Jodoh Pilihan Abah

Jodoh Pilihan Abah
Tunai Sudah Janji


Ustadz Burhan seperti menggali lukanya sendiri, kadang semakin mencari tahu semakin membuat ia terluka.Telinganya seperti tersengat lebah, saat ia mendengar Nabila memberikan syarat untuk ia mempersuntingnya, dan ia membandingkan dirinya yang tidak mendapatkan persyaratan khusus seperti apa yang Arul terima.


Berbeda dengan Arul sedang berupaya meluruskan kembali niatnya dalam menghafal, seperti yang Mamak arahkan. Ia juga mencari metode sendiri agar mudah menghafal, yah, tepat selepas terjaga dalam tidur di sepertiga malam, ia mulai menghafal. Dengan gigihnya, ia berlatih dan terus berlatih.


Untuk satu surat pertama sudah hampir setengah surat sudah dapat ia hafal, mungkin dalam dua, tiga hari satu surat sudah rampung, dan akan ia lanjutkan ke surat kedua. Namun untuk mempertajam hafalannya, sebelum memasuki surat ke dua, ia mewajibkan dirinya untuk membaca surat pertama, sehingga semakin kuat daya hafalnya, terus dan terus ia lakukan hal itu, di surat ke tiga, ia hafalkan ulang surat pertama, dan kedua.


Hingga dalam waktu empat bulan, tiga surat berhasil ia hafalkan, seiring progres pembangunan Rumah Sakit sudah berjalan Lima Puluh Lima Persen.


"Bila, Alhamdulillah sudah saya hafal tiga surat yang kamu pinta, kapan aku bisa setor hafalannya?" Tanya Arul yang kebetulan ada pengecekan kembali progres bangunan. Arul pun tak setiap hari datang ke lokasi, hanya sekali waktu saja, atau ada hal yang bersifat urgent atau mendesak.


"Insyallah habis waktu Ashar ya Mas." Nabila tidak menyangka kalau apa yang ia pinta segera di kerjakan, dan terlihat begitu komitmenya Arul dengan apa yang menjadi keinginannya.


"Siaaap...."


Waktu yang dinanti seakan begitu lama, seperti menghadapi ujian akhir, padahal jarak dari waktu Dzuhur ke Ashar hanya butuh dua, tiga jam saja, namun bagi Arul terasa begitu cepat berlalu, jantungya berdebar semakin kencang, ia terus kembali mengingat semua surat yang Nabila tugaskan Arul tuk menghafalnya.


Satu jam sebelum memasuki waktu Ashar, Arul sudah duduk di dalam masjid Yayasan, ia masih terus mengulang kembali hafalannya, dan Adzan berkumandang, menandakan waktu Ashar tiba. Setelah rampung sholat berjama'ah, Nabila masih duduk bersimpuh di dalam mihrab, atau pembatas antara jama'ah akhwat dan ikhwan, pria dan wanita. Tak lama suara Ustadz Hafidz mengusik dzikir dan muhasabahnya.


"Bagaimana Bil, apa sekarang? Atau nanti?" Tanya Ustadz yang memang menjadi tim pengajar hafidz dan hafidzah di Yayasan tersebut.


"Sekarang saja Stadz, orangnya sudah menunggu."


"Yang mana lelaki beruntung itu?"


"Aaah Ustadz bisa aja, beruntung kenapa memangnya?"


"Yah beruntunglah bisa mendapatkan kamu."


"Ya ampun Stadz memangnya Bila siapa? Artis bukan, da'i kondang juga bukan."


"Tapi calon pendamping hidup yang baiklah." Sela Ustadz Hafidz.


"Amin."


Nabila dan Ustadz Hafidz menemuinya, Nabila menunjukan sosok lelaki yang sudah menunaikan persyaratan itu.


"Itu orangnya." Ucap Nabila sambil menunjuk Arul yang sedang bersimpuh.


"Assalammu'alikum." Sapa Ustadz Hafidz.


"Wa'alikumussalam." Jawab Arul sambil membalikan tubuh dan memastikan siapa orang yang mengucap salam untuknya.


Betapa terkejutnya Ustadz Hafidz saat ia melihat lelaki yang ingin meminang Nabila dengan tiga surat menjadi syaratnya.


"Yaaaaaaassalam....kirain siapa? Rupanya antum Mas Rul?!"


Nabila nampak heran, ternyata keduanya sudah saling mengenal.


"Ustadz kenal?" Tanya Nabila.


"Siapa yang nggak kenal dengan orang yang merawat anak yatim dan santri penghafal qur'an ini!"


Ustadz Hafidz dan Arul berpelukan, dan mengulurukan tangan membuka keakraban dengan salam. Nabila juga tak mengira kalah Arul yang hanya ia kenal sebagai kontraktor dan pengusaha itu, ternyata memiliki anak yatim dan santri penghafal Al Qur'an.


"Waah Nabila, rupanya kalian sama-sama beruntung. Yang wanitanya soleha, yang lelakinya pengusaha muda, soleh pula."


