
Seperti melihat sesuatu yang baru, mengusik pandangan Ozi, menstimulus semua syaraf dan aliran darah terasa begitu deras mengalir, ketika ia mengantikan pakaian wanita yang ia nikahi, wanita yang memiliki paras menawan, hidung mancung, susunan gigi yang rata dan putih, bibir tipis, serta kulit putihnya. Apa daya, waktu dan tempat tak memungkinkan.
Ozi kembali menemui Ale yang masih menemaninya di luar. Ale kecewa dengan sikap Ozi yang mempermainkan Nabila, dan berhubungan dengan Dhea, walau ia mantan kekasihnya dulu, inginnya Ale, mantan biarlah menjadi masa lalu, dan profesional dalam bekerja. Ale merasa menyesal mempertemukan Ozi dan Dhea, walau tak sengaja, rasa sesal itu ada.
"Ci,...gw balik dulu ya,salinan. Habis meeting gw balik lagi ke sini."
"Oh yaudah..."
Hanya kata,'Yaudah' yang bisa Ozi katakan. Ale khwatir dengan keselamaran Ozi, dan akan menimbulkan masalah baru, jika Jonathan tahu hubungan antara Dhea dan Ozi. Ale merasa diposisi yang serba salah.
"Kalau sampe Jo tau, bisa runyem urusannya. Tapi kalo gw diemin terus, kasian juga Nabila, ujung-ujungnya gw juga nantinya yang repot." Ucap Ale yang masih memikirkan bibit masalah baru.
"Gw harus cari cara untuk selesaikan semua."
Niat Ale melibatkan Ozi dalam proses prewedding dan wedding Jonathan, selain karena hubungan pertemanan dengan Ozi, ia tahu kemampuan sahabatnya itu, hanya saja yang ia sesali ternyata calon istri Jonathan itu mantannya Ozi.
"Gw mesti cari rekanan lain untuk gw libatkan untuk ngurusin nikahan Dhea dan Jo, nggak akan gw libatkan si Onci. Kalo tau begini akhirnya..." Gumam Ale sepanjang jalan menuju rumah.
Selepas mandi, beres-beres rumah, Ale menghubungi beberapa vendor wedding orginizer. Dan Ale masih mencari rencana lain untuk memisahkan Dhea dan Ozi.
"Sebisa mungkin, gw pisahin si Dhea sama Ozi. Sekolah doang tinggi, otaknya nggak dipake tuh orang. Ceweknya juga bego, udah tau si Ozi punya istri masih aja di deketin, ini cintanya yang buta, apa mata hatinya yang pada buta." Sambil termenung Ale terus berpikir mencari jalan keluar.
"Semoga ada cara lain misahin mereka berdua." Ale menghela nafas panjang dan meninggalkan rumah. Menemui beberpa client dan vendor.
____________oOo_____________
Umi bolak-balik ke kamar Nabila dan Ozi, sesekali ia terlihat duduk di tempat tidur mereka, dan melamun.
"Pulang Ji...tega banget ninggalin Umi sendiri." Ucap Umi sambil memperhatikan foto Ozi dan Nabila.
Umi berusaha melawan kesedihannya, tapi apa daya, Umi hanya seorang wanita yang senjatanya hanya air mata.
"Memang Umi yang salah, terlalu keras, dan nggak paham apa yang Oji mau. Oji kan tau, umi juga diposisi yang sulit, memahami dua orang, Oji sama Abah. Maafin Umi ya Ji...." Ucap Umi masih memandang foto Ozi dan Nabila.
Di Yayasan pegawai dan beberapa Murid juga mempertanyakan keberadaan Ozi dan Nabil kepada Ustadz Burhan, karena untuk tanya langsung ke Abah dan Umi tidak enak.
"Staaadz, si Nabila sama Oji kemana? Nggak nongol-nongol?" Tanya Ustadz Ibrahim guru msta pelajaran bahasa Inggris.
"Beberapa hari lalu siih bilang ke ane mau keluar kota. Ini udah beberapa hari keluar nggak masuk-masuk, cara ane mah, kalo udah keluar jangan lupa masuk."
"Heeedaaah...orang nanya serius malah diajak bercanda. Orang bercanda diajak serius, jangan serius sambil bercanda apa stadz."
"Laaah...lagian Ustadz nanya ane, dikata ane emak sama babanya si Oji apa..."
"Bukan gitu Haaan, ente kan orang deket Abah, masa iya nggak tau..."
