adalah KH. Syahrul atau dikenal Abah Yai, seorang yang bersahaja dan dermawan, untuk itu mereka dengan ikhlas membawa Abah ke ruang medis, bahkan Abah menjadi rebutan para petugas medis, karena ingin mendapat keberkahan dalam hidup, dan ada juga yang memang pernah merasakan kebaikan yang Abah berikan, bahkan ada yang merupakan alumni Yayasan Abah dan menimba ilmu disana.


"Kenapa dengan Kiayi?" Tanya Ilham yang pernah menjadi murid Abah dan kini bekerja sebagai rekam medis di Rumah Sakit tersebut.


"Belum tau sakit apa." Jawab rekannya, Miftah.


"Miif...Miiif, ini Abah?" Tanya Ikram sebagai petugas keamanan Rumah Sakit.


"Iya Abaaah..."


"Ya Allah, kenapa?"


"Nanti Yah, setelah didiagnosa baru tahu hasilnya."


Terus dan terus Miftah perawat yang membawa Abah diburu pertanyaan yang hampir sama.


Nabila mengiringi jasad Abah, begitu juga dengan Burhan dan Ozi, yang tanpa disengaja, Nabila berada di sisi Ozi, kontan membuat mereka gugup. Burhan hanya menatap sinis, dan kembali konsen urus Abah.


Sampailah Abah di ruang perawatan intensif, beberapa petugas medis mulai sibuk menyiapkan alat-alat, yang memang baru hari ini dibuka dari kemasan. Dokter Maura, salah satu dokter perempuan yang masih belia standby khusus menangani Abah.


Ozi terperangah melihat sosok Dokter yang menangani Abah tersebut. "Subhanallah cantiknya." Ucap Ozi dalam hati yang bertatapan di pintu masuk ruang intensif.


"Heeem, nggak bisa ente liat yang bening sedikit." Gerutu Ustadz Burhan.


"Iya Stadz, maaf..."


Mereka harap-harap cemas menanti jawaban dari tim medis, termasuk Nabila yang berada di dalam ruangan. Ustadz Burhan diposisi dilema, satu sisi ia harus mempersiapkan acara launching rumah sakit, disatu sisi ia panik dengan kondisi lelaki yang sudah membesarkannya, bahkan kesehari-harian Abah bersamanya.


"Ya Allah, semua akan baik-baik aja." Doa Ustadz Burhan.


Di Hall Center Rumah Sakit, sudah mulai berdatangan para tamu undangan, mengingat hari ini, hari yang bersejarah dalam catatan Yayasan, yang awalnya hanya konsen dengan pendidikan saja, tapi semenjak Nabila memangku jabatan, pengembangan kini sudah ke central medis, atau divisi pengembangan usaha.


Di ruang intensif, Nabila nampak cemas saat Infuse Sett mulai menempel di lengan Abah, Oxigen Regulator sudah masuk ke hidung, tak lupa elektrokardiogram, alat rekam jantung pun sudah berada di samping Abah.


Nabila mengambil Air Wudhu, ia tegakan sholat dua rakaat, lalu ia membaca surat Assajadah, yang diyakini merupakan surat yang memberikan wasilah penentuan Qadha dan Qadr nya Allah, lalu ditutup dengan doa.


___________________________________


*Noted :


Ketika kita dihadapkan dalam sebuah perkara sulit dan diantara perkara takdir buruk dan baik, maka surat* Assajadah *menjadi wasilah atau sebab Allah menentukan takdir baik untuk kita. So, jika kalian dihadapkan perkara tersebut, amalkan surat ini waktu yang paling baik adalah di sepertiga malam atau mendekati waktu Subuh.


Selamat mencoba, semoga berkah*....


________________________________


Petugas medis masih berusaha, menangani Abah dengan hati-hati, dipimpin Maura mereka secara bergantian mengawasi perkembangan medis Abah. Namun, Nabila tidak bisa terus mengawasi keadaan Abah, dua panitia sudah menunggunya untuk membuka acara launching Rumah Sakit Assyifa.


"Dok, tolong beri tahu saya, perkembangan Abah yah? Baik dan buruknya."


"Insyallah saya akan beritahu ibu." Jawab Dokter cantik yang memiliki rekam akademik lulusan terbaik fakultas kedokteran ternama.


Nabila beranjak dari ruangan dan menuju gedung pertemuan untuk segera bergabung membuka dan meresmikan Rumah Sakit.


Ozi dan Ustadz Burhan bergantian menjaga Abah, tetapi mereka tidak diperkenankan masuk, hanya sebatas di depan ruangan.


"Baaaaah, maafin Ozi, maafin segala salah Ozi, Ozi yang membuat ini semua terjadi." Dalam hati yang penuh penyesalan.


Begitu juga dengan Ustadz Burhan, yang cemas dan beliau juga yang belasan tahun selalu ikut kemana pun Abah ceramah dan kajian. Kini orang yang ia hormati dan teladani terbaring tak berdaya.


"Ya Rabb, semoga ada takdir baik untuk kami atas orang tua kami." Pinta Burhan dalam hati.


Walau tubuh Nabila di dalam ruangan, tetapi tidak dengan hati dan pikirannya, ia nampak cemas, Arul yang berada di sisinya paham betul apa yang dirasakan sang istri.


"Serahkan semua kepada Allah." Jemarinya menyentuh pundak kiri Nabila.


"Iya Bi..."


Nabila meminta kepada pembawa acara, sebelum acara dimulai, tamu dan peserta yang hadir sejenak membacakan doa, untuk kesembuhan ayahanda, guru, dan orang tua bagi para anak didik, santri dan santriwati.


"Para tamu undangan, kami meminta meluangkan waktu sejenak, untuk sama-sama mendoakan KH. Syahrul agar dapat melewati masa-masa kritisnya, untuk itu kami meminta para tamu undangan berdiri sejenak."


Atas arahan pembawa acara, peserta dan tamu yang hadir berdiri serentak.


"Berdoa dimulai...." Ucap Pembawa Acara.


Begitu khidmat seiisi ruangan, dan mengantarkan doa untuk kebaikan Abah. Selang beberapa menit, setelah membacakan doa, acara berlangsung kembali, dan sambutan pertama datang dari komisaris rumah sakit, lalu sambutan kedua waktunya Nabila memberikan pindato sekaligus menggunting pita, untuk peresmian rumah sakit.


".....Kami ucapkan terimakasih untuk para tamu yang hadir, atas nama pribadi dan management, namun ada satu hal yang saya ingin sampaikan dan ini bersifat spontanitas saya selaku atau mewakili management, bahwa rumah sakit yang semula kami beri nama Assyifa, maka pada hari ini resmi kami ganti menjadi R.S KH. SYAHRUL sebagai bentuk penghormatan kami kepada beliau yang sudah meletakan pondasi awal berdirinya yayasan hingga berkembang dan memiliki rumah sakit ini." Ucap Nabila yang tanpa diskusi dengan management merubah nama tersebut, Arul pun setuju dan semua jajaran komisaris dan direksi pun sepakat, hingga memberikan sambutan tepuk tangan.


Saat Nabila masih berdiri di atas podium, ia mendapat kabar tentang perkembangan kesehatan Abah.


Apakah ada kabar baik atau buruk yang Nabila dan direksi terima atas perkembangan kesehatan lelaki yang kini terbaring tak berdaya?


__________ Bersambung ___________


Terimakasih untuk para pembaca atas : Like, komentar dan Votenya, serta menjadikan novel ini bacaan favorit kalian. Semoga Allah membalas kebaikan anda semua, dan saya sebagai penulis terus semangat untuk Update episode-episode dalam novel ini.