"Alaaaaah Ustadz Hafidz berlebihan, kan guru saya Ustadz juga."


"Nanti setelah Ustadz mendengarkan hafalannya, baru Nabila akan cerita semua siapa Nabila dan insyallah tidak akan Nabila tutup-tutupi."


"Masyallah, yaudah, saya mau denger hafalan pengusaha muda ini."


Arul dan Ustadz Hafidz saling berhadapan, Ustadz Hafidz membuka mushab atau Alqur'an, untuk memastikan hafalan Arul. Satu surah atau surat mulai Arul baca, tanpa melihat mushab. Ustadz Hadifz juga dengan khusyu mendengar dan memperhatikan serta memastikan makhrojul huruf yang Arul bacakan.


"Masyallah, surah pertama lancar, lanjut yang kedua yah?"


"Iya Stadz...Bismillah." Jawab Arul.


Nabila hanya mengumpat dalam senyum, betapa tersanjungnya ia, saat tahu Arul pandai membaca Alqur'an dengan baik.


Memasukin surat kedua, tak sengaja Ustadz Burhan ingin masuk ke dalam Masjid, untuk mengambil berkas laporannya yang tertinggal di dekat mimbar. Belum sampai masuk ke dalam, di balik pintu ia sudah melihat ada Ustadz Hafidz, Nabila dan Arul yang ia paham apa yang mereka lakukan.


Ustadz Burhan diam sejenak di balik pintu, sambil mendengarkan lantunan ayat Al Qur'an yang Arul bacakan.


"Mungkin sudah saatnya Nabila mendapatkan sosok lelaki yang insyallah membawa keberkahan dalam hidupnya, bertanggung jawab di dunia dan akhirat." Gumam Ustadz Burhan dalam hati.


Ia tak melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam masjid, ia memilih pergi meninggalkan masjid, dibandingkan harus menyulam luka lagi, setelah ia tak bisa memiliki Nabila.


Di surat ke dua, Arul berhasil melafadzkannya dengan baik, "masyallah, dua surah sudah dihafalnya, tinggal surah yang terakhir yah?" Ucap Ustadz Hafidz tersenyum bangga, begitu juga Nabila yang tak mengira kalau Arul dapat menuntaskan apa yang menjadi persyaratannya. Awalnya Nabila menganggap kalah Arul seperti lelaki lain, yang hanya sepintas lalu atau bercanda untuk bisa dekat denganya, atau demi proyek yang sedang mereka kerjakan.


Nyatanya, Arul begitu sungguh-sungguh untuk mendekati Nabila, ini terlihat dari upayanya menghafal ketiga surat yang cukup panjang, dan sulit untuk mereka yang tidak terbiasa membaca Al-Qur'an, untuk menghafalnya, dan justru Arul dalam waktu yang cukup singkat, hafal tiga surat tersebut.


Namun di surat ketiga ada sedikit ganjalan, di tengah surat hafalanya tersengkal, seperti ada yang mengusik pikirannya, hingga satu ayat yang harus Arul ingat kembali, Nabila begitu cemas, khawatir akan berdampak di ayat-ayat berikutnya.


"Ayo Mas, dikit lagi kamu pasti ingat ayat itu."Kecemasan yang membatin.


Ustadz Hafidz hanya tersenyum, dan tidak ada toleransi untuk membantunya, karena memang Arul harus berpikir dan berusaha keras untuk mendapatkan apa yang ia impikan dan harapkan.


"Mau istirahat dahulu Mas Arul?" Tawar Ustadz Hafidz.


Dengan keringat bercucuran," Nanggu Stadz."


Arul masih tak ingin menyerah dan ia mengulang kembali surat ketiga, dengan susah payah, nafas tersengkal, dan suara parau, dengan sabar Ustadz Hafidz memandunya.


"Sodakallahul'adzim.....Barakallahulakum, wabaraka alaikum fii qur'anul karim. Masyallah...Masyallah." Ucap Ustadz Hafidz yang membersamaan mentutup bacaan Arul dan ia berhasil menghafal Tiga Surat dengan baik.


"Selamat yah Mas?" Tutup Nabila.


Bersambung >>>


______oOo_______


Selamat Ya Arul, sudah berhasil menunaikan janjinya dan syarat yang diberikan Nabila. Tetapi apa iya jalan menuju pernikahan mereka berjalan lancar? Ada kah yang menjadi penghalangnya? Simak terus yah cerita ini.


Oh iya, Author tak bosan mengucapkan terimakasih untuk pembaca yang setia. Terlebih untuk kamu yang sudah memberikan vote, like, give dan meninggalkan komentar serta menjadikan novel ini bacaan favorit. Bagi Author hal itu amat berharga.


Di Akhir cerita, Author insyallah mau bagi-bagi give away, ratusan ribu rupiah untuk para pembaca setia yang sudah memberikan dukungan berupa : Vote dan give terbanyak, serta kamu-kamu yang begitu setia pantengin novel **JODOH PILIHAN ABAH.


Salam Hormat,


@emhaalbana**