Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Cenat-Cenut


Bermodal yakin, acara bisa terselenggara dengan baik, dalam keterbatasan Crew. Dhea hanya bermodal ucapan saja, menyatakan sanggup untuk event kali ini, dari mulai mencari peserta sampai ke proses administrasi, Dhea menjadi kawan diskusi yang baik.


Sesekali selisih paham amat wajar rasanya, menyatukan dua kepala dalam satu penyelenggaraan event yang terbilang cukup besar, walau acaranya begitu terkonsep sederhana tetapi ada yang membuat meraka harus ekstra sabar, karena peserta kali ini bukanlah orang dewasa yang cukup kita informasikan sekali saja langsung memahami, walau masih saja ada yang bandel.


"Yaank, sudah tinggal tiga hari lagi, peralatan dan perlengkapan kebutuhan acara sudah kita beli, hanya saja ada hal yang aku harus ceritakan ke kamu." Ucap Onci begitu beratnya.


"Teruuuus yang kamu khawatirkan apa?" tanya Dhea.


"Kamu pasti tahu pengeluaran aku untuk acara lomba mewarnai ini sudah menghabiskan uang yang tak sedikit, belum lagi bayar juri, mc, pendongen, beli piala dan operasional saat hari H nanti, itu yang pertama."


"Laluuuu...yang keduanya?" tanya Dhea


"Sudah habis-habisan gini, kalo tidak ada pesertanya nama baik aku hancur, dan kepercayaan yang sudah aku bangun tiga tahun belakangan ini, akan tercoreng oleh pihak mall." Ucap Onci begitu khawatirnya.


"Ayaaaanku, kamu sudah tahunan ngebangun EO bukan? Kamu sudah menyelenggarakan puluhan bahkan ratusan event kan? Lalu kenapa masih ragu? Inget yaaaah! Apa yang kamu imani, itu yang akan terjadi. Jadi, menurut aku jangan ragu, yakin ajaaa!" Dhea mencoba menyemangati Onci.


"Yaah, rasa khawatir itu pasti ada saja di setiap event. Karena bagi aku harus ada plan A, B dan C."


"Ayaaank ku, kamu begitu rajin ibadah itu yang aku perhatikan, tetapi mengapa di hati kamu masih begitu ragunya, kalau niat kamu benar dan yakin, masa Tuhan nggak nolongin kita. Jangan juga berpikir negatif dengan apa yang terjadi di depan, itu hanya harapan, kecemasan. Yang penting rencana kita hari ini harus benar-benar matang, agar di hari H saat event berlangsung semoga berjalan dengan baik, ok?" Dhea begitu dewasa dan mengingatkan Onci.


"Ok." Jawab Onci begitu kurang semangat.


"Sudahlah jangan murung dan lemah." Dhea mencoba memberikan support untuk Onci.


"Terus ada lagi yang mau kamu diskusikan?" tanya Dhea.


"Uang aku tidak cukup untuk sampai hari H, karena ini budget besar dan aku dibayar oleh pihak Mall setelah berikan laporan hasil evaluasi, itu pun giro mundur."


"Santaaaai aku masih ada tabungan, kalo kurang aku minta bantu Mamah dan Papah." Jawab Dhea.


"Syukur Alhamdulillah."


"Tugas kita sekarang, adalah mengoptimalkan peserta dan follow up, terus besok aku coba minta tolong temen-temen kampus untuk bantu-bantu di Hari H nanti, untuk Mc aku sudah ada juga yang mau. Nggak usah terlalu bayar mahal lagi....hehe." Ucap Dhea memberikan solusi.


Onci tidak menyangka, dibalik ngeselin nya Thea ternyata banyak support Onci.


"Sebelumnya aku ucapkan terimakasih yaank."


"Tak perlu laah, sudah kewajiban aku sebagai bidari syurga mu...hahahaa." Sindir Dhea yang sering Onci putrakan lagu Ustadz Jefry Albuchory.


"Bisa aja ..."