"Taaadz, masa ane bohong sama ente, nggak selamanya deket mesti tau segalanya juga kali."
"Hmmm...iya juga sih...Yaudah ane pamit masuk kelas dulu."
"Nah itu baru tepat, mendingan didik anak murid biar pada bener-bener tuh sekolah, kasian emak..babanya cari uang nyekolahin."
"Au aah..."
Tak lama Ustadz Ibrahim pergi, ada lagi yang datang dan mempertangakan Nabila ke Ustadz Burhan.
"Tadz,...ustadz tau dimana Nabila?" Tanya Fatma bagian koperasi yayasan.
"Yaaaa salaaam, kenapa pada nanyainnya ke ane yaa...! Lama-lama ane pres konpres juga."
"Yang bener Pers Confrance ustaaadz....! Bukannya apa-apa, saya mau minta laporan harian koperasi sama dia, kan kalo udah begini, saya juga yang susah."
"Yaudah gini aja Fat...ente kerjain aja yang ada dulu, nanti kalo Nabila udah dateng tinggal di revisi dan diupdate lagi, gampangkan?"
"Hmmm...kerja dua kali ustaaadz..."
"Baru dua kali faaat, belom juga empat kali..."
"Hmmm...kenapa jadi pada nanya ke ane kemana pergi Ozi sama Nabila. Dikata ane, emak...baba si Oji apa...Bodooh amat ah, jadi ane yang pusing sendiri kalo gini caranya."
Ustadz Burhan pergi dan mencari kegiatan lainnya, ia juga pusing banyak yang tanya keberadaan Nabila dan Ozi.
Baru beberapa langkah ia beranjak dari tempat duduknya, Ustadz Burhan dikejutkan suara orang yang memanggilnya.
"Ustaaaadz...." Suara itu muncul dari balik badannya.
"Duuuh siapa lagi siih..."Ucapnya.
Saat ia menoleh rupanya Fatma lagi yang memanggil Ustadz Burhan.
"Yaaaaa Allaaaah Fatmaaaa ada apa lagi??"
"Hehe...nggak stadz, marah amat. Cuma mau kasih laporan koperasi aja ke Ustadz Burhan..."
"Cuma mau ngasih kertas selembar aja, pake tereak-tereak..."
"Takut Ustadz nggak denger..."
"Emang ente kira ane budeg...."
"Yaudah jangan marah-marah mulu, masih pagi."
"Kesel abisnya...Yaudah ane terima laporan ente, nanti ane yang rekap semua."
"Makasih usblo..."
"Apaaa tuh Usblo...??!!"
"Ustadz Jomblo." Ucap Fatma yang lantas pergi.
"Udah minta tolong, pake ngatain segala, usblo...ustadz jomblo."
Ustadz Burhan yang akhirnya merapihkan apa yang menjadi kerjaan Nabila dan Ozi, karena ia yang bertanggung jawab keseluruhan selama Ozi tidak ada.
_____________oOo_____________
Keadaan Nabila sudah membaik, sesekali petugas medis memastikan kondisi perkembangan Nabila. Ozi jarang berada di samping Nabila, ia harus mandiri walau sebatas ambil air, makan, dan meminta perawat menggantikan infus.
Ozi di luar sedang asik berbincang di handphone nya, yang tak lain dengan Dhea.
"Dhea, ada yang aku mau sampaikan ke kamu, kalo Ale sudah tau hubungan kita."
"Loh, kok bisa tau yaaank?"
"Iya nggak sengaja Ale liat chat-an kamu di handphone aku."
"Terus bagimana?"
"Apa yang Ale sampaikan ada benernya juga, hubungan kita kalo sampe Jonathan tau, bisa bahaya, dan nggak ada maaf untuk semuanya."
"Ya ampuun jauh banget sih mikirnya, belum tentu Jonathan tau Yaaaank...selama aku sama dia belum satu rumah masih bisa aku hendel, tenang aja siih...nggak usah panik gitu doong..." Ucap Dhea menenangkan Ozi.
"Secara kamu kan sudah milik orang, mesti hati-hati juga laaah..."
"Udaaaaaah jangan dipikirin, biar ini urusan aku, pasti masih aman-aman aja Yaaank...!"
"Hmmm...iya, aku percaya deh..."
Ozi malah asik telepon-teleponan dengan Dhea, tanpa memperhatikan keadaan istrinya, bisa berjam-jam lamanya kalau Dhea sudah menghubungi dia.
Bersambung >>>>