
Abah masih terdiam, ia berusaha tak berlebihan dalam menyikapi musibah, ia hanya bisa bersabar, dan terus mengucapkan kalimahtuttoyibah.
"Bah, Umi tak apa-apa?"
"Han, kita sama-sama serahkan semua sama Allah, Dialah pemilik takdir hidup manusia."
"Iya Bah."
"Semoga Allah berikan yang terbaik dalam hidup kita Haan."
"Bah, jama'ah ingin membesuk Umi, apa diizinkan?"
"Nggak usah Han, khawatir ganggu pasien dan keluarga yang laen."
"Oh yaudah Bah, nanti saya sampaikan."
"Bilang aja bagi yang mau membesuk, Abah minta doanya aja."
Ustadz Burhan, sedari kecil iya sudah mengikuti keluarga Abah, suka dan duka ia lalui, Ustadz Burhanlah yang menjadi asisten Abah, ia bukan orang asing dalam keluarga Kiayi Syahrullah, dia hafal betul karakter Abah dan Umi, sayangnya ia belum menikah.
Abah kembali merenung, bibirnya tak lepas dari kalimat Hasbunallah Wani'mal Wakil Ni'mal Maula Wani'mal Nasir, cukuplah bagi Allah atas semua jalan hidup manusia.
"Bah, sedih, khawatir, gelisah boleh-boleh aja, tetapi jaga kesehatan itu juga perlu. Sedari siang perut Abah belum terisi nasi, makan dulu lah Bah. Maaf, bukannya itu dzoli**m sama diri sendiri? Saya belikan makan ya"
"Yaudah,nasinya sedikit aja ya?"
"Naaah, gitu dong. Lauknya mau apa? Daging, ayam, tahu, tempet, sayur?"
"Apa aja deh Han."
"Minumnya? Mau teh anget? Apa es teh manis anget, nggak pake gula?
"Bagaimana maksud ente,es teh manis anget, nggak pake gula?"
"Hehe canda aja Bah, biar Abah nggak sedih terus.Yaudah, saya beli dulu."
Ustadz Burhan lebih tua usianya dibandingkan Ozi, sejak dari usiannya Empat tahun, ia sudah ikut Abah dan keluarganya, bahkan bisa dikatakan Ustadz Burhan anak pancingan, barulah lahir Ozi.
Ia banyak menimba ilmu agama dari Abah, hampir setiap hari ia mengikuti Abah, baik urusan rumah, yayasan sampai Abah melayani jama'ah.
Dia juga yang mengatur jadwal ceramah Abah, bahkan mengingatkan abah dalam segala hal.
"Bah, ini nasinya, ini air minumnya, dan ini lauk yang bisa dipilih sesuai selera, ini lalapanya dan ini pisang kesukaan Abah."
"Terimakasih Han...Ente udah makan?"
"Udah Bah."
Abah begitu lahapnya makan, Ustadz Burhan tahu apa yang menjadi kesukaan Abah, dan apa yang tidak Abah suka.
Selagi lahapnya makan, selagi menikmatinya hidangan yang diberikan Ustadz Burhan, perawat datang kembali.
"Pak Haji ...." Perawat itu datang lagi, tatapnya dingin, dan ucapnya terbata-bata, "Bisa ke ruangan UGD?"
Dengan keadaan tangan yang masih kotor, mendengar perawat itu memanggil, Abah langsung meninggalkan makanannya dan bergegas menuju ruang UGD.
Abah melihat keadaan Umi yang semakin memburuk, di hidungnya sudah terpasang selang.
"Ya Allaaaah, aku pasarahkan semuanya hanya pada Mu. Yang kuat ya Seeh...Ane nggak tega liat ente..." Abah pergi menghindar.
"Pak Haji, kami tim medis udah coba sekuat tenaga memulihkan kembali kondisi istri Bapak, namun Tuhan berkehendak lain. Semua datang dari Nya, dan akhirnya akan kembali pada-Nya."
Petugas medis melepas semua peralatan yang menempel di tubuh Umi. Selimut putih yang semula menutupi sampai ke dada, kini bergeser menutup seluruh tubuh Umi, Innilahi wa Ina Ilahi Raji'un.
Abah tak kuasa melihat tubuh wanita yang puluhan tahun menemaninya, kini terbujur kaku. Wanita yang lisannya tak lepas dari dzikir, kini sudah meregang tanpa nyawa. Wanita yang dengan sabar menemani setiap usahanya, kini tak ada sstu pun wanita yang bisa mengisi ruang kosong di hati abah.