_____________________***_________________


*H-1*


Onci dan Dhea sudah mencicil apa yang menjadi kebutuhan Event besok, mulai dari pembuatan nomor peserta, formulir registrasi ulang, time schedule, calling pengisi acara, dan meminta tolong beberapa teman kampus Thea untuk ikut membantu acara besok.


"Peserta yang sudah hubungi kamu berapa orang?" Onci memastikan kembali ujung tombak acara esok adalah peserta.


"Heeem...untuk yang hanya bertanya sih banyak, dan yang sudah daftar via WhatsApp kurang lebih 10 orang."


"Waduuuh 10 orang yaaank?!" ekspresi wajah Onci begitu panik.


"Dalam Surat Perjanjian Kerjasama itu jumlah peserta kurang lebih 100 peserta yaank..."


"Terus sekarang aku mesti bagaimana?? Teriak ke sekolah-sekolah dan nodong mereka satu persatu?!" jawab Dhea dengan sedikit emosi.


"Iya...iyaa...jangan pake marah juga yaank."


"Kesel aja aku dengernya, lagi juga kan aku hanya bantu kamu."


"Iya maaf." Ucap Onci.


"Sekarang kamu jangan kaya cewek panikan, tenang aja sih, mungkin juga para peserta lagi diskusi dengan guru dan orang tua mereka lagi diskusi juga, mana kita tahu. Apa yang kamu imani akan terjadi, positif thinking aja siiih....!!" lagi-lagi Dhea emosi.


( Onci calon anggota baru ISTI, hahaha...Ikatan Suami Takut Istri...mamam kena semprot Thea, pake dibilang kaya cewek.....wkwkwk)


"Yaudah, aku coba cari follow up temen-temen yang punya anak kecil untuk ikutan lomba."


"Naah itu kaan ada jalan lebih baik, daripada kamu ngegrutuu teruuus. Lebih baik sama-sama berusaha. Tak ada proses yang khianati hasil itu ajaaa rumusnya." Ucap Dhea.


"Siaap deh." Jawab Onci datar.


"Aku mastikan juga beberapa sekolah yang sudah kita kasih undangan dan brosur." Ucap Dhea.


Mereka pun sama-sama berusaha dan terlihat begitu sibuk telepon sana-sini, merayu beberapa guru untuk mengirimkan anak muridnya untuk ikut partisipasi.


Mulai dari registrasi gratis, sampai menawarkan hadiah dan nilai gengsi sekolah, segala macam cara mereka lakukan, mirip sales kartu kridit.


"Tuh, beberapa orang tua sudah ada yang menghubungi aku, jadi total peserta 20 orang. Puji Tuhaaan...Btw, hari H kamu butuh uang berapa?" tanya Dhea memastikan, apakah uang di rekeningnya cukup atau tidak.


"5-6 Juta Yaank..." Jawab Onci.


"Waduuh, di saldo aku paling ada 2 jt-an. Aku pinta sama Mama dulu. Kamu harus ikut dan yakinin Mamah, ceritain aja cara pembayaran Mall ke kamu seperti apa, Mamah paham kok."


"Aku nggak enak laah Yaaank..."


"Kalo nggak enak kasih Kucing..."


Onci mengumpulkan nyali, untuk memberanikan diri bicara sama orang tua-nya Thea. Untuk betemu dan meyakinkan client mungkin Onci sudah terbiasa, tetapi untuk kali ini dia mencoba, apa salahnya berusaha.


"Eeh Ayy, memangnya kamu dibayar Mall berapa?"


"Kotornya, sekitar 15 jt an dengan 150 peserta dan hadiah uang tunai untuk pemenang."


"Ok...kamu tunggu disini, aku masuk dulu dan coba rayu Mamah, mudah-mudah ia lagi enak dan happy." Ucap Dhea.


Belum beberap menit masuk ke dalam rumah, tiba-tiba Dhea datang kembali dan menghampiri Onci.


"Cuma mau bilang, tugas kamu berdoa...ok?"


Heeem, kirain ada apa yah?! Tahu-tahu hanya sekedar bicara itu saja, Onci pikir ada jawaban enak dari Mamah.