Matanya berkaca-kaca, kaki yang semuala kuat menopang tubuh, kini lemas tanpa tenaga. Ustadz Burhan merasa aneh, Abah begitu lama tak keluar dari ruangan, ia menyusulnya.
"Umiiiii....Inalillahi Wa Ina Ilahi Rajiun...." Ucapnya saat pandangan pria yang bertahun-tahun mengenal sosok Umi yang tidak pernah marah, Umi yang ringan tangan dan begitu dermawan, semua tinggal kenangan.
Ustadz Burhan menghubungi beberapa pengurus Yayasan, memberitahukan bahwa Umi sudah meninggal dunia.
"Stadz, sampaikan ke jam'ah yang lain, kalau Umi meninggal dunia, dan tolong beberapa orang ke rumah pak Kiayi untuk rapihkan rumah, dan siapkan kursi, bendera kuning, dan kabarin juga yang lain." Ucap Ustadz Burhan Via Phone menghubungi Ustadz Rodin, Humas Yayasan.
Ozi sedari pagi sudah meninggalkan rumah Ale, dan pergi ke Yayasan untuk meminjam laptop. Justru ia mendengar kabar kalau Umi Aisah sudah tiada.
"Baru saja Ustadz Burhan telepon, Umi meninggal dunia Ji." Ucap Ustadz Rodin kepada Ozi yang semula rencanya ingin bertemu Ustadz Burhan.
"Innalillahi....serius Ustadz?"
"Serius, masa ane bohong, ini aja ane disuruh ke rumah Kiayai, untuk atur semua keperluan jenazah." Tukas Ustadz Rodin.
Ozi terkejut mendengar kabar wafatnya sang ibu, ia begitu menyesal dengan sikapnya, memilih pergi meninggalkan rumah.
"Umi.....Maafin Oji." Pecah tangis Ozi dan ia mengingat semua setiap kejadian demi kejadian beberapa hari sebelum Umi meninggal dunia. Terlintas semua kenangan indah bersama wanita soleha, yang dari rahimnya ia dilahirkan, Ozi mengigat kembali kesalahannya yang sering kali membuat Umi kesal.
"Ya Allaaaaaaah...Umi......" Teriak batinnya.
"Dimana Umi sekarang Tadz?"
"Denger kabar Umi kemarin di bawa ke Klinik Medistra Persada."
Tanpa banyak bicara, dalam tangisnya ia langsung pergi, menemui Ustadz Burhan dan Abah. Sesampainya di Klinik, Abah tak sudi melihat wajah Ozi.
"Umiiiiiiii......" Ozi langsung memeluk Jenazah sang Ibu.
Ustadz Burhan mendampinginya, dan berusaha menenangkan Ozi.
"Nggak baik meratapi jenazah sampai menetes kan air mata, sudah ikhlaskan semua yang pergi. Kita juga akan nyusul Umi Ji, yang terpenting sekarang, kita hanya bisa mendoakan saja." Ucap Ustadz Burhan sambil mengusap pundak Ozi.
"Kenapa Ustadz nggak hubungi saya?"
"Bukan nggak hubungi ente, karena memang nggak lama Umi di rawat, dan ini ane juga baru tau tadi. Sebelum Umi meninggal dunia, ia nyuruh ane cari ente."
Ozi terus meratapi jenaza ibu tercinta, wanita yang bibirnya selalu keluar nasihat-nasihat, namun ia membantahnya. Ia menyesal dengan keputusan untuk pergi meninggalkan rumah dan tidak mendengar semua apa yang Umi katakan.
Ozi menelepon Nabila untuk datang ke klinik dan mengabarkan wafatnya Umi.
"Bila, Umi meninggal...."
"Inalillahi....dimana Kak?"
"Klinik Medistra Persada, tempat kemarin kamu di rawat, kamu ke sini ajak Ale."
"Iya Kak..."
Nabila terkejut mendengarnya dan ia bergegas merapihkan pakaian, lalu membangunkan Ale yang tengah tertidur.
"Baaaaang....Bang...Bang Ale bangun..." Agak risih Nabila membangunkan Ale.
"Ada apa Bil....?!"
"Umi meninggal, saya disuruh ke klinik kemarin, jenazahnya di sana."
"Inalillahi Wa ina ilahi rojiun....sebentar ya, ge mandi dulu....si Oji mana?"
"Sudah di sana..."
"Oke...yaudah lo rapih-rapih deh...gw mandi dulu...terus kita berangkat."
Ale dan Nabila menyusul Ozi dan membantu proses kepulangan jenazah.
Bersambung >>